Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Back


__ADS_3

" Hei tungguu " Pekik Reka mengejar Sania yg berjalan cepat kearah luar.


Gadis itu tak perduli,Rania terus berjalan sambil menenteng tangan sang adik.


" Duh aku harus kemana dulu nih ?" Gumam Reka bingung.


Ada tumpukan kertas ditangannya yg harus diserahkan ke Bos tapi disisi lain Reka juga tak ingjn kehilangan kesempatan untuk bicara dengan Rania.


Baim melihat kebelakang sambil berjalan.


Mereka hampir sampai dipintu utama,Rania tak menoleh sama sekali.


" Om " Ucap Baim pelan saat maniknya melihat seseorang.


Rania berhenti melangkah dan melihat kearah sang adik.


" Om Justin " ucap Rania pelan.


Justin terlihat sedang bicara dengan receptionist.


Dari tampilannya sekarang sudah menunjukkan bahwa lelaki itu begitu disegani.


Setelah Justin selesai,pria itu melihat kedepan dan terkejut


" Loh kalian disini " kata Justin mendekat.


" Iya Om " jawab Rania mengangguk.


" Kamu ikut juga Im " kata Justin mencubit pipi bocah tersebut.


Baim tersenyum malu.


" Om gak ikut anter Om Vero ?" Tanya Rania.


" hm nggak,Om ada kerjaan jadi cuma Bibi sama Mama Papa kalian aja yg ikut " Balas Justin.


Rania mengangguk paham.


" Oh iya Ran,kamu kenapa disini ?" Tanya Justin polos.


" Hm aku tadi ketemu sama managernya Om " Jawab Rania.


" Kenapa ?" tanya Justin mengernyit.


" Kayaknya Om Justin gak tau kasus yg beredar " Batin Rania menebak.


" Eh Reka " Ucap Justin tiba2.


Rania berbalik badan dan terdiam melihat Reka tepat berada didepan mereka.


" Iya Pak " Balas Reka menunduk sopan.


" Kamu ada kerjaan gak siang ini ?" tanya Justin.


" Hm belum tau Pak " jawab Reka.


" Kalo ngga ada,nanti keruangan saya ya " kata Justin tersenyum.


Reka mengangguk kecil.


" Ya udah Ran,Om masuk dulu ya masih banyak kerjaan " Kata Justin pamit.


" Eh iya Om " Balas Rania tersenyum.


Justin berlalu,pria itu langsung masuk lift khusus dan meluncur keruangannya.


Kini tinggallah Rania,Baim dan Reka disana.


Baik melihat kakaknya dalam,wajah Rania begitu datar dan tenang.


" Ayo Dek " Ajak Rania.


" Tunggu " Tahan Reka memegang bahu Rania.


Baim maju kedepan menatap Reka nyalang seolah tak suka dengan perlakuan pria dewasa didepannya saat ini.


Reka mundur selangkah melihat bocah didepannya menatap aneh.

__ADS_1


" Hm ayo bicara " Ajak Reka tenang.


" Bicara apa ?" tanya Rania mengernyit.


" tunggu disini " kata Reka serius.


" Aku masih banyak kerjaan " Balas Rania.


" Kau mau kemana ?" tanya Reka serius.


" Kenapa ingin tau ?" tanya Rania balik


" Hei bocah semprul,aku itu mau ngomong sama kamu " kata Reka gemas.


Rania diam,gadis itu menatap lelaki didepannya dengan perasaan yg tak menentu.


" Kak " Panggil Baim menarik pelan tangan Rania.


" Iya,ayo " kata Rania mengangguk.


Keduanya kembali berjalan,Reka yg ditinggal begitu saja melongo tak percaya


" Heiii " Panggil Reka mulai kesal.


" Aku ditaman tak jauh dari sini,Adik ku ingin bermain " Balas Rania tenang


" Baiklah,tunggu aku disana " Kata Reka melemah.


" Sampai kapan aku akan menunggu ?" tanya Rania lagi.


Deg...


Reka tersentak mendengar pertanyaan gadis itu.


Sekilas Reka kembali ingat ucapan Rania malam tadi yg sedikit menyayat hati.


" Aku akan menyusul,em sebentar lagi " Balas Reka mendekat.


Rania mengangguk,gadis itu kembali berjalan dan keluar dari gedung.


Reka masih diam ditempatnya menatap punggung manusia beda usia tersebut.


Lelaki itu berbalik badan dan berlari menuju ruangannya.


Diluar,Rania menghela nafas panjang.


Jantungnya hampir saja copot berhadapan langsung dengan Reka barusan.


" Tangan Kakak kenapa dingin ?" Tanya Baim mendongak.


" Hm em ngga " Balas Rania kaget.


" Kakak panas ya ?" tanya Baim lagi.


Rania menelan ludah kasar,tanpa disadari ia terlihat begitu tremor meski setengah mati tetap tenang didepan Reka.


" Ayo pergi " Kata Rania mengalihkan.


Baim mengangguk,kaki keduanya kembali melangkah.


" Please Ran jangan berharap lagi " Batin Rania menenangkan dirinya.


Ditempat lain,seorang wanita begitu diam saat mereka sampai dilokasi.


" Jaga diri baik2 ya " Ucap sang suami yg berada disebelahnya.


" Aku gak mau kamu pergi " Ucap Hani berkaca kaca.


Vero menghela nafas dan mengusap lembut kepala sang istri.


" Aku bisa berbuat apa ?" tanya Vero balik.


Hani menunduk dalam,air matanya mulai menetes sedih.


Wanita mana yg rela melepaskan suami tercintanya untuk berada ditempat jauh.


" Kamu yg kuat Hani,Vero akan baik2 saja " Celetuk Miska lembut.

__ADS_1


Hani menggeleng pelan.


" Kamu jaga diri baik2 Ver,jangan membuat masalah " kata Denis tegas.


" Iya Om " Balas Vero mengerti.


" Udah waktunya,ayo turun " Ajak Denis.


Miska mengangguk,semuanya membuka pintu mobil.


Hanya Denis dan Miska yg mengantar Vero kembali lagi ke sel karna Cila tak ingin ikut begitupun David yg merasa tak kuat.


Kedua orang tua Vero memilih menghindar daripada nanti menjadi beban tersendiri.


Tanpa dipungkiri Denis juga sangat sedih,tapi apa boleh buat ia harus mewakilkan kakaknya.


" Verooo " Pekik seseorang dari arah belakang.


Vero berbalik badan dan kaget melihat seorang wanita berjalan tergopoh2 dengan gamis panjang.


" Bibi " Ucap Vero pelan.


" Vero sayang,maaf Bibi datang terlambat " Ucap Clara memeluk keponakannya tersebut.


" Iya Bi gak papa " Balas Vero tersenyum.


" Kamu yg sabar ya Ver,semua akan selesai " ucap Rendi menguatkan.


" Iya Om " balas Vero lagi2 tersenyum.


" Kamu juga yg kuat ya Han,anggap saja Vero lagi kerja diluar " kata Clara melihat Hani sedih.


Hani mengangguk lemah.


" Oh iya Ver,ini ada titipan dari Romeo " Kata Clara memberikan paperbag.


" Apa ini Bi ?" tanya Vero mengernyit.


" Beberapa buku dan bantal buat tidur " Balas Clara terkekeh.


Vero menerimanya dengan senyum cerah,meski jarang bertemu ternyata Romeo masih perduli kepadanya.


" Ya udah ayo masuk " Ajak Denis lagi.


Semuanya mengangguk,Denis masuk duluan untuk melaporkan bahwa Vero datang tepat waktu.


Lelaki itu sedikit berbincang kepada penjaga untuk menitipkan Vero lagi.


Setelah selesai kini tiba saatnya Vero harus masuk dan bergabung bersama temannya lagi.


" Yankk " Panggil Hani kembali berderai.


Vero tersenyum,lelaki itu melambaika tangan tanpa mengambil tangan Hani yg ingin diraih.


" Yang sabar Han " Ucap Miska mengusap bahu Hani.


" Hiks hiks Mas Veroo " Kata Hani dengan tangis pecahnya.


Vero terus berjalan tanpa melihat kesedihan sang istri,jujur lelaki itu juga tak ingin berpisah tapi apa boleh buat dirinya hanya bisa menerima takdir yg ada.


" Ayo kita kembali " ajak Clara sambil mengusap air matanya.


" Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Sofia nanti Kak hiks hiks,Sofia pasti mau Papanya " Kata Hani terus menangis.


Miska meneteskan air mata,wanita itu ikut sedih dengan kemalangan nasib keponakan Denis tersebut.


" Nanti Bibi bantu jelasin " Kata Clara mencoba memberi semangat.


Rendi mendekati Denis,lelaki itu mengusap bahu Denis yg menatap Vero yg sudah menghilang.


" Dia akan kembali " Ucap Rendi lembut.


" Ya Vero anak yg kuat " Balas Denis menarik nafas panjang.


Rendi mengangguk mengiyakan,mereka semua pun membawa Hani pulang kerumah.


❤❤❤❤

__ADS_1


Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2