
Kebesokan pagi nya,rombongan triplet harus pulang,Barra menangis karna ditinggal sendirian dirumah besar itu.
" Duh Bang Barra,udah gede juga masih aja mewek " Gerutu Ana mengambil baju nya yang digantung di belakang pintu.
Cila terus saja tertawa mengenang wajah tampan Barra menangis tadi saat mereka melakukan vidio call.
" Itu tandanya Abang kamu sayang sama kalian,kalian juga jahat banget kesini ngak ajak2 dia " Sahut Cila.
" Ya siapa suruh dia jalan sama cewek nya kemarin,eh ditinggal adik2 nya malah nangis " Kata Ana malas.
" Cepetan Deeekkkk " Teriak Andrew dari luar.
" Iya Bang,bentar lagi " Teriak Ana juga.
Gadis itu dengan cepat memasukkan baju2 nya kedalam tas.
Cila ikut bangkit mengantar ke3 bocah itu sampai depan rumah.
" Paman,Bibi kami balik dulu ya,makasih udah izinin kami menginap disini " Kata Andrew mewakili adik2 nya.
" Iya,kalian hati2 ya,sering lah main kesini tapi jangan lupa ajak Abang kalian juga " Nasehat Beni.
" Hehe iya Paman " kata Andrew malu.
Mereka terkekeh pelan,Andrew mulai menyalami mereka satu persatu di ikuti adik2 nya.
" Jangan nakal ya sayang " Kata Sintia lembut mencium pipi anak bujang Nisa itu.
" Iya Bi " Kata Andrèw patuh.
" Nah ini nih biang kerok nya yang sering bikin masalah " Kata Clara saat Ana menyalami tangannya.
" Ish,jangan di ungkit lagi napa,Ana udah jadi anak baik ini " Protes Ana.
Beni dan Rendi tertawa renyah melihat bocah itu.
" Ngelawan lagi,aku kuncir bibir pedes kamu ini " Kata Clara menampar pelan bibir Ana.
Gadis itu langsung menkrucut kesal.
" Yaaahhh Iva sendirian dong " Desah Zaiva kecewa.
" Sabar ya Zaiva,nanti Kakak main krumah kamu,kita hambur hamburin alat Mama kamu " Kata Ana menepuk pundak gadis itu.
Clara langsung melotot garang.
Zaiva mengangguk semangat dengan ajakan bocah itu.
" Jangan mau temenan sama pelakor ini Iva,bahaya,ntar kamu ketularan " Celetuk Cila.
" Ish,ngomong gitu lagi aku ngak mau bantu Kakak " Ancam Ana tajam.
Cila langsung terdiam menelan ludahnya kasar..
Semua orang menatap Cila aneh.
" Bantuin apa ? Tanya Beni penasaran.
" Bantuin Kak Cila rebu...hmpptttt " Kata Ana terpotong,Cila langsung membekap mulut gadis itu.
" Ngak papa kok Yah,cuma bantuin beresin kamar " Kata Cila menyela dengan cepat.
Mereka mengernyit bingun,Clara mengulum senyum tak mau ikut ikutan ditanya.
" Kamu tau Yank ? " Tanya Rendi.
__ADS_1
" Hah,em ngak aku ngak tau " Kata Clara kelabakan.
" Mmmppptttt Ka K...." Ana masih memberontak,Cila menggendong gadis itu menuju mobil.
" Please sayang ku cinta ku,jangan kasih tau mereka bisa mati Kakak " Kata Cila memohon.
Ana bersedekap dada malas melihat Cila.
"Ada satu syarat,agar aku tutup mulut " Kata Ana menyeringai.
Glek...
Cila menelan ludahnya kasar.
" Syarat apa ? Tanya Cila takut.
Gadis itu membisiki Cila lirih.
" Whattttt !!!! " Pekik Cila kaget.
" Ngak mau ? Ya udah aku bilangin nih sama Paman " Ancam Ana ingin turun lagi.
" Eh iya iya,tapi nanti ya kalo Kakak udah pulang " Kata Cila pasrah.
" Nah gitu dong,jadi patner itu harus membantu " Kata Ana bangga.
" Huh,nyesel aku minta tolong sama kamu " Gerutu Cila kesal.
" Aku bilangin nih " Ancam Ana lagi.
" Iya iyaaaaa nanti aku usahain,kamu diem2 aja disini ngak usah banyak omong " Kata Cila kesal.
" Hehe gitu dong,Kakak ku sayang " Kata Ana mencium pipi gadis itu.
Cila mengkrucut kesal dan kembali kerumah.
Malam harinya saat mereka semua sudah selesai makan malam,Beni meminta mereka untuk berkumpul.
" Cila,bagaimana hubungan kamu sama David ? " Tanya Beni tegas.
Deg...
Cila menelan ludahnya kasar,gadis itu melihat Clara meminta bantuan.
Clara hanya diam menunduk.
" Baik2 aja kok Yah " Kata Cila tersenyum gugup.
" Jujur sama Ayah Cila " Kata Beni tegas.
" Bicarakan sama Ayah kamu " Kata Sintia lembut.
" Apa David berlaku kasar ? " Tanya Beni lagi.
" Ngak Yah,Mas David ngak pernah ngasarin aku " Kata Cila serius.
" Lihat Bun,ada bekas atau tidak " Titah Beni.
Cila terkejut begitu pun Rendi dan Clara.
Denis hanya diam saja mendengar orang tuanya.
Sintia membuka lengan baju Cila dan memperhatikan tubuh anak nya.
" Ngak ada Yah " Kata Sintia menghela nafas lega.
__ADS_1
Beni beralih ke Clara,gadis itu langsung membuka lengan baju nya sebelum ditanya Beni.
" Ngak ada Yah,Bang Rendi ngak pernah ngasarin aku " Kata Clara takut.
Rendi sudah pucat takut melihat aura Beni yang mematikan.
" Rendi,Ayah membesarkan anak2 Ayah dengan penuh kasih sayang,Ayah ngak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anak2 Ayah,meski Ayah tegas kepada mereka,jadi Ayah minta sama kamu jangan pernah menyakiti anak Ayah Clara dan juga cucu Ayah Zaiva " Kata Beni serius.
" Iya Yah,Rendi janji ngak akan menyakiti Clara dan Zaiva Yah " Kata Rendi mantap.
" Bagus,Ayah harap kamu bisa memegang janji kamu " Kata Beni tersenyum.
Rendi mengangguk.
Zaiva terus merengek kepada Clara karna ini sudah jam tidurnya.
" Kembali lah kekamar kalian " Kata Sintia lembut.
" Iya Bunda " Kata Clara patuh dan menggendong Zaiva ke kamar.
Beni sudah membuatkan kamar 1 lagi untuk Clara,karna susah jika mereka menginap disana tak ada kamar.
Kini tinggallah Cila disana bersama Denis dan orang tuanya.
" Kamu sudah hamil ? Tanya Sintia lembut.
" Belum Bunda " Kata Cila menunduk.
" Sudah periksa kedokter ? " Tanya Sintia lagi.
Cila menggeleng lemah.
" Kalian tidur bersama ? Tanya Beni.
" Iya Yah " Kata Cila takut.
Mereka menghela nafas lega.
" Ayah sebenarnya kecewa David tak jadi kesini,tapi ya dia ada pekerjaan yang tak bisa dia tinggalkan,Ayah coba maklumi,tapi lain kali ajak lagi dia kemari " Kata Beni tenang.
" Iya Yah " Kata Cila menunduk.
" Ya sudah,kembali kekamar " Kata Beni tersenyum.
Cila mengangguk.
" Ayo Dek,tidur " Ajak Cila kepada Denis.
" Iya Kak " Kata Denis ikut bangkit.
Beni menghela nafas lelah.
" Jangan terlalu memaksa Yah,mereka sudah besar " Kata Sintia mengusap punggung suami nya.
" Aku takut mereka di perlakukan tak baik Yank " Kata Beni mendesah.
" Kamu tenang saja,anak2 kita wanita yang kuat,,jangan khawatir " Kata Sintia yakin.
" Semoga menantu kita orang yang bertanggung jawab " Doa Beni.
Sintia mengangguk dan memeluk pria itu.
Sintia sangat tau apa yang dirasakan suami nya ini,Beni begitu menyayangi kedua putri nya,makanya tak heran jika Beni bersikap over protektiv kepada Cila dan Clara.
Beda hal dengan Denis,Beni tak terlalu memantau ketat putra bungsu nya itu,karna Beni yakin Denis anak yang baik.
__ADS_1
Dan Beni tau Denis sangat takut kepada nya,apalagi Sintia yang mudah sekali menangis jika Denis terlibat masalah.