
Kebesokan paginya,Vero datang kerumah Hani.
Pria itu tak bisa tidur semalaman karna memikirkan masalah yg sedang sang mantn hadapi saat ini.
ia menunggu lama sekali tapi pintu rumah itu belum juga terbuka.
" Nungguin Neng Hani ya Mas ?" Tanya seorang wanita sedang menjemur baju.
" Iya Bu,apa Hani nya masih tidur ?" tanya Vero sopan.
" Neng Hani udah pergi subuh tadi Mas " Jawab si Ibu.
" Hah pergi ?" tanya Vero kaget
" Iya,itu bekas motornya masih ada " Jawab si Ibu menunjuk lantai.
Vero melihat dan benar saja disana ada bekas ban motor.
" Dia pergi kemana Bu ?" tanya Vero mendekat.
" Kurang tau juga Mas,Neng Hani gak bilang " Jawab si ibu bingung.
Vero terdiam,jarak waktu ia semalam hanya beberapa jam yg artinya mungkin Hani juga tidak tidur jika subuh sudah berangkat.
" Em ya udah Bu,saya permisi " Kata Vero pamit.
Si Ibu itu mengangguk kecil.
" Neng Hani kenalannya orang2 besar semua ya,pada naek mobil " Gumam si Ibu takjub.
Tetangga Hani memang tak heran lagi melihat Hani sering dikunjungi pria,karna ibu itu yakin Hani gadis yg baik dan para pria2 itu juga sangat ramah bertegur sapa.
Didalam mobil,Vero mulai berpikir keras.
" Kemana dia pergi sepagi ini ?" Gumam Vero deg degan.
Jam baru menunjukkan pukul 6 kurang,yg bearti sudah cukup lama Hani meninggalkan rumah kontrakan tersebut.
" Ya Tuhan aku harus mencarinya kemana ?" Gumam Vero frustasi.
Ntah mengapa rasa khawatirnya sangat besar kepada gadis itu.
Vero takut suatu hal terjadi kepada mantannya tersebut.
" Reka " Ucap Vero tringat.
" Ya aku harus menemui Reka,Hani pasti kesana " Gumam Vero yakin.
Dengan cepat lelaki itu memundurkan mobilnya lalu tancap gas.
" Semoga kamu disana Hani " Batin Vero berharap.
Beberapa saat kemudian,Vero sampai.
Memang tak jauh jarak rumah Hani dengan Reka,kedua bersahabat itu tak ingin berjauhan.
Vero turun dari mobil dan sedikit berlari mengetuk pintu rumah.
" Rek buka pintunya Rek " Ucap Vero sambil menggedor.
" Rekaaa,bangun Rek " Panggil Vero lagi.
Triakan demi teriakan terus Vero lakukan hingga suara kunci terdengar.
Pintu kayu itu terbuka dan nampaklah wajah Reka setengah sadar.
" Siapa ?" tanya Reka serak.
" Ada Hani gak ?" tanya Vero tanpa basa basi.
__ADS_1
" Hani ? ini bukan rumah Hani " Jawab Reka mengusap wajahnya.
" Hani ada kesini gak ?" tanya Vero lagi.
" Ini masih pagi Vero,Hani masih tidur dikamarnya " Jawab Reka malas.
Vero mendorong pintu dan nyelonong masuk.
Reka yg awalnya sangat mengantuk kini melotot kaget dengan aksi tak sopan lelaki tersebut.
" Hani " Panggil Vero mencari Hani.
" Huh ngenyel banget nih orang dibilangin " kata Reka heran.
" Han kamu dimana ?" Panggil Vero terus mencari.
Reka duduk dikursi sambil melihat Vero mengacak2 rumahnya..
" Rek,mana Hani ?" tanya Vero lagi.
" Kan aku bilang gak ada " Jawab Reka memutar mata.
" Dia gak ada dirumahnya Rek " Kata Vero panik.
" Ya mungkin dia tidur " Balas Reka melihat jam didinding..
" Gak ada,tetangganya bilang Hani udah pergi dari subuh " Kata Vero tak bisa tenang.
" Dia itu aparat Vero,bisa aja Hani ada urusan kantor " Kata Reka tenang.
Deg....
Vero tersentak,sejenak ia lupa bahwa Hani seorang polisi yg harus siap siaga.
" Iya juga ya " Kata Vero melemah.
Vero duduk dihadapan lelaki itu sambil melihat Reka yg masih sangat ngantuk.
" Kamu kesini cuma buat keributan aja,keluar sana aku mau tidur " Usir Reka.
" Aku sangka Hani hilang " Kata Vero sedikit malu.
" Dia udah gede,Hani punya pistol buat nembakin musuhnya " Balas Reka malas.
" Emang Hani bisa pegang pistol ?" tanya Vero kaget.
" Nembak kepala mu juga bisa dia " Jawab Reka terkekeh.
Vero mendengus kesal dan ingin menonjok Reka yg malah bercanda kepadanya.
" Dah sanaa " Kata Reka mulai jengah.
" Kerja,tidur mulu ntar gue aduin sama Bang Justin karyawannya hobi molor !" Ancam Vero.
" Jam 6 juga belum ada Veroooo huhuhu " Kata Reka ingin menangis.
Vero menahan tawa dan berjalan keluar.
Jeder...
Lelaki itu menendang pintu rumah membuat Reka terkejut.
" Sialan !" Umpat Reka kesal.
Vero langsung berlari sebelum Reka mengamuk.
" Gila kali ya tuh anak,bikin rusuh pagi2 " gerutu Reka kesal.
Lelaki malang itu pun melangkah dan masuk lagi kekamar menyambung mimpinya yg sempat tertunda.
__ADS_1
Di luar,Vero menarik nafas panjang.
Ucapan Reka tadi ada benarnya,mungkin saja Hani ada keperluan dikantor makanya tak ada dirumah pikir Vero.
" Tapi kenapa subuh2 ? emang gak bisa nunggu matahari muncul dulu ?" Gumam Vero heran.
" Apa gue susul aja ya ? masih gak tenang nih " Gumam Vero meraba hatinya.
Pria itu merasa ada yg janggal,ia terus berpikir Hani dalam masalah.
" Tapi kalo gue kesana,alasannya apa ? masa iya cuma liatin dia doang ?" Gumam Vero berpikir.
" Kalo nemuin Yuna,kayaknya gak pas banget waktunya " Lanjut Vero lagi.
" Aaakkkkhhhh gue kenapa sihh !" Teriak Vero kesal.
Ia bingung kenapa otaknya terus memikirkan Hani,rasa bersalah terus menghantui dirinya apalagi Vero semalam sempat menampar wajah gadis tersebut.
Vero terlihat frustasi,ia begitu kesal kenapa bersikap gegabah dan melepaskan tamparan begitu saja tanpa pikir panjang.
Drt drt....
Hape Vero berdering,lelaki itu melihat nama dilayar dan melotot.
" Astaga,Sofia sudah bangun " Ucap Vero panik.
" Duh gawat nih,mana belum masak lagi " Kata Vero kelabakan sendiri.
Pria itu terlihat takut mengangkat telepon,tapi jika tak diangkat ia yakin putrinya akan semakin murka.
" Halo sayang " Sapa Vero hati2.
" Papa dimana ?" tanya Sofia serak.
" Papa diluar cari sarapan,anak Papa udah bangun ?" tanya Vero lembut.
" Hm,Via pusing Pa " Jawab Sofia lesu.
" Pusing kenapa ?" tanya Vero terkejut.
" Gak tau " Jawab Sofia.
" Ya udah,kamu tunggu bentar Papa pulang sekarang " Kata Vero cepat.
Sofia tak menjawab,panggilan pun terputus.
" Huh kudu cepat2 pulang nih " kata Vero bergegas.
Lelaki itu memakai sabuk pengamannya dan langsung tancap gas.
Disebuah tempat nan sunyi dan sedikit gelap.
Seorang gadis duduk termenung disamping tumpukan tanah yg sudah mengeras.
Suasana hening menyelimuti gadis malang tersebut.
" Ayah bahagia disana ?" Tanya Hani tersenyum smirk.
" Aku tidak bahagia Ayah,sepertinya doa ayah dikabulkan Tuhan untuk membuat aku selalu menderita " Kata Hani terkekeh sendiri.
" Kenapa ini terasa tak adil,apa Ibu ku begitu Hina sampai kami tidak mendapat apa yg kami inginkan ?" Tanya Hani sedih.
" Apa Ayah sudah bertemu ibu ? apa Ibu bahagia,apa Ibu menanyakan kabar ku setelah dia pergi ?" Tanya Hani mulai meneteskan air mata.
" Aku ingin seperti Ibu Yah,menjadi wanita kuat dan setia sampai akhir hayat meski dengan raga tak utuh dan mental hancur karna kelakuan Ayah,tapi aku sekarang menyadari bahwa menjadi Ibu sangatlah berat dan aku tidak sanggup,bisa Ayah bawa aku pergi juga ?" Tanya Hani dengan tetesan air mata yg tak henti mengalir.
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1