
Gedung Comi's Corporation telah sepenuhnya hancur, semua sisa-sisanya terjatuh ke dalam lautan bersamaan dengan beberapa karyawan yang sudah gugur.
Semua pasukan mulai merayakannya karena mereka telah menghantam pusat dan puncak dari teknologi serta sistem yang mengacaukan era kerajaan.
Mereka mencoba untuk menghancurkan kabin yang berada dekat dengan gedung itu, serangan yang mereka lakukan tidak memberikan efek apapun kepada kabin itu karena mengandung sihir perlindungan yang begitu kuat.
Satori bisa melihat pelindung itu tidak dapat ia lewati dengan kemampuannya, untuk sekarang ia tidak akan menghiraukan Shinobu yang sangat lemah.
Bisa di bilang dirinya masih memiliki rasa untuk mengampuni seorang Legenda lemah dan tidak berdaya sepertinya, setidaknya ia sudah menghancurkan semua hal penting, salah satunya Kou yang pasti terbunuh.
"Hentikan serangan!" Seru Satori sehingga semua pasukan mulai menghentikan serangan mereka karena pelindung itu terlalu kuat untuk di lawan.
"Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan... kehancuran inti dari teknologi, dan kita sudah tidak memiliki pilihan lain selain mundur."
Satori memperhatikan Tech yang menyiapkan beberapa senjata sebagai perlindungan Shinobu yang bersembunyi di belakangnya selagi menangis.
Satori mendarat tepat di hadapan sihir pelindung itu, "Ini adalah arena yang terlarang... sekali Anda masuk maka apa yang Anda dapatkan hanya kehancuran."
Tech mulai memperingati Satori dengan kedua matanya yang memancarkan sinar merah karena sudah siap untuk memasuki mode perang demi memenuhi tugasnya untuk melindungi Shinobu.
"Tugasku sendiri sudah selesai... aku hanya ingin berbicara dengan gadis yang kau lindungi itu." Satori menyilangkan kedua lengannya.
Ia bisa melihat jelas, seorang gadis yang terlihat begitu malang karena tidak memiliki kaki, lengan, dan mata sedang menangis keras kayaknya seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal oleh ibunya sendiri.
Satori hanya bisa diam, ia juga bisa merasakan potensi besar di dalam tubuh Shinobu yang masih terkunci, dia masih tetap melanjutkan hidup walaupun dirinya lahir tidak normal sampai membutuhkan bantuan alat dan teknologi untuk melakukan sesuatu.
"Kau gadis kecil yang kuat, nak..."
"...dunia sudah memperlakukan dirimu buruk sejak kelahiranmu, tetapi apa tujuanmu untuk tetap melanjutkan itu?" Tanya Satori.
Shinobu mulai menatap Satori, "Mama... Mamaku kemana... Mamaaaaa...!"
"Mamamu sudah mati."
Shinobu melebarkan matanya sehingga ia menjerit keras sampai mengeluarkan banyak air mata sampai mata kirinya mengeluarkan oli hitam.
"Kau berusaha... kau bertambah kuat... kau lemah... kau di tindas..."
"...kau tahu harus apa yang kau lakukan sekarang, Shiratori Shinobu?" Satori melayang ke atas langit lalu ia menjentikkan jarinya sehingga semua pasukannya mengalami perpindahan cepat bersama dirinya.
Setelah semua pasukan Satori pergi, Tech segera terbang ke atas langit lalu melesat masuk ke dalam lautan itu untuk mencari Kou karena ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang sangat lemah.
Shinobu mulai bergerak menuju sisi dataran tinggi untuk melihat lautan yang dipenuhi dengan asap dan reruntuhan dari gedung itu, ia terus memanggil ibunya sampai berharap bahwa dirinya masih hidup.
Tech terus mengangkat semua reruntuhan itu, ia menggunakan kedua matanya yang mengaktifkan mode X-ray untuk mencari lokasi Kou yang saat ini berada di dasar lautan sampai di timpa oleh semua reruntuhan itu.
"Nyonya, tahan lebih lama pernafasanmu..." Tech menghancurkan semua reruntuhan itu lalu memindahkannya ke arah yang lain sehingga ia bisa melihat Kou berbaring di dasar laut dengan kondisi sekarat.
Tech meraih lengan kanannya lalu menariknya keluar dari dalam lautan itu dengan kecepatan penuh sebelum Kou kehabisan nafas, Tech berhasil menyelamatkan Kou dalam waktu yang tepat sehingga ia membawanya ke tempat yang lebih aman.
***
"Uhugh...!!! Uhugh! Uhugh!" Kou mulai batuk-batuk sampai mengeluarkan banyak air melalui mulutnya.
__ADS_1
Ia tidak menyangka masih memiliki keberuntungan untuk merasakan kembali kehidupan, pandangannya terlihat buram tetapi ia bisa melihat jelas Shinobu di sebelahnya sedang menangis dan menunggu dirinya.
"Koneko..."
"Mama...! Mama...!" Shinobu mulai memeluk Kou erat selagi melepaskan tangisannya.
Kou tersenyum lebar sehingga ia juga ikut menangis karena masih di beri takdir untuk tetap di sisi putrinya, walaupun ia sudah kehilangan segalanya, setidaknya ia masih memiliki harapannya yaitu Shinobu.
"Koneko...!" Kou memeluk Shinobu erat sehingga mereka menangis bersama, mereka telah kehilangan banyak hal, semua kekayaan mereka juga sudah hancur karena gedung Co. Corp yang runtuh.
Sekarang mereka hanya perlu mengandalkan satu sama lain, Kou terus memeluk Shinobu erat, tidak mau melepasnya karena ia tadi sempat merasa ketakutan karena harus meninggalkan dirinya.
"Terima kasih..."
"...terima kasih, Mama." Ungkap Kou karena ia sendiri yakin dirinya selamat berkat bantuan Korrina di atas surga.
Tech telah mengembalikan semua karyawan yang selamat itu ke tempat tinggal mereka, untuk sekarang di sarankan agar tidak keluar dulu karena pasukan Legetsu sepertinya mulai turun tangan.
"Hehehe, Koneko... jangan menangis terus seperti itu dong." Kou mulai mengelus kepala Shinobu yang terus menangis.
"Kamu itu kuat bukan...? Kamu bahkan bilang ke Mama bahwa kamu tidak ingin menjadi gadis yang cengeng." Kou menunjukkan senyuman penuh rasa bersyukur.
"Ahhh... Mm... Koneko coba..." Shinobu mulai menghapus air matanya sendiri, mencoba untuk menahan semua rasa takut dan kesedihannya.
"Putri Mama memang hebat..." Kou memberi Shinobu sebuah kecupan di keningnya, ia mencoba untuk tidak menunjukkan ekspresi sedih.
Kou mengalami beberapa luka yang cukup fatal di bagian tubuhnya tetapi ia saat ini sedang mengalami proses pemulihan, hanya saja ia sudah tidak bisa menggerakkan kedua kakinya yang terasa mati.
Kemungkinan besar Kou tidak akan bisa berjalan lagi karena reruntuhan itu terus menimpa kakinya beberapa kali sampai tulangnya hancur, mau tidak mau ia harus membuat kaki teknologi yang sama dengan Shinobu.
"Koneko... putri kecilku..." Kou memejamkan kedua matanya, ia juga ikut tertidur ketika melihat ekspresi Shinobu yang dipenuhi kedamaian.
***
"... ..." Haruka mulai menepuk dadanya sendiri karena ia bisa merasakan firasat yang tidak begitu baik.
Entah kenapa dirinya mulai mengingat kedua saudaranya, rasanya ia seperti berpisah cukup jauh dari mereka.
Mungkin karena rasa khawatir dan rindu karena sudah lama sekali tidak bersama selama satu hari penuh.
"Ibu, ada apa?" Koizumi bisa melihat kegelisahan di wajah Haruka.
"Tidak apa-apa, hanya sedang melamun..." Haruka terkekeh.
"Mmmm..." Koizumi mulai lanjut menghabiskan semua kentang goreng yang ia pesan di restoran Shimatsu.
Haruka mulai memejamkan kedua matanya, mencoba untuk menenangkan dirinya lalu ia kembali membuka naganya sehingga langit terlihat begitu hitam sampai ia bisa mendengar suara petir yang sangat keras.
"Sepertinya sudah mau hujan... untung saja kita sudah sampai di rumah." Haruka mendarat di atas pulau itu bersama Koizumi.
"Kenapa cuacanya bertema semakin ekstrem lagi...? Apakah Tante Hana yang menyebabkan semua ini?" Tanya Koizumi.
"Tidak mungkin... Keberadaan Hana saat ini terasa begitu tenang, mungkin ia sedang mengajar. Mungkin saja badai besar akan datang, lebih baik kita menikmati susu hangat."
__ADS_1
"Aku ingin latihan." Kata Koizumi, Haruka mulai mengelus kepalanya karena ia sudah pasti akan melakukan tugasnya sebagai seorang Legenda yang sedang berkembang.
"Wah-wah, kamu memang mirip seperti Ayah ya... tiada hari tanpa berlatih."
"Aku berlatih untuk mempersiapkan diri di umur lima tahunku, aku ingin mulai memberontak dan bertarung melawan orang yang membuatku geram." Jawab Koizumi.
Haruka tersenyum lalu ia mulai membuka pintu di hadapannya sehingga ia mendapatkan sebuah sambutan petir hitam yang menyambarnya sampai terpental ke belakang.
"Ibu...!!!" Koizumi melebarkan matanya ketika melihat Haruka terpental cukup jauh, ia menoleh ke depan dan melihat seekor gorila yaitu Regulus mulai menepuk dadanya.
"Ooooo!!! Ooooo!!!" Regulus menciptakan petir hitam di atas langit yang mulai terkumpul menjadi satu.
Semua petir itu mencoba untuk menyambar Koizumi tetapi ia berhasil melompati waktu sehingga sempat menghindari serangan itu.
Regulus memasang tatapan yang terlihat tertarik karena gadis berumur 3 tahun seperti dirinya memiliki keberanian tinggi untuk melawan dan menghindari serangannya itu.
Haruka muncul di hadapan Regulus lalu ia menghantam wajahnya sampai tinju kanan Haruka langsung hancur dan patah, "Aggghhhh...!!!"
"Hoooo... ternyata kau adalah Haruka Comi... Legenda yang di tandai oleh Zangetsu sebagai inti dari segalanya. Semua ini tidak akan bisa terjadi tanpamu...!!!" Regulus memegang erat wajah Haruka lalu membanting tubuhnya di atas tanah.
Haruka mencoba untuk menggunakan sihir waktunya tetapi gagal seketika karena Regulus terlihat baik-baik bahkan kecepatannya mulai meningkat sehingga ia menghantam tubuh Haruka beberapa kali.
"Apakah dia benar-benar kebal dengan konsep waktu seperti manipulasi...!?" Ungkap Haruka dengan tatapan yang terlihat kaget.
Regulus mulai menyambar tubuh Haruka dengan petir yang kuat sehingga ia menjerit kesakitan, "Aku tidak membutuhkan dirimu...!!!"
Regulus menendang tubuh Haruka ke atas sampai semua petir hitam itu mulai membawa dirinya ke wilayah yang sangat jauh agar ia bisa menikmati waktunya menyiksa Koizumi.
Koizumi mulai berkeringat dingin, perasaannya ketakutan tetapi wajahnya terlihat serius karena ia harus bisa bertarung karena sudah mau berumur empat tahun.
Kedua kakinya bergetar tetapi ia berhasil memberanikan diri, Regulus mulai mendekati Koizumi dengan berjalan seperti gorila yang siap bertarung dengan predator yang mencoba untuk memangsanya.
"Aku harus melakukan sesuatu... keberadaan Ayah juga terasa jauh..." Ungkap Koizumi yang mulai memberanikan diri untuk melawan Regulus.
Raja yang sempat ia ketahui bahkan sampai membuat dirinya geram karena raja dari Legetsu telah melakukan banyak masalah sampai memusnahkan banyak nyawa yang tidak bersalah.
Raja busuk sepertinya pantas untuk mati secepat mungkin sehingga Koizumi mulai merancang rencananya, ia bisa melihat Haruka gagal dalam melakukan sihir waktu.
"Time-Stop...! Hentikan waktu---" Koizumi melebarkan matanya ketika ia melihat Regulus berubah menjadi petir lalu melesat ke arahnya untuk mencoba menabrak tubuhnya itu.
Koizumi tidak bisa menghindar atau menahan karena pergerakannya yang begitu cepat, untungnya Haruka datang dan menyelamatkan Koizumi dengan lompatan waktu sehingga Regulus merapatkan giginya karena ia meleset.
"Koizumi, cepat lari sekarang juga... aku tidak ingin kamu---" Haruka menerima tabrakan petir itu sehingga ia menjerit kesakitan sampai ia terhempas ke atas langit dan menerima sambaran petir dari awan hitam itu.
"Ibu...!!!" Koizumi langsung merapatkan giginya sehingga kedua tinjunya ia kepalkan sampai kedua matanya memunculkan lambang Greed.
Kekuatan mengalir deras di dalam tubuhnya sehingga ia mulai melakukan lompatan waktu lalu melewati tubuh Regulus sehingga ia menerima satu pukulan di dadanya.
"Hmm...? Memanipulasi waktu dengan cara apapun tidak akan mengubah takdir." Regulus menoleh ke belakang dan ia menerima satu pukulan keras dari Haruka sampai terdorong ke belakang.
"Koizumi..." Haruka melirik ke belakang, melihat Koizumi berlutut di atas tanah selagi menutup kedua matanya yang terasa gatal dan menyakitkan baginya.
"Apakah dia sudah siap...?" Ungkap Haruka.
__ADS_1
"Ternyata gadis sekecil dirinya sudah berani membantah hukum raja ya...? Sungguh gadis yang memiliki potensi tersembunyi karena Seven Deadly Sins." Regulus mulai menatap Koizumi.
"...lebih baik aku jadikan budak saja!"