
Reka sampai dirumah dan langsung bergegas menuju dapur.
Pria itu terlihat sibuk,hidup sendirian tak membuat Vero menyerah.
Reka yg sudah biasa hidup susah dari kecil begitu bersyukur kini dirinya tak luntang lantung lagi meski terkadang merasa sepi setelah kehilangan sang nenek.
" aku masak apa ya ?" Gumam Reka berpikir.
Ntah mengapa pria itu tak tidur semalam,ia terus berpikir dan berpikir sejak Rania mengutarakan isi hatinya malam tadi.
" Uh apa yg aku pikirkan " Gumam Reka menggeleng kepalanya.
Kata demi kata yg Rania ucapkan malam tadi membuat lelaki itu pusing dan kalut,bukan hanya perkataan tapi perbuatan dan sikap Rania makin membuat pria tampan tersebut merasa bersalah.
" Aku harus menebusnya,ya ini bukan rasa tanggung jawab tapi hanya karna ingin membalas dan kasihan saja karna telah membuang makanan yg ia bikin " Gumam Reka yakin.
Pria itu kembali bergerak,Reka mmebeli beberapa bahan dan mencoba memasak hal yg sama yg Rania kirim saat itu.
" Huh gimana cara masaknya ya dan gimana rasanya ?kenapa saat itu gak aku cicipin dulu sih " gumam Reka mulai kesal.
Reka bingung akan memasak apa,semalaman lelaki itu mencoba mengingat meski tak yakin dengan ingatannya sendiri.
Beberapa saat terdiam akhirnya Reka punya ide.
Pria itu langsung bergerak karna waktunya tidak banyak lagi.
Dengan perlatan seadanya lelaki itu terlihat semangat.
Ia tak ingin mati konyol hanya karna menyesal.
Ditempat lain,seorang gadis terbangun dari tidurnya yg tak pernah awal.
Terlihat seorang wanita merapikan meja rias yg begitu berantakan dengan baju dan kaos kaki juga menyangkut disana.
" Mama " Ucap Rania terkejut.
Wanita dewasa itu menoleh dan menghela nafas.
" Sarapan sudah siap,bangunlah " Ucap Miska tenang.
Rania bangun dan duduk melihat kegiatan sang ibu.
" Hari ini Mama mau anterin Om kamu,jadi jaga adik ya " Kata Miska tanpa menoleh.
" Aku mau ke kantor Ma,tapi habis itu langsung pulang " Balas Rania.
" Gak bisa sekalian bawa dia ?" tanya Miska lagi.
" Tania gak bisa ?" tanya Rania.
" Tania ada ujian,jadi gak bisa " Balas Miska.
Rania diam sejenak,dalam mengurus sang adik memang seperti sudah takdir gadis itu,Miska lebih mempercayai dirinya daripada Tania.
" Mama gak bisa bawa Baim ke sana,Papa kamu juga melarang " Kata Miska menghela nafas.
" Kalo kerumah Bibi ?" tanya Rania hati2.
" kamu gak mau ngurus ?" Tanya Miska mengernyit.
Rania kembali diam,Miska berjalan mendekat dan melihat anak gadisnya yg makin dewasa.
" Kamu anak tertua dirumah ini,jadi cobalah mengerti mengapa Mama dan Papa lebih mengandalkan kamu daripada Tania " Ucap Miska lembut.
" Iya Ma " Balas Rania mencoba paham.
Miska tersenyum,wanita itu pun keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah Miska menutup pintu,Rania menghela nafas panjang.
" Ya harus aku dan aku merasa ingin menyerah " Ucap Rania pelan.
Dengan rasa malasnya gadis itu menyemangati diri meski tak pernah semangat.
Diruang makan,Denis sudah siap dengan seragam kebanggaannya.
Lelaki itu makan dengan lahap sesekali melirik sang anak bujang yg sedang aktif2nya.
" Mana Rania yank ?" tanya Denis.
" Masih dikamar,bentar lagi kesini " Jawab Miska.
" Ma minta uang saku ya,aku mau jajan " Ucap Tania.
" Hm " Jawab Miska.
" Kamu gak pulang malam kan ?" tanya Denis melihat sang putri.
" Belum tau Pa,aku juga harus isi tugas " Balas Tania.
" Ya udah nanti kabari " Kata Denis tenang.
Tania mengangguk kecil.
Rania mendekati meja makan dan diam melihat semua keluarnya asik sendiri.
" Rania,sini Nak " Panggil Denis lembut.
Rania melihat lelaki itu dan mendekat.
" Kamu jaga Baim ya " Kata Denis tersenyum.
" Iya Pa " Jawab Rania mengangguk.
Rania mengangguk,gadis itu pun ikut menyantap nasi goreng buatan ibunya.
Setelah semua selesai,tibalah waktu Denis dan Miska harus pergi,Tania juga ikut lantaran 1 jalan.
" Baik2 sama Kakak ya " Kata Miska kepada sang anak.
" Hm " Jawab Baim mengangguk.
Mereka menaiki mobil,bocah lelaki itu melambaikan tangan tanpa menangis.
" Ayo masuk " ajak Rania tenang.
" Kak " Panggil Baim menoleh.
" iya " Balas Rania.
" Main " Ajak Baim memelas.
" Masih pagi sayang,siangan dikit ya " Kata Rania lembut.
Baim mengangguk kecil,bocah itu mengambil tangan Rania dan menggandengnya.
Rania melihat sang adik dan menghela nafas panjang.
Bocah lelaki itu memang sedikit unik,jika Rania dan Tania ssring berkelahi karna hal sepele bedahal dengan Baim yg tak pernah menganjak keduanya bertengkar.
Baim begitu kalem ayem dan bisa dikatakan sedikit tak ingin bersosialisasi dengan orang asing,ia hanya percaya keluarganya saja,makanya Denis tak ingin bocah itu ikut mereka karna bisa mempengaruhi daya pikir sang putra nanti.
" Kakak mandi dulu ya habis itu kita pergi ke kantor dan ketaman " Kata Rania tersenyum manis.
" Iya Kak " Jawab Baim manut.
__ADS_1
" Tunggu ya sayang,ini main dulu " kata Rania mengambil robot2 adiknya diatas kasur.
Baim mengangguk dan mulai bermain.
Rania sebenarnya tidak masalah jika harus mengurus sang adik,hanya saja gadis itu takut tak bisa memantau jika ia sedang ada kerjaan.
Dengan rasa was2 meninggalkan Baim sendirian,Rania ngebut membersihkan dirinya dan berangkat.
Sesampainya dikantor dengan memesan taxi online,gadis itu terlihat gugup.
Rania masuk kedalam dan langsung distop oleh satpam.
" Cuma nganter berkas Pak " Ucap Rania menunjukkan tas yg ia bawa.
" Mau ketemu siapa ?" tanya satpam.
" Bu Virda " Jawab Rania.
" Oh ya sudah "
Rania mengangguk dan kembali melangkah.
Baim melihat sekitar dengan wajah takjub.
" Kamu jangan nakal ya,disini orang2 nya pada galak " Kata Rania menakuti sang adik.
" Iya Kak " Balas Baim manut.
Rania tersenyum dan menatap kedepan.
Tekadnya sudah bulat,gadis itu akan menyelesaikan masalah kuliahnya yg menghambat gadis itu mendapatkan ijazah.
Diluar,seorang pria berlari tergopoh2 sambil membawa rantang makanan.
" Wah2 lo telat Rek " Ucap satpam menggeleng.
" Iya Bang,aku duluan ya " Kata Reka langsung berlari.
Pria itu terlihat tergesa karna memang sudah terlambat masuk.
" Jadi gimana Bu,masa mau ditahan disini,kuliah saya udah selesai " Ucap Rania kepada manager bagian perusahaan tersebut.
" Iya saya tau,tapi laporan kamu itu sedikit membahayakan perusahaan ini,jadi ya Bos bilang kamu harus ditahan dulu " Balas wanita parubaya tersebut.
" Ditahan gimana maksudnya ?" tanya Rania bingung.
" Em begini Ran,saya tau kamu sudah menyelesaikannya dengan baik,tapi karna ada kesalahan fatal dari karyawan kami,jadi kamu harus bekerja disini " Kata wanita itu hati2.
" Apa !" pekik Rania kaget.
" Iya,itu perintah dari atasan,kamu mau kan minimal setahun disini "
" Tapi Bu,saya gak mau kerja disini,saya mau kerjaan lain " kata Rania tegas.
" Hanya untuk sementara Ran,tolong " Balas wanita itu berharap.
Rania bingung,ia merasa tak membuat kesalahan meski kemarin dosen pembimbingnya marah2 soal laporan yg ia buat.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka,Baim yg sedang duduk tenang langsung kaget dan bersembunyi ditubuh Kakaknya.
Rania menoleh kebelakang dan melotot seketika.
" Maaf telat Bu,ini lap...." Ucap lelaki itu menggantung.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,coment ya.