Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Tamu


__ADS_3

Malam tiba,keluarga kecil Denis terlihat makan bersama dimeja yg sama.


Rania diam seperti biasanya,gadis itu tak banyak membantu lantaran tangannya sedang terluka dan Denis melarang gadis itu untuk banyak bergerak.


" Mau nambah lagi ?" Tanya Denis kepada Rania.


Rania menoleh dan mengangguk pelan.


" kamu harus makan yg banyak ya " Ucap Denis lembut.


" Iya Pa " Jawab Rania tersenyum kecil.


Tania melihat keduanya dan diam sambil menunduk.


Nasi dipring gadis itu tinggal sedikit,hari ini Miska masak cukup banyak untuk meredam emosi Denis yg tadi ssmpat terluapkan.


" Besok ikut Papa ya " Kata Denis disela makannya.


" Kemana Pa ?" tanya Rania.


" rumah sakit,lukanya harus dicek bukan ?" Ujar Denis.


Rania melirik ibuny,Miska hanya diam tak mengubris mereka.


Wanita itu sibuk menyuapi anak bungsunya yg juga lahap makan.


Tania masih memperhatikan mereka dalam diam,gadis itu terlihat cemburu dengan sikap hangat Denis saat ini.


" oh iya Tan " Ucap Denis menoleh kearah anak keduanya.


Tania bangkit dan membawa piring yg masih tersisa sedikit nasi itu menjauh.


" Taniaa " Tegur Denis.


Tania berhenti melangkah dan belum membalik badannya.


" Tania " Panggil Denis lagi.


" Ya Pa " Jawab Tania mencoba tenang.


Gadis itu berbalik badan dan memberi senyum kecil.


" ada apa Pa ?" tanya Tania lagi.


" kamu sudah selesai ?" tanya Denis.


Tania mengangguk kecil.


" Lauknya masih banyak,bukankah kamu suka ayam tepung ?" Tawar Denis.


Tania diam sejenak,Denis tidak melupakan makanan kesukaan gadis tersebut.


" Aku kenyang " Jawab Tania.


" Benarkah ? Papa lihat kamu makan sedikit " Kata Denis lagi.


Heningg..


Miska melirik putrinya yg terlihat bad mood.


" Makan lah lagi,mumpung masih panas jangan mubazir " Kata Denis tegas.


Tania mengangguk,gadis itu pun kembali kebangkunya dan mengambil 1 potong ayam lumayan besar.


" Makan yg banyak sayang,lihat badan mu sangat kurus " Kata Denis menggeleng pelan.


" Hah " Kata Tania syok.


Gadis itu menatap badannya sendiri dan melihat Denis dengan wajah aneh.


" Aku kurus dimananya Pa ?" tanya Tania bingung.


Rania terkekeh geli,Denis mencoba membuat lelucon,padahal badan Sania tidak kurus bahkan gadis itu mencoba diet beda dengan Rania yg memang seperti orang kurang gizi.


" Dah makan aja " kata Denis memberi sepotong lagi.


Tania menghela nafas,mau tak mau gadis itu pun makan agar Denis tak kecewa.

__ADS_1


Sama halnya dengan Rania,Denis begitu mereka hormati karna hanya Denis yg mampu meredam amarah keduanya.


Setelah makan,Rania dan Tania masuk kekamar.


Keduanya masih tak saling bicara,Tania takut bertanya saat ini karna tau pasti Kakak nya sedang tak baik2 saja.


" Aku akan tidur dikamar lain " Ucap Rania datar.


" Kenapa ?" tanya Tania terkejut.


" Ini kamar mu,aku tidak ingin menumpang lagi " Jawab Rania.


" Kak " Ucap Tania tak suka.


" Aku tidak ingin lagi berdebat atau berkelahi dengan mu,kita cukup dewasa untuk berpikir jernih " Balas Rania.


" Aku juga tidak ingin seperti ini " Kata Tania kesal.


Rania diam,gadis itu membawa bantalnya dan keluar dari kamar.


Tania diam melihat gadis itu menutup pintu kamar mereka.


Memang ruangan itu cukup besar,bahkan bisa masuk 2 ranjang dan lemari sekaligus bahkan dilengkapi dengan mini bar dan Wc.


Dari kecil keduanya tidur bersama meski sering cekcok.


Tapi kali ini Rania ingin mengalah,gadis itu sudah merasa lelah dengan rutinitas yg membuat kepalanya sakit.


Rania berjalan menuju kamar lain yg kini ditempati adik kecilnya.


Saat masuk,terlihat bocah kecil itu sedang tengkurap membaca buku cerita.


" Kau belum tidur Bim ?" Tanya Rania


" Belum Kak " Jawab Adik Rania.


" Kenapa ?" Tanya Rania lagi.


" belum ngantuk "


" Enak banget ya jadi anak kecil,gak banyak yg dipikirin,tau nya makan,tidur,main,makan lagi " Ucap Rania pelan.


Bocah itu melirik kakaknya dan kembali cuek.


" kakak gak papa ?"


" Hm semuanya baik " Jawab Rania.


Hening....


Rania masih diam menatap langit2 kamar.


Tak lama,lampu kamar mati.


Sang adik menarik selimut dan mulai memejamkan mata.


Sama halnya dengan Denis,adik bungsu Rania begitu cuek.


Ia tak terlalu memperhatikan sekitar,apalagi perduli,ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri.


Malam pun makin larut membawa seisi rumah itu menuju tidur yg nyaman.


Kebesokan paginya,Tania bangun cepat.


Seperti biasa rumah itu terlihat sibuk dengan urusan masing2.


" Kamu gak mau dianter ?" Tanya Denis melihat Rania sudah bersiap.


" Gak usah Pa,ada Kak Reka yg nganterin " Jawab Tania dengan senyum malu.


" Kalian emang pacaran ?" Tanya Miska heran.


Rania masuk kedapur dengan setengah nyawanya yg belum terkumpul.


Gadis itu masih menggunakan baju tidur dan rambut acak2an.


" Gak tau Ma " Jawab Tania malu.

__ADS_1


" Ya udah hati2 " Balas Miska tak mau ikut campur.


" Dia dimana ? Suruh masuk dulu " Kata Denis sambil menyesap kopi panasnya.


" bentar lagi sampe Pa " Jawab Tania.


Denis mengangguk paham,lelaki itu melihat Rania yg duduk minum air putih.


" Kamu gak kerja Ran ?" Tegur Miska.


Rania menggeleng pelan.


" Ya udah " Balas Miska.


Wanita itu melanjutkan lagi membuat bekal untuk anak bungsunya sekolah.


Tak lama,suara klakson terdengar.


Tania langsung berlari keluar membukakan pintu rumah.


Rania diam didapur,gadis itu masih mengantuk dan tangannya terasa perih.


Tania masuk kedapur lagi,dan alangkah terkejutnya saat manik Rania terbelalak melihat sosok lelaki tampan dengan jaket hitam berdiri diambang dapur.


" Assalamualaikum Om " Sapa lelaki itu sopan.


Denis menoleh dan menjawab salam.


" Waalaikumsalam "


" Pagi Om,Tante " Sapa pria yg tak lain adalah Reka.


Rania menelan ludah kasar,gadis itu masih mematung dikursinya dengan memegang gelas air putih.


" Pagi Rek,mau berangkat kerja ya ?" Tegur Miska.


" Iya Tan " Jawab Reka jujur.


Pria itu melihat Rania,sontak saja Rania langsung membuang mukanya dan tersadar ia tak menggunakan jilbab.


" Astagfirullah " Ucap Rania panik seketika.


Gadis itu bangkit dengan tergesa dan praaaaaaanggg....


Gelas air putih dimeja itu pun tersenggol dan langsung menghantam lantai hingga terpecah belah.


" Ya Tuhaan " Ucap Miska terkejut.


" Raniaa " ucap Denis juga ikut kaget.


Rania langsung menunduk mencoba membersihkan begitupun Reka yg reflek ingin membantu.


Keduanya saling menunduk,saat Reka akan mengambil pecahan gelas lelaki itu terkejut melihat luka Rania yg terbalut perban itu mengeluarkan darah.


" Tangan mu " Ucap Reka menyentuh telapak Rania.


Rania melihat lelaki itu dan untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan.


Jantung Rania berdegub kencang,sungguh gadis itu tak menyangka Reka akan datang kerumahnya dipagi buta.


Dengan cepat gadis itu menarik lagi tangannya sebelum terlihat oleh orang lain.


" Ran kamu gak papa ?" Tanya Miska khwatir.


" Jangan sentuh,biar Mama bersihin " Tahan Miska saat Rania akan memutik lagi pecahan.


Reka mengambil tisu dimeja dan memberikannya kepada Rania.


Denis dan Tania yg melihat sikap Reka diam tak bersuara.


" Terima kasih " Jawab Rania.


Gadis itu langsung berlalu dengan cepat meninggalkan lokasi.


❤❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.

__ADS_1


__ADS_2