
Dirumah Vero keadaan seperti semula,pagi ini Cila datang kerumah anaknya untuk memastikan bahwa Vero dan Sofia baik2 saja.
Wanita itu tidak datang dengan tangan kosong lantaran Cila sudah membawa makanan yg sudah ia masak sendiri dirumah.
" Papa siapa yg urus ?" Tanya Vero melihat ibunya ikut makan bersama.
" Ck Papa kamu udah gede Vero,bisa urus sendiri " Jawab Cila santai.
" Tapi kan Papa manja sama Mama " Balas Vero.
" Masa sih Pa ?? waahh sama kayak aku dong " Celetuk Sofia yg aktif mendengarkan.
Cila dan Vero menoleh kearah Sofia yg geli sendiri didepan piring makannya.
" Hehe Iya " kata Vero terkekeh.
Cila ikut terkekeh,ia sudah kongke sebelumnya dengan David,bahkan sebelum pergi tadi ia sudah menyiapkan semua kebutuhan suaminya.
Cila tak mungkin membiarkan suaminya seorang diri menyiapkan meski David bisa melakukannya sendiri.
Vero merasa sedikit iri,ia dulu berharap saat menikah kehidupan rumah tangganya ingin seperti orang tua,tapi apa daya keberuntungan belum memihak kepada lelaki tersebut.
Kadang Vero pernah berpikir bahwa semuanya terjadi atas balasan dirinya yg dahulu dimana ia mempermainkan cinta ntah itu Laura atau Hani dan gadis2 yg lain.
Vero juga sering berpikir betapa sakitnya nanti jika Sofia merasakan hal yg sama.
" Vero " Tegur Cila mengernyit melihat putranya melamun.
" ah iya " Jawab Vero tersadar.
" Selesai makan langsung antar Sofia sekolah " Kata Cila tegas.
" Iya Ma,dan Sofia gak usah kemana2 sampai Papa jemput " Kata Cila melihat sang cucu.
" Iya Nek " Jawab Sofia mengangguk.
" Ma kalau Yuna yg jemput Sofia gimana ?" Tanya Vero hati2.
" Jangan dikasih,nanti Sofia jadi gak bener ikut dia " jawab Cila ketus..
Vero diam,pria itu teringat akan ucapan Yuna beberapa hari yg lalu.
" Dan cepat selesaikan masalah kalian,nanti Sofia ikut Mama aja dulu buat penyembuhan mental " Kata Cila tenang.
" Maksud Mama berpisah ?" Tanya Vero.
" Terus apa lagi ? kamu mau bertahan dengan rumah tangga toxic ?? Mama sih ogah " jawab Cila.
Vero menghela nafas panjang,lelaki itu memang harus membuat keputusan demi kebaikan bersama.
" Nanti aku ajak dia ketemu dulu " kata Vero lesu.
" Gak usah,langsung sikat aja,kelamaan dia aja gak perduli sama kamu dan Sofia,ngapain sibuk2 nemuin dia " Kata Cila marah.
" Mama buat kesalahan ya Nek ?" tanya Sofia menunduk.
Cila menghela nafas panjang dengan anggukan kecil.
__ADS_1
" Mama ninggalin Sofia dan Papa,menurut Sofia apa itu bagus ?" tanya Cila lembut.
" Kenapa Mama ninggalin Sofia ?" tanya Sofia balik.
" Nenek gak tau,Sofia lihat sendiri bukan Mama gak pulang cari Sofia kayak Papa " Kata Cila kasihan.
Sofia diam,gadis itu membenarkan ucapan Neneknya barusan.
" Nenek bukan gak sayang sama Mama,tapi Mama kamu udah mengecewakan kita semua " Kata Cila memberi pengertian.
Wanita itu tak mau menyembunyikan masalah Vero dan Yuna kepada cucunya,karna bagaimana pun nanti Sofia pasti tau sendiri dan bisa berpikir mana yg baik dan buruk.
" Tapi Via sayang Mama,Mama gak pernah jahatin Via " kata Sofia ingin menangis.
Cila tersenyum kecil,wanita itu sedikit lega mendengar penuturan cucunya,meski Yuna sangat menjengkelkan bagi mereka tapi setidaknya Yuna bisa bersikap baik kepada Sofia.
" Ya udah,kalo gitu Sofia sekolah yg bener ya biar Mama dan Papa bangga " kata Cila mengalihkan.
" Iya Nek " Balas Sofia tersenyum.
Gadis itu pun kembali bersemangat.
Vero pamit,lelaki itu harus mengantar anaknya sekolah dulu baru pergi bekerja.
Kini ia harus pandai membagi waktu apalagi Sofia sedang butuh bimbingan extra..
" Apa aku tes Dna saja ya ?" Gumam Vero pelan.
Pria itu melirik anaknya yg sedang bernyanyi girang dalam mobil.
" Tapi apa aku tega melakukan itu ? aku percaya ini anak ku " Lanjut Vero lagi.
Tak terasa mereka tiba disekolahan,Vero keluar mengantar anaknya masuk kedalam.
" Nanti kalo ada orang lain yg jemput jangan diberi ya Bu " ucap Vero kepada guru Sofia.
" Iya Pak,kalo bukan Ibu dan bapak yg biasa jemput kita emang gak kasih " Balas Guru itu sopan.
" Hm Ibunya juga jangan dikasih " Kata Vero hati2.
" Hah kenapa ?" Tanya guru spontan..
Vero diam,pria itu terlihat enggan untuk memberitahu masalahnya.
" Hm ya sudah,nanti kalo ada orang lain yg jemput kami hubungi Bapak dulu " Kata Guru sedikit paham.
Vero mengangguk,lelaki itu mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
" Buat apa ?" Tanya seorang lelaki sedang diam dipasangkan dasi oleh sang istri.
"......"
" Lah Yuna kan ibunya " Kata Justin heran.
" Kenapa Yank ?" tanya Laura melihat sang suami.
" ........"
__ADS_1
" Apa !" Pekik Justin terbelalak.
" Kamu gak asal ngomong kan ?" tanya Justin tak percaya.
"...... "
" Ya sudah,nanti aku suruh anak buah buat jaga sekolahan " Kata Justin berusaha tenang.
Tut.
Panggilan terputus,lelaki itu melihat istrinya membuat Laura bingung.
" Kenapa ?" tanya Laura merasa ada yg aneh.
" Sofia bukan anak Vero " Jawab Justin jujur.
" Apa !" pekik Laura terbelalak.
" Aku gak tau,tapi barusan Vero nelfon minta bantu buat jagain sekolahan Sofia takut Yuna mengambil Sofia " Kata Justin menelan ludah kasar.
" Astagaa yg benar saja " kata Laura tak percaya.
" Yuna benar2 keterlaluan,Vero sudah begitu baik sama dia tapi apa balasannya !" kata Justin geram.
" Aku dari awal udah gak sreg Yank sama Yuna,tapi Vero maksa buat kawin " kata Laura malas.
Justin diam sejenak,lelaki itu sedikit menjauh dari istrinya dan menelfon seseorang.
Laura menghela nafas,baru akan pergi dari kamar tapi langkah Laura terhenti saat ia melihat Boy yg sudah selesai mandi dengan air berceceran dilantai.
" Ma,minta baju " Kata Boy tersenyum cerah.
" Udah selesai ?" Tanya Laura tersenyum.
Boy mengangguk,bocah itu mendekat dan memeluk kaki Laura.
" Ma Boy mau ketemu cewek cantik hali ini " Kata Boy manja.
" Hah siapa ?" tanya Laura terkejut.
" Hehe ada deh,nanti Mama temenin Boy ya ?" Kata Boy mengulum senyum.
" Yaaaankkkk anak kamu udah tau betinaaa " Pekik Laura..
" Ihh jangan kasih tau Papa Ma,nanti gak dibolehin pelgi " kata Boy kelabakan.
" Hahahaha " Laura langsung tertawa ngakak.
Wanita itu tau siapa yg akan ditemui anak semata wayangkan karna Laura yg akan bertemu Ibu gadis tersebut.
Boy memang banyak diam,bocah itu sesekali bicara dan bercerita banyak kepada Laura.
Ia menganggap Laura sebagai teman beda dengan Justin,karna bocah itu lebih dekat dan menghabiskan banyak waktu bersama Ibunya.
Justin berangkat bekerja,ia harus menolong sang ipar sebelum semuanya terlambat.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.