Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Berkunjung


__ADS_3

Serkan melakukan perjalanan panjang untuk menemui sanak keluarga Sania.


Lelaki itu terlihat sedikit murung dari biasanya,banyak yg harus ia pikirkan terlebih keadaan sedang tak memungkinkan.


" Apa bapak ingin berhenti di rest area ?" tanya Supir yg sudah biasa melakukan perjalanan.


" Kalau bapak lelah kita bisa berhenti " Jawab Serkan tenang.


" Hm,tidak,saya sebenarnya ingin cepat2 sampai " Jawab Supir terkekeh.


" Ya sudah langsung saja " Balas Serkan mengangguk.


Supir tersenyum cerah,mereka pun melanjutkan perjalanan tanpa istirahat.


Sudah lama tak kesana kini kondisi jalan dan bangunan mulai terlihat,sangat berbeda dengan jaman dimana Serkan pertama kali datang dulu.


Pria itu menikmati perjalanan panjangnya mencoba untuk tenang dan berdamai dengan isi kepala.


Hampir 2 hari,kini pria itu tiba masuk kedalam kampung yg ternyata masih gelap..


Hanya ada beberapa bangunan kecil seperti masjid dan puskesmas yg menyala.


Serkan menatap kampung itu dengan helaan nafas panjang.


Ia merasa sedikit miris lantaran kampung Sania begitu jauh dari jangkauan publik padahal orang2 disana sangatlah dermawan.


" Pak kita sampai " Ucap supir menghentikan mobilnya disalah satu rumah warga.


" Apa ini rumah Sania ?" tanya Serkan menatap gubuk tersebut.


" Saya tidak tau Sania mana yg bapak maksud,tapi kalau ibunya meninggal kemarin,ini rumahnya " Balas Supir.


" Kenapa seperti gak ada orang ?" Tanya Serkan lagi.


" Saya tidak tau,disana rumah saya kalo bapak mau mampir,saya persilahkan " Ucap supir ramah.


" Iya Pak terima kasih " Balas Serkan mengangguk.


Lelaki itu pun keluar dari mobil yg sudah usang,dengan langkah mantap ia mulai mendekati rumah beratap daunan tersebut.


Tak banyak yg berubah,rumah2 disana sangatlah tradisional tapi menurut Serkan aestaetik karna begitu unik.


Tok tok...


Pintu rumah mulai diketuk,Serkan melihat kiri kanan dan tak mendapati siapapun disana.


Tok tok...


Pintu rumah kembali diketuk,kali ini disertai salam.


Krieeeeeeeeetttt...


Pintu kayu tersebut terbuka perlahan dan nampaklah seorang wanita hamil didalamnya.


Serkan mundur dengan wajah cukup terkejut.


" Maaf cari siapa ?" tanya wanita dengan rambut sebahu tersebut.


" Maaf menganggangu apa benar ini rumah Ibu Sania ?" tanya Serkan sopan.


" Sania ?" ulang wanita itu mengernyit.

__ADS_1


" Iya Sania,dia berada dikota saat ini " Jawab Serkan.


" Oh Sania,ah iya,maaf ada apa ya ?" tanya wanita itu mengerti.


" Saya Serkan,Papa angkatnya disana " jawab Serkan.


Raut wajah perempuan itu terlihat terkejut dan mundur selangkah.


" Ada apa ?" tanya Serkan.


" Sania mana ? Kenapa tidak ikut ?" tanya wanita itu terlihat kesal.


" Maaf Mba,saya bisa jelaskan,apakah anda saudaranya ?" tanya Serkan tenang.


" Bukan,saya iparnya " Jawab perempuan itu sinis.


" Oh iya,suami anda apa ada dirumah ?" tanya Serkan lagi.


" Dia masih mendoakan ibunya dimasjid "


" hm baiklah,saya akan menunggu " Balas Serkan mengerti.


Wanita itu diam melihat penampilan Serkan dari ujung kaki hingga kepala.


Tak ada yg terlalu menarik,Serkan hanya membawa dirinya dengan tas ransel dan topi.


" Mba masuk aja kedalam,gak baik buat ibu hamil berada diluar " Kata Serkan tak enak hati.


" Hm,saya buatkan kopi " Kata wanita itu tenang.


" Terima kasih " Balas Serkan mengangguk.


Wanita itu pun masuk kedalam rumah dengan menutup pintu tersebut.


Suasana masih gelap,Serkan mengambil hapenya dan mengecek sinyal.


Sama seperti dahulu,sinyal merupakan hal yg begitu langka.


Tak lama wanita itu datang lagi dan menyenduhkan scangkir kopi dan kue dalam piring kecil.


" Sebentar lagi suami saya pulang " kata wanita itu menatap Serkan.


" Iya Mba " Balas Serkan tersenyum tipis.


Wanita itu masuk lagi kedalam dan membiarkan Serkan dengan beberapa seduhannya.


Jam terus berjalan hingga tak terasa lelaki itu menunggu hampir 4 jam lamanya.


Dari kejauhan terlihat sebuah cahaya dari senter kecil mendekati pondok.


Serkan yg hampir tertidur langsung membuka matanya dan duduk tegak.


" Kamu siapa ?" tanya pria asing tersebut memasuki pekarangan.


" Assalamualaikum " Sapa Serkan hangat.


" Waalaikumsalam " jawab pria itu menatap Serkan nyelisik.


" Maaf menganggu,saya Serkan Papa angkatnya Sania " ucap Serkan mengenalkan diri.


" Serkan ?" Ulang pria muda itu terkejut.

__ADS_1


" Iya,saya dulu tugas disini dan membawa Sania ke kota " Jawab Serkan.


Pria itu mendekat dan langsung memeluk Serkan tiba2.


" Sania mana dokter ?" tanya lelaki itu gemetar.


" Maaf " ucap Serkan tiba2 melemah.


" Ibu kami baru saja meninggal kemarin,dia sangat rindu sama Sania " Balas lelaki tersebut yg Serkan kenal sebagai Kakak Sania.


" Maafkan kami,keadaan tak memungkinkan Sania untuk kemari " Balas Serkan sedih.


" Ada apa Dok ? apa yg terjadi sama adik saya ?" tanya pria bernama Abdul.


" Oh sebelumnya ayo masuk dulu Dok,ini sudah larut " Kata Abdul teringat.


" hm ya " Balas Serkan tak enak.


Abdul membantu Serkan membawa ransel lelaki itu masuk kedalam rumahnya.


Serkan tak banyak bicara,ia masih ragu dan bingung mau ngomong apa sama kakak sania tersebut.


" Apa sudah bertemu istri saya ?" tanya Abdul.


" Sudah,dia yg memberi kopi dan cemilan " Jawab Serkan.


" Maaf Dokter tidak bisa menjamu lebih " Kata Abdul tak enak hati.


" Gak papa sudah cukup " Balas Serkan


" Lebih baik Dokter istirahat dulu,ini sudah larut dan pasti Dokter merasa lelah " Kata Abdul kasihan.


Serkan membalas dengan senyuman,memang dirinya merasa sangat lelah melakukan perjalanan jauh tanpa istirhat.


" Disitu kamar Sania,sudah lama memang tak terpakai tapi masih layak Dok " kata Abdul menunjuk salah satu bilik.


" Iya " Balas Serkan.


Abdul mengantar lelaki itu mendekati kamar,saat pintu terbuka nampaklah seonggok ranjang kecil dengan lemari kayu menghiasi kamar tersebut.


Hati Serkan kembali terenyuh dan merasa sakit.


Mengingat keadaan sania saat ini membuatnya tak kuasa menahan kesedihan.


" Istirahat lah Dokter,besok kita bicara " Ucap Abdul.


" Iya terima kasih " Balas Serkan dengan penuh syukur.


Serkan menaruh tasnya dibawah dan duduk diranjang dengan kasur tipis tersebut.


" Ya Allah,apa yg harus aku lakukan ?" Gumam Serkan mengusp wajahnya.


Pikiran lelaki itu mulai kacau dan gundah,bagaimana tidak ia harus menceritakan keadaan anak orang yg sedang melawan maut.


Abdul dan istrinya menyiapkan air untuk Serkan mandi,keduanya melakukan yg terbaik dalam menyambut tamu karna stau Abdul,Serkan banyak berjasa didalam hidup adiknya,apalagi Sania bisa kuliah dan bekerja ditempat yg baik meski jarang pulang.


Gadis itu tàk lupa dengn orang tuanya,dengan bantuan Serkan,setiap seminggu atau sebulan Sania bisa mengirim uang untuk membantu perekonomian keluarga.


Jam terus berputar,tak ada kisah khusus malam ini.


Semua akan Serkan terangkan saat matahari sudah terbit kebesokan paginya.

__ADS_1


❤❤❤❤


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2