
"AAAAAAHHHHHHHH...!!!" Shinobu bangun dari tidur panjangnya sampai mengejutkan Hinoka dan Koizumi yang sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya.
Ketika mendengar Shinobu teriak histeris seperti itu sudah pasti akan membuat kedua sepupu mereka kaget dan khawatir akan dirinya yang tiba-tiba menjerit seperti itu.
"Shinobu!? Ada apa...!!!" Koizumi mendobrak pintu itu lalu ia melebarkan matanya ketika melihat Shinobu terus menjerit keras selagi memegang kepalanya itu.
Hinoka juga bahkan memasang ekspresi ketakutan ketika melihat banyak sekali ruh di sekitarnya yang meniru Shinobu yaitu teriak histeris, "Ko-Koneko...?"
Koizumi melangkah maju hanya untuk mendekati Shinobu lalu ia meraih kedua lengannya dan memegangnya erat hanya untuk menghentikan dirinya yang saat ini terlihat sangat ketakutan sampai gemetaran.
"Shinobu...! Shinobu...!" Koizumi terus memanggil Shinobu yang saat ini masih menjerit ketakutan sampai tatapannya terlihat mati karena buku yang ia buka tadi.
Sekali saja ia membaca kata dalam satu halaman maka dia akan langsung mengetahui isi buku yang benar-benar mengejutkan dirinya sampai membuatnya ketakutan dan gemetaran seperti ini.
"Tenang... kami di sini, mimpimu pasti buruk ya." Koizumi memeluk Shinobu erat sampai dirinya kembali tenang sehingga pikirannya bisa ia kendalikan.
Hanya saja ia sudah mengetahui riwayat dari buku itu sangat mengerikan, ia mencoba untuk menceritakannya kepada Koizumi dan Hinoka tetapi Shinobu dapat merasakan jeda seperti ia tidak boleh menceritakannya.
"Koneko, kamu baik-baik saja?" Hinoka mendekati Shinobu hanya untuk memberinya segelas air susu agar ia bisa lebih tenang karena ekspresinya masih terlihat ketakutan.
"Tidak apa-apa... hehehe..." Shinobu kembali terlihat ceria dengan paksaan serta bantuan The Mind agar mereka tidak mencurigai tentang dirinya yang mengalami mimpi aneh dan buruk.
"Sudah lebih tenang sekarang?" Koizumi berhenti memeluk Shinobu lalu ia memberikan dirinya sebuah kecupan di bagian kening dengan usapan di kepalanya agar ia bisa tenang.
"Hm~ mimpinya sangat menyeramkan, untungnya tidak terjadi secara nyata." Shinobu bangkit dari kasur tetapi ia langsung terjatuh karena kedua kakinya yang gemetaran penuh rasa takut.
Rasanya membaca buku itu sedikit sudah dapat ia rasakan isi dari buku polos itu sampai Shinobu merasakan trauma dan ketakutan yang coba ia kuasai untuk tidak dicurigai oleh kedua sepupunya yang sangat peka ketika ia sedang dalam masalah.
Koizumi berhasil menangkap Shinobu lalu ia menepati keningnya dengan kening Shinobu untuk merasakan suhu tubuhnya, "Semuanya baik-baik saja..."
"Mungkin kamu membutuhkan istirahat, aku masih melihat Shinobu berkeliaran pukul dua sampai empat pagi di ruang kerjanya." Kata Hinoka yang kebetulan melihat Shinobu mengeluarkan banyak suara di ruangan bawah tanah.
"Iya... untuk sekarang, kamu beristirahat dulu ya." Koizumi membantu Shinobu untuk berbaring di atas kasur lalu ia tidak lupa memberikan dirinya sebuah selimut agar ia bisa tidur.
"Kalian sekarang memiliki tugas di akademi itu 'kan... setelah itu paman Arata dan paman Shizen akan membawa kalian menuju dimensi lain untuk melaksanakan latihan tersulit."
"Itu benar... bukannya kamu juga sama?" Tanya Koizumi.
"Mm~ untuk sekarang kalian siap-siap saja dulu, Koneko ingin beristirahat sebentar. Ini bukan demam atau apapun itu melainkan mimpi buruk seperti merasakan kembali konsep sihir yang hilang."
"Begitu ya..." Shinobu menggunakan The Mind lalu ia menggerakkan jarinya untuk membiarkan mereka pergi tanpa harus mengkhawatirkan dirinya yang masih mengingat isi buku itu.
"Kalau begitu kami akan siap-siap dulu, jangan memaksakan dirimu untuk hari ini." Koizumi dan Hinoka melangkah keluar untuk membiarkan Shinobu sendirian di dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Shinobu menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembusnya pelan-pelan sampai ia kembali merasakan ketenangan yang sama seperti aliran air terjun, "Bagaimana bisa itu sebuah mimpi jika aku sendiri merasakannya..."
"...halaman pertama menunjukkan jelas tentang peperangan yang terjadi pada masa lalu... ratusan atau mungkin jutaan abad lamanya terjadi sebuah peperangan yang dinamakan sebagai Ragnarok." Shinobu duduk di atas kasur lalu ia melihat keluar jendela.
"The Mind aktif secara pasif ketika aku mencoba untuk membaca tulisan pertama yang langsung terbaca seisi buku itu karena The Mind dan juga kecepatan membacaku..." Shinobu meneteskan air matanya karena ia tahu apa yang terjadi masa kuno dan masa yang akan datang.
"Apakah tidak ada cara untuk mencegahnya...?" Shinobu mengusap air matanya karena ia mengetahui jelas seluruh penderitaan yang dirasakan oleh para pejuang di masa kuno ketika bertarung dalam Ragnarok.
"Banyak sekali nyawa yang berjatuhan... hari penghakiman yang diselenggarakan oleh seorang Dewi." Shinobu mulai menyentuh lantai dengan kedua kakinya lalu ia menerima sebuah pesan dari Cyber.
"Selamat pagi, putri kecil."
"Detak jantung Anda berjalan sangat cepat seperti merasakan sesuatu yang mengerikan, apakah mimpi Anda baik-baik saja?" Cyber menyadari jantung Shinobu yang terus berdetak cepat.
"Sedikit... aku sedang mengolah kembali informasi yang aku dapat di dalam mimpi aneh itu, banyak sekali rak buku seperti perpustakaan dan pohon emas yang berbentuk sama seperti Touriverse." Shinobu melangkah pelan-pelan menuju ruangan bawah tanah.
"Jika bisa... aku ingin mencoba untuk masuk ke dalam perpustakaan itu, rasanya cukup tak asing tetapi aku tidak mengingat apapun di dalamnya..."
"...namun, sekali saja aku membaca buku itu maka ingatanku terasa seperti kembali." Shinobu menyentuh kepalanya sendiri dengan ekspresi kesal karena ia dapat mendengar suara jeritan seluruh pejuang yang gugur dalam Ragnarok.
Ketika Shinobu masuk ke dalam ruang kerjanya, ia dikejutkan dengan Shira yang sedang memperhatikan tabung dengan seekor Eldritch di dalamnya.
Shinobu mencoba sekuat mungkin untuk tidak menumbuhkan rasa kecurigaan kepada Shira karena ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang dirinya rasakan di dalam mimpi sampai Shinobu perlu merahasiakannya.
"Selamat pagi, Shinobu."
"Kalau begitu aku hanya perlu menunggu siap untuk melaksanakan latihan itu di dalam Realm of Light, aku bisa memperkenalkan dirimu kepada seseorang yang mungkin tidak asing bagimu."
"Fuehh?" Shinobu memasang tatapan bingung ketika Shira baru saja membahas seseorang yang mungkin ia kenal.
***
"Heaven's Prime!" Korrina memegang erat katana itu lalu ia melesat maju ke depan dengan kecepatan yang dapat berpindah menuju alur waktu atau dimensi berbeda.
"Dark Null Matter!" Brimgard memegang erat tombak tersebut lalu ia melesat maju ke arah Korrina dengan kecepatan yang sama.
Awalnya mereka kira serangan itu akan langsung saling mengenai, tetapi hasilnya lambat seketika karena sebuah faktor yang tidak mereka ketahui...
Korrina dan Brimgard langsung terpental ke belakang karena kehadiran seorang gadis yang muncul secara tiba-tiba sampai senjata yang mereka pegang berhasil dirampas oleh gadis tersebut tanpa menggunakan kekuatan apapun.
"Jadi kalian memang bertarung ya?" Tanya gadis itu.
Korrina dan Brimgard memasang ekspresi kaget ketika melihat kehadiran gadis itu, melihat dirinya yang sudah datang tidak ada cara lain selain menerima penghakiman yang ia berikan yaitu [Ragnarok].
__ADS_1
"Mencoba untuk saling membunuh sebelum Ragnarok di mulai... sebelum diriku yang menyatakan dan menentukan kapan akan dimulai Ragnarok itu sendiri."
"Akan sangat disayangkan jika kalian berdua sudah mati karena serangan yang kalian coba lakukan sebelumnya, layer ini juga akan musnah menjadi ketiadaan karena pertarungan kalian."
"Zephyra..." Kata Korrina.
"Aku sangat tersanjung ketika mendengar dirimu masih mengenalku, Korrina."
"Aku adalah lahiran pertama dari Zenzaku... seorang Dewi penghakiman yang akan menentukan kapan Ragnarok terjadi." Zephyra tersenyum lalu ia melihat mereka berdua tidak memiliki perubahan apapun.
"Aku masih mengingatnya... Ragnarok yang kedua, kalian masih terlihat sangat kecil dan muda sampai tidak memiliki julukan apapun selain Mortal biasa."
"Ya, karena itu terjadi jutaan abad yang lalu..." Brimgard bangkit dari atas tanah tetapi ia langsung terjatuh sampai posisinya seperti bersujud kepada Zephyra.
"Sujud." Sekali perkataan saja sudah cukup untuk membuat Korrina dan Brimgard sujud di hadapan Dewi penghakiman.
"Brimgard... apakah ini yang kau inginkan? Apakah kau tidak memiliki harga diri untuk dipermalukan oleh seseorang yang berada di atas dirimu...?" Korrina mulai berbicara dengan Brimgard melalui telepati.
"Kau yang seharusnya Dewa memegang layer dari Kountraverse, dipermalukan oleh seorang Dewi yang menghakimi seenaknya... apakah kau tidak merasa malu---" Tubuh Korrina langsung terangkat oleh Zephyra.
"Bukannya itu tidak sopan untuk membicarakan seseorang dari belakang, Korrina?"
"Kenapa kamu masih tidak menerima yang dinamakan Ragnarok...? Seharusnya kau senang bahwa pemenang mungkin bisa mengalami transenden menuju lebih tinggi lagi sampai tidak terikat dengan layer."
"Karena penghakiman itu, kau sudah memusnahkan banyak sekali penghuni, brengsek!"
"Setelah Ragnarok terjadi, kedua layer akan terasa sepi karena banyak sekali penghuni yang sudah gugur hanya karena dipaksa untuk perang...!"
"Tidak memandang umur...! Termasuk bayi juga kau libatkan kepada Ragnarok!!! Seluruh penghuni apapun itu...!" Korrina melepaskan api surga ke arah Zephyra yang hanya bisa berdiri dengan sebuah senyuman.
"Oh, sayang, kau tidak pernah belajar dari perlawanan yang kau berikan!" Korrina terjatuh di atas tanah lalu pipinya dicengkeram oleh Zephyra dengan ekspresi yang terlihat tidak sabar.
"Aku sangat menantikannya... semoga kamu bisa berhenti melawan hakim yang sudah aku berikan... Ragnarok tetap akan dimulai." Zephyra menyentuh kening Korrina sampai ia dapat merasakan kesakitan yang diberikannya.
"Aaaagggghhh...!!! Nrrrggghhhhh...!!!"
Brimgard hanya bisa diam karena ia sendiri sudah tidak bisa memandang sisi buruk dari Ragnarok melainkan ia tetap berpikir positif bahwa ia adalah satu-satunya cara agar Kountraverse bisa berkembang.
"Apakah kau ingin protes juga, Brimgard?" Tanya Zephyra.
"Tidak..."
Zephyra langsung melepas Korrina yang mulai bernafas pelan-pelan, "Hah...! Hah...! Hah...!"
__ADS_1
"Maka sudah ditentukan..."
"...Ragnarok akan dimulai!"