
Seharian Histy mengurus Sutar seorang diri,memang sudah kewajiban wanita itu untuk selalu siap menerima apapun yg terjadi didalam rumah.
Serkan belum pulang,Histy tak bisa berharap banyak kepada sang suami yg juga sedang menyelesaikan masalah serius.
Kini Sutar sudah tidur dengan nyaman bersama adiknya dikamar sang ibu.
Histy menatap lama kedua buah hatinya dan menghela nafas panjang.
" Ya Tuhannn,jangan ambil dulu diriku saat ini,kedua malaikat ku masih membutuhkan ibunya " Gumam Histy sedih.
Rasa haru dan pilu kembali wanita itu rasakan,Histy tak bisa membayangkan bagaimana nasib kedua anaknya jika ia pergi meninggalkan dunia.
" ahh kenapa aku cengeng sekali " Lanjut Histy mengusap kasar wajahnya.
Ia tak ingin menangis dan menampakkan wajah kesedihan lagi dihadapan anaknya apalagi Sutar.
Wanita itu akan bersikap tenang agar kedua buah hatinya merasa punya pelindung yg kuat.
Drt drt...
Hape Histy bergetar,wanita itu mendekati nakas dan melihat nama Aktam berada dilayar.
"Assalamualaikum Om " Sapa Histy sopan.
" Waalaikumsalam,kamu dimana ?" Tanya Aktam terdengar serius.
" Aku dirumah,Sutar sakit " Jawab Histy.
Hening...
" Kenapa Om ?" tanya Histy mengernyit.
" Sutar lagi sakit ya ?" Tanya Aktam balik
" iya Om,tadi muntah2 kayaknya masuk angin " Jawab Histy.
" Udah telfon Dokter ?" Tanya Aktam lagi.
" Udah aku beri obat sama kompres,sekarang mendingan " Jawab Histy tenang.
" Oh baguslah "
Hening...
" Ada apa Om ?" Tanya Histy kembali ke topik
" Hm begini,tadi Om terima kabar dari rumah sakit " Balas Aktam.
Deg....
Jantung Histy seketika berhenti berdetak mendengar kata rumah sakit.
" T terus ?" tanya Histy sedikit deg degan.
" Kondisi Sania melemah " Jawab Aktam pelan.
" Ya Tuhan " Ucap Histy menutup mulut tak percaya.
" Dokter bilang kita harus banyak berdoa agar Sania bisa melewati masa kritisnya "
" Mas Serkan belum pulang Om,aku harus gimana ?" Tanya Histy gemetar.
" Huhhhh,dia memang pergi ke kampung ya ?" Tanya Aktam tak percaya.
" iya Om,Mas Serkan gak bisa tinggal diam tanpa memberitau keluarga Sania,apalagi kemarin ibunya meninggal " Jawab Histy sedih.
Aktam terdengar menghela nafas panjang.
Lelaki itu mengerti posisi yg sedang Serkan dan Histy rasakan,dan ia juga tak bisa berbuat banyak.
" Ya udah nanti kalo Serkan pulang,kasih tau dia yg sebenarnya " kata Aktam tenang.
__ADS_1
" Iya Om,makasih udah mau bantu kami " Ucap Histy tulus.
" Iya sama sama " Balas Aktam
Tut.
Panggilan dimatikan,Histy menaruh hapenya dengan wajah lesu.
Perasaan wanita itu kembali diombang ambing dengan rasa bersalah yg tinggi.
" Ya Tuhannn,untuk hidup dan mati kami serahkan segalanya kepada mu,tolong kami.Tuhann " Ucap Histy berharap.
Dirumah sakit,seorang lelaki baru saja sampai dengan mobil sportnya.
Pria tampan tersebut memasuki pekarangan rumah sakit dan menjadi pusat perhatian.
" Ruang Vvip nya dimana ?" tanya Arshad dengan wajah tenang.
" mau bertemu siapa ?" tanya Receptionist sopan.
" Sania " Jawab Arshad.
" oh pasien korban Bom itu ?" Tanya Wanita tersebut mengingat.
" Hm " Balas Arshad dingin.
" Ada disebelah sana,tapi tidak boleh berlama2 "
Arshad mengangguk dan kembali berjalan.
Aura pria keturunan bule tersebut membuat para suster disana terperangah.
Tubuh tinggi dan wajah simetris tersebut sungguh meluluhkan hati.
Arshad menyusuri cukup jauh ruangan yg akan dirinya tuju.
Hingga sebuah pintu bertuliskan Vvip klas 1 terlihat didepan mata.
Hening...
Tak ada siapa pun diruangan tersebut,hanya ada suara detak jantung yg cukup keras dan seorang yg tidur dengan balutan perban diseluruh badannya.
" Sania " Ucap Arshad lirih.
Lelaki itu mendekat dan berdiri disamping brangkar.
" Sania " Ucap Arshad lagi.
Pria dengan kemeja hitam itu melepaskan beberapa tangkai bunga yg ia bawa dan meletakkan di meja brangkas.
" Maaf aku baru berkunjung sekarang,aku membawakan mu bunga mawar yg cantik " Ucap Arshad dengan snyum tipisnya.
Sania terlihat menutup mata,gadis itu sudah cukup lama tertidur dengan lelap.
Arshad menarik kursi dan duduk disamping Sania.
" Kau gadis yg baik dan cantik Sania,aku yakin suatu saat nanti mata yg tertutup ini akan terbuka lebar melihat Dunia yg sudah Tuhan ciptakan dengan sedemikian rupa " Kata Arshad lirih.
Tangan kekar itu terangkat mengusap kepala Sania dengan lembut.
Ntah apa yg Arshad rasakan saat ini,pria itu terlihat begitu perhatian.
Dibawah alam sadar,Sania merasa nyaman.
Gadis itu ikut merasakan kelembutan yg belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Hangat dan nyaman itulah yg ingin Sania ungkapan dibalik tidurnya.
Tanpa disengaja mata tertutup itu terlihat bergerak pelan.
Arshad menyadarinya dan langsung menarik tangannya kembali.
__ADS_1
" Ada apa ? Apa kau sudah bangun ?" Ucap Arshad berdiri.
Tanpa ditunggu,lelaki itu segera membunyikan bel peringatan yg terpasang diatas nakas.
Arshad melihat Sania terus hingga pergerakan Sania melemah dan Dokter datang dengan segera.
" Ada apa ?" tanya Dokter terlihat cukup panik.
" Tadi dia menggerakkan bola matanya " Ucap Arshad serius.
" Kau yakin ? apa dia membuka mata ?" tanya Dokter terkejut.
" Tidak,hanya bergerak sedikit tapi sekarang tidak lagi " Jawab Arshad.
" Baik,saya akan periksa dulu " Ucap Dokter mengambil alih.
Arshad seketika mundur,pria itu menelan ludah kasar melihat Dokter memeriksa tanda vital Sania.
" Jantungnya kembali melemah " Gumam Dokter pelan.
" Ada apa Dok ?" tanya Arshad tak kedengeran.
Dokter diam dan membunyikan bel.
Detik berikutnya suster datang dengan cepat.
" Siapkan alat pacu jantung " Ucap Dokter tegas.
" Ehh ada apa ini ?" tanya Arshad syok.
" Maaf,bisakah anda keluar " Ucap Suster serius.
" ada apa ? kenapa dengan Sania ?" Tanya Arshad berubah panik.
" Tolong keluar sekarang !" Kata Dokter tegas.
" Mohon pengertiannya,pasien dalam keadaan tidak baik2 saja " Kata Suster menyambung.
Deg....
Arshad melototkan matanya dan melihat Sania dengan nanar.
" Silahkan " Ucap suster lagi.
Arshad menghela nafas panjang dengan anggukan pelan.
Lelaki itu pun berjalan gontai keluar dari ruangan keramat tersebut.
" Ada apa Dokter ?" tanya Suster setelah ruangan tertutup.
" Detak jantungnya tidak beraturan " Jawab Dokter kembali memeriksa.
" Apa dia akan sadar ?" tanya Suster hati2.
" Saya tidak tau,kondisinya belum stabil dan jika dia sadar sekarang,saya takutkan dia akan mengamuk dengan kondisi saat ini " Jawab Dokter tak yakin.
Suster terdiam,memang cukup rawan menghadapi korban seperti Sania.
Dokter lelaki itu kembali bergerak dan menyuntikkan beberapa cairan kesehatan.
Diluar Arshad duduk dibangku tunggu dengan wajah cemas.
" Sania kenapa ? Apa karna aku menyentuhnya tadi dia seperti itu ?" Gumam Arshad merasa bersalah.
Lelaki tampan itu mengusap wajah serta menyambak rambutnya sendiri.
" Jika terjadi sesuatu kepada Sania,aku tidak akan memaafkan diriku sendiri !" Ucap lelaki itu tegas.
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1