
Disebuah rumah,seorang pria duduk termenung didepan rumah dengan tatapan kosong.
Sudah lebih 40 hari sang anak pergi tanpa kabar.
Denis benar2 merasa kehilangan,bahkan lelaki itu tercyduk sering bolos bekerja hingga mendapat teguran dari atasannya.
Dari kejauhan,seorang wanita menatap sedih sang suami.
Yap,Miska merasa Denis sudah banyak berubah.
Lelaki yg biasanya hangat dan nyaman kini menjadi dingin dan sulit diajak bicara.
Bukan hanya Miska saja yg merasa seperti itu,sang putri juga merasakan hal yg sama.
Bahkan anak bungsu Denis juga sedih dengan keadaan Papanya saat ini.
" Aku harus gimana lagi Mas " Gumam Miska pelan.
Berat badan Miska turun berapa kilo,wanita itu juga setres mengingat keluarganya kacau tak terkendali.
Sebuah motor berhenti didepan rumah,seorang wanita parubaya pun turun dengan rantang ditangannya.
" Assalamualaikum " Sapa wanita tua itu sopan.
Denis diam masih dengan tatapan kosong.
" Denis " Panggil Ibu Miska.
Denis mendongak dan kaget melihat wanita tersebut.
" Maaf Mak,Aku ga ngeh " ucap Denis bergegas menyalami mertuanya.
" Iya ga papa " balas Ibu Miska tenang.
" Miska ada dirumah ?" tanya Wanita itu lagi.
" hm sepertinya ada,masuk saja " Jawab Denis sedikit ragu.
Ibu Miska menatap menantunya dalam,meski Denis bersikap tenang tapi wanita itu tau bahwa lelaki tersebut sedang tak baik2 saja.
Tanpa bicara Ibu Miska pun masuk kerumah.
" Apa yg kamu lakukan ?" tanya wanita itu melihat Miska mengintip dari tembok ruanv tamu.
Miska diam dengan tatapan sedih.
" Suami mu sudah makan ?"
" Belum,udah 2 hari dia ga makan " Jawab Miska.
" Kenapa ? Kau tidak memasak ?" tanya sang ibu terkejut.
" Aku selalu masak Mak,tapi Mas Denis ga berselera sama sekali " Jawab Miska mendesah.
Sang ibu menghela nafas panjang,kondisi keluarga anaknya saat ini memang dikatakan sedang tak baik2 saja.
" Ini siapkan,aku akan bujuk suami mu makan " Ucap wanita tua itu memberi rantang.
Miska menerimanya dengan tatapan sedih.
Seenak apapun dirinya masak untuk Denis,lelaki itu sama sekali tidak tertarik.
__ADS_1
Sang mertua mendekati menantunya didepan dan duduk berseblahan.
" Miskanya ada Mak?" tanya Denis.
" Ada " Jawab Sang mertua.
Denis mengangguk paham.
" Kamu sudah makan ?"
" Udah Mak " Jawab Denis berbohong.
Ibu Miska terkekeh membuat Denis bingung.
" Ada apa Mak ?" tanya Denis.
" Ga papa " jawab Ibu Miska tenang.
" Aku belum menemukan Rania,aku juga udah lapor ke pihak berwajib,tapi belum menemukan titik terang juga " Ujar Denis.
" ya dia sengaja bersembunyi dari kita semua " Balas Ibu Miska.
" Aku ga tau lagi harus gimana ? Rasanya hati ku sangat sesak " Kata Denis menarik nafas panjanv.
" Mak tau,kamu pasti khawatir,tapi tenang aja Rania anak yg kuat dan dia bisa melindungi diri " Kata sang mertua menenangkan.
" Ya aku tau dia gadis yg sangat mandiri,hanya saja aku tidak bisa menghadapi situasi seperti ini " Balas Denis.
Ibu Miska diam,dirinya paham akan perasaan Denis saat ini dan tak ingin menyalahkan siapapun.
Miska datang dan menegur bahwa makanan yg Ibunya bawa sudah siap.
" Ayo makan dulu " Ajak Ibu Miska kepada Denis.
" Makan dulu Mas,kamu udah 2 hari gak makan " Sahut Miska rada takut.
Denis melototkan matanya memberi kode,tapi Miska tak perduli dan berharap kedatangan ibunya bisa membantu.
" Makan dulu Denis,kalo kamu sakit semua akan makin kacau " Ucap sang mertua dengan nada hangat.
" Aku ga laper " Balas Denis.
" Sedikit aja Mas,kalo kamu sakit kami semua juga bakalan sakit " Kata Miska dengan nada gemetar.
Denis diam,dirinya sama sekali tidak berselera tapi ia juga sulit menolak apalagi mertuanya yg jauh2 membawa makanan.
" Baiklah " Kata Denis pasrah.
Miska tersenyum,wanita itu pun bergerak cepat kedapur dengan wajah riang.
Denis berjalan gontai diikuti mertuanya dari belakang.
" Kamu sama seperti Rania,Nis,kalian berdua sama2 tidak bisa dikeras " Batin Wanita tua itu merasa lucu.
Sebenarnya Ibu Miska juga sangat merindukan cucunya tersebut,Rania memang tak terlalu dekat dengan siapapun,tapi sikap dingin gadis itu bisa membuat seseorang merasa hangat jika sudah kenal.
Denis makan dengan tenang,Miska duduk disebelah lelaki itu berharap Denis membutuhkan bantuannya meski hanya mengambil air atau menambahkan nasi serta lauk.
Ditempat lain,seorang gadis terlihat berbaring tak berdaya dengan selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya.
Rania jatuh sakit,yap,hujan semalam saat ia pulang bekerja membuat imun tubuh gadis itu lemah.
__ADS_1
Rania demam,suhu tubuhnya cukup tinggi,bukan hanya ia gadis tersebut juga terserang flu dan batuk.
" Aku sangat lapar " Ucap Rania lemah.
Seharian gadis itu belum makan sama sekali,ia hanya minum air putih kemasan sisa kemarin.
Rania tak punya tenaga untuk keluar rumah mencari makanan,apalagi kost nya sekarang jauh dari kerumunan warga.
" Aku harus bagaimana ? Kepala ku sangat sakit " Ucap Rania bingung.
Gadis itu mencoba bangun,saat akan berdiri ia pun terjatuh karna rasa pusingnya yg luar biasa.
" Oh Tuhan,apakah aku akan berakhir sekarang ?" Gumam Rania takut.
Tak ada yg bisa ia mintai tolong,biasanya ada Arshad yg bisa ia andalkan,tapi saat ini lelaki itu tak bisa dihubungi dan Bimo temannya juga berada diluar kota tugas daerah.
Rania benar2 sendirian.
Gadis itu merenung menatap langit2 kamar,hanya ada kesunyian yg mendalam.
Bayangan2 masa kecilnya bersama keluarga pun terlintas dipikiran.
" Pa,Ma,Rania kangen " Ucap Rania gemetar
Tak terasa air matanya menyurut perlahan,bagaimana pun Rania hanyalah manusia biasa yg punya memori sedih dan senang.
Ia teringat akan masa kecilnya yg bahagia sebelum kecelakaan sang adik terjadi.
" Andai aku bisa mengulang semua itu Ma,harusnya aku saja yg ditabrak bukan adik ku,harusnya kalian yg kehilangan aku saat itu bukan dia " Ucap Rania lirih.
Air matanya terus berderai,rasa pusing juga terus menggeliangkan kepala gadis malang tersebut.
Rania menyalahkan dirinya lagi dan lagi.
Memori buruk yg ia terima terus menghantui hingga gadis itu kelelahan dan tidur dengan sisa air mata yg perlahan mengering.
Malam pun tiba,Rania masih tertidur lelap.
Gadis itu tak sadar kini ada seorang pria duduk menatap dirinya dengan perasaan yg tak bisa dijelaskan.
Tangan pria itu mulai menyentuh pipi Rania yg pucat.
" Apa dia sakit ? Kenapa badannya panas sekali ?" Ucap lelaki itu mengernyit.
Perlahan tangannya terus menyentuh memeriksa suhu tubuh Rania yg tak bisa diprediksi.
" Rannn " Panggil pria itu pelan.
Hening tak ada jawaban.
" Rania bangun " Ucap lelaki itu lagi.
Rania tersentak dan mulai membuka matanya perlahan.
" Kamu sakit ?" Ucap lelaki itu serius.
Rania menatap sayu antara sadar dan tidak.
" Ran kamu kenapa ? Hei " Tegur Lelaki itu khawatir.
Rania tersenyum lalu memejamkan lagi matanya.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.