
Tak terasa kini sudah 3 bulan Laura hilang,David dan keluarga begitu terpuruk apalagi David yang merasa paling bersalah atas perginya gadis itu.
Kini David berusaha tegar dan ikhlas meski bayang2 Laura masih terasa hangat dikepalanya.
Vero sudah bekerja seperti biasa menggantikan David yang sering tak masuk.
Lelaki itu kini terlihat lebih dewasa dalam bersikap,bahkan Vero jangan keluar rumah nongkrong bersama teman2nya seperti dulu.
Sejak Laura pergi,rumah mereka terlihat sepi bahkan Cila seperti tak mempunyai teman bicara dan masak seperti dulu.
Vero berusaha menggantikan sosok kakaknya,bahkan Vero kini terlihat sering berada didapur membantu Cila atau dia berkreasi sendiri membuat makanan.
" Masakan sudah jadi " Pekik Vero semangat.
Cila dan David duduk tenang di kursi melihat anaknya yang sibuk sendiri.
" Masak apa kamu ?" tanya David terkekeh.
Lelaki itu baru pulang bekerja dan langsung ditarik Cila untuk menikmati hasil perjuangan anaknya.
" Hehe cumi asam manis Pa " Kata Vero semangat.
" Benarkah ? itu makanan kesukaan Kakak kamu " kata David sedikit terkejut.
Cila terdiam melihat David yang kini berubah lesu.
" Ayo kita makan " Ajak Cila tetap dengan wajah cerianya.
" Maaf Ma,aku kangen Kak Laura makanya aku belajar masak ini " kata Vero merasa bersalah.
" Ngak papa,ayo sini Mama udah lapar " kata Cila tak sabaran.
David menghela nafas dan mengangguk tersenyum.
Vero pun membawa hasil masakan menghadap orang tuanya.
Keluarga kecil itu pun makan dengan tenang meski hati dan pikiran mereka masih teringat akan gadis ceria yang kini ntah dimana.
Ditempat nan jauh disana,Laura terlihat semangat memotong bagian cumi yang baru ia beli dipasar.
Justin bersedia menemani gadis itu berbelanja bahan pokok karna kasihan melihat Laura selalu terkurung dalam apartemen.
" Kakak mau dimasakin apa ?" tanya Laura melihat lelaki itu hanya diam duduk di bar.
" Terserah " Jawab Justin santai.
" Hm,aku mau masak cumi Kak " kata Laura memberitahu.
" Iya " Balas Justin tersenyum.
Selama hidup bersama Justin,gadis itu sedikit bersyukur karna Justin tak terlalu pilih makanan,Justin hanya menolak makan ikan karna pria itu merasa bau amis dari ikan membuat selera makannya hilang,tapi Laura tak menyerah begitu saja gadis itu dengan terampil membuat sesuatu terbuat dari ikan agar protein dalam tubuh pria itu terpenuhi.
Meski Laura terlihat cuek kepada Justin tapi diam2 gadis itu sangat perduli karna Justin bersikap baik kepadanya dan juga selalu melindungi meskipun cara Justin kadang terkesan salah dan terlalu egois.
" Kakak mau buah ?" tanya Laura melihat Justin yang hanya diam tanpa melakukan apapun.
" Aku sedang malas mengupas " kata Justin jujur.
" Biar aku kupasin,mau buah apa ?" tanya Laura tersenyum.
" Tumben baik,biasanya sewot banget kalo aku suruh " Kata Justin menyelisik.
__ADS_1
" Mood aku lagi baik " kata Laura datar.
" Hehe,ya udah,kupas apa yang ada aja " Kata Justin tak berani menggoda.
Laura mengangguk dan mencuci tangannya dengan sabun.
Gadis itu berjalan ke kulkas dan mengambil beberapa macam buah yang sudah Justin beli.
Dengan telaten Laura mengupas satu persatu buah,Justin hanya melihat dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Justin bukan pria bodoh,Justin tau Laura baik kepadanya karna mengharapkan imbalan.
Setelah kejadian Laura terus merengek minta pulang dan terjadi percekcokan sengit,kebesokan pagi nya Laura langsung berubah manis membuat Justin bertanya2 ada apa gerangan,setelah sampai seminggu Laura ternyata kembali merengek minta menghubungi keluarganya,dari sana lah Justin mulai tau akal bulus perempuan yang ia cintai itu.
Justin merasa Laura sangat polos,gadis itu tidak menyadari bahwa Justin sangat pintar dan licik dari yang Laura duga.
Justin mulai berusaha membuka hati dan pikiran,tapi untuk memulangkan Laura ke orang tuanya Lelaki itu belum mau mengambil resiko apalagi ia tidak tau bagaimana reaksi orang tua Laura nanti.
" Ini " Kata Laura menyodorkan sepiring buah kepada lelaki itu..
" Terima kasih "Ucap Justin tersenyum lembut.
" Kakak ngak keluar rumah ?" Tanya Laura hati2.
" Kenapa ?" tanya Justin balik.
" Hm biasanya kan Kakak selalu keluar kalo libur " Kata Laura polos.
" Ngak aku mau dirumah aja " kata Justin tenang.
Laura mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Justin terus menatap punggung Laura yang bergerak kesana kemari,sesekali Justin tersenyum geli melihat expresi perempuan itu berhadapan dengan dapurnya yang modern.
Deg..
Laura tersentak kaget dan terdiam mengicau wajan.
" Lanjutkan saja aku cuma mau peluk " Bisik Justin dengan suara beratnya.
" Kak kak kenapa ?" Tanya Laura deg degan.
" Ngak papa " Kata Justin tersenyum.
" Aku ngak bisa gerak kalo Kakak begini " kata Laura takut.
Justin membalik tubuh gadis itu menghadapnya.
Keringat dipelipis Laura terlihat membutir disana ditambah wajah bersemu Laura membuat Justin tak tahan.
" Ke kenapa ?" tanya Laura gugup.
Justin mematikan kompor dan mendekatkan wajahnya.
" Kak jangan gini " Kata Laura menoleh kesamping saat lelaki itu akan menciumnya.
" Kenapa sayang ?" Tanya Justin dengan nafas memburu.
" Aku ngak bisa " Kata Laura menunduk.
" Kamu masih ngak cinta sama aku ?" Tanya Justin nanar.
__ADS_1
" Maaf,ini sulit untuk ku Kak " kata Laura terus menunduk.
" Tatap mata aku Laura " Pinta Justin mengangkat dagu gadis itu.
Deg deg deg...
Jantung Laura berdegub kencang,sudah lama sekali Justin tak macam2 dengannya bahkan lelaki itu juga sudah jarang memeluknya saat mereka tidur.
" Aku ngak bisa " kata Laura menatap lelaki itu nanar.
" Kamu masih mikirin Vero ?" Tanya Justin serius.
" Aku ngak tau " Kata Laura menunduk.
" Hei lihat aku " Pinta Justin.
Laura mendorong lelaki itu tapi Justin malah menariknya hingga dada mereka bertabrakan.
" Kak Please " kata Laura semakin tak karuan.
" Aku mencintai kamu Laura,aku tau mungkin cara aku salah mengutarakannya,tapi aku benar2 cinta dan sayang sama kamu " Ucap Justin memegang kedua sisi pipi Laura.
" Kenapa Kakak sering meninggalkan aku saat malam ?" Tanya Laura mendongak.
Justin menghela nafas panjang.
" Aku tidak sanggup,kau tau aku pria normal jika kita berada diranjang yang sama semalaman aku takut tak bisa menahan diri " Ucap Justin.
" Tapi Kakak melakukan dengan gadis lain diluar sana " Kata Laura sedih.
" Bagaimana kau tau ?" tanya Justin kaget.
" Aku menemukan bekas lipstik di leher mu saat kau mabuk " Kata Laura jujur.
Justin menelan ludah kasar dan melepaskan perempuan itu.
" Maaf " Kata Justin pelan.
Laura hanya diam menatap lelaki itu kini duduk kembali di bar.
" Aku memang bersama teman2 ku dibar saat mabuk,dan ya aku masih melakukannya dengan gadis lain " kata Justin mengakui.
Deg...
Hati Laura merasa tercolos mendengar pengakuan lelaki itu.
" Jika kau masih belum bisa menerima ku,tidak apa lakukan sesuka hati mu,tapi jika kamu minta untuk pulang kenegara asal,aku tidak mengizinkannya " Kata Justin serius.
" Sampai kapan kamu terus mengurung ku disini Kak ?" Tanya Laura berkaca kaca.
" Aku tidak tau " Jawab Justin tenang.
Lelaki itu pun langsung bangkit dan berjalan keluar dari dapur.
Laura menghela nafas melihat sikap Justin yang tak bisa ia mengerti.
" Ya Tuhan,apa yang harus aku lakukan ?" gumam Laura mengusap wajahnya kasar.
Tak ada yang bisa ia mintai tolong,Justin memblokir semua nomor agar pihak keluarga Laura tak bisa menghubungi gadis itu,Laura bagaikan gadis dalam sangkar emas yang selalu diawasi pergerakannya.
❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya