
Tamu Cila mulai berdatangan,Clara dan anak2 nya pun tak tinggal diam mengunjungi Cila dirumah baru.
" Waaahhhh ada Romeo " Pekik Ana girang.
Gadis itu menyudahi acara melawak garingnya didepan bayi Cila yang mulai bisa merespon,seolah tak ingin ditinggal sang bayi pun menangis.
" Cup cup sayang ini Mama " Kata Cila mengendong anaknya.
" Tuh bocah bener2 php dah,udah bikin nyaman eh malah ditinggal " Gerutu Cila kesal melihat Ana yang mendekati Romeo yang baru dilepas Clara di karpet.
" Jagain adik kamu ya " Pinta Clara kepada Zaiva.
" Siap laksanakan " Kata Zaiva hormat.
Clara terkekeh pelan dan mendekati Cila.
" Awas kamu jahilin Romeo aku gantung kamu di pohon talas " Ancam Clara kepada Ana yang menghampiri anak nya.
"Ck,tenang aja aku ngak ngapain2 Romeo kok orang cuma mau nyapa aja " Kata Ana malas.
Clara diam dan membiarkan bocah itu mendekati anaknya.
" Kamu apa kabar,maaf ya kemarin ngak nyamperin ke rumah sakit " Kata Clara merasa berdosa.
" Baik,ngak papa " Kata Cila tersenyum.
" Haha lucu ya sekarang kita udah sama2 punya anak padahal dulu masih kecil banget " Kata Clara tiba2 teringat.
" Hehe iya,dulu kita jam segini masih jual gorengan Bunda,eh sekarang udah jadi emak2 aja" Kata Cila ikut tertawa.
Sintia hanya diam mendengar percapakan kedua putrinya bernostalgia.
" Aku bahkan udah 2 anak,rasanya cepet banget waktu berlalu " kata Clara menghela nafas.
" Iya,dulu masih ingusan eh sekarang malah ngelapin ingus anak hahaha " Cila tertawa kencang.
" Stttt jangan berisik,kamu juga ngak boleh ketawa kenceng2 nanti jahitannya lepas " Tegur Sintia.
Cila langsung terdiam malu.
Clara mengulum senyum,dirinya pun menciut melihat tatapan tajam Sintia.
" Cieee Bunda sekarang udah punya cucu lagi " Goda Cila memberanikan diri.
" Iya,sekarang Cucunya nambah jadi 3 haha " Sahut Clara ikut tertawa.
Sintia tersenyum malu.
" Tapi masih muda dan cantikkan ?" Tanya Sintia percaya diri.
" Hmmm gimana yaaa " Goda Cila.
Mereka tertawa bersama.
" Ish kalian ini olokin Bunda mulu,sesekali olokin Ayah kek " Gerutu Sintia.
Clara dan Cila langsung mengangkat tangan tanda menyerah.
" Haha gitu aja takut " Decih Sintia.
" Ngak mau ah,ngeri ntar aku dikeluar lagi dari KK" Kata Cila takut.
Sintia tertawa renyah,dirinya pun sampai sekarang tak berani mengoloki sang suami terlalu berlebihan meski Beni tak pernah mengambil hati perkataan mereka..
" Sang Preman pasar kini udah punya cucu 3 " Kata Cila seolah2 main drama.
" Lagi ngomongin siapa ?" tanya Seseorang diambang pintu.
" Mas "
__ADS_1
" Ayah "
Gumam mereka bersamaan.
" Kalian ngomongin Ayah ?" Tanya Beni menelisik.
" Eh em ngak kok Yah,kita lagi main drama " kata Clara kelabakan.
Cila dan Sintia terdiam.
Beni menghampiri Zaiva,Triplet,dan Romeo.
" Uluh2 Cucu kakek tampannya " Kata Beni takjub kepada Romeo.
Wajah bocah kecil itu sangat mirip dengan Clara bahkan mata nya pun bulat seperti perempuan itu.
" Sini sama Kakek " Kata Beni menggendong anak itu.
Romeo mengangguk merentangkan tangannya untuk diambil Beni.
" Uh kamu nih kebangetan banget,tadi aku gendong kamu ngak mau " Gerutu Ana kesal.
" Dia tau Kakak ngak kuat gendong dia " Kata Zaiva terkekeh pelan.
" Aku kuat kok,makan tiap hari iya ngak Bang " Kata Ana kepada saudaranya.
" Iyain aja " Kata Andrew malas.
2 bocah lelaki itu terlihat sangat lelah karna diskolah tadi bermain sepak bola.
Mereka ditinggal Nisa kekantor Reno karna Reno membutuhkan Nisa untuk mendampingi nya meeting keluar kali ini.
Anak2 itu pun di titipkan terlebih dahulu ke rumah Cila karna triplet pun ingin berkunjung kerumah itu.
" Kalian udah makan belum ?" tanya Sintia kepada triplet.
" Eh tadi kan udah makan somay " Kata Andrew kaget.
" Ck,kan belum makan nasi,itu artinya kita belum makan " Kata Aktam malas.
" Oh gitu ya " Kata Andrew tak paham.
Aktam mengangguk mengiyakan.
Sintia tertawa pelan,melihat Triplet perempuan itu berasa geli sendiri,pasalnya sifat mereka sangat berbeda satu sama lain.
" Ya udah gih sana makan " Kata Cila pelan.
" Ayo Bang,laper aku habis itu kita tidur " Kata Aktam semangat.
" Harus sopan dirumah orang nanti Bunda marah " Tegur Andrew.
" Ck iya,tapi kan udah ditawar,kata Papa ngak baik nolak tawaran orang apalagi urusan perut " Kata Aktam menimpali.
" Iya Bang,urusan perut harus utama biar otak jalan buat mikir " Kata Ana ikut nimbrung.
" Iya,aku juga laper seharian jaga adik " Kata Zaiva ikut gabung.
Andrew terdiam otak kecilnya berpikir sejenak.
" Ya udah kalo gitu " Kata Andrew mengalah.
Mereka semua pun bangkit berjalan kedapur menikmati masakan ibu Laura.
Ditempat lain,David bekerja seperti biasanya.
Pria itu melihat Nisa memasuki kantor tapi David tak berani menegur karna banyak pasang mata yang melihat kearahnya.
" Gilak walaupun bini Bos besar Kak Nisa sederhana banget " Gumam David takjub melihat perempuan itu.
__ADS_1
Nisa hanya mengenakan baju terusan biasa dengan hijab panjangnya,perempuan itu tak terlihat sama sekali bahwa memiliki suami yang luar biasa.
" Lo kenal ?" Tanya Teman David se profesi.
" Dia bini Bos kan " Kata David pura2 tak tau.
" Iya,ramah sih tapi banyak diam " Kata lelaki itu memperhatikan Nisa yang menunggu di lobi.
" Kenapa dia ngak masuk langsung ?" Tanya David heran.
" Mungkin Pak Bos lagi meeting,biasa juga gitu selalu nunggu diluar " Kata pria itu tersenyum.
David hanya ber Oh ria.
Dirinya baru tau bahwa Nisa sangat menjaga privasi sang suami,yang dia tau biasanya istri Bos akan sangat leluasa memasuki tempat kerja suaminya apalagi sang suami yang menjadi pemilik,tapi tidak untuk Nisa perempuan itu tak ingin besar kepala,apalagi Reno sangat berpengaruh di kantor itu.
Nisa terlihat ingin menjaga image suaminya agar tak jelek di mata karyawan.
" Ya udah yuk kerja lagi " Ajak pria itu merangkul David.
" Iya " Kata David ikut tersenyum dan masuk lift khusus karyawan.
David masih bekerja di perusahaan Reno karna dirinya bingung ingin membuka usaha apa.
Reno menyarankan agar bekerja apa adanya dulu, sambil memikirkan usaha apa yang akan dia rintis .
David kini lebih tenang,dirinya tak perlu terlalu berat banting tulang karna warisannya cukup banyak cukup untuk anak cucu,tapi David tak ingin hanya mengandalkan itu,karna uang bisa habis kapan saja.
Sore pun tiba,saat David akan pulang pria itu melihat seorang pria berdiri tak jauh dari perusahaan.
" Rehan " Gumam David melihat sahabatnya.
Dengan cepat David berlari kearah Rehan yang masih mematung disana.
" Han..." Panggil David lantang.
Rehan menoleh dan tersenyum getir melihat David berlari kearahnya.
" Lo kemana aja ? kenapa pas terakhir lo langsung ngilang ngak ada kabar ??" Tanya David beruntun.
" Gue pulang Vid,Ibu gue makin parah " Kata Rehan menunduk.
" Sekarang gimana ?" tanya David khawatir.
" Makin parah Vid,ibu lagi kritis dirumah sakit gue bingung mau cari duit dimana buat tebus biaya berobat " Kata Rehan jujur.
" Kenapa lo baru bilang sekarang ?" Tanya David sedikit syok.
" Gue malu Vid " kata Rehan tak enak.
" Ck lo kayak sama siapa aja,berapa biaya nya ?" Tanya David serius.
" Puluhan juta Vid,harusnya ibu dibawa kerumah sakit besar,tapi ya gue ngak ada duit buat bawa kesana " Kata Rehan sedih.
David menghela nafas kasihan,dirinya juga ikut sedih mendengar cerita sahabatnya tersebut,bagaimana pun Ibu Rehan sangat baik kepadanya dulu.
" Gue ngomong dulu sama Cila,lo ikut gue pulang" Kata David memutuskan.
" Hah maksud lo ?" tanya Rehan kaget.
" Lo ikut gue pulang dulu kita bicarain dirumah " Kata David tersenyum.
" Iya " Kata Rehan menurut.
Mereka berdua pun pulang kerumah bersama sama.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya
__ADS_1