Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Day


__ADS_3

Disebuah ruangan seorang pria terlihat termenung di tempat duduknya,2 minggu telah berlalu sejak kejadian beberapa waktu lalu membuat hidup pria itu sedikit berubah dari biasanya.


Rasa penyesalan kian Vero rasakan setelah berpisah dengan Hani gadis asing yang ia kenal dengan cara tak terduga.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka,masuklah seorang pria parubaya membawa beberapa kertas.


" Vero " Tegur David.


Vero masih diam menatap langit2 ruangan.


" Kenapa nih anak,punya hoby baru sekarang " Kata David heran.


" Vero " Panggil David cukup kencang.


" Hah iya siap " kata Vero langsung berdiri hormat.


David bersedekap dada menatap putranya yang bertingkah aneh.


" Papa " Ucap Vero kaget.


" Mikir apa kamu ?" tanya David menyilisik.


" Ngak Pa,lagi suntuk aja " Jawab Vero berbohong.


" Hm udah bisa merokok sekarang ?" tanya David menyindir.


Vero menatap asbak dan terkekeh malu.


" Ngak ada ide Pa makanya aku merokok " Jawab Vero malu.


David menggeleng pelan dan duduk dihadapan anaknya.


" Nih kamu kerjain proyek waktu kita keluar kota " Kata David menyerahkan berkas.


" Bukannya udah proses pembuatan ?" tanya Vero kaget.


" Yang baru,mereka tertarik sama ide kamu makanya hubungi Papa lagi " Jawab David tenang.


" Jadi aku harus kesana Pa ?" Tanya Vero semangat.


David diam menatap aneh wajah Vero berubah sumringah,biasanya lelaki itu paling malas disuruh keluar kota.


" Ngak,kalian vidio call aja nanti di laptop " Jawab David.


" Yahhhh " Vero mendesah lesu duduk dibangkunya.


" Kenapa ?" Tanya David heran.


" Ngak papa " jawab Vero pelan membuka berkas.


" Kamu ngak bisa liburan sekarang,pesanan lagi rame " Kata David berdiri merapikan bajunya.


" Tapi habis ini aku boleh pergi ya Pa " Kata Vero berharap.


" Mau ketemu orang ?" Tanya David curiga.


" Ngak,mau liburan aja kan aku dah gede " Bujuk Vero memelas.


" Tanya Emak mu dirumah " Jawab David berjalan menjauh.


" Papa bantu bilang dong " Rengek Vero.


" Papa ngak tau " jawab David buru2 keluar.


Brak.


Pintu tertutup rapat,Vero meloncat girang sudah dapat izin dari Papanya.


" Uh urusan Mama gampang " kata Vero sudah punya ide untuk membujuk wanita sengklek itu.

__ADS_1


Lelaki itu pun mulai bekerja dengan baik supaya tidak mengecewakan Papanya.


Ditempat lain seorang gadis menutup wajahnya dengan kain,gadis kecil itu mengenakan jilbab supaya wajahnya tak terlihat oleh orang2 yang menurutnya jahat.


Dibawah terik sinar matahari,gadis remaja itu mencari barang bekas untuk dijual kembali agar bisa membeli sesuap nasi.


" Uh panasnya " Gumam gadis itu menatap cahaya matahari yang bersinar terang.


Suasana kota sangat padat,banyak kendaraan bermotor dan mobil melintas dijalan raya dan berhenti dirumah makan atau restoran.


Kroyoyoyoyokkkk....


Perut Hani kembali berbunyi,gadis remaja itu belum makan sudah 2 hari ini karna hasil kerjanya masih kurang.


Hani harus rela berbagi dengan pemulung lain yang juga mencari rejeki.


" Kakak " Panggi seorang anak kecil berpakaian sangat kumal mendekati gadis itu.


Hani menoleh dengan menyeret karung bekasnya.


" Kamu manggil aku ?" Tanya Hani pelan.


" Iya Kak,disana ada orang baik lagi bagi2 makanan,kalo Kakak mau langsung antri aja " Ucap bocah lelaki itu menunjuk seberang.


" Hah yang bener ?" tanya Hani terkejut.


" iya Kak,Ibu aku juga ngantri disana " Ujar anak itu semangat.


" Wahh syukurlah,ayo kita kesana " Kata Hani girang.


Bocah itu mengangguk,Hani pun berlari menyebrang jalan.


Dan benar saja dari kejauhan terlihat beberapa orang mengantri menunggu giliran.


" Disana Kak " Kata bocah itu menarik tangan Hani.


Hani mengangguk,gadis itu pun berlari mendekat tapi saat melihat seorang duduk tenang dibelakang mobil yang terbuka,Hani langsung mengerem mendadak.


" Kenapa Kak ?" Tanya Bocah itu heran.


" Aku harus pergi,kamu temui ibu mu " kata Hani langsung berjalan menjauh.


" Ta...


Hani sudah berlari menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan.


Gadis itu bersembunyi dipinggir mobil angkot yang terparkir.


" Ya Tuhan jangan lagi,aku tidak ingin tertangkap " Gumam Hani berkeringat dingin.


Hilang sudah rasa lapar dan hausnya saat melihat teman ayahnya yang membantu menjual dirinya ke tukang Mucikari.


Hani berjalan dengan cepat,gadis itu terus menutup wajahnya dan sesekali menoleh kebelakang.


Saat dirasa sudah aman,gadis itu membuka cadarnya berselonjorang dibawah batang cukup rindang dipinggiran kota.


" Huh huh panasnya " Gumam gadis itu menyeka keringat.


Hani mengatur nafasnya berulang kali agar lebih tenang.


" Huh,bisa2nya mereka sok berbuat baik padahal mereka mengintai anak2 tak berdosa untuk dijual kehidung belang " Gumam Hani kesal.


" Semoga saja mereka tidak menemukan aku selamanya,oh Tuhan aku mohon lindungi aku " Gumam Hani sangat takut.


Hani sudah tau niat busuk orang2 yang memberi pemulung makan,bukan karna apa Hani salah satu korban yang bisa selamat meski caranya sedikit berbeda.


Semua teman2 Ayah Hani ia sudah tau bagaimana tabiatnya,makanya Hani tidak ingin lagi kembali kerumah karna ia akan mati ditangan Ayahnya atau menjadi pemuas ***** selama hidupnya di club.


Hani celingak celinguk mencari apa yang bisa dicari hingga maniknya melihat botol minum yang masih tersisa banyak air.


Gadis itu menelan ludah kasar bahkan kerongkongannya terasa kering karna tak minum2 dari pagi.

__ADS_1


Gadis itu mendekat sambil celingak celinguk melihat keadaan sekitar.


" wah masih banyak " gumam Hani mengambil botol mineral itu dengan wajah takjub.


" Ada yang punya ngak ya ?" gumam Hani sedikit ragu.


Gadis itu melihat sekitar dan sepi hanya dirinya yang berada disana.


Karna sudah sangat haus Hani pun meminumnya hingga dahaga nya hilang.


Tak ada rasa jijik karna bekas orang lain,gadis itu hanya ingin bertahan hidup dengan cara apapun.


Hani membawa botol itu duduk lagi dibawah pohon seraya berpikir bagaimana caranya ia dapat makan hari ini.


Malam harinya,dirumah Cila suasana sedikit ramai karna suami dan anaknya pulang bersamaan.


" Mau makan Mas ?" Tanya Cila menyambut sang suami.


" Hm " jawab David membuka sepatunya dan berjalan kearah rak.


Cila berjalan girang kedapur dan berpapasan dengan Laura yang baru keluar dari kamarnya.


" Wajah kamu kenapa pucat ?" Tanya Cila kepada Laura.


" Ngak enak badan Ma,rasanya seluruh badan aku sakit " Jawab Laura sendu.


" Kamu demam ?" Tanya Cila merasai jidat Laura.


" Hm ngak panas " gumam Cila pelan.


" Kenapa Kak ?" Tanya Vero berhenti didepan mereka karna kedua perempuan itu menghalangi jalannya kedapur.


" Udah minum obat ?" tanya Cila khawatir.


" Belum " Jawab Laura menunduk.


Vero yang merasa dicueki mendengus kesal dan berbalik arah.


" Loh katanya mau boker ?" Tanya David hampir menabrak Vero.


" Jalan nya diblokir sama mereka !" kata Vero kesal.


David melihat dan terkekeh pelan melihat Cila dan Laura memang menghadang jalan.


" Dah dikamar kamu kan ada Wcnya " kata David tenang.


" Iya,udah masuk kedalam lagi " Jawab Vero malas.


" Hahahaha " David tertawa geli melihat wajah suntuk Vero yang tak hilang2.


" Jangan2 kamu hamil " Kata Cila heboh.


" Hah yang bener ?" Tanya Laura terbelalak.


" Iya,coba besok cek " Kata Cila semangat.


" Kenapa Ma ?" Tanya David kepo.


" Laura hamil Pa " Jawab Cila girang.


" Hah Hamil " Pekik seorang pria baru masuk.


Semua orang menoleh kebelakang dan terkejut melihat Justin mematung dengan bungkusan ditangannya.


" Mama " Kata Laura menepuk jidatnya menatap Cila gemas.


" Hehehe mungkin " Kata Cila cengengesan kepada menantunya.


Justin yang tadinya tersenyum cerah langsung mendung seketika.


❤❤❤

__ADS_1


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2