
"Ba-Bagaimana kau bisa hidup...? Tidak... tidak mungkin, apa yang kau inginkan dari semesta palsu ini? Kau tidak memiliki hak atau kewajiban untuk melakukannya." Ucap Arisu dengan tatapan kesal.
"Melihat reaksi seperti itu, kau mungkin semut yang bisa aku hormati berkat esensi itu. Bamushi sangat menyukainya dan mungkin ini adalah tujuan dari tahapan awal..."
"Apa maksudmu?! Cepat pergi dari semesta palsu ini sekarang juga...! Aku tidak ingin mengurus dewa brengsek seperti dirimu!" Seru Arisu sambil menunjuk Zoiru yang terlihat kesal.
"Kenapa kau mengatur seperti itu...? Kau tidak memiliki rasa hormat kepada dewa agung Zoiru? Kau membuatku kesal..." Zoiru mengerutkan dahinya karena ia terus diperlakukan biasa oleh mereka.
Harga dirinya sebagai dewa agung terlalu tebal sehingga ia tidak menerima siapa pun yang memanggilnya dengan sebutan apapun kecuali dewa Zoiru.
Mereka hanya bisa memanggil dirinya dengan sebutan lain jika mampu untuk menandingi dirinya dan membuatnya merasa puas dalam sebuah pertarungan.
"Aku datang hanya untuk mencari tahu kuil Saint of Heroes yang katanya menyegel Bamushigaru." Setiap perkataan yang di keluarkan Zoiru membuat Arisu kaget karena ia tidak ingin mengurus semua masalah mengerikan itu.
"Bamushigaru...? Apakah yang kau maksud adalah naga yang memiliki besar melebihi alam semesta...? Kalau tidak salah dia adalah makhluk sihir yang berasal dari Oath." Arisu mengepalkan kedua tinjunya.
"Kau mengetahui banyak sepertinya, aku yakin kau pasti mengetahui siapa yang membunuh Zoiru palsu... aku ingin berbicara dengannya..."
"...menggunakan tinju ini." Zoiru melepaskan satu pukulan yang meluncurkan sebuah dorongan besar, Arisu berhasil menangkisnya sehingga kedua lengannya bergetar seketika.
"Yang asli memang selalu menunjukkan suatu perbedaan, aku tidak menyangka dia akan datang ke sini hanya untuk memeriksa kuil yang sudah hancur." Ungkap Arisu, mencoba untuk tetap tenang dan fokus.
Arisu masih mengingat Zoiru yang ia lawan sejak itu sangat lah kuat tetapi ia masih mendapatkan sebuah kesempatan juga celah untuk menang, kedua sikap mereka juga terlihat sangat berbeda.
Yang asli terlalu tebal terhadap harga dirinya dan ia terlihat tidak begitu ganas melainkan menantikan sesuatu yang dapat menarik perhatiannya, hanya saja ia mudah mengamuk dan sekali ia kesal.
Maka Arisu bisa saja menerima kerusakan besar, kedua Zoiru hanya memiliki satu kesamaan yaitu darah dingin mereka dalam bertarung serta menyiksa musuh sampai terluka sangat parah.
Arisu terus berpikir dan mengingat, sebuah informasi lainnya adalah Zoiru memiliki kemampuan Oath yang memiliki banyak arti juga makna di dalamnya, dia juga abadi dalam segi reinkarnasi.
Arisu melihat Kakak dan adiknya yang terluka cukup parah karena bertarung dengan Zoiru, ia juga sempat tahu apa yang Zoiru inginkan dan itu adalah Bamushigaru.
Perbedaan antara asli dan palsu membuat dirinya muak sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain mencoba sebelum melarikan diri bersama kedua saudaranya itu.
Arisu sempat melakukan sedikit penelitian dengan aura hijau yang di jadikan sebagai sihir area oleh Zoiru, sekali saja menyentuhnya maka apa yang kau rasakan hanya sebuah gigitan seperti kau di makan hidup-hidup.
"Siapa namamu? Esensi itu... sungguh mengejutkan diriku." Zoiru mendarat di atas daratan dengan tatapan serius.
"Shiratori Arisu... aku pernah bertarung melawan dirimu yang palsu tetapi sekarang mungkin akan jauh lebih sulit." Arisu maju ke depan, ia baru saja selesai menyembuhkan kedua saudaranya.
"Arisu ya... ternyata keturunan Shiratori juga, berbeda dengan yang asli keturunan Shiratori di semesta palsu banyak juga." Zoiru mulai melepaskan aura hijaunya yang menyengat seluruh tubuh Arisu.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan dirimu masuk ke dalam wilayah terlarang untuk penduduk asli, lebih baik kau pergi dan cari masalah di tempat lain." Ucap Arisu yang mulai melepaskan aura merah dan emas yang bercampur.
"Awalnya aku hanya ingin melihat kuil itu dan sejarah tentang Bamushigaru juga Zoiru di semesta palsu tetapi..."
"...bertemu dengan dirimu membuatku lapar, kau akan menjadi esensi pertama yang cocok untuk Bamushi nikmati." Tubuh Zoiru mulai bertambah besar sehingga ototnya menonjol kan banyak urat.
"Ck... tidak bisa melarikan diri tetapi sebagai Shiratori, aku akan terus berjuang...!!! Berusaha tanpa harus merasakan kegagalan!!!" Arisu melepaskan suara yang menggema sehingga tubuhnya memancarkan cahaya putih.
Rambutnya mulai memanjang dan berubah menjadi warna perak, aura di sekitarnya mulai bertambah besar dan terbakar seperti api yang membara.
Warna merah cerah di campur dengan keemasan juga keputihan dari warna perah sehingga cincin yang memancarkan sinar putih muncul tepat di punggung Arisu.
"Hohhhhh... tidak buruk juga dari seekor semut sepertimu." Zoiru merasa tertarik melihat kekuatan Arisu ternyata setara dengan kekuatan para dewa tingkatan atas yaitu [Omni].
"Zoiru... aku tidak akan memaafkan siapa pun yang coba untuk masuk tanpa izin apalagi mencoba untuk membuat masalah." Arisu menatap Zoiru dengan tatapan mengancam.
"Mungkin kau benar-benar bisa membuat diriku tertarik, kau tahu Bamushi sangat menantikan hidangan esensi sepertimu." Zoiru menjilat bibirnya sendiri lalu ia mengepalkan kedua tinjunya.
"Sudah lama sekali seorang semut mampu membuatku merasa tertarik." Zoiru mulai menggerakkan kepalanya untuk melakukan beberapa pemanasan sampai tulang di lehernya mengeluarkan suara.
Zoiru mengangkat jarinya lalu ia menunjuk ke depan untuk melepaskan satu laser hijau tipis yang dapat menembus apapun, Arisu hanya perlu menghapusnya menggunakan api cahaya pedang yang ia ciptakan.
"Bangsa Legenda... sungguh bangsa yang cukup menarik dan begitu berbeda, berdasarkan dari namanya saja kalian selalu menciptakan sejarah, maupun itu buruk atau baik..."
Bammm!!!
Zoiru mulai menendang perut Arisu beberapa kali dan Arisu menerima serangan itu dengan tubuh yang sudah ia perkuat agar bisa bertahan cukup lama.
Arisu meraih lengan kanan Zoiru lalu ia menusuknya menggunakan pedang itu sampai membakar setengah tubuhnya, Zoiru berhasil menahan rasa sakit itu dan rasa kesalnya membuat dirinya langsung mencekik leher Arisu.
Zoiru bergerak maju ke depan lalu ia melemparnya ke depan sehingga ia menciptakan dua sihir tipis yang memiliki gigi di sekitarnya, ia melepaskan kedua sihir tersebut ke arah Arisu.
Arisu berhasil menghindarinya tetapi ia bisa melihat Zoiru di hadapannya melepaskan sihir bola kecil melalui kedua kakinya yang mulai mengikuti dirinya.
Arisu menghapus semua sihir kecil itu dan ia melihat kedua sihir tipis bergigi di belakangnya hampir saja menebas punggungnya.
Untungnya ia berhasil menghindar, ia melanjutkan penghindaran itu dengan melepaskan serangan tebas api, Zoiru menunjuknya lalu menghisapnya menggunakan tapak tangannya itu.
"Teruslah mengonsumsi yang kau mau, Bamushi. Kita satu... dan aku akan menantikan Ayahmu bangkit." Ucap Zoiru yang mulai memunculkan sirkuit sihir besar di bawahnya.
Sirkuit sihir itu memancarkan tubuh Zoiru dengan warna hijau sehingga ia melesat dengan kecepatan penuh menuju arah Arisu, mencoba untuk menabrak tubuhnya sampai hancur.
__ADS_1
Arisu menoleh ke belakang dan ia masih bisa melihat sihir tipis yang bergigi itu, Arisu melepaskan lahar api emas ke belakangnya tetapi sihir itu berhasil menyerapnya.
Arisu mengerjakan kedua matanya lalu ia melepaskan sihir Sacred untuk menahan serangan Zoiru lalu menghempasnya mundur menggunakan dorongan yang ia lepas melalui tubuhnya.
"Ini...!!! Ini yang aku inginkan dari seorang semut kampung sepertimu!!!" Zoiru melepaskan beberapa sirkuit sihir lainnya yang melepaskan tiga bola hijau ke arah Arisu.
Arisu tiba-tiba merasakan sebuah tekanan di dalam tubuhnya, ia langsung melepaskan tekanan yang lebih besar, mampu untuk menghapus semua sihir juga sihir yang menekan dirinya.
Arisu melesat maju ke arah Zoiru lalu ia melancarkan beberapa serangan tinju dan pedang secara bersamaan, Zoiru berhasil menghindari semua serangan itu lalu ia menendang perut Arisu.
Arisu terhempas ke belakang dan ia melepaskan sihir kobaran api besar melalui pedangnya, Zoiru menendang itu tetapi tengkuknya terkena tendangan penuh tenaga oleh Arisu.
Menyebabkan dirinya terhempas ke belakang dan melihat Arisu melepaskan gelombang cahaya dengan api terbakar yang menyelimutinya, Zoiru melebarkan kedua lengannya.
Sengaja menerima serangan itu sampai tubuhnya memancarkan cahaya yang sama dengan Arisu bahkan tubuh Zoiru sempat gosong dan kembali mengikat tubuh yang baru.
"Hmmm... menarik, aku harus memberimu beberapa kehormatanku, semut api." Zoiru tersenyum jahat dan ia melihat Arisu melancarkan serangan lainnya ke arah Zoiru tetapi ia berhasil menahannya.
Arisu melepaskan rantai emas yang mampu mengingat tubuh Zoiru, setelah itu ia mulai melempar beberapa belati emas berapi ke arah Zoiru.
Zoiru meningkatkan kekuatannya dan berhasil menghapus semua serangan itu, ia mencoba melepaskan gumpalan hijau besar ke arahnya tetapi Arisu berhasil membakarnya sehingga ia melihat Zoiru melancarkan satu pukulan.
Arisu menahannya menggunakan kedua lengannya, pukulan Zoiru mampu membuat kedua tulang lengannya retak sehingga Arisu meringis kesakitan.
Zoiru menendang perut Arisu lalu ia mencekik lehernya dengan penuh tenaga, Zoiru menendang perutnya beberapa kali lalu ia melemparnya ke depan.
Arisu berputar dan melepaskan semua elemen sihir yang menyerang Zoiru secara bersamaan, Zoiru mengangkat kedua lengannya yang menciptakan sihir Oath.
"Oath's Eater!" Sirkuit sihir besar muncul di atasnya, menciptakan taring besar yang berputar dengan aura hijau di sekitarnya.
Semua elemen itu terisap masuk ke dalam sihir taring itu, ukuran taring itu mulai bertambah besar sehingga mengejutkan Arisu, ia berpikir cepat dengan menciptakan rantai besar.
Rantai besar itu ia lepaskan ke arah gigi tersebut, Zoiru tersenyum jahat lalu ia menunjuk Arisu dan menariknya menggunakan tekanan sihir yang ia lepaskan tadi.
Awalnya rantai emasnya sudah menangkap dan menghentikan sihir taring itu tetapi taring tersebut berputar sangat cepat sehingga menarik Arisu ke depan dan memutuskan lengan kanannya.
"Ahh...!?" Methode terkejut ketika melihatnya.
"Nrggghhh... t-tekanan apa tadi..." Ungkap Arisu sambil menutup luka lengan kanannya yang mengeluarkan banyak darah.
Arisu mengalami sedikit kendala ketika mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri karena ia bisa merasakan bekas lukanya seperti di tusuk dengan gigi taring yang tajam.
__ADS_1
"Itu saja, semut api...?"
"Aku masih belum serius loh..."