
Laura dan Justin langsung menuju rumah sakit untuk mengecek apakah hasil tespack itu nyata atau tidak meski ada 10 tespack yang menunjukkan bahwa wanita itu benar2 hamil.
Sesampainya disana mereka langsung diperiksa mumpung sedang sepi.
Laura dibaringkan di brangkar dengan Dokter mulai bersiap2 memeriksa.
Justin terlihat panas dingin membuat Laura terkekeh.
" Muka nya biasa aja Kak " Ucap Laura memegang tangan Justin.
" Aku gugup Yank " Balas Justin menyeka keringatnya.
" Relax saja " Kata Laura tersenyum.
Justin mengangguk dan meminta Dokter untuk bergerak cepat.
Para medis melihat antusias lelaki itu merasa lucu karna Justin seperti tidak tenang.
" Maaf Dokter,ini yang pertama untuk kami " Kata Laura tak enak hati.
" iya Bu,gak papa " Jawab Dokter perempuan itu tersenyum.
Justin menggaruk kepala malu.
Laura pun siap diperiksa,perut Laura diolesi Gel yang terasa dingin.
Beberapa saat kemudian,sebuah layar monitor hidup.
" Ini buah hati kalian " Ucap Dokter menunjuk titik yang tak terlalu besar.
" Dia sangat kecil " Kata Laura tersenyum haru melihat calon bayinya.
" Ya,kalian harus menjaganya dengan baik " Balas Dokter.
" Siap Dok,kami akan melakukan yang terbaik " Jawab Justin semangat.
Dokter mengangguk tersenyum,pasangan itu pun langsung konsultasi.
Tak lupa Justin menanyakan tentang hubungan intim mereka tanpa ragu dan membuat Laura sangat malu.
Setelah selesai periksa,lelaki itu membawa Laura pulang untuk istirhat.
" Kak aku mau ketemu Mama " Rengek Laura tak ingin pulang.
" Kamu harus istirahat dulu hari ini " Kata Justin sibuk berkendara.
" Ya udah,tapi kamu dampingin Mama ya " kata Laura melas.
" Iya sayang " jawab Justin mengusap lembut kepala perempuan itu.
Keduanya langsung menuju rumah,Justin membeli banyak buah dan cemilan sehat untuk istri tercinta serta buah hati mereka..
Justin juga tak lupa membeli susu ibu hamil seperti arahan Dokter.
Lelaki itu benar2 sangat antusias menyambut buah hatinya.
" Aku berangkat dulu ya " Kata Justin mencium kening Laura.
" Iya,kamu hati2 ya " Kata Laura memeluk suaminya.
" iya sayang " jawab Justin tersenyum.
Lelaki itu pun berlalu meninggalkan Laura untuk mengetahui kabar lanjutan dari sidang adik iparnya.
Dipengadilan,sepasang suami istri memberikan kesaksian atas kasus yang menimpa anak mereka.
Vero terlihat tenang tanpa banyak bicara mendengarkan kata demi kata yang membela dirinya.
" Anak saya tidak bersalah Pak,dia hanya ingin menolong kekasihnya,jika Vero tidak datang saat itu,apa yang akan terjadi,Hani mungkin tidak selamat " Jelas Cila meninggikan suaranya.
" Iya Pak,anak saya terpaksa melakukan itu untuk membela diri dan menolong orang lain,bukan untuk mencelakakan " Sahut David.
Hakim diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan kedua saksi mata itu.
__ADS_1
Meski secara nyata Vero benar ingin melindungi tapi hukum tetap berlaku.
Vero tetap mendapatkan hukumannya dipenjara tapi pria itu mendapat kemudahan karna Hani juga membela dirinya habis2an.
Gadis itu tak menyalahkan Vero sudah membunuh ayahnya meski sebenarnya Hani sangat sedih lelaki yang ia panggil Ayah itu kini sudah meninggal ditangan lelaki yang ia cintai.
pembelaan mereka tuturkan untuk melindungi Vero,tapi jaksa penuntut dari sebelah Ayah Hani yang diketuai kepala genk mereka menuntut Vero dipenjara 5 tahun sebagaimana telah diatur dalam pasal 359 KUHP terhadap setiap orang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain.
Sontak pihak Vero langsung murka mendengar tuntutan tersebut.
Cila tak terima anaknya di penjara 5 tahun penjara karna itu bukanlah waktu yang sedikit.
Denis yang juga tak terima ponaannya di tuntut seperti itu ingin mengamuk tapi Beni menahan anaknya karna lelaki itu punya jabatan yang harus dijaga.
" Jangan Denis,kita akan membalas tapi tidak dengan kekerasan juga " Kata Beni tenang.
" Mereka gila Yah,jelas2 mereka yang salah !" Kata Denis emosi.
Beni berusaha sabar,David sudah mengamuk tak terima bahkan lelaki itu hampir menghajar sang kuasa hukum dari pihak lawan tersebut jika Cila tak menahan tubuhnya.
" Kalian benar2 iblis !" teriak David meledak ledak.
" Lihat Pak,mereka berani main hukum sendiri " Kata Kuasa hukum pihak lawan tersebut.
Hakim memukul palu meminta para hadirin untuk tenang.
" Jika anda melanggar aturan disini,silahkan keluar dan keputusan akan segera diambil " Ucap Hakim tegas.
" Jangan Mas " kata Cila menggeleng melihat suaminya sudah meledak2.
" Apa yang harus kita lakukan Ma,aku tidak mau Vero mendekam disana " kata David prustasi.
Vero masih diam ditempatnya menatap pihak lawan yang berani mengusik hidup mereka.
Cila terlihat bingung harus berbuat apa,perempuan itu merasa sangat lelah tapi Cila tidak ingin menyerah demi anak nya.
Persidangan pun akan dilanjutkan minggu depan.
Denis yang melihat manik Vero merasa sangat sedih,terlihat wajah lelaki itu sendu menatap orang tuanya yang kembali menangisi dirinya berlalu.
Suasana makin tegang,David merasa nyawa calon menantunya juga dalam bahaya berhubung pihak lawan seperti masih menginginkan gadis itu untuk ikut mereka yang mengaku menjadi wakil dari orang tua Hani.
Setelah sampai dirumah,semua keluarga berkumpul untuk mencari jalan keluar.
" Gimana kalo kita bayar denda saja Kak " Kata Denis memberi saran.
" Itu tidak sedikit Denis " jawab Beni.
" Ya mau gimana lagi Yah,Vero harus keluar dari sana " Kata Denis kesal.
" Mereka bukan orang sembarangan " Ucap David.
" Maksud Abang ?" tanya Denis.
" Mereka menginginkan Hani lagi,aku yakin itu " Ucap David.
" Bearti Hani juga dalam bahaya David " Kata Sintia takut.
" Iya,untuk sementara aku akan membayar orang untuk menjaga Hani disana " jawab David.
" Tapi kita butuh biaya yang besar Bang " Ucap Denis.
" Itu tidak masalah,meski pun harus menjual rumah ini akan aku lakukan " Jawab David tegas.
Semua orang menatap lelaki itu iba,Cila kembali menangis,sungguh berat cobaan keluarga itu saat ini,tapi David dan Cila tak ingin menyerah,mereka akan melakukan yang terbaik untuk anaknya apalagi Vero anak tunggal yang akan mewarisi kekayaan yang David miliki.
" Pa " Panggil Justin baru sampai kerumah sang mertua.
Semua orang berbalik badan melihat lelaki itu.
Justin mendekat dan memberi 2 amplop untuk Cila yang duduk dikursi.
" Apa ini Justin ?" Tanya Cila mengernyit.
__ADS_1
" Maaf waktunya tidak tepat tapi..." Ucap Justin menggantung.
" Ada apa ?" Tanya Cila mulai deg degan.
Satu masalah belum selesai muncul masalah baru pikir mereka.
" Bukalah " Kata Justin tersenyum.
Cila mengernyit melihat lelaki itu malah memberikan senyuman hangat kepadanya dalam kondisi genting.
Cila pun membuka satu amplop yang lumayan besar.
Saat kertas itu dibentangkan,Cila mulai membaca satu persatu dan terbelalak melihat isinya.
" Apa ini ?" Gumam Cila melihat Justin
" Apa Ma ?" tanya David bingung.
Cila memberikan kertas tersebut kepada David,meski bingung David mengambil lalu membaca isi didalamnya.
" Astaga,apa ini benar ?" tanya David ikut terbelalak.
" Kenapa David,apa isinya ?" tanya Sintia tak sabaran.
" Hani dapat beasiswa Bun " jawab David melihat sang mertua.
" Apa !" Pekik Sintia dan Beni kaget.
Justin mengangguk kecil.
" Aku juga sangat terkejut,Hani benar2 berbakat,dia melakukannya tanpa persetujuan kita " kata Justin bangga.
" Hani " Gumam Cila kembali menangis mengenang gadis itu.
Cila merasa terharu dan bangga,ia sangat tau perjuangan Hani belajar setiap malam dibantu Vero.
" Dan ini apa ?" tanya Cila memegang amplop kecil.
" Itu..." kata Justin malu.
" Apa ?" tanya Cila kembali penasaran.
Karna penasaran Cila pun kembali membukanya lagi.
" Waahh Masss " Teriak Cila heboh.
David yang masih haru dengan prestasi Hani pun menoleh kaget bersama mertuanya.
" Maaasss kita bakal punya cucu " Teriak Cila girang.
" Apa !" pekik David melotot.
" Apa ini benar Justin ?" tanya Cila girang.
" Iya Ma,aku dan Laura memeriksanya tadi kerumah sakit " Jawab Justin tersenyum.
" Alhamdulillah " ucap mereka semua sangat bersyukur.
" Selamat Justin,kau akan menjadi Ayah " ucap Denis merangkul suami ponaannya tersebut.
" Iya Bang,makasih " Kata Justin ingin menangis.
David dan Cila berpelukan menunjukkan rasa bahagia mereka.
" Dibalik musibah selalu ada hikmah didalamnya,Tuhan memberi kita satu ujian tapi ia juga menitipkan kebahagiaan disana " Ucap Beni merangkul pundak Sintia.
" Iya Mas,aku gak tau harus bahagia atau menangis saat ini " Balas Sintia berkaca kaca.
Beni tersenyum,dirinya juga bingung harus bagaimana mengexpresikan diri.
❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1