
Reka diam memperhatikan gadis asing tadi membantunya naik ke ranjang.
Awalnya Reka sudah menolak untuk dibantu tapi gadis asing itu sangat keras kepala membuat Reka gemas sendiri dan akhirnya pasrah.
" A aaa " pekik Reka tertahan.
" Kenapa ?" tanya gadis bernama Rania itu kaget.
" Kau menindih kaki ku " Jawab Reka menunjuk.
Gadis itu melihat kebawah dan langsung melonjak kaget.
" Maaf2 aku tidak sengaja,apa ini sakit ?" Tanya gadis itu meraba kaki Reka.
Reka kembali terkejut dan menarik kakinya.
Rania mendongak dan melihat aneh lelaki tersebut.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka masuklah seorang pria dewasa sambil menggendong anaknya.
Reka kembali terbelakak dan menendang gadis itu seketika.
" Aaaaa " Pekik Rania terjengkal.
Pria dewasa itu terkejut melihat anaknya mendapat perlakuan tidak baik.
" Hei apa yg kau lakukan ?" tanya Rania kesal.
Reka langsung terjun dari ranjang dan membungkuk sopan kepada pria yg tak ia kenal.
" Rania !" Panggil seseorang dari belakang.
Rania menoleh dan terkejut melihat sang Papa disana.
" Papa " ucap Rania pelan.
" Apa yg kalian lakukan ?" tanya Denis mendekat.
Glek...
Rania menelan ludah kasar dan melihat Reka.
" Maaf Om,saya tidak sengaja " Ucap Reka merasa bersalah.
" Kalian ngapain hah !?" tanya Denis tegas.
" Em kami gak ngapai2n Pa " jawab Rania bangun dari duduknya.
" Tadi kenapa kamu berada dibawah dia ? kalian ngapain ?" tanya Denis garang.
" Tadi ak ku aku tadi gak sengaja Pa " Kata Rania terbata.
" Iya Om,dia em maksudnya kami " Kata Reka bingung menjelaskan.
" Jadi pria ini yg bikin kamu gak mau pulang ?" tanya Denia tajam.
" Hah !" Pekik Reka terkejut.
Pria itu melihat Rania dengan wajah melototnya.
" Em bu bukan Pa " Jawab Rania menggeleng pelan.
" Maksudnya apa ini Om ?" Tanya Reka membuka suara.
" Diam kamu ! gak bertanggung jawab banget bawa anak orang !" kata Denis membentak.
" What ? bawa siapa ?" tanya Reka makin bingung.
" Cepat pulang Rania,kamu gadis nakal banget !" Kata Denis geram.
" Pa ini salah paham,dia bukan...
__ADS_1
" Diam !" Bentak Denis emosi.
Glek...
Semuanya terdiam begitupun Reka yg masih menjadi kambing hitam.
Tanpa bicara Denis langsung pergi dari sana,Rania akan menyusul tapi pria itu menarik baju yg Rania pakai.
" Apa !" Bentak Rania kesal.
" Maksud Bapak itu apa ?" tanya Reka masih ngeleg.
" Aduh dia itu Papa aku " Jawab Rania mengibas lengannya.
" Terus hubungannya sama saya apa ?" tanya Reka heran.
" Huh berisik,udah ah nyesel aku nolongin kamu " Jawab Rania ketus.
Gadis itu langsung berlari mengejar Denis yg terlihat marah kepadanya.
Brakkkk....
Pintu dibanting dengan keras,Reka menghela nafas panjang dengan wajah campur sari.
Pria itu tak tau apa yg sedang terjadi,ia juga bingung dari mana gadis itu datang dan membuat kekacuan.
Reka kembali keranjangnya dan mulai berbaring.
Beberapa menit keluar ruangan membuat tenaga pria sakit itu terkuras habis,Reka merasa lelah apalagi tubuhnya mulai merasa sakit lagi.
" Huhhh tenang Rek gak boleh setrez,aku harus cepat keluar dari sini " Gumam Reka menenangkan dirinya.
Dimobil,Denis berdiam diri sambil menyetir.
Pria itu hari ini dibuat emosi dengan kelakuan salah satu putrinya yg beranjak dewasa.
" Pa,aku beneran gak hamil !" Ucap Rania kesal.
Tania yg duduk didepan melirik Denis takut2.
" Diam Rania !" Bentak Denis garang.
" Papa gak pernah mau dengar penjelasan aku,selalu aja nuduh aku kayak Mama !" Kata Rania keras.
Tania diam seribu bahasa sambil memeluk adik kecilnya yg asik makan.
" Apa yg perlu Papa dengar ! teman2 kamu bilang kamu sering jalan sama pria lebih dewasa dari kamu !" Kata Denis marah.
" Iya emang,tapi bukan pria tadi Pa,dia itu....
" Awas mobillllll !" Teriak Tania mmebuat Kakaknya berhenti bicara.
Denis langsung mengerem mendadak membuat semua orang terpelanting.
" Uwaaaaaaaaa " tangis bocah kecil disana seketika menggelegar.
" Ya Tuhan " Ucap Denis terbelalak.
Mobilnya hampir saja menabrak mobil didepan mereka yg memotong tanpa aba2..
" Cup cup sayang,gak papa kita aman " kata Tania menenangkan adiknya.
" Hua huaaaa Papa " Ucap bocah itu masih takut.
Denis menarik nafas panjang dan menepikan mobilnya kesamping jalan...
Rania diam dengan jantung berdebar,sungguh gadis itu juga takut mati saat ini.
" Pa " Panggil Tania pelan.
" Diam lah,kita pulang " Ucap Denis mencoba tenang.
" Kamu sih !" Kata Tania berbalik badan melihat Rania kesal.
__ADS_1
Sang Kakak diam melihat Denis dengan wajah yg tak bisa diprediksi.
Mobil kembali melaju,semua anggota diam tak mengeluarkan suara sama sekali.
Denis membawa anak2nya kerumah sang Kakak karna rumah Cila lebih dekat dari lokasi mereka.
Sesampainya disana,,terlihat rumah itu sedang tutup.
" Emang Bibi ada dirumah Pa ?" Tanya Tania memberanikan diri.
" Iya " Jawab Denis tenang.
" Kalian masuklah,Papa ada urusan " Lanjut Denis.
" Mau nemuin pria tadi ?" tanya Rania menyelisik.
" Kamu jangan kurang ajar sama Papa " kata Denis melihat Rania dari kaca spion.
" Pa bukan dia orangnya !" Kata Rania kesal lagi.
" Cepat keluar " Kata Denis tegas.
Tania menelan ludah kasar dan langsung keluar.
Rania juga keluar dengan wajah mencetut.
Mobil Denis langsung mundur,lelaki tak ikut turun karna ada hal lain yg harus ia selesaikan.
" Gawat ini Kak,Kayaknya Papa salah sasaran deh " kata Tania kepada Rania.
" Pasti kamu yg ngadu ya ?" tanya Rania kesal.
" Eh mana ada,asal nuduh aja " Jawab Tania tak terima.
" Eleh pasti kamu kan yg ngadu,tadi kan cuma kamu yg lihat " Kata Rania ketus.
" Eh kok malah nuduhin aku sih,tadi itu aku balik karna mau jemput adek,bukan ngadu sama Papa !" kata Tania emosi.
" Alasan !" Kata Rania bersedekap dada.
Tania yg sudah kesal dipojokkan langsung menarik rambut kembarannya tersebut.
" Aaaaa " Pekik Rania terkejut.
Terjadilah aksi jambak menjambak,adik kecil mereka yg berada digendongan terlihat terkejut dan takut dengan aksi horor sang Kakak.
" Huaaaa huaaaaaaa " Teriakan gadis kecil itu menggema.
Rania dan Tania masih berjambak tanpa menyentuh adik mereka.
" Rania lepas sakitt ini " Teriak Tania menendang Rania.
" Kamu yg mulai !" Teriak Rania menambah kekuatannya.
Tangisan sang adik terus terdengar nyaring hingga pintu rumah itu terbuka dengan tergesa.
" Astaga apa yg kalian lakukan !" Teriak seorang wanita terkejut.
Rania dan Tania menoleh dan ikut terkejut melihat Bibi mereka didepan pintu dengan wajah putih nyelayat.
" Berani2nya kalian adu jontos dirumah Bibi !" Bentak Cila berkacak pinggang.
" Bi bi huaaa huaaaa " Tangis sang ponaan kecil berlari memeluk kaki Cila.
Wanita itu menggendong bocah perempuan itu dan menatap kakak2nya dengan nyalang.
" Ayo kenapa diam,jambak2an lagi " Titah Cila tegas.
Rania dan Tania langsung menjauh melihat raut wajah Cila.
" Cepaaattttt !!!" Teriak Cila menggema.
" Gak Bi " kata Rania dan Tania takut.
__ADS_1
❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.