Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Gara2 Robot


__ADS_3

Hari ini kerajaan Cila dan David kedatangan Sintia dan Beni serta Denis.


Kini Denis sudah resmi diterima menjadi anggota kepolisian.


Usaha pria itu tak sia2,melihat dari perjuangan Denis selama ini yang memang ingin menjadi anggota saat masih kecil.


" Halo keponaan Oom " Sapa Denis kepada Vero.


Bocah itu mengernyit seolah merasa asing dengan pria itu.


" Dia belum kenal sama kamu " Celetuk Cila tertawa melihat wajah bingung putranya.


Vero merangkak kearah Sintia menjauhi Denis yang sudah mayun.


" Kenapa sayang,ngak kenal ya sama Oom ?" Tanya Sintia tertawa.


Bocah itu mengangguk seolah mengiyakan.


Vero bersembunyi di dada Sintia seraya mengintip sedikit melihat Denis duduk lesehan dilantai.


" Kamu sih ngak pernah kesini,sampe Vero aja ngak ngenalin kamu " Kata Cila manyun.


" Aku kan pelatihan Kak,jadi mana ada waktu buat main kesini " Kata Denis lesu.


" Haha mana udah botak,kulit itam,jelek,idup lagi " Cibir Cila tertawa renyah.


" Biar gini banyak tau yang antri " Kata Denis tak mau kalah.


" Ngantri buat nabokin hahaha " Cila semakin tertawa terbahak.


" Hush..ngak boleh gitu,Denis udah usaha sekarang dia baru bisa nafas lega " Tegur Sintia.


" Iya tuh,Kak Cila olokin aku mulu,tabokin tu Bun mulutnya " Kata Denis kesal.


Cila seketika menutup mulutnya dan berjalan mundur.


Sintia menggeleng pelan melihat tingkah absurd putrinya.


" Eh ngomong2 David mana ?" Tanya Sintia tak melihat menantunya.


" Kerja Bund " Teriak Cila dari dapur.


" Oh pantesan tadi Ayah bilang mau nyusul David" Kata Denis baru paham.


" Iya,biarin aja ntar kalo dah laper Ayah kamu bakal pulang " Kata Sintia tertawa.


Denis mengangguk mengiyakan,dirinya sangat tau dengan sifat Beni.


Beni akan bekerja sangat giat,tapi jika sudah lapar langsung pulang tanpa basa basi.


" Assalamualaikum..." Salam seseorang dari luar.


" Waalaikumsalam " Jawab Denis dan Sintia berbarengan.


Seorang bocah kecil berlari terkidik kidik melihat wanita yang ia kenali.


" Nneekkkkk " Pekik Romeo berlari kearah Sintia.


" Hayyyy cucu nenek yang tampan " Pekik Sintia tak kalah hebohnya.


Bocah itu langsung memeluk Sintia dan ingin menaiki kursi yang diduduki wanita itu.


" Awas jatuh " Tegur Denis membantu bocah itu naik.


" Bantuin Om " Pinta Romeo merengut.


" Iya,ini Om bantuin " Kata Denis tersenyum.


Bocah itu meringankan badannya saat Denis menggendongnya duduk dipaha Sintia.


" Hay adik " Sapa Romeo kepada Vero.

__ADS_1


Vero tertawa girang seolah menyapa balik Romeo.


" Aku ada mainan balu loh dikacih Papa " Adu Romeo sombong.


Vero berloncatan girang dan langsung minta turun.


" Eh iya sabarr " Pekik Sintia kaget.


Vero pun duduk lesehan dilantai menunggu Romeo turun,sedangkan Romeo malah memeluk Sintia dengan erat.


" Kok ngak turun ?" Tanya Sintia tersenyum.


" Heheh nanti aku lagi penyen peyuk Nenek " Kata Romeo cengengesan.


" Kamu jahilin Vero ya ?" Tanya Sintia gemas.


Terlihat Vero masih anteng duduk dibawah melihat mereka berdua.


" Ndak kok Nek,aku cuma mau luas peyuk nenek,kalo ada Velo kan aku ndak kebagian " Kata Romeo tertawa.


Sintia tertawa renyah mencubit gemas cucu lelakinya itu.


" Ish kamu nih,kalo Vero tau bisa ngamuk dia " Kata Sintia tak percaya dengan akal cucunya.


" Oh iya Kakak kamu mana ?" tanya Sintia tak melihat Zaiva.


" Kakak lagi cekolah Nek " Kata Romeo sedih.


" Yahhh kamu kesepian ya ngak ada Kakak ?" Tanya Sintia sedih.


Romeo mengangguk lemah.


Memang hanya Zaiva yang menjadi teman Romeo,karna di komplek rumahnya tergolong rumah orang kaya dengan pagar tinggi,hingga akses untuk bertegur sapa pun menjadi jarang.


" Ya udah ngak usah sedih kan ada Vero " Kata Sintia paham.


Vero masih memantau obrolan mereka berdua,Denis tertawa geli melihat wajah datar Vero yang tak mempunyai teman.


Vero kaget,dan secara reflek tangan kecil itu menabok muka tampan Denis.


" Aduuhhhh " Pekik Denis kaget.


Vero tertawa dan merangkak mendekati Sintia.


" Dah turun sana,kasihan Vero mau main " Kata Sintia kepada Romeo.


Bocah itu mengangguk dan turun.


" Ayo adik,kita main dicana " Ajak Romeo memegang tangan Vero.


" Wadduhhhh jangaaann " Pekik Clara kaget saat Romeo menyeret Vero yang masih duduk.


Clara yang sedang membuat teh hangat pun buru2 keluar dari dapur dan menghentikan anaknya.


" Jangan di seret gitu,Vero belum bisa jalan " Kata Clara ngeri.


" Kenapa belum bica Mam ?" tanya Romeo polos.


" Ya belum bisa aja,belum umurnya " Kata Clara mengangkat Vero.


Romeo beroh ria dan berjalan mengikuti Clara.


" Ck ck ck,untung Clara cepat geraknya " Kata Sintia menghela nafas.


Perempuan itu baru saja ingin menghentikan tapi Clara sudah bergerak cepat.


" Nah kalian duduk sini ya,jangan berkelahi " Titah Clara sambil memberikan mainan untuk mereka.


" Iya Ma " Kata Romeo paham.


" Bagus,anak Mama harus jagain adik Vero ya,jangan buat dia nangis " Kata Clara lembut kepada anaknya.

__ADS_1


Romeo mengangguk paham dan tersenyum cerah.


" Ya udah,Mama bantuin Mama Cila masak dulu " Kata Clara mengusap kepala Romeo dan Vero bersamaan.


Perempuan itu pun berlalu dari sana,Sintia yang melihat moment indah itu tersenyum haru.


Dirinya sungguh tak menyangka kehidupan tuanya akan seindah ini,suami yang baik pekerja keras,anak yang saling menyayangi serta cucu2 yang cantik dan tampan sehat jasmani rohani.


" Ya Tuhan,nikmat mana lagi yang aku dustakan " Gumam Sintia mengusap air matanya.


" Bundaa,kenapa nangis lagi ?" Tanya Denis mendekati wanita itu.


" Bunda terharu " Kata Sintia tersenyum.


" Bunda sungguh tak meyangka,hidup Bunda akan sebahagia ini " Kata Sintia mengusap kepala anaknya.


" Iya Bunda " Kata Denis tersenyum.


" Nanti kalo kamu udah siap menikah,pilihlah perempuan yang baik akhlaknya,meski tak berpendidikan tinggi dan punya pekerjaan yang bagus,tapi dia mampu menjadi istri dan ibu yang baik nanti nya,karna nanti yang kamu butuhkan istri yang siap menerima semua kekurangan kamu,jangan tampilkan kelebihan kamu kepadanya " Nasehat Sintia.


" Kenapa begitu Bun ?" Tanya Denis duduk bersila.


" Kalau kelemahan kamu aja dia bisa terima dengan baik apalagi kelebihan nya " Kata Sintia tersenyum.


" Hehe iya juga ya Bun " Kata Denis tertawa.


" Ya,apalagi kamu kan sekarang kerjanya udah lumayan,pasti banyak juga yang ngejer " Goda Sintia.


" Ah Bunda bisa aja,aku bisa gini karna doa Bunda juga " Kata Denis malu.


" Iya,sebagai Ibu,Bunda hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kalian,tapi tetap kalian yang kerja keras "


" Haha iya,Bunda tugasnya ngerayu Tuhan aja,yang lain nya kami yang usahakan " Kata Denis tertawa.


Sintia ikut tertawa menyetujui ucapan anaknya.


Di pojokan ruangan,2 bocah saling berebut mainan.


" Jangan adik,ini taruhnya di kepala bukan di kaki" Protes Romeo saat Vero memaksa kepala robotnya di taruh di kaki.


" Nyo nyonyo " Kata Vero menggeleng tegas.


Bocah itu masih bersikeras merakit seperti apa yang ia inginkan.


Braakkkkt...


" Ooouuuuu " Kata Vero kaget melihat kepala robot lepas dari tempatnya.


Romeo melotot kaget melihat robot yang baru dibeli Rendi kemarin kini sudah tak karuan.


" Heheheh " Vero cengengesan menunjukkan robot tak berdaya itu didepan Romeo.


" Huaaaaaa Mamaaaaaaa obotnya matiiiiiiiii huaaaaw" Romeo langsung menangis membawa robot itu kepada Clara yang sedang didapur.


" Heheheh " Kata Vero cengengesan menggaruk kepalanya dengan kaki robot yang lain.


Cila yang sedang didapur bersama Clara kaget mendengar teriakan Romeo yang melengking.


" Ada apa sayang ??" Tanya Clara menemui anaknya.


" Pala obotnya lepas Ma,Velo yang matahin " Adu Romeo dengan sisa air matanya.


Cila melotot dan sedikit berlari mengintip anaknya.


Terlihat Vero sedang menggaruk wajahnya dengan tangan Robot,wajah bocah itu menunjukkan bahwa ia tak bersalah sama sekali.


" Astaga anak mas David kenapa gini ya ?" Gumam Cila pasrah melihat ke absuran putranya.


❤❤❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment yaa

__ADS_1


__ADS_2