
Disebuah sel 2 orang pria terlihat mengobrol asik seraya menikmati makan siang yg hangat.
Vero merasa bahagia hari ini lantaran Denis datang menemuinya untuk memberi semangat.
Sudah 1 mingguan ini tak ada yg menjenguk.
David keluar negeri sedangkan Cila sibuk mengurus Hani yg sedang sakit.
Tak ada yg bisa Vero andalkan,lelaki itu hanya pasrah menerima nasibnya.
Masa hukuman masih berlanjut,Vero tak ingin membuat masalah karna lelaki itu berharap bisa segera keluar dari lingkup yg menjauhkan dirinya dari keluarga.
" Jadi hari ini Om bakal lembur ?" Tanya Vero kepada Denis.
" Kayaknya iya,tapi pulang dulu kasih tau yg lain " Jawab Denis sambil makan.
" Kenapa ngga telfon aja ?" Tanya Vero lagi.
" Ngga,mau ketemu si bungsu,Tania sama Rania juga pulang " Jawab Denis tersenyum.
Vero mengangguk kecil.
Asik makan tiba2 ponsel Denis berdering.
Lelaki itu melihat nama dilayar dan mengernyit.
" Mama kamu " Ucap Denis.
" Mama kenapa nelfon ?" Tanya Vero mengernyit.
" Gak tau " Balas Denis.
Panggilan di terima,Denis mengucap salam dan langsung di sahut Cila.
" Cepetan kerumah sakit !" Ucap Cila tegas.
" Hah kenapa ?" tanya Denis terkejut.
" Rania terluka,cepetannn Denisss " Pekik Cila.
" A ada apa Kak,Kenapa Rania terluka ?" tanya Denis berubah panik.
" Aku gak tau,tadi Kakak nganter Sofia kerumah kalian tapi Miska teriak2 minta tlong sama tetangga " Kata Cila menjelaskan.
" Astaga " Ucap Denis tak percaya.
" Kenapa Om ?" tanya Vero penasaran.
" Baik Kak aku nyusul sekarang " kata Denis tegas.
Tut.
Panggilan terputus sepihak,Denis langsung bangun mengibas tangannya yg masih tersisa nasi.
" Om kenapa ?" Tanya Vero ikut bangun.
" Rania terluka,gak tau apa yg terjadi sama dia " Jawab Denis.
" Hah kenapa bisa ?" tanya Vero bingung.
" Kamu makan yg kenyang,Om harus kerumah sakit " Jawab Denis.
Vero mengangguk paham.
Denis langsung berlari keluar membuat para tahanan kebingungan.
" Ada apa ya ?" tanya Vero penasaran.
Lelaki itu kembali melanjutkan makannya meski dengan rasa yg tak menentu.
Denis melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh,lelaki itu segera menelfon sang istri.
" Halo Pa " Sapa seseorang diseberang.
" Apa yg terjadi sama Rania ?" Tanya Denis terdengar marah.
Hening.....
Tak ada jawaban.
__ADS_1
" Miska !" Bentak Denis.
" P apa " ucap wanita diseberang ketakutan.
Deg...
Denis menyadari itu bukan suara istrinya.
" Tania apa itu kamu ?" Tanya Denis.
" i iya Pa ini aku " Jawab gadis tersebut yg merupakan anaknya.
" Kalian dimana sayang ? Kakak kamu kenapa ?" Tanya Denis berusaha tenang.
" K kita lagi dirumah sakit Pa,Kak Raniaaa " Ucap Tania gemetar.
" Apa sayang,coba jelaskan ke Papa " Pinta Denis secara tenang.
" Papa kesini aja dulu ya,nanti aku jelasin " Balas Tania.
" Ya udah,tunggu disana jangan kemana mana " Kata Denis tegas.
" Iya Pa " Jawab Tania paham.
Tut.
Panggilan kembali terputus.
Denis menambah laju kendaraannya membuat lelaki itu mendapat klakson dari pengendara lain
Dirumah sakit,terlihat Tania mondar mandir sambil menggit jemarinya.
Gadis itu terlihat begitu takut hingga membuat wajahnya menjadi pucat.
Miska dan Rania berada didalam ruangan untuk mendapat perawatan.
" Ya Tuhan,semoga Kak Rania gak kenapa napa " Ucap Tania berharap.
Didalam ruangan,Miska terlihat bicara serius dengan dokter sedangkan Rania duduk tenang di brangkar seraya menatap tangannya yg sudah dibalut perban,bahkan darah segar masih menyerap di kain putih tersebut.
" Huuufftttt " Helaan Nafas panjang terasa berat dikerongkongan.
" Beruntung dia cepat dibawa Bu,kalau tidak saya khwatir darahnya akan habis " Jawab Dokter.
Miska diam dan menghela nafas.
" Maaf Dokter " Ucap Miska merasa bersalah.
" Kalau anak ibu punya masalah mental,saya sarankan untuk berkonsultasi dengan dokter specialis " Kata Dokter wanita itu tenang.
" Maksud Dokter ?" tanya Miska mengernyit.
" Orang normal tidak akan menggores tangannya dengan pisau " Jawab Dokter.
Deg...
Miska terdiam,meski mereka tak bilang luka itu karna apa tapi sebagai dokter yg sering menangani berbagai pasien wanita itu sudah paham.
" Dia masih muda Bu,kasihan jika harus menanggungnya sendirian " Lanjut Dokter.
" Iya Dok,nanti saya coba bawa ke dokter jiwa " Balas Miska tak enak.
Dokter wanita itu mengangguk dan berpamitan.
Kini tinggallah Rania dan Miska berada diruangan tersebut.
Miska mendekati anak pertamanya itu dan menatap Rania dari ujung kaki hingga kepala.
" Apa yg kamu pikirkan ?" Tanya Miska datar.
Rania diam tak menjawab.
" Ran !" Ucap Miska sedikit kesal.
Rania mengangkat kepalanya menatap sang ibu.
" Kamu mau mati ?" tanya Miska.
" Apa dengan itu Mama akan senang ?" tanya Rania.
__ADS_1
" Apa maksud mu Rania !" Bentak Miska
Rania tersenyum smirk.
" Jangan berbuat ulah,kau bukannya meredam malah menambah masalah baru !" Ucap Miska tegas.
" Benarkah ?" Tanya Rania dengan wajah polosnya.
" Kau !" Ucap Miska mengayunkan tangan.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka,kedua wanita itu menoleh dan terkejut melihat Denis ada disana bersama Tania yg langsung melotot sempurna.
" Ada apa ini ?" tanya Denis juga terkejut dan masuk kedalam.
" Aduhhh " Ucap Tania menutup wajahnya takut.
" Mmas " Ucap Miska langsung menurunkan tangan.
" Ada apa dengan Rania ? Ķenapa kalian bisa ada disini ?" tanya Denis lagi sambil mendekati putrinya.
Rania pelan pelan menyembunyikan tangannya yg terluka kebelakang.
Gadis itu tidak mau Denis tau bahwa ia sudah melakukan hal konyol.
" Kamu kenapa kesini Mas ?" Tanya Miska mencoba mengalihkan.
" Aku ditelfon Kak Cila,dia bilang Rania terluka "
" Kenapa bisa anak ku terluka ?" Tanya Denis melihat Rania.
Rania mendengar kata " Anakku" Langsung tersentak dan menatap Denis berkaca kaca.
Denis mengangkat bahu Rania dan menatap lembut.
" Kamu kenapa sayang ?" Tanya Denis penuh kasih sayang.
Manik Rania berair seketika,ntah mengapa ucapan yg keluar dari mulut Denis membuat hati gadis itu bergetar.
" Aku gak boleh lemah depan Papa " Batin Rania menguatkan dirinya.
Dengan lembut Denis menarik lengan Rania yg gadis itu sembunyikan dan mengernyit kaget.
" Apa ini ?" tanya Denis bingung.
" Maaaf " 1 kata yg keluar dari mulut manis Rania dengan nada gemetar.
" Kenapa minta maaf ? Apa yg sudah kamu lakukan Nak ?" tanya Denis meminta kejujuran.
" Papa " Ucap Rania mewek seketika
Denis menghela nafas dan mengusap lembut kepala gadis itu.
Rania langsung memeluk perut Denis menumpahkan tangisnya disana.
" Maafin Rania Pa,Maafin Rania yg belum bisa membahagiakan Papa hiks hiks " Ucap Rania dengan isak tangisnya.
" Papa bahagia punya kamu Nak " Balas Denis dengan usapan lembutnya.
Tania ikut menangis,gadis itu sama lemahnya dengan sang kakak bahkan bisa lebih cengeng
Miska diam saja menatap moment tersebut.
" Udah ya,ini semua udah selesai diperiksa ??" Tanya Denis melihat sang istri.
Miska mengangguk pelan.
" Adek mana ?" Tanya Denis lagi.
" Dirumah Emak " Jawab Miska hati2.
Denis mengangguk paham,Miska berlalu duluan.
Dari tatapan Denis wanita itu bisa menebak bahwa suaminya pasti akan menjadi wartawan dadakan setelah sampai rumah dan dibelakang anak2 mereka.
❤❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1