
" Makasih ya Shad,moga lo selalu panjang umur " Ucap seorang pria kepada temannya.
" Iya moga lo makin ganteng dan segera punya bebeb " Balas teman yg lain mengolok.
" Iya,jangan jadi es batu terus lo dalam preezer ntah susah cairnya " Balas yg lain sambil tertawa.
Pria yg baru berulang tahun itu berdecak kesal dengan cibiran para temannya.
" Dah ah,gue kenyang balik yuk " Ajak seorang wanita mengusap perutnya
" Ya udah yuk,kita balik dulu ya "
Semua orang mengangguk dan bubar dari warung.
Tinggallah pria yg berulang tahun tadi diam sejenak lalu mengeluarkan dompetnya.
" Berapa Bu semuanya ?" tanya Arshad siap membayar.
" 300 ribu Den " jawab si Ibu tersenyum.
Arshad ikut tersenyum dan menyerahkan 3 lembar uang merah.
Yap,lelaki itu adalah anak kembar Alm.Andrew dan Lulu.
Lelaki perawakan bapaknya tersebut terlihat begitu tenang.
Setelah selesai membayar,Arsyad keluar dari warung dan terkejut melihat seorang gadis kecil berjongkok didekat warung.
" Eh udah keluar " Ucap gadis itu mendongak dan langsung berdiri.
Sania ternyata masih menunggu pria yg tadi menyelamatkan hidupnya.
" Kamu ngapain masih disini ?" tanya Arshad mengernyit.
" Maaf Bang,aku nungguin Abang keluar " Jawab Sania tersenyum.
" Buat apa ?" tanya Arshad terkejut
" Hm aku mau....
Tring tring....
Hape Sania berdering,gadis itu merogoh saku celananya dan mengambil ponsel mahal Histi disana.
" Om Serkan " Gumam Sania membaca nama.
Meski tertulis Pak Su disana tapi Sania tau bahwa itu merupakan nomor hape Serkan.
" Iya Om " Sapa Sania sopan.
" Kamu dimana ? kenapa belum pulang ?" Tanya Serkan diseberang
" em anu Om ak ku lagi di em jalan " Jawab Sania bingung.
" Jalan mana ? ini udah jam 10 Sania,bahaya " kata Serkan tegas.
Sania diam dan melirik lelaki tinggi didepannya.
Arshad yg merasa aneh langsung melongos pergi membuat Sania kelabakan sendiri.
" Iya Om aku pulang " Kata Sania cepat.
Tut.
Panggilan terputus,gadis itu menaruh lagi hape Mahal Histi di saku dan mengejar lelaki dingin tersebut yg berjalan cepat.
" Bang Tunggu " Pekik Sania terus mengejar.
Arshad terus berjalan dan berhenti tiba2.
Brugh....
Tak sempat mengerem,Sania menabrak punggung lelaki tersebut.
" Apa ?" Tanya Arshad ketus.
" Kenapa lari sih ? kan aku cape ngejarnya " Kata Sania kesal.
" Siapa yg lari orang cuma jalan " Balas Arshad dingin.
Sania diam sejenak menatap lelaki dengan mata tajam tersebut.
__ADS_1
Melihat gadis itu belum juga menyampaikan tujuan,Arshad kembali berjalan.
" Eeeh tungguin " Pekik Sania kembali mengejar.
Arshad mendekati motornya dan memasang helm.
Sania diam melihat pria tersebut siap2 pergi.
Arshad tak mengubris,pria itu menggantung kue sisa ulang tahunnya dimotor dan meninggalkan lokasi.
" Yaahhh pergi " Ucap Sania lesu.
Gadis itu terus melihat Arshad dengan wajah lesu.
" Iya juga ya,kenapa aku ngejar abang itu ? emangnya aku mau ngapain ?" Tanya Sania bingung sendiri.
" Aduuhhhh aku kenapa sihhh,pasti Abang itu nganggap aku aneh " Gumam Sania menepuk kepalanya sendiri.
Gadis itu berbalik badan dan melangkah lesu.
Ia bingung mau pulang pakai apa,jika menelfon Serkan Sania yakin dirinya dan Histi pasti diomeli dan gadis itu tak mau membuat kegaduhan antar suami istri tersebut.
" Huh aku kemana nih ? angkot pasti udah pada pulang jam segini ?" Gumam Sania lesu.
Ia melihat kantongnya dan mendapati uang 100 ribu yg masih utuh.
Karna lelah berjalan,Sania duduk diemperan trotoar sambil menunggu taxi lewat.
Sedikit banyak ia sudah dibekali pengetahuan dari Sutar dan Histi..
" Enak banget ya tinggal dikota jam segini masih rame,coba kalo dikampung uh udah pada kunci pintu semua warganya " Gumam Sania pelan.
Hiruk pikuk ramai pemotor dan pemobil membuat gadis kampung itu terpesona..
Sebenarnya Sania sudah ditawarkan Histi untuk melanjutkan sekolah di kota saja,tapi gadis itu masih belum setinggal dengan ibunya dikampung apalagi Ayahnya sudah meninggal.
Pilihan sulit itu tiba2 menggentayangi pikiran gadis beranjak dewasa tersebut.
Tin....
Sebuah klakson berbunyi dari arah yg cukup dekat.
Sania menoleh dan terkejut melihat sinar lampu yg menyilaukan mata.
" Abang tadi " Ucap Sania melotot.
Motor itu mendekat dan terparkir pas didepannya.
" Kamu pulang kemana ?" Tanya Arshad dingin.
" Kerumah Bang " Jawab Sania malu.
" Dimana ?" Tanya Arshad lagi sambil melihat penampilan Sania dari ujung kaki hingga kepala.
" Em disana " Jawab Sania menunjuk kearah utara.
" Kenapa masih menunggu disini ?" Tanya Arshad lagi.
" Nungguin taxi " Jawab Sania tersenyym kecil.
" Naik " Kata Arshad tenang.
" Hah ?" Ulang Sania terkejut.
" Naik,saya antar " Jawab Arshad tenang.
" Wahh yg bener Bang ?" Tanya Sania heboh.
" Abang gak modus kayak cowok tadi kan ?" Tanya Sania ngeri.
" Gak tertarik " Jawab Arshad ketus.
" Gak tertarik ?" Tanya Sania menggaruk kepala.
Arshad melihat penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga kepala lagi.
Tak ada yg menarik,wajah Sania seperti gadis kampung lainnya terlihat ayu dengan kulit coklat dan tak terlalu tinggi.
" Pegang ini " Kata Arshad menyerahkan kotak kuenya kepada gadis itu
Sania diam memantau pria asing tersebut.
__ADS_1
" Cepeetan " Kata Arshad ketus.
" Eeh iya Bang,aku duduk dimana ?" Tanya Sania grogi.
" Belakang " Jawab Arshad cuek.
Sania mengangguk,gadis itu pun menaiki motor Arshad.
" Gak usah peluk2 " Ucap Arshad menjauhkan tangan Sania dari pinggangnya
" Hah siapa yg peluk,aku cuma pegangan " Kata Sania mengangkat tangannya cepat.
" Gak usah sentuh " Kata Arshad ketus.
Sania diam dan memegang pedal belakang.
Keduanya pun mulai melaju.
Tadi saat sampai rumah,pikiran Arshad kacau seketika.
Bagaimana tidak,gadis asing yg polos tadi membuat hatinya tak tenang apalagi Arshad melihat jam yg menunjukkan hampir tengah malam.
Dengan tergesa lelaki itu keluar lagi dari rumah menyusul gadis asing tersebut lalu benar saja Sania masih berada dilokasi meski sedikit jauh.
Selama diperjalanan tak ada percakapan apapun,Arshad fokus berkendara dan Sania fokus dengan otak bingungnya.
Dirumah,Histi baru saja pulang diantar supir.
Wanita itu terlihat membawa beberapa paperbag dan makanan.
" Loh tumben kamu nungguin aku Yank ?" Tanya Histi terkekeh melihat suaminya berdiri didepan teras..
" Mana Sania ?" Tanya Serkan tanpa basa basi.
" Bukannya tadi udah pulang duluan ?" Tanya Histi mengernyit.
" Gak ada,dia belum pulang " Jawab Serkan kesal.
" Hah yg bener ? tadi dia udah pulang jam 8 Yank " Balas Histi terkejut.
" Astaga Histiiii,kamu suruh dia pulang sendirian ?" Tanya Serkan marah.
" Gak bukan gitu,tadi dia minta pulang duluan " Balas Histi kelabakan.
" Yank Sania itu baru disini,mana tau dia daerah sini !" Kata Serkan geram.
" Dia udah hafal jalan Yank,bentar lagi mungkin sampe " Kata Histi mencoba meredam kekesalan suaminya..
Tak lama suara motor terdengar,pasangan itu menoleh melihat dari kejauhan
" Itu Sania ?" Tanya Serkan menyelisik gadis diseberang jalan.
" kayaknya iya deh,dia sama siapa ?" Tanya Histi menajamkan matanya
" Apa Sania udah punya pacar ?" Tanya Serkan melihat sang istri.
" Dia gak ada cerita sih,tapi kayaknya aku harus mencari tau " Jawab Histi tegas.
Diseberang,Sania turun dan menyerahkan kue yg ia pegang.
" Buat kamu aja " Ucap Arshad tenang.
" Rumah mu yg mana ?" Tanya Arshad lagi merasa kenal dengan lingkungan sekitar.
" Em disana " Jawab Sania menunjuk sebuah rumah kecil yg cukup jauh dari rumah Serkan.
" Kenapa berhentinya disini ?" tanya Arshad mengernyit.
" Gak papa Bang,disini aja makasih ya " Jawab Sania mencari alasan.
Arshad melihat kearah rumah Histi dan terkejut melihat pasangan itu berada diluar.
" Duh gawat bakal rame kalo Kak Histi ngenalin aku " Batin Arshad ngeri.
Pria itu dengan cepat menutup kaca helmnya dan pergi dari sana.
" Eeh Bangg " Pekik Sania melotot pria itu langsung ngegas tanpa pamitan.
Motor Arshad semakin jauh,Sania menghela nafas panjang.
" Yaahh padahal mau tanya namanya siapa ?" Gumam Sania lesu.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya