Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Deg degan


__ADS_3

Dirumah sakit terjadi kerusuhan di ruang perawatan lantaran seorang anak kecil yg sedang dirawat insentif mengalami kejang2.


Para Dokter terlihat berlarian dikoridor menuju ruangan tersebut.


" Apa yg terjadi ?" Tanya salah satu Dokter anak kepada Suster.


" Dia mengalami pendarahan Dok dan tubuhnya kejang2 terus " Jawab Suster terlihat panik.


" Astaga " Ucap Dokter lumayan tua itu berlari masuk.


Ruangan dipenuhi para Dokter,terlihat seorang ibu parubaya menangis dipojokan dnegan wajah paniknya.


" Pak tlong biarkan kami menangani ini " Ucap salah satu Dokter menegur seorang pria yg berusaha menyelamatkan gadis kecil tersebut.


" Daniel " Panggil seseorang membuat pria tersebut menoleh.


" Bang,please tolongin anak aku " Ucap Daniel melepas tubuh putrinya.


" Kenapa dengan Zini ?" Tanya Pria bernama Doni tersebut.


" Aku gak tau Bang,tiba2 udah gini " Jawab Daniel sedih.


" Biar kami yg tangani,temani ibumu " Ucap Doni tenang.


" Tapi Bang,Zini gak papa kan ?" Tanya Daniel berkaca kaca.


Doni tak menjawab,lelaki itu maju kedepan dan mengambil alih.


" Siapkan alat pompa jantung " Ucap Doni kepada Rekannya.


" siap Dok " jawab Dokter lain mengerti.


" Ayo Pak,kesini " Ucap Perawat membujuk Daniel menatap anaknya dikelilingi oleh orang2 bermasker serta mengenakan pakaian khusus.


Daniel menurut,lelaki itu mendekati ibunya yg diam menatap sendu.


" Bu " Panggil Daniel lemah.


" Daniel hiks hiks " Sang Ibu langsung menangis terisak.


" Doakan Zini Bu " Pinta Daniel gemetar.


" Apa yg terjadi kepada Zini Daniel ? dia kenapa huhuhu " Ucap Wanita itu pilu.


Daniel menggeleng pelan,dirinya juga tak tau kenpa sang anak tiba2 drop.


" Tadi dia masih main sama Ibu,dia minta temenin."


Daniel diam sejenak,lelaki itu tidak tau apa yg terjadi kepada anaknya lantaran ia sibuk mencari uang untuk perawatan Zini.


Daniel membawa ibunya keluar untuk menenangkan wanita tersebut dan membiarkan Dokter bekerja semestinya.


Keduanya diam dikursi menunggu kabar.


Didalam Dokter terlihat begitu serius,beberapa pria tersebut sangat fokus memeriksa gadis kecil didepan mereka.


" Pembuluh darahnya pecah Dok " Ucap salah satu Dokter.


" Ya,imunnya turun drastis " Balas Dokter lain.


" Apa dia akan baik2 saja ?"


" Ntahlah,gadis ini sudah sangat lelah " Jawab Doni menghela nafas.


Para Dokter saling melihat,memang tak mudah menghadapi hal rawan seperti sekarang apalagi Zini masih sangat belia.


Para Dokter terus berusaha,Doni beberapa kali menarik dan menghela nafasnya.


Hampir 1 jam berkutat akhirnya Zini mulai tenang.

__ADS_1


Gadis itu terpaksa kembali dibawa keruang Icu dan mendapat perawatan extra.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka,nampaklah seorang pria duduk dengan menaruh tangan dikeningnya.


" Daniel " Panggil Doni pelan.


Daniel membuka mata dan duduk dengan tenang.


" Apa Zini baik2 saja ?" Tanya Daniel serak.


" Kau menangis ?" Tanya Doni menepuk bahu lelaki itu.


" Aku sangat cengeng akhir2 ini " Jawab Daniel terkekeh.


" Bisa aku maklumi,ini sangat berat bagi mu "


" Ya sangat berat Bang,aku pengen istirahat juga " Balas Daniel tersenyum.


" Tapi aku harus kuat,anak mu butuh kau " Kata Doni serius.


Daniel diam,pria itu mencoba menenangkan perasaannya yg begitu kacau.


" Jujur saja Niel,ini juga sulit bagi kami,imun Zini sangat lemah " Kata Doni harus jujur.


" Aku tau " Jawab Daniel.


" Kita harus cari cara agar Zini tetap bertahan "


" Butuh berapa biaya lagi ?" tanya Daniel tenang.


" Kau sudah mendapatkannya ?" Tanya Doni


" Aku sedang usaha "


" Aku ingin sekali membantu,tapi putri ku sedang butuh uang juga untuk praktek kuliahnya " Kata Doni menghela nafas.


Doni tersenyum,keduanya saling mengobrol santai hingga Doni berpamitan untuk kembali keruangannya.


Daniel masih diam ditempat dengan menyugar rambut,lelaki itu masih belum tenang.


" Apa yg harus aku lakukan ?" Gumam Daniel pelan.


" Dimana aku harus mendapatkan tambahan lagi ?" Lanjut pria itu frustasi.


Semua aset milik lelaki itu hampir habis tak tersisa,Daniel baru saja menjual rumah ibunya hasil bagi dengan ayahnya dulu,lelaki itu sudah mendapat izin dari sang ibunda untuk pengobatan Zini,semua daya upaya sudah dilakukan dengan semaksimal mungkin,tapi biaya Zini makin melonjak apalagi tingkat kesehatannya menurun drastis.


Daniel menyugar rambutnya kesal,tak lama sang ibu datang dengan secangkir kopi panas.


" Kau baik2 saja ?" tanya wanita itu duduk disebelah sang putra.


" Iya Bu " Jawab Daniel membenarkan duduknya.


" Apa Zini baik2 saja ?"


" Ya,Dokter bilang cukup baik " Jawab Daniel tenang.


" Ibu khwatir Niel,anak mu akhir2 ini membuat kita gak tenang " Kata wanita itu menghela nafas.


" Ibu menyerah ?" tanya Daniel menoleh.


Deg...


Sang ibu melotot seketika mendengar ucapan Daniel barusan.


" ibu gak bilang gitu "


" tapi terkesan seperti itu " Balas Daniel.

__ADS_1


" Niel " Panggil wanita itu lembut.


" Aku juga lelah Bu,aku tau ini merepotkan tapi Zini harapan aku satu2nya " Kata Daniel sedih.


" Ibu paham Nak " Balas wanita itu memeluk.


Daniel menahan tangisnya sekuat tenaga tapi lelaki itu kalah tak kala pelukan sang ibu makin erat.


" Bantu aku Bu hiks hiks " Ucap Daniel mulai menangis.


" Ibu akan membantu hingga akhir,jangan khwatir " Balas wanita itu menenangkan.


" Apa aku harus membunuh Nial untuk menebus segala dosanya kepada Zini ?" tanya Daniel serius.


" Hei,anak ibu bukan orang pendendam " Nasehat wanita itu cukup terkejut.


" Aku tak tau dia dimana dan seharusnya dia berada disini menemani Zini,membersihkan muntahannya setiap hari,lalu menyemangati Zini agar bertahan hidup " Kata Daniel kesal.


" Jangan pikirkan Nial lagi Nak,itu hanya akan membuat kamu makin benci sama dia " Ucap Sang ibu.


" Aku gak percaya wanita lagi Bu " Kata Daniel menunduk.


Wanita parubaya itu menghela nafas panjang dan mengusap rambut lebat putranya.


Meski Daniel sudah dewasa tapi lelaki itu saat ini terlihat seperti anak kecil,tapi tak heran karna perasaan Daniel sedang campur sari.


Suara tangisan terdengar,ibu dan anak itu langsung masuk keruangan dan melihat Zini sudah bangun.


Daniel kembali memposisikan diri menjadi ayah yg kuat untuk putrinya meski hati kecil hancur remuk melihat kondisi Zini.


Ditempat lain,seorang pria pulang bekerja.


Lelaki itu disambut sang Kakek yg sedang duduk santai ditaman.


" Kenapa terlambat ?" tegur lelaki tua itu membuat sang cucu kaget.


Arshad menoleh dan melototkan matanya.


" Ihss kenapa Kakek distu sih,nakut2in aja " Cibir Arshad mengusap dadanya.


" Ck lebay " Cibir Reno balik seraya memutar mata.


" Jangan duduk didepan lampu sorot,ntar dikira hantu " Kata Arshad menggeleng pelan.


Reno mendengus dan bangkit dari duduknya.


Lelaki itu mendekat dan melihat penampilan Arshad dari ujung kaki hingga kepala.


" Kamu keren juga " Ucap Reno memperhatikan.


" Apa sih " Kata Arshad heran.


" Gimana kerjaan lancar gak ??" Tanya Reno lagi.


" Hm " Jawab Arshad sambil berjalan.


" Kamu punya pacar Syad ?" Tanya Reno sambil merangkul lelaki itu memasuki rumah.


" Gak " Jawab Arshad tenang.


" Baguslah,besok ikut Kakek " Balas Reno terkekeh.


Deg...


Manik Arshad seketika membulat sempurna.


" Jam makan siang ke resto Alika,Kakek tunggu disana,jangan terlambat !" Kata Reno tegas seraya melangkah masuk kerumah.


Arshad masih terdiam diambang pintu,Reno terus berjalan memasuki dapur dan memanggil Artnya.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2