
"Sihir realita-mu itu terlalu lemah... sangat memalukan, apakah kau benar-benar anak dari Alvin Ghifari?" Aiko menghampiri Honoka dengan ekspresi tajam-nya, seluruh teman Honoka yang mencoba untuk menyerang Aiko terlempar ke belakang hingga salah satu dari mereka juga berubah menjadi batu dan es.
Aiko mengangkat kedua lengan-nya yang sudah diselimuti dengan aura merah pekat yang melambangkan sihir realitas milik-nya, Honoka menyadari dengan raut wajah dan kekuatan sihir itu... dia berencana untuk melakukan sesuatu terhadap diri-nya dan Honoka dengan sekuat mungkin mencoba untuk melawan balik.
"Apakah kau mencoba untuk membawa-ku ke tempat-mu itu...? Cobalah, kuharap sihir realitas-mu itu dapat membuat diriku terkejut, kau bahkan menghapus sikap malu-ku yang selalu aku gunakan untuk menyembunyikan identitas-ku." Honoka mulai berbicara dengan biasa, kali ini suara-nya terdengar seperti seorang wanita dewasa.
Aiko tersenyum lebar, "Akhirnya kau menunjukkan jati diri-mu yang sebenarnya... aku tidak sabar untuk menunjukkan diri-mu kepada Papa dan Mama."
Honoka tidak berbicara lagi karena teman-temannya terlihat kaget ketika mendengar suara Honoka, yang tadi-nya lemah lembut dan malu... sekarang terdengar sangar seolah-olah dia adalah Legenda yang lahir sebagai petarung, Aiko melepaskan sihir realitas-nya kepada Honoka dan Honoka langsung menyerap semua sihir realitas tersebut.
Aiko melebarkan mata-nya, terkejut ketika melihat kekuatan dan kemampuan Honoka yang sebenarnya... mereka berdua terbang menuju arah satu sama lain lalu saling beradu tinju hingga teman-teman Honoka mulai turun tangan dan membantu Honoka sampai Aiko terpojok dengan keringat dingin yang mulai mengalir keluar.
Honoka tidak menyerang karena ia membantu teman-temannya dari sihir realitas yang terus Aiko keluarkan, seluruh sihir realitas yang beradu itu menghasilkan partikel mereka yang dapat Aiko dan Honoka ubah menjadi apapun, Aiko tidak sempat untuk mengubah-nya karena dirinya sudah diserang oleh Hana bersama yang lain-nya.
Dengan kelincahan terbang-nya, Hana berhasil menghindari beberapa serangan Aiko bahkan mampu menyerang balik dengan kekuatan dahsyat yang mendorong-nya mundur. Satu demi satu mereka mampu menyerang balik Aiko sampai ia kewalahan dan tidak bisa menyerang mereka juga, ia meminta bantuan kepada Kabuto tetapi Kabuto saat ini sedang sibuk melawan Asriel.
"Apakah kau dapat menggunakan sihir realitas-mu lagi, Aiko? Biarkan aku menunjukkan kekuatan dan kemampuan asli-ku!" Honoka tersenyum sinis, Aiko merasa kesal hingga ia menyerang secara membabi buta tetapi Honoka berhasil mengubah semua serangan sihir realitas-nya menjadi gelembung biasa.
"Teruslah... Serang-lah aku sesuka kalian, kesakitan ini hanya akan membuatku jauh lebih kuat dari sebelumnya! Kau akan membayar-nya, Honoka... sihir realitas-ku jauh lebih hebat!!!"
__ADS_1
"Perkataan-mu itu membuatku muak, aku tidak suka mendengar omong kosong apapun... sihir realitas tingkat apapun itu, sihir realitas-ku dapat menyerang balik apapun dan membalikkan keadaan, tingkat yang hanya dicapai oleh orang-orang tertentu... [Reality Counter]!" Honoka mengubah semua planet yang Aiko ciptakan menggunakan sihir realita-nya menjadi awan dan ia segera mengubah awan itu menjadi hujan petir yang meluncur menuju arah Aiko.
Aiko mengepalkan kedua tinju-nya, ia berencana untuk menggunakan sihir realita lain-nya tetapi Honoka maju dengan lengan kanan-nya yang sudah diselimuti dengan warna merah pekat, ia mengayunkan lengan kanan-nya itu sampai tubuh Aiko mulai terbelah menjadi dua hingga membuat teman-temannya terkejut.
Aiko tersenyum jahat lalu ia melakukan kemampuan fragmentasi yang dapat menciptakan diri-nya sendiri menjadi jumlah lebih dari seratus, Honoka mencoba untuk menggunakan sihir realita-nya tetapi semua Aiko itu segera menggunakan sihir realita sampai Honoka terpojok dan membuat diri-nya tidak mampu menggunakan sihir realita itu untuk beberapa saat.
Trik yang dilakukan oleh Aiko kembali gagal ketika diri-nya lengah... Haruka menggunakan sihir penghentian waktu-nya lalu membebaskan Honoka untuk menggunakan sihir [Reality-Counter]-nya lagi sampai seluruh Aiko itu bergabung menjadi satu dan dikejutkan dengan beberapa serangan dari Hana dan juga Marie.
Aiko melebarkan kedua matanya... trik-nya kali ini terus gagal, kombinasi yang dilakukan oleh Haruka dan Honoka mampu membuat diri-nya menjadi sesosok Legenda yang sangat tidak berguna. Honoka langsung menyelimuti tubuh Aiko menggunakan sihir realita-nya yang ia campur dengan sihir Crimson.
"Aaaaaaahhhhhhh....!!!!" Aiko menjerit keras ketika isi tubuh-nya terasa seperti di sobek-sobek oleh aura yang menyelimuti diri-nya, Honoka menggerakkan kedua telapak tangan-nya yang terdapat dua bola merah.
Haruka ketika melihat adik-nya sendiri yang tersiksa mampu menciptakan perasaan belas kasihan... Aiko adalah adik-nya yang dulu ketika ia bersama mereka di dimensi palsu, Aiko akan terbunuh dalam waktu yang dekat karena sihir realita Honoka yang benar-benar kuat dan juga berguna dalam keadaan apapun.
"Sudah cukup...! Hentikan sekarang juga, Okaho!" Haruka menghentikan sihir Honoka dengan menggunakan sihir penghentian waktu-ku hingga mereka semua mulai kebingungan tentang nama [Okaho]... Haruka tiba-tiba memanggil Honoka dengan sebutan [Okaho].
"Kenapa kau mengganggu waktu bersenang-senang milikku, Haruka?" Honoka menatap Haruka dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Kita sesama penduduk Touri tidak seharusnya bertarung dan saling membunuh satu sama lain, pasti ada sebuah penjelasan tentang kedua dimensi palsu itu... tentang keseimbangan dari kedamaian dan juga kehancuran." Haruka menggunakan lompatan waktu untuk menyelamatkan Aiko yang sudah pingsan, ia menyentuh kepala-nya untuk melihat ingatan-nya yang ada di dimensi palsu tersebut.
__ADS_1
Sihir waktu Haruka langsung Honoka pecahkan menggunakan sihir realita-nya, ia ingin sekali menyerang Aiko lagi tetapi Haruka mulai menatap diri-nya dengan ekspresi yang terlihat serius, "Ikatan... Kau dan Aiko memiliki ikatan batin yang sama, jika salah satu dari kalian terbunuh maka satu-nya lagi ikut terbunuh."
"Cih... menyebalkan...!" Honoka memejamkan kedua mata-nya lalu ia pingsan karena selama ini Okaho adalah sesosok orang berbeda yang mengendalikan Honoka sendiri... Hana segera menangkap-nya karena Haruka sudah berkomunikasi dengan mereka semua bahwa Okaho adalah sisi Eternal dari Honoka.
Seluruh kekacauan telah selesai, sekarang hanya Kabuto yang harus dilawan... dia hampir saja membunuh Asriel yang kelelahan, untung-nya Hana, Mitsuki, dan Marie datang tepat waktu untuk melawan Kabuto agar mereka memberi Asriel beberapa waktu untuk memulihkan diri. Honoka yang digendong oleh Hana mulai ia tempati di tempat yang cukup aman.
"... ..." Haruka mulai menatap Aiko yang terlihat malang sekali, tubuh-nya dipenuhi dengan luka dan darah hitam... ada dua pilihan yang mengganggu pikiran-nya, menciptakan kubus waktu untuk melihat kembali masa lalu atau membantu Asriel untuk melawan Kabuto.
Tanpa menghabiskan waktu lain-nya Haruka menciptakan kubus waktu lalu menyerap semua ingatan yang ada di dalam pikiran Aiko agar dirinya bisa menjelajahi masa lalu tanpa dihalang oleh batasan apapun.
Ingatan Aiko tidak hilang karena kubus itu hanya memanipulasi ingatan-nya lalu memindahkannya ke dalam kubus tersebut, Haruka menciptakan sebuah portal biru tua lalu ia melempar Aiko masuk ke dalam portal itu.
Portal itu membawa Aiko kembali ke rumah-nya, Haruka menatap kubus itu... dengan tatapan yang terlihat takut dan juga sendiri, dia masih menahan diri untuk tidak mencoba menjelajahi masa lalu yang sangat menyakitkan dan membingungkan.
"Hahh... Mama... Tunggu aku." Haruka menghancurkan kubus itu hingga seluruh tubuh-nya diselimuti dengan aura hijau yang mulai menciptakan lambang waktu, seluruh jarum jam waktu itu bergerak mundur hingga Haruka langsung menghilang dalam sekejap.
Zwooooooossshhhhh...!!!
Haruka muncul tepat di atas langit hitam lalu ia mendarat di atas lantai emas... Aura dan juga keberadaan yang terasa sangat mengganggu bagi diri-nya, atmosfir yang saat ini ditempati terasa tidak cukup berteman untuk dirinya.
__ADS_1
"Ah sial... Kita mulai lagi..."