
Tania masih terisak meski air matanya sudah tak jatuh lagi.
Reka yg berjalan disamping gadis itu terlihat kebingungan.
Sungguh ia tak percaya dengan apa yg ia lihat saat ini,Gadis yg biasanya garang dan pemberani kini terlihay begitu lemah dan cengeng.
" Papaaaa " Panggil Tania melihat Denis di depan administrasi.
" Duh gawat,bakal diaduin nih " Batin Reka ngeri.
Tania berlari kecil dan langsung memeluk sang Papa.
" Kamu kenapa sayang ?" tanya Denis kaget.
" Hiks hiks " Tania tak bisa bicara hanya cegukannya saja yg terdengar.
" Kenapa Tania ?" tanya Denis melihat Reka.
Reka diam tak menjawab.
" Kakak ini jahilin aku Pa,dia ninggalin aku di sel " Kata Tania melihat Reka kesal.
" Gak kok Om,cuma aku lari dikit " Kata Reka membela diri.
Denis melihat Reka dan Putrinya bersamaan.
Lelaki itu menghela nafas panjang.
" Jangan jahil dong Rek,kasihan nih sampe nangis2 " kata Denis gemas.
Reka menggaruk kepala gatal dan cengengesan.
" Maaf Om " kata Reka merasa bersalah.
" Sudah2,gih sana kalian keruangan Vero " Kata Denis melepas putrinya.
" Papa mau kemana ?" Tanya Tania mendongak.
" Papa harus urus pemulangan Vero dulu " Jawab Denis.
" Bang Vero boleh pulang ?" Tanya Tania syok.
" Iya,1 minggu dan harus siap lapor " jawab Denis.
" Alhamdulillah " Kata Tania berubah senang.
Reka diam,pria itu masih bingung dan penasaran dengan gadis didepannya.
" Ya udah Pa,aku kesana dulu " kata Tania kembali ceria.
Denis mengangguk kecil,pria itu melihat Reka yg memperhatikan putrinya.
" Jangan dijahilin lagi Rek " Tegur Denis.
" Iya Om " jawab Reka mengangguk.
Tania berjalan duluan dan ogah melihat Reka.
Lelaki itu terkekeh dan ikut berjalan.
Keduanya diam menyusuri lorong.
" Ternyata kamu cengeng juga " ucap Reka ambigu.
Tania menoleh dengan tatapan tajam.
" Kirain jadi singa terus eh sama Papanya jadi sok manis " cibir Reka.
" Apa sih Kak " Kata Tania heran.
" Gak usah sok kalem deh,pake acara nangis2 segala lagi,lebay " Lanjut Reka.
__ADS_1
Tania berhenti berjalan dan melihat kearah lelaki itu.
" Apa ? Mau nonjok ?" Tanya Reka santai.
" Kakak gak sopan deh,emang kenal sama aku ?" Tanya Tania mulai geram.
" Nggak " Jawab Reka.
" Ih aneh " Kata Tania merinding.
Reka berdecih pelan dan ingin mencengkram gadis didepannya.
Tania kembali berjalan,kali ini langkah kakinya begitu cepat meninggalkan pria aneh tersebut.
" Kayaknya nih bocah punya 2 kepribadian deh " Gumam Reka takjub.
Ditempat lain,seorang gadis terlihat grasak grusuk didapur.
Sejak ditinggal orang tuanya pergi menjenguk Vero,Rania beraksi didapur.
Gadis itu mencoba untuk belajar masak meski tak tau caranya.
" Minyaknya taruh sedikit saja " Ucap Rania melihat buku sambil menuangkan minyak kewajan.
" Ambil potongan bawang lalu goreng " Lanjut Rania lagi.
Gadis itu celingak celinguk mencari bawang dan terdiam melihat bawang tersebut belum dikupas.
" Ini cara kupasnya gimana ?" Gumam Rania bingung.
Beberapa bahan sudah tersaji sembarangan diatas meja.
Gadis itu berencana akan memasak cumi pedas untuk seseorang.
Ntah motivasi dari mana terbit ke kepala gadis itu hingga ia turun langsung untuk membuatkannya.
Rania mengambil pisau dan mulai mengupas.
" Astaga ini sangat menyakitkan " Ucap Rania tak tahan.
Hidungnya sudah terasa panas,Rania benar2 pemula karna gadis itu sangatlah malas dan tak pernah turun ke dapur membantu sang ibu.
Rania dan Tania punya tugas berbeda,karna keduanya sering berkelahi jadi Miska memberikan tugas bersih2 rumah kepada Rania sedangkan Tania didapur khusus memasak.
Rania dan Tania juga punya kepribadian berbeda,jika Rania garang dan mudah emosi,bedahal dengan Tania yg lembut tapi mudah menangis.
Karna hal itu juga Miska sering meledak meladeni kedua gadis beranjak dewasa tersebut.
Hampir 2 jam berkutat,akhirnya 2 menu masakan pun tersaji.
Rania sudah basah keringat,salah satu jemarinya juga harus diperban lantaran ia salah potong.
" Alhamdulillah,semoga dia suka " Gumam Rania tersenyum malu.
Dengan gerakan cepat,Rania mencari tempat bekalnya dan menaruh menu tersebut kesana.
" Aku harus mandi dulu,udah bau acem " Gumam Rania mencium keteknya.
Gadis itu dengan semangat menuju kamar mandi dan bersiap2.
Setelah semua selesai,Rania dengan bangga dan sedikit deg degan keluar dari rumah.
Tanpa basa basi Rania langsung menuju lokasi.
Selama di taxi,wajah cerianya terlihat begitu apik.
" Mau ketemu pacar ya Neng ?" tanya supir melihat Rania di kaca spion.
" Hah ?" kata Rania kaget.
" Biasanya kalo bahagia gitu pasti mau ketemu Ayank " Goda supir.
__ADS_1
Rania bersemu merah,ia merasa malu digoda supir taxi tersebut.
" Yah yahh hujan neng " Kata Supir kaget melihat keluar.
" Yaaah Pakkk " Kata Rania berubah lesu.
" Aduhh Nenggg " kata Supir ikut lesu.
" Ngebut aja Pak " kata Rania mencoba tenang.
Supir mengangguk,mobil itu pun melaju kencang menerobos hujan yg tiba2 jatuh.
Sesampainya dilokasi,Rania langsung turun seraya membawa bekalnya.
Taxi melaju meninggalkan gadis tersebut.
" Dia ada gak ya ?" Gumam Rania ragu.
Sungguh gadis itu modal nekad,ia tak memberi kabar sama sekali.
Rania berlari kearah salah satu rumah yg terlihat begitu biasa.
Tok tok...
Rania mengetuk pintu rumah.
Heninggg...
Tak ada jawaban.
" Tok tok...
Gadis itu mencoba lagi dan masih belum menerima sahutan.
Hujan semakin lebat,Rania kecipratan air dari genteng.
" Dia mana sih ?" Gumam Rania mulai emosi.
Gadis itu menunggu beberapa saat,dipanggil2 juga sang tuan rumah tak menyahut.
" Apa aku tunggu aja ya ? Atau pulang ?"
" Ah kayaknya kalo pulang bakal sia2 dong,aku dah capek2 masak " Gumam Rania bingung.
" Tapi kalo nunggu disini hujan2an ntar dikara apaaan,idih nanti malah dia Gr " Kata Rania berperang dengan dirinya sendiri.
Gadis itu diam sejenak mencoba mencari jalan tengah.
Rasa ragu,malu,gengsi dan ingin menjadi satu padu membuat gadis cantik itu kehilangan akal sehatnya.
" Akh bodo lah,tungguin aja " kata Rania memutusan.
Hujan terus mengguyur,tak terasa hampir 1 jam ia menunggu disana.
Rasa dingin mulai terasa menusuk,jalanan begitu sepi bahkan tak ada satupun warga yg membuka pintu rumah karna memang hujan sangatlah deras dan angin cukup kencang.
Rasa kantuk mulai menerpa,gadis itu membuka tas bekalnya dan menghela nafas panjang.
" Hampir dingin " Ucap Rania pelan.
Dengan helaan nafas panjang,Rania mengambil bekal tersebut dan memeluknya berharap masakan tersebut tetap hangat saat dibuka nanti.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah 2 jam berlalu.
Hujan sudah berhenti,gadis itu memejamkan matanya sejenak merasa sesak didada.
" Apa yg aku lakukan ? Mengapa aku melakukan hal bodoh seperti ini ?" Gumam Rania lirih.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya
__ADS_1