
Malam hari,Histi dan anaknya pulang kerumah.
Semuanya disambut oleh Serkan dengan wajah yg sulit dimengerti.
" Ma,sepertinya Papa marah " Ucap Sania pelan.
" Ngga,kamu langsung ke kamar aja " Balas Histi seraya melirik Serkan.
" Baiklah " Balas Sania.
Gadis itu pun membawa tas ibunya masuk melewati Serkan yg masih diam duduk disofa.
Setelah Sania menjauh,kini Histy mendekati sang suami.
" Maaf kami pulang lama " Ucap Histi hati2.
" Kenapa jam segini baru sampe rumah ?" tanya Serkan datar.
" Tadi nunggu bisnya " Jawab Histi.
" Kamu ga punya no hape rumah ?" Tanya Serkan bangun.
Histi diam menunduk,putrinya juga diam melihat aura Serkan yg berbeda.
" Hm,aku tidurin adek dulu ya,nanti kita bicara " Ucap Histy hati2.
Serkan berlalu tanpa bicara.
Histy melihat suaminya dengan helaan nafas panjang.
" Ck harusnya tadi aku telfon dia aja buat jemput " Gumam Histi menyesal.
Wanita itu pun dengan cepat menuju kamar untuk menidurkan anaknya.
Dikamar,Sania duduk tak tenang.
Gadis itu masih mengingat nasib ibunya yg tadi dilihat Serkan dengan tetapn berbeda.
" Apa Papa marah ya ?" Gumam Sania takut.
Gadis itu juga merasa bersalah karna mereka telat pulang.
Lama menunggu dengan perasaan kacau balau,gadis itu memutuskan keluar dari kamar dan berpapasan dengan Sutar yg ingin masuk kekamarnya.
" Kakak mau kemana ?" tanya Sutar terkejut.
" Em mau kedapur " Jawab Sania ragu.
Sutar diam,bocah itu pun masuk kekamar dan berbaring diranjang Sania.
Gadis itu melihat adik angkatnya dan tersenyum kecil.
Sania berjalan keluar dengan hati2 sambil melihat sekeliling.
Sepi,tak ada suara maupun orangtuanya.
" Mereka dimana ?" gumam Sania mengernyit.
Gadis itu celingak celinguk menyusuri rumah dan baru terdengar suara cekcok di dapur bagian luar.
" Harusnya kamu kabarin aku Histi,kamu itu bawa anak2 !" ucap Serkan kesal.
" Iya aku tau,aku juga jaga mereka " Balas Histi.
" Kalo ada apa2 sama kalian gimana ? Siapa yg mau tanggung jawab !" Balas Serkan.
" aku bukan anak kecil Mas,aku bisa jaga diri sama anak2 aku "
" Ngelawan kamu ya kalo dibilangin " Ucap Serkan tinggi.
Histy diam menatap suaminya yg sudah nyalang.
Histy juga kesal karna Serkan selalu menganggap dirinya anak kecil yg sangat takut dengan orang luar.
__ADS_1
Keduanya saling diam dengan isi kepala masing2.
" Kalo kamu ga mau dibilangin ya udah terserah kamu aja " Kata Serkan berusaha tenang.
" maksud kamu apa ?" tanya Histy mengernyit.
" Kamu pikir aja sendiri " Jawab Serkan.
" Kamu punya mulut bicara yg jelas Mas !" Ucap Histy kesal.
" Kamu ga bisa paham aku " Ujar Serkan.
" aku paham,aku tau kamu perduli,hanya saja kamu terlalu menganggap semuanya bermasalah "
" Karna aku mau lindungi kamu dan anak2 kita !" Bentak Serkan membuat Histi dan Sania terkejut.
" Aku menganggap kamu anak kecil,ya itu benar karna sikap mu terkadang membuat aku kesal !" Lanjut Serkan.
" Oh jadi kamu mau istri yg selalu dewasa dan tua begitu !" Bentak Histy balik.
Serkan terlihat mengepalkan tangannya,bukan hanya kali ini mereka berkelahi,sebelumnya juga pernah cekcok tapi tak ada yg tau bahkan anak2 ny sendiri.
Sania yg melihat dan mendengar percakapan keduanya merasa takut dan pucat.
Ia belum pernah melihat Serkan semarah ini hanya karna hal sepele menurut mereka.
" Terserah kamu Mas,aku capek " Ucap Histi menyudahi.
Histi pun berlalu,Sania yg melihat sang ibu akan menuju kearahnya langsung berlari dengan cepat menuju kamar.
Jedeer...
Pintu tertutup rapat,Sutar yg akan memejamkan mata dibuat kaget dengan sikap kakaknya barusan.
" Ada apa Kak ?" Tanya Sutar setengah bangun.
Sania menelan ludah kasar lalu mendekati sang adik.
Bocah itu tersenyum dengan anggukan pelan
Sutar kembali berbaring memeluk guling,malam ini ia memutuskan untuk tidur dikamar Sania.
Drama malam berakhir.
Sania tak bisa tidur nyenyak,gadis itu masih teringat dengan emosi Serkan dan Histy yg jarang terexpose.
Kebesokan paginya,suasana rumah tak seperti biasa.
Sania juga memergoki Serkan tidur dikamar Sutar bukan dikamar utama bersama Histi.
Gadis itu menyiapkan makanan dengan perasaan tak enak.
" Papa mau kopi ?" tanya Sania hati2.
Serkan diam tak menjawab.
Histi melirik Sania dan Serkan bergantian.
" San,hari ini Mama mau kerumah Nenek,kamu mau ikut ga ?" Tanya Histi tenang.
" Ngapain Ma ?" tanya Sania polos.
" Mama mau nginap disana " Jawab Histi.
Deg...
Manik Sania melotot mendengar ucapan ibu sambungnya barusan.
" Kalo ga mau ga papa " Balas Histi santi
Braaaakkkkkk...
Suara meja digebrak dengan kasar membuat siapa saja dimeja makan tersebut terkejut bukan main.
__ADS_1
" Ada ada apa Pa ?" tanya Sutar gagu.
" Pergi saja dan jangan pulang lagi " Ucap Serkan menahan emosi.
" Oke " Balas Histi tanpa beban.
Serkan makin dibuat emosi dengan respon istrinya tersebut.
Sutar dan adiknya yg tidak tau apa2,hanya diam melongo.
Sania menelan ludah kasar,ia merasa akan terjadi hal besar yg tak diinginkan.
" Jangan pergi Ma " Pinta Sania dengan wajah hampir menangis.
Histi menoleh mengernyit.
" Kenapa ??" Tanya Histi.
" Kalo Mama pergi aku sama siapa disini ?" Tanya Sania sedih.
" Ini bukan rumah Mama,jadi mama harus tau diri " Jawab Histi sambil menyindir.
Serkan masih diam dengan wajah yg sesekali menahan emosi.
" Pa..." Panggil Sania kepada Serkan.
Serkan hanya diam tak menjawab.
" Kamu tenang aja San,ga ada yg berubah kok " Ucap Histy tersenyum.
Sania menunduk dalam,gadis itu merasa bersalah meski ia tak tau juga kesalahan terbesarnya apa..
Tak ingin pañjang lebar,Serkan berlalu dari sana dan memilih langsung berangkat kerja.
Melihat suaminya pergi,Histi menghempas piring makan cukup keras dan berlari kekamar.
Sania hanya bisa menghela nafas panjang,ia kurang paham dengan permasalahan orang tuanya.
" Papa dan Mama ga akur ya Kak ?" tanya Sutar polos.
" Hm ga kok,Mama sama Papa lagi capek aja " Jawab Sania menenangkan.
" Papa sepertinya marah " Balas Sutar.
" Ga sayang " Balas Sania.
" Kalo ga marah,Papa ga mungkin ninggalin aku pergi sekolah sendirian " Ucap Sutar sedih.
Sania terbelalak,ia baru ingat Sutar harus sekolah pagi ini dan biasanya pergi bersama Serkan.
" Oh iya ya,kamu sekolah " Ucap Sania menepuk jidatnya.
" Hmm kalo dianter Mama mau ?" Tanya Sania
" Mama juga pasti ga mau anter aku " Jawab Sutar menebak.
Sania menghela nafas,emosi keduanya memang sedang tak stabil.
Jika Serkan meninggakkan Sutar yg akan sekolah,Histi meninggalkan putrinya yg sedang sarapan duduk dilantai.
Sania mengusap wajahnya,gadis itu mulai bingung harus bagaimana.
" Kakkk " Panggil bayi yg kini bisa bicara spatah 2 patah kata.
" Udah selesai ?" tanya Sania mendekati bocah perempuan tefsebut.
Si gadis pun mengangguk tersenyum.
" Ya Tuhannn,lindungi keluarga ini aku mohon " Batin Sania sudah berpikir jauh kedepan.
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1