Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Penantian


__ADS_3

Seorang pria membuka pintu apartemen dengan lebar.


Laura mengeryit melihat seorang pria paru baya terlihat sangat menawan berdiri didepannya.


" Siapa kamu ?" Tanya pria itu dingin.


" Saya Laura Om " Kata Laura gugup.


" Kenapa kamu mau menemui Justin ?" Tanya pria itu tajam.


Laura menelan ludah kasar,Mama Justin masuk kedalam rumah seraya mengurut kepalanya pusing.


" Kenapa diam ?" Tanya Lelaki itu tegas.


" Maaf Om " Kata Laura menunduk takut.


" Tak apa,beritahu saya " Kata Papa Justin ramah.


Laura menatap manik lelaki tua itu dengan tatapan sendu.


" Apa saya boleh bertemu Kak Justin ?" Tanya Laura dengan suara bergetar.


" Kamu siapanya Justin ?" Tanya lelaki bernama Abraham itu tegas.


" Aku dan Kak Justin,em kami em bukan,Kak Justin pernah meminta saya untuk menunggu dia " Kata Laura jujur.


" Menunggu bagaimana maksud mu ?" Tanya lelaki itu bingung.


" Kak Justin meminta aku menjadi kekasihnya " Kata Laura jujur.


" Hah " Pekik lelaki itu kaget.


Laura mengangguk lemah.


" Aku sudah menunggunya selama 6 bulan,Kak Justin bilang akan bekerja keluar negeri tapi dia tak pernah mengubungi saya " Cerita Laura sedih.


" Justin bilang seperti itu ?" Tanya Papa Justin kaget.


" Iya,dan sekarang ada yang meminang saya untuk dijadikan istri,tapi saya masih menunggu jawaban dari Kak Justin,tolong saya Om saya tidak ingin menyesal " Kata Laura memegang tangan pria tua itu.


Papa Justin kaget Laura berani menyentuhnya,Laura mulai menangis meratapi nasibnya yang kian hancur.


" Mengapa kamu mau menunggu Justin ? apa kamu mencintai anak saya ?" tanya Papa Justin serius.


Deg..


Laura mendongak dan menatap manik pria tua itu.


" Saya rela datang kesini karna saya mencintai anak Om,maafkan saya Om,saya memang bukan dari kalangan anak orang kaya,orang tua saya sudah meninggal,saya diangkat oleh Bos ibu saya dulu,saya sendirian dan saya menyayangi anak Om " Cerita Laura dengan tangis berderai.


" Jika Kak Justin memang sudah menikah dan punya anak,saya akan menerimanya tapi saya ingin melihatnya untuk terakhir kali dan untuk membuat saya sadar akan perasaan saya " Lanjut Laura terisak.


Abraham melihat aneh gadis itu,tapi ia cukup takjub dengan pengakuan Laura.


" Apa kamu sering kesini dulu ?" Tanya Abraham menatap manik Laura.


" Saya pernah kesini tapi itu suatu kebetulan,saya bertemu Kak Justin saat adik saya kecelakaan,dan dia mengantar saya kerumah sakit " Cerita Laura.


Abraham ber Oh ria dan mengangguk mengerti.


" Pulang lah " Kata Abraham tenang.


Laura mendongak menatap sedih lelaki itu.


" Justin masih diluar negeri,dia tak ada disini dan saya pikir kamu memang gadis spesial untuk Justin " Kata Abraham tersenyum.

__ADS_1


" Apakah saya bisa menghubunginya untuk terakhir kali ?" Tanya Laura sedih.


" Saya akan menyampaikan pesan mu kepadanya " Kata Abraham tegas.


" Maksudnya ?" Tanya Laura terkejut.


" Tenangkan hati kamu,sisanya biar saya yang sampaikan kepada anak saya " Jelas Abraham.


" Waktu saya ngak banyak Om " Kata Laura menunduk.


" Jika kalian berjodoh,maka dengan waktu sedikitpun kalian bisa bersama " kata Papa Justin bijak.


Laura mengangguk mengerti.


" Baiklah Om,terima kasih banyak,maaf menganggu waktu istirahat kalian " Ucap Laura tulus.


Abraham mengangguk tersenyum,Laura pun pamit pulang membawa kekosongan.


Papa Justin menutup pintu apartemen dan menghela nafas.


" Pria nakal itu sudah berubah " Gumam Abraham tersenyum lembut..


Dari cerita Laura yang singkat,Abraham bisa menyimpulkan bahwa gadis itu banyak membawa perubahan kepada anaknya.


Justin dulu bukanlah pria baik yang diceritakan Laura apalagi sampai mengucapkan janji seperti itu.


Justin terkenal gila wanita,bahkan pria itu rela membayar wanita dengan harga mahal jika Justin mau memakainya sebentar.


Tapi setelah penjelasan Laura tentang hubungan anaknya tadi membuat pikiran pria tua itu terbuka.


" Pantesan Justin ngebet mau kerja disana,ternyata ini alasannya " Gumam lelaki itu menggeleng pelan.


Abraham berjalan mendekati istrinya yang berbaring diranjang,kondisi Mama Justin cukup memprihatinkan.


Ntah apa yang dilakukan Justin disana hingga tak mau mengangkat panggilan Mamanya.


Laura akan pulang kerumah dengan perasaan hampa,gadis itu sangat ingin bertemu dengan Justin.


" Apa aku harus benar2 menyerah ?" Gumam Laura sedih.


Gadis itu menghela nafas dan memesan taxi.


Ditempat kerja,Vero mendapat promosi dari Rehan,Vero sudah bekerja sangat giat hingga ada perusahaan asing melirik karya pria itu.


David sangat bangga dengan progres yang Vero lakukan.


Meski masih berumur sangat muda tapi anaknya sudah mampu menciptakan karya yang luar biasa.


David semakin yakin bahwa Vero benar2 pantas untuk Laura.


3 hari sudah berlalu,Laura tak mendapatkan info apapun tentang Justin.


Harapan gadis itu sirna sudah,Laura tak ada keberanian lagi untuk mendatangi orang tua Justin.


Diluar kamar Vero sudah bersiap menerima jawaban gadis itu bersama orang tuanya.


Laura sudah berjanji hari ini akan memutuskan mau menerima Vero atau tidak.


" Yang tenang " Kata Cila mengusap bahu putranya.


" Aku gugup Ma " Kata Vero menatap Cila.


" Iya,tunggu bentar lagi Laura keluar kok " Kata Cila lembut.


Vero mengangguk lemah.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu kamar terbuka,tampilan Laura dengan wajah tertunduk.


Gadis itu mendekat dan duduk berhadapan dengan Vero.


David dan Cila menjadi saksi pasangan itu.


" Em langsung aja ya,gimana pendapat kamu tentang lamaran Vero kemarin ?" Tanya David membuka suara.


Vero menatap wajah Laura yang tertunduk,Vero tak tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu.


Laura mendongak dan menatap kedua orangtuanya.


Laura teringat sekilas bagaimana perjuangan pasangan itu dalam merawatnya saat masih kecil,kasih sayang David dan Cila yang menganggap dirinya anak sendiri.


Kebaikan mereka kepada orangtuanya.


Laura juga mengingat bagaimana Vero saat masih kecil dulu hingga dewasa sebelum Vero hilang ingatan.


Laura mengingat semua masa lalunya yang penuh perjuangan dan air mata.


Laura mendongak melihat kearah Vero yang juga sedang melihatnya.


" Terima kasih Vero,aku mau nikah sama kamu " Kata Laura tersenyum.


" Hah beneran ?" tanya Vero terkejut.


" Iya,aku ngak ada alasan buat nolak " kata Laura tersenyum.


" Yes " Kata Vero girang.


David dan Cila tersenyum haru dan memeluk putra mereka.


" Selamat ya sayang " Ucap Cila mencium pipi Vero.


" Makasih Ma " Balas Vero bahagia.


Vero membuka kotak yang sudah ia persiapkan kemarin hari.


" Ini hadiah buat kamu " Kata Vero memegang pelan tangan Laura dan menaruh cincin emas disana.


" Buat aku ?" Tanya Laura terkejut.


" Ya sebagai hadiah kamu udah terima lamaran aku " kata Vero lembut.


" ah ini sangat cantik,terima kasih " kata Laura bahagia.


" Itu uang Vero loh yang beliin,jangan salah paham ya " Kata Cila menjahili.


" Iya Ma aku tau kok Vero sekarang udah banyak uang " kata Laura terkekeh malu.


Vero menggaruk kepalanya menampar gemas lengan pujaan hatinya itu.


Mereka pun berpelukan,hingga David menarik paksa tubuh Vero..


" Ingat bukan adik kakak lagi,ngak boleh asal peluk !" Kata David tegas.


" Iya Pa,yaelah peluk doang " kata Vero mengkrucut.


Laura tertawa bersama Cila,mereka pun mengobrol hangat dan merencanakan hari pernikahan.


❤❤❤


Hay guys terus dukung author ya dengan cara Vote,Like,Coment

__ADS_1


__ADS_2