
Disebuah sekolah swasta seorang pria terduduk dibawah pohon besar,dirinya merasa lelah hari ini.
Pria itu baru saja di putusi sang pacar dan dijauhkan teman sekelasnya,berita tentang dirinya bukan anak Reno dan Nisa menyebar disekolah elit itu.
" Huh ngak papa yang penting aku masih punya keluarga yang selalu dukung aku." Gumam Bara pelan.
Pria remaja itu membaringkan dirinya disana menikmati angin siang yang lumayan panas.
Bel masuk pun kembali berbunyi,Bara merapikan baju sekolahnya dan berjalan masuk kedalam kelas.
Bara duduk sendirian disana,teman sebangku nya berpindah ke depan tidak mau semeja dengan pria itu.
Bara mencoba tenang saat teman2 nya mulai berbisik,bahkan pacar nya yang satu kelas pun tidak mau melihat Bara yang tak mempunyai teman.
Bara tersenyum miring,pria itu menarik nafas panjang agar dirinya tak goyah saat ini.
Pelajaran pun dimulai,Bara yang lumayan pintar bisa menjawab pertanyaan gurunya,sehingga pria itu tak merasa rendah.
Bel tanda pulang berbunyi,Bara memasukkan semua buku2 pelajaran nya kedalam tas,seorang gadis berjalan menunduk kearahnya.
" Kenapa ?" Tanya Bara dingin.
" Em maaf kan aku." Kata gadis itu pelan.
" Tidak apa2,jika kamu memang mau putus dengan aku it's okay." Kata Bara santai.
" Apa benar kamu memang anak selingkuhan Mama mu ?" Tanya gadis itu pelan.
Bara menghela nafas mengepalkan tangannya kesal mendengar pertanyaan mantan pacarnya itu.
" Maaf aku hanya ingin tau,supaya kita bisa berteman."
" Tak perlu,aku tak butuh teman seperti mu,ku rasa kita memang harus putus,karna aku tak mau mempunyai seorang pacar yang hanya melihat dari status seseorang saja." Kata Bara tajam bangkit dari duduknya.
" Taapi aku masih mau dengan mu." Kata gadis itu pelan.
" Ck,untuk apa ? kamu akan sangat malu mempunyai pacar anak selingkuhan Mama nya." Kata Bara kesal.
Gadis itu menunduk takut.
" Aku tak benci kepada mu,aku hanya kecewa saja,aku pikir bagaimana pun diri ku, kamu akan bisa menerimanya,tapi aku rasa aku tak seberuntung itu,hm terima kasih untuk waktu mu selama ini." Kata Bara menepuk pelan pundak gadis itu.
Gadis yang bernama Sania itu langsung menangis menatap Bara.
Bara tersenyum meski dadanya ikut sesak memutuskan hubungannya dengan gadis incarannya itu.
" Pulang lah,Ayah mu pasti menunggu diluar." Kata Bara pelan.
Lelaki itu mengambil tasnya dan berlalu dari sana.
Sania seketika langsung menangis tersedu sedu,Bara meninggalkan dirinya begitu saja.
" Maafkan aku Bara huhuhu." Gadis itu menangis pilu melihat Bara berjalan kehalaman sekolah.
Pria itu berjalan menunduk,dirinya merasa sakit hati dengan perlakuan Sania kepadanya,Bara kembali bersemangat kesekolah karna dia pikir teman2 dan pacarnya akan menerima dirinya seperti biasa,tapi nyatanya semua berubah,hanya sebagian saja yang menegur dirinya,karna tak tau tentang kejadian itu.
" Abaaaaaaaaaangggg...." Teriak 3 bocah serempak membuka pintu geser mobil mewah papanya.
__ADS_1
Bara yang tadinya tertunduk sedih,langsung mendongak mengenali suara cempreng itu.
" Triplet." Gumam Bara pelan,senyum manis nya langsung mengembang melihat ke3 bocah yang masih memakai seragam sekolah merah putih itu tersenyum girang.
Bara berlari kearah mobil Papa nya,dan terkejut seorang membuka pintu kaca depan.
" Bundaaa,Zaivaaa..." Pekik Bara girang.
" Hay Abaaang Bala." Sapa Zaiva tersenyum manis.
Nisa tersenyum lembut.
" Ayo masuk." Ajak Nisa.
Bara mengangguk,ketiga bocah itu langsung berbaris rapi duduk dibangku mereka masing2.
" Kok ada Zaiva Bunda ?" Tanya Bara heran.
" Iya,tadi saat Bunda mau jemput kalian,Clara dan Zaiva kerumah,ya udah sekalian lah Bunda bawa." Jelas Nisa.
" Iya Bang,kata Mama Abang Bala lagi sedih,makanya Iva mau bikin Abang heppy lagi." Kata Zaiva polos.
Bara tersenyum haru dan mengambil anak itu dari Nisa.
Zaiva duduk dipangkuan Bara,gadis berhijab itu mengusap wajah tegas Bara dengan lembut..
" Abang jangan sedih ya,Iva ndak mau liat Mama nangis2 manggil nama Abang,Iva kacian sama Mama." Kata Zaiva teringat akan Clara yang histeris Bara hilang.
" Iya,Abang ngak sedih lagi kok,makasih ya udah semangatin Abang." Kata Bara lembut.
Zaiva mengangguk dan memeluk Bara dengan hangat.
" Ngak mau,Kak Ana bauu." Kata Zaiva menutup hidungnya.
Ana melotot dan mengendus endus keteknya.
" Ngak bau kok,ini tuh bau nya bunga kasturi." Kata Ana mengeles.
" Ndak,Kak Ana bau kentut,kucukkkk " Kata Zaiva memeluk Bara dengan erat.
Mereka langsung tertawa terbahak,Nisa menggeleng pelan melihat Zaiva berani melawan anak bungsu nya itu.
" Ihhh,Ana ngak bau iya kan Bunda." Kata Ana kesal.
" Ngak tau,Bunda ngak kecium." Kata Nisa tak mau ikut campur.
" Ngak bau kan Bang." Kata Ana meminta pendapat kedua saudaranya.
Aktam dan Andrew menjapit hidung nya langsung saat adiknya melihat kearah mereka.
" Huaaaaaa Ana ngak bauuu tauuuuu..." Teriak Ana kesal.
Zaiva terkekeh pelan seraya mengeratkan pelukannya kepada Bara.
" ish,kamu ini jahil banget." Kata Bara menjitak pelan kening bocah itu.
Zaiva cengengesan menggaruk wajahnya gatal.
__ADS_1
Ana bersedekap dada,menatap Zaiva dengan tajam.
Kini Clara tak perlu lagi membalas kejahilan Ana dulu kepadanya,karna kini sudah ada yang mewakili,yaitu Abizha Putri Zaiva.
***
Ditempat lain,seorang lelaki bekerja keras mengangkut karung2 berat di pundaknya,meski begitu dirinya merasa happy dan senyum terus tercetak dibibir sexy pria itu.
" Lo kenapa sih senyum2 sendiri,gue takut nih." Kata Rehan menghadang lelaki itu.
" Ngak papa gue lagi seneng aja." Kata David santai.
" Abis dapat jatah lo ya ?" Tanya Rehan menggoda.
David mengangguk polos dan langsung tertawa..
" Pantesan lo rada sedeng akhir2 ini,gimana rasanya enak ngak ?" Tanya Rehan menggoda.
" Uh,mantap bro." Kata David tertawa terbahak.
" Brengs*k lo !" Hujat Rehan.
" Mending cepetan nikah deh loe,dan rasain pokok nya ajib banget." Kata David dengan otak sengkleknya.
" Sempit ngak ?" Tanya Rehan pelan.
David kaget dan memukul kepala pria itu dengan kardus ditangannya.
" Aduh,sakit tau." Kata Rehan marah.
" Jadi gimana ?" Tanya Rehan tak puas.
David diam,otak nya kembali mengelana memikirkan moment dirinya pertama kali masuk.
" Aduh ngilu." Gumam David menggeleng2kan kepalanya.
" Apaan,cepetan dong gue penasaran nih." Kata Rehan kesal.
" Haha pokoknya enak,lo rasain sendiri aja." Kata David tak mau memikirkan itu lagi,karna dirinya tak sanggup jika adik2 nya tiba2 bangun dan dirinya harus pulang krumah mencari istrinya..
" Lo mah,cerita ngak pernah tuntas,gue doain lo entar ditengah jalan ada lampu merah,mampus lo." Ancam Rehan.
" Eh jangan dong,bisa setres gue kalo ngak keluar." Kata David kesal..
" Ya makanya,lo cerita jangan tanggung dong biar gue bisa belajar dari pengalaman lo."
" Heh,itu rahasia gue sama bini gue lah,ngak boleh diumbar2 ntar lo ngaceng lagi."
" Sial*n lo,gue ngak gitu juga kali kalo ngak lihat langsung." Kata Rehan kesal.
David tertawa terpingkal2 melihat sahabatnya berubah marah.
" Kalo lo udah nyoba,gue yakin lo ngak mau berenti." Batin David tersenyum geli.
" Oh Cila,semoga saja kamu ngak palang merah malam ini." Pinta David dalam hati.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guysss jangan lupa VOTE,LIKE,COMENT ya.