Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Mengejutkan


__ADS_3

Beberapa hari dirawat kondisi Hani makin membaik,meski gadis itu tak berselera untuk melakukan apapun,tapi Hani memaksakan diri untuk cepat sembuh agar ia bisa melihat Vero dipenjara.


Seperti saat ini gadis itu sedang makan,tak ada yang menjaga dirinya karna semua orang sibuk mengurus Vero.


Hani tak masalah karna memang itu yang dia mau agar Hani bisa menyendiri sementara untuk menenangkan hati dan pikirannya.


" Em em.." Gadis itu ingin muntah tapi Hani menahan karna dirinya harus makan biar bisa minum obat.


Ceklek...


Ruangan terbuka,masuklah seorang suster langsung berlari mendekati Hani yang kesusahan mengambil air.


" sini biar saya bantu " Ucap wanita itu mengambil gelas dinakas.


Hani menerima minum tersebut dan sedikit ngos2an.


" Saya udah makan Sus,bisakah saya minum obat ?" tanya Hani semangat.


Suster tersenyum mengangguk,gadis didepannya memang semangat untuk sembuh membuat para medis yang merawatnya merasa bahagia.


" Tunggu bentar ya saya siapkan " Ucap Suster.


Hani mengangguk kecil.


Tak lama gadis itu pun meminum beberapa obat untuk mempercepat penyembuhan.


" Hari ini kamu akan ditanya2 oleh polisi,kamu siap ?" tanya Suster.


" Apa itu akan memberatkan tersangka ?" tanya Hani.


" Saya tidak tau,saran saya jawablah mengikuti kata hati kamu " Ucap Suster ramah.


" Terima kasih " Balas Hani mengangguk.


Suster pun keluar memanggil polisi yang sudah siap mewawancarai gadis itu.


Hani berusaha tenang meski sangat gemeteran.


Para polisi pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada gadis malang itu terkait kematian ayahnya.


Disebuah sekolah,Justin mendatangi pihak sekolah memberitahu bahwa calon adik iparnya tak bisa masuk dikarenakan kecelakaan.


Justin tidak mau menjelaskan panjang lebar terkait kasus yang menimpa Hani karna itu akan semakin membuat gadis itu terpukul nantinya.


" Jadi seperti itu Pak,saya harap pihak sekolah memberi izin sampai adik saya kembali sehat dan bisa sekolah seperti biasa " Ucap Justin tenang.


" Baiklah Pak,kami akan mentoleransinya,tapi kami punya kabar gembira untuk gadis itu " Jawab kepala sekolah tersenyum.


" Kabar apa ?" Tanya Justin mengernyit.


" Berhubung dulu Hani mengajukan beasiswa untuk bebas biaya,para relawan mengabulkan permintaan gadis itu melihat dari nilai2 yang Hani kumpulkan " Jawab Kepala sekolah.


" Apa !" pekik Justin syok.


" Ya Pak,dia berhasil mendapatkannya dan satu2nya siswa yang menurut saya berbakat meski ia ketinggalan banyak sekali mata pelajaran,relawan memberi kesempatan Hani untuk melanjutkan sekolahnya "


Justin terlihat sangat terkejut mendengar penuturan pria itu.


" Apa Vero tidak mampu menyekolahkan Hani sampai2 gadis itu berusaha sendiri ?" Gumam Justin tak percaya.


" Ini suratnya,harap segera ditanda tangani oleh Hani sendiri tanda ia menerima persyaratan yang diajukan " Ucap kepala sekolah memberi selembar kertas.


Justin menerimanya dan berjalan keluar setelah mengucapkan terima kasih.


Saat lelaki itu mendekati parkir seorang pria mencegat jalan Justin.


" Kenapa ?" tanya Justin mengernyit.


" Abang saudaranya Hani ya ?" tanya pria tersebut.


" Iya kenapa ?" tanya Justin.


" Hani kemana Bang ? kok gak masuk ?" Tanya lelaki itu.


" Aku temennya Hani,Reka " Ucap Reka membaca pikiran lelaki dengan pakaian kantor tersebut.


" Oh iya,Hani sakit makanya tidak masuk " Jawab Justin tenang.

__ADS_1


" sakit apa Bang ?" Tanya Reka kepo.


" Kecelakaan " Jawab Justin.


" Apa !" pekik Reka kaget membuat Justin juga terkejut dan menjatuhkan kertas yang ia pegang.


Reka memungutnya dan membaca sekilas.


" Astaga " Kata Reka kembali melotot.


Justin terkejut untuk kedua kalinya ulah pria itu.


" Haist nih anak bkin jantungan aja " Ucap Justin mengusap dadanya.


" Hani dapat beasiswa Bang ?" Tanya Reka tak percaya.


" Hm " Jawab Justin merebut kertas itu dan membuka pintu mobilnya.


" Saya harus pergi " Kata Justin pamit.


" i iya Bang,salam sama Hani ya " Ucap lelaki itu menyingkir.


Justin mengangguk dan keluar dari pekarangan sekolah tersebut.


" Ini benar2 mengejutkan " Gumam Justin masih tak percaya melihat kertas berharga itu.


Lelaki itu pun langsung menuju pengadilan untuk melihat mertuanya bersaksi.


Sesampainya disana,suasana sudah ramai.


Terlihat dari kejauhan anak kembar Denis berjalan masuk baru keluar dari mobil Ayahnya.


Justin melaju mendekati ketiganya dan menegur salah satu dari mereka yang masih tertinggal.


" Mita " Panggil Justin.


Gadis yang dipanggil terlihat celingak celinguk mencari suara.


" Hei " Tegur Justin merangkul gadis cantik itu.


" Eh Om " Kata Mita kaget melihat Justin.


" Iya Bang ikut Ayah " jawab Mita tersenyum.


" Hm ya udah yok masuk " Ajak Justin semangat.


" Oke " Kata Mita tersenyum dan berjalan beriringan.


Keduanya masuk langsung disambut Laura yang terlihat pucat.


" Sayang kamu kenapa ?" Tanya Justin mendekati sang istri.


" Dia muntah Justin,kurang istirahat " Jawab Sintia yang menemani cucunya tsb.


" Ya Tuhan,ayo sini sama aku " Kata Justin memegang tangan perempuan itu.


" Aku gak papa Kak" ucap Laura lesu.


" Ayo ke mobil " Ajak Justin tak tega.


" Aku mau lihat Mama sama Papa " Ucap Laura sedih.


" Iya nanti kalo dah mendingan " jawab Justin.


Laura mengangguk setuju,keduanya pun berjalan keluar.


Justin membeli makanan untuk sarapan lalu pulang kerumah.


" Kak kenapa kesini ?" Tanya Laura heran.


" Kamu istirahat dulu ya " Jawab Justin membuka sabuk pengamannya.


" Kan kita...


" Iya tapi kamu belum istirahat dari semalam " Jawab Justin.


Laura menatap suaminya dalam dan mengangguk kecil.

__ADS_1


Justin tersenyum mencubit gemas pipi perempuan itu.


Mereka berjalan masuk,Laura menuju kamar mandi untuk buang air.


" Oh iya ini awal bulan,gimana kalo aku tes aja " Gumam Laura teringat akan kebiasaan nya.


Perempuan itu membuka laci dan mengambil satu benda.


Didapur Justin membuka bungkusan sarapan yang sudah ia beli.


Perut pria itu sebenarnya sangat lapar tapi karna sibuk kesana kemari jadi Justin tak sempat mengisi perut.


" Laura mana,kenapa lama banget ?" Gumam Justin sudah tak sabaran.


Lelaki itu belum mau makan jika istrinya belum hadir menemani.


10 menit berlalu sang istri belum juga muncul.


" Astaga mana Laura ? apa jangan2 dia pingsan lagi dikamar ?" Gumam Lelaki itu seketika panik.


Justin langsung berlari membuka pintu dan kaget melihat istrinya duduk diranjang dengan wajah tertunduk.


" Sayang " panggil Justin mendekat.


Laura menoleh menatap lelaki itu dengan air mata berderai.


" Kamu kenapa nangis ?" Tanya Justin khawatir.


Laura menggeleng pelan dengan air mata membasahi wajahnya.


" Hei sayang kenapa ?" tanya Justin makin panik.


Dirumah itu hanya ada mereka berdua karna Abraham sudah berangkat bekerja menghandle perusahaan yang baru mereka rintis lagi.


" Kak " Panggil Laura.


" Iya kamu kenapa ?" tanya Justin tak sabaran.


Laura memberi beberapa benda kecil untuk lelaki itu.


" Apa ini ? kamu mencobanya lagi ?" Tanya Justin mengernyit.


Laura mengangguk..


Justin melihatnya dengan tarikan nafas dalam karna lelaki itu takut kecewa melihat hasilnya.


Justin menatap satu persatu benda berbagai ukuran itu.


" Apa ini,kenapa berbeda ?" tanya Justin heran melihat satu persatu.


Laura kembali menangis melihat wajah bingung pria itu.


" Aku hamil Kak " Jawab Laura bergetar.


" Apa !" Pekik Justin melotot.


" Iya,kita berhasil " jawab Laura tersenyum haru.


" Oh my God,apa ini nyata,apa aku sedang bermimpi sekarang ?" tanya Justin menyugar rambutnya.


" Tidak,ini beneran nyata kita akan punya Baby " Jawab Laura tersenyum memegang tangan Justin mengarah ke perutnya.


" Ya Tuhan,terima kasih " Ucap Justin mendongak dan langsung bersimpuh ke lantai.


Air mata Laura semakin deras mengalir,perjuangan mereka untuk mendapatkan garis 2 tidaklah mudah,tapi Tuhan memberi mereka kesempatan berharga itu sekarang meski dengan kondisi yang sedikit berantakan.


Greb...


Justin bangkit dan langsung memeluk wanita itu dengan erat seraya mendaratkan banyak kecupan diwajah Laura.


" Terima kasih sayang,aku mencintai mu " ucap Justin sangat bahagia.


Laura mengangguk dengan senyum cantiknya.


Pasangan itu saling berpelukan menyalurkan rasa bahagia mereka.


❤❤❤❤

__ADS_1


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2