
Cila menangis terisak setelah menampar keras pipi putrinya.
David terlihat begitu marah,tapi lelaki itu tak bisa berkutik karna Laura masih memeluknya dengan erat,terlihat sekali gadis itu membutuhkan perlindungan dari sang Papa angkat.
" Udah ngak papa sayang " Bisik David menenangkan Laura.
" Ini sal ah ak u Pa " Kata Laura terbata.
" Ngak,ini bukan salah kamu,ini musibah tidak ada yang perlu disalahkan " Ujar David lembut.
Justin masih diam mewanti2 takut Cila kembali mengamuk.
Lelaki itu sedikit kewalahan meladeni emosi wanita parubaya itu,keringat Justin menyerap kebajunya.
" Dengan keluarga pasien " Panggil Dokter tiba2 keluar dari ruangan.
" Iya Dok,saya Mama nya gimana keadaan anak saya ?" Tanya Cila langsung menghampiri pria ber jas putih tersebut.
" Kondisi anak Ibu cukup memprihatinkan,ada sedikit benturan dikepala nya hingga membuat kesadaran anak ibu menurun " Jelas Dokter tenang.
" Ya Tuhan Vero " Gumam Cila seketika mundur kebelakang.
" Veroo huhuhu " Kata Laura kembali histeris mendengar penjelasan Dokter.
" Kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan kondisi anak ibu,mohon doanya " Kata Dokter serius.
" Iya Dok,terima kasih tolong selamatkan anak saya " Kata David terlihat kacau.
Sang Dokter mengangguk dan kembali masuk kedalam.
" Gimana ini Pa,ini salah aku Pa harusnya aku lihat hape tadi aku ngak tau Vero nelpon berkali2 " Kata Laura mulai menyalahkan dirinya sendiri.
" Udah,kamu duduk tenang dulu sana jangan seperti ini " Kata David lembut.
" Aku takut Vero kenapa napa Pa huhu " Kata Laura menangis tersedu sedu.
" Mending kamu dengerin kata Papa mu dulu " Kata Justin ikut menimpali.
Laura dan David menatap pria itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.
" Kenapa kamu masih disini ?" Tanya Laura bingung.
Deg...
Justin tersentak dan menggaruk kepalanya gatal.
" Iya juga ya ngapain gue masih disini " Gumam Justin malu hati.
David tersenyum dan menepuk pundak lelaki itu.
" Ngak papa,terima kasih kamu udah mau menolong anak saya " Kata David hangat.
" Ah iya Om sama2 " Kata Justin mengangguk sopan.
Laura mengernyit merasa tak asing dengan lelaki didepannya saat ini,tapi gadis itu tak perduli fokusnya hanya kepada Vero.
" Ya udah Om,em kalo gitu saya pamit dulu,semoga anak Om baik2 aja " Kata Justin tersenyum.
" Iya,sekali lagi makasih ya " Kata David tulus.
__ADS_1
Justin mengangguk,pria itu pun pamit dari sana.
Laura masih melihat punggung kekar lelaki itu yang mulai menjauh,detik berikutnya Laura mengejar Justin hingga kedepan.
" Heiii " Panggil Laura.
Justin menoleh kebelakang merasa dirinya dipanggil.
" Iya ada apa ?" Tanya Justin mengernyit melihat Laura ngos ngosan.
" Em m anu em terima kasih " Kata Laura menunduk canggung.
" Buat apa ?" Tanya Justin datar.
" Semuanya,terima kasih sudah menolong ku dan adikku " Kata Laura mendongak melihat pria itu.
" Iya sama2 " Kata Justin dingin.
Laura sangat canggung dan merasa aneh dengan lelaki didepannya saat ini,Justin dengan cepat merubah raut wajahnya dengan tatapan asing.
Justin berbalik badan saat Laura tak mengeluarkan kata lagi.
" Hei tunggu " Pekik Laura menarik baju belakang Justin.
" Kenapa lagi ?" tanya Justin mulai jengah.
" Jaket em jaket mu yang kotor akan aku kembalikan nanti " Kata Laura teringat akan jaket jins pria itu.
" Ambil saja " Kata Justin cuek.
" Hah,ngak bisa minta no hape mu atau kartu nama agar aku bisa menghubungi mu nanti " Pinta Laura mengadahkan tangan.
Pria itu mengeluarkan dompet hitam dan mengambil sesuatu.
" Nih " Kata Justin menyodorkan kertas kecil.
Pria itu langsung berlalu saat Laura membaca tulisan didalamnya.
" Ehhh " Kata Laura melihat Justin dengan cepat berjalan keluar.
Pria itu langsung menaiki mobilnya yang memang terparkir didepan UGD.
Brooom broomm...
Suara mobil pria itu terdengar begitu garang,Laura baru menyadari bahwa yang ia naiki tadi merupakan mobil mewah merk dunia Pagani Huwaira tricolore dengan kisaran harga 93 milyar rupiah.
Laura masih diam mematung,beberapa perawat dan keluarga pasien pun ikut mematung melihat mobil sultan itu keluar dar area rumah sakit.
" Waw gilaaa keren banget " Gumam seorang perawat wanita begitu terpesona.
" Iya,duh aku mau jadi istrinya " Kata perawat lain yang begitu kegirangan.
" Dia ngunjungi siapa disini,apa sanak keluarga nya ada yang sakit ?" Tanya perawat itu penasaran.
Bisik2 mulai terdengar,Laura sampai tak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini.
Sekilas pertemuan dengan pria itu terbayang di ingatan Laura.
Detik berikutnya gadis itu melotot kaget saat teringat sesuatu.
__ADS_1
" Astaga mati aku,pasti itu membekas di kursi mobilnya " Gumam Laura terbelalak.
" Ya ampun gimana ini,pasti banyak darah disana,aduh aduh gimana ini " Kata Laura panik sendiri.
Gadis itu berjalan mondar mandir ketakutan.
Laura melihat kartu nama ditangannya dan kembali melotot.
" Ini alamat bekerja apa alamat rumah ya ?" Gumam Laura tak paham.
Meski Laura kini hidup berkecukupan tapi gadis itu masih gadis polos dan lugu yang tak terlalu tau jalan dan alamat.
" Justin Alexander Trisco " Gumam Laura mengeja nama di kertas.
Kepala Laura semakin pusing dengan nama barat pria itu,karna teringat akan keadaan Vero yang kritis,gadis itu pun berlari masuk kedalam melihat adiknya.
Ditempat lain,seorang pria baru saja tiba disebuah apartemen mewah.
Suasana sudah ramai,teman2 Justin sudah pada berdatangan.
" Lama bener sih lo,beli buku apa beli perempuan,lama bener ?" Tanya seorang pria terlihat kesal melihat Justin datang dengan wajah tak santai.
" Hmm " Jawab Justin malas dan melempar buku yang ia beli ke wajah temannya.
" Sialan lo " Hujat pria bernama Aldi kesal.
" Kamu dari mana sayang ?" Tanya seorang wanita mendekati pria itu.
Justin duduk merebahkan dirinya dan mengusap wajah lelah.
Pria itu tak menjawab,malah mengambil minuman kaleng di meja dan membukanya.
" Baju lo kenapa merah2 ?" Tanya Andi mengernyit melihat noda dibaju Justin berwarna cream.
" Mana ?" Tanya Justin kaget.
" Tuh " Tunjuk Andi memonyongkan bibirnya.
Semua orang melihat kearah pria itu,karna tatapan teman2 yang serius,Justin pun mengangkat baju nya dan melotot kaget.
" Astaga " Gumam Justin langsung berlari kekamar mandi.
" Kenapa tuh anak ?" Tanya teman lain melihat Justin seperti kesetanan.
Teman2 Justin mengangkat bahu tak tau.
Dikamar mandi,pria itu mengumpat kesal seraya mencuci bajunya yang kotor.
" ihhhh jorok banget sih cewek tadi,hueekkk " Kata Justin seketika mual mengingatnya.
" Huh,kok gue bisa ngak sadar sih,aist mana banyak lagi aahhhh sialan " Kesal Justin melempar baju basah itu ke cermin wastafel.
Justin langsung membuka seluruh bajunya dan berjalan ke bath up untuk membersihkan tubuh.
Pria itu yakin ditubuhnya pasti sudah ditempeli darah kotor gadis yang ia tolong tadi.
❤❤❤
Hay guys terus dukung author ya,jangan lupa Vote,Like,Coment biar author semangat Up
__ADS_1