
"Ei." Shinobu melompat keluar dari dunia gaib itu sampai ia tiba kembali di depan pohon keramat yang terletak pada gunung Lawu.
"Aku harap kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan kecerdasan yang kamu tunjukkan kepada kami semua, ratu Astral." Sakti menundukkan kepalanya kepada Shinobu sampai ia memasang tatapan malu.
"Koneko tidak nyaman di panggil Ratu! Sudah, sudah, aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi karena aku ingin secepatnya memeriksa Ako dan Yuffie." Shinobu menyalakan pembakaran melalui kedua tapaknya.
"Berhati-hati lah, putri. Semoga tujuan Anda bisa tercapai secepat mungkin..." Sakti duduk di atas tanah lalu ia kembali dirasuki oleh Astral sampai semua ruh langsung bermunculan lalu melambaikan tangannya kepada Shinobu.
"... ..." Shinobu tersenyum pahit lalu ia terbang meninggalkan gunung itu dengan perasaan tidak enak, ia sekarang dapat mengetahui siapa yang sudah mati dan salah satunya adalah ketiga tentara hebat Indonesia.
"Mereka sudah bertemu dengan ajal ya... secepat itu, ternyata aku memang tidak bisa mengubahnya... misi itu harus dilaksanakan demi bisa menggali informasi dan menyelamatkan warga yang dipaksa."
"Aku sudah meminta mereka semua untuk tidak memaksa diri, tetapi... tekad dan harga diri mereka sebagai pejuang tidak akan pernah mati..."
"...sudah waktunya untuk beristirahat panjang, kalian dapat tidur nyenyak untuk hari ini dan menyerahkan semua ini kepada seseorang yang masih berjuang."
"Tekad yang disalurkan..." Shinobu melepaskan pembakaran besar melalui kedua tapaknya sampai pandangannya langsung tertuju kepada pesawat luar angkasa yang berpencar.
***
Ako melebarkan matanya ketika melihat sebuah pesawat mendarat tepat di hadapannya, ketika pintu terbuka banyak sekali warga yang melarikan diri dan merasa bersyukur untuk selamat dari pemaksaan pihak aliansi.
"Mereka sepertinya berhasil untuk menyelamatkan para warga, kita hanya perlu menanyakan berbagai macam hal kepada Konomi dan Hino---" Yuffie memasang tatapan kaget ketika melihat Konomi menggusur tubuh Hinoka.
"Tolong...! Kondisi Hinoka bertambah semakin parah...!" Seru Konomi yang mulai mengangkat tubuhnya sampai Ako dan Yuffie memasang tatapan kaget ketika melihat perut Hinoka membusuk seketika.
Mereka semua bergegas masuk menuju tenda medis yang sudah disediakan oleh para tentara, Hinoka berbaring di atas kasur dengan kondisi yang melemah sampai semua pemulihan sudah dicoba tetapi tidak ada satu pun yang berhasil.
"Kami sudah mencoba sebisa mungkin, tetapi penyakit ini tidak pernah ada... melihat penyakit langka seperti ini, penyebabnya tidak jauh lagi dari santet Dukun." Ucap seorang doktor.
"Kami permisi dulu." Doktor bersama para suster meninggalkan ruangan itu sampai Hinoka mencoba untuk memulihkan tubuhnya dengan Lenergy, tetapi efek dari Vile Energy hanya akan bertambah parah.
"Serba salah... Hinoka sudah menerima banyak jalan yang akan selalu membawa dirinya menuju kesalahan." Kata Konomi.
"Vile Energy dan santet Dukun berjenis penyakit langka... sangat mengerikan, aku tidak bisa membayangkan kesakitan apa yang dia rasakan." Kata Yuffie dengan tatapan ketakutan.
"Kamu sudah mencoba sekuat mungkin bukan?! Kita tidak boleh kehilangan siapa pun...! Termasuk teman masa kecil kita ini...!" Ako mencoba untuk mengalirkan Lenergy kepadanya tetapi Shinobu langsung menahan tangannya.
Mereka memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu datang dalam waktu yang tepat untuk menyelamatkan Hinoka, "Untuk sekarang... mundur dulu saja."
"Nobu, kamu kembali...! Aku kira dirimu akan berlatih cukup lama di dunia gaib itu..." Ako tersenyum penuh rasa bersyukur lalu ia mundur beberapa langkah untuk melihat Shinobu mulai menunjuk Hinoka.
__ADS_1
"Ini memang ulah dukun... tetapi untungnya aku sudah menguasai apa yang dapat dukun lakukan, menetralkan hal seperti ini tidak buruk..." Tubuh Shinobu langsung tembus pandang sampai mereka kaget ketika melihat tubuhnya seperti hantu.
Banyak sekali energi putih terserap ke dalam kedua tangannya itu sampai kondisi Hinoka mulai kembali pulih sedikit demi sedikit sampai pandangannya kembali terlihat jelas.
"Apa yang dipelajari dukun memang hebat ya... mereka dapat menyembuhkan luka serius apapun bahkan penyakit yang tidak pernah ada sebelumnya..."
"...hampir seperti menembus hukum dan alasan, inilah kenapa ruh memang bisa memanipulasi hukum dan alasan." Tubuh Shinobu kembali terlihat lalu ia berhasil menarik semua energi negatif dalam tubuhnya yang ia netralkan menjadi Lenergy.
Hinoka duduk di atas kasur itu lalu ia menatap kedua tapaknya, "Syukurlah...! Astaga...!!! Aku benar-benar tidak ingin macam-macam dengan yang namanya ilmu gaib...!!!"
"Terima kasih, Koneko!!!" Seru Hinoka lalu ia memeluk Shinobu dengan sangat erat sampai ia terkekeh lalu ia memasang tatapan serius kepada Konomi untuk menanyakan kondisi tentang ketiga pejuang Indonesia itu.
"Jadi... bagaimana...? Apa yang kalian dapatkan di sana?" Tanya Shinobu kepada Konomi sampai ia menundukkan kepalanya lalu memasang tatapan bersalah karena tidak bisa mengajak mereka semua.
"Maaf... mereka tidak bisa... mereka tidak bisa aku ajak untuk melarikan diri dari markas tersebut, pada akhirnya..."
"...hancur begitu saja, tanpa meninggalkan sisa apapun." Konomi mulai menangis karena tidak bisa melakukan apapun kecuali pergi begitu saja meninggalkan rekannya sendiri.
"Maafkan kami, Koneko... kami sudah mencoba sebisa mungkin tetapi para warga terlihat begitu panik sampai mereka tidak bisa dikendalikan, untungnya kita semua selamat kecuali mereka..." Kata Hinoka.
"Bagaimana dengan Kak Koizumi?" Tanya Shinobu.
"Saat ini ia masih mengejar Jenderal sialan itu, tidak lama lagi dia pasti akan datang... tetapi yang lebih menyedihkan lagi adalah ketiga pejuang itu, pengorbanan mereka akan dikenang sebagai pahlawan hebat."
"...jasa pahlawan mereka sungguh hebat, kita juga terpaksa harus memberitahu cucunya yaitu Adit dan Indera tentang keguguran kakek mereka." Shinobu berjalan pergi lalu ia melihat Yuffie menundukkan kepalanya.
"Aditya... aku tidak menyangka dia akan gugur secepat itu, padahal aku sudah menginginkan kita semua berkumpul kembali seperti dulu." Yuffie menghela nafasnya.
Ketika Shinobu keluar dari tenda itu, ia tanpa sengaja berpapasan secara langsung dengan Adit dan Indera sampai mereka terlihat begitu senang bahwa semuanya telah kembali dengan selamat.
"Kamu sudah pulang ya... syukurlah, dengan kembalinya seluruh pasukan yang memata-matai markas itu maka kita bisa mengadakan pesta kecil." Adit tersenyum.
"Maaf... sebenarnya..." Shinobu menggigit bibirnya sendiri lalu ia menjelaskan semuanya secara langsung kepada Indera dan Adit soal pesawat luar angkasa besar yang dijadikan sebagai markas telah meledak.
Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah ketiga pejuang yang sudah berjuang lama sekali dari zaman dahulu sama sekarang telah gugur, mereka bisa beristirahat dengan tenang sekarang.
Mendengarnya saja membuat Indera merasa bersedih, tetapi ia perlu menerima kematian Kakeknya yang memang butuhkan istirahat panjang selama kariernya ini yaitu memperjuangkan negara Indonesia.
"Kakek... aku tidak menyangka dia akan pergi secepat itu..." Indera menghela nafasnya sedih lalu ia menundukkan kepalanya agar bisa merelakan kepergian Kakeknya.
Tetapi untuk Adit, ekspresinya terlihat begitu sedih sampai ia ingat mengingat kematian Ibunya yang terjadi tidak begitu lama, jika Aditya sudah gugur dalam perjuangan terakhirnya maka ia memang tidak memiliki keluarga lagi.
__ADS_1
Shinobu dapat melihat Adit tertekan dengan berita buruk tersebut, ia hanya bisa menundukkan kepalanya lalu melarikan diri dari mereka semua karena muak mendengar Manusia yang terus gugur satu per satu tanpa henti.
"Dia memang seperti itu... walaupun dia sudah memegang STM, hatinya begitu kecil ketika mengetahui seseorang yang ia sayangi gugur begitu saja..."
"...dia adalah teman masa kecilku yang begitu lembut, walaupun sikapnya kadang kadar tetapi dia tetap akan merasa terjebak dalam penderitaannya sendiri." Kata Indera.
"Kalau begitu... apakah kamu mau mengurus kuburan itu...? Biarkan aku berbicara dengan dirinya." Shinobu pergi mengejar Adit sampai Indera melihat Konomi dan Hinoka yang menundukkan kepalanya.
"Kami meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan Kakekmu... dia sendiri yang meminta kami untuk pergi dan membiarkan dirinya mengulurkan waktu." Kata Hinoka.
"Sepertinya dia lebih mementingkan warga Manusia yang tidak bersalah dibandingkan nyawanya sendiri, sungguh pahlawan yang berjasa tinggi dan berani untuk mengorbankan nyawanya."
"Ya, itulah kenapa Kakekku adalah seorang Sultan, riwayatnya penuh dengan kebaikan seperti membantu seluruh warga termasuk berjuang keras untuk melindungi umat Manusia yang masih waras."
"Kalau begitu, kita langsung saja mengurusi permakaman itu... kita kubur mereka dekat dengan seseorang yang dicintai." Indera berjalan pergi lalu mereka mengikuti dirinya.
"Nobu mana?" Tanya Ako.
"Dia sedang mengejar Adit."
"Ohh..." Ako memasang tatapan cemburu, tetapi ia sadar bahwa Shinobu ingin membantu dirinya untuk merelakan kematian dari Kakek Adit.
***
Koizumi masih melompati beberapa asteroid, ia sudah berada melewati planet Saturnus lalu melihat Mitler mencoba untuk menyerang dirinya tetapi tidak bisa mengenainya, pesawat itu juga terbang menjauh dari Bumi dan Mars.
"Aku sudah menemukan beberapa bukti yang dapat Shinobu pecah... misi terakhirku adalah menghabisi si bangsat yang sedang melarikan diri ini." Koizumi mendarat di planet Saturnus lalu ia jongkok.
Koizumi langsung memfokuskan seluruh Lenergy itu ke dalam kedua kakinya sampai ia menandai pesawat Mitler yang dapat ia kejar dengan satu lompatan, "Hah...!"
Koizumi melompat cukup jauh sampai Mitler memasang tatapan kaget ketika melihat Legenda itu bergerak secara tak kasat mata lalu menghancurkan tembok pesawat itu sampai dirinya langsung tiba di dalam.
"Kau tidak akan bisa melahirkan diri...!" Koizumi melancarkan beberapa serangan ke arah Mitler, tetapi dia menahan semua serangan itu menggunakan zirah teknologi yang sangat canggih.
Melihat Koizumi yang terus mendekati dirinya membuat Mitler langsung memakai semua peralatan yang sudah di masukkan ke dalam, "Seranganmu mudah sekali di tebak...!!!"
Sistem itu membantu Mitler untuk menghindari serangan yang dilakukan oleh Koizumi sehingga ia terpaksa diam lalu menerima satu pukulan darinya yang ia tangkap menggunakan tapak kanannya.
"Sudah cukup...!!!" Koizumi menyerap tenaga zirah tersebut sampai Mitler memasang tatapan kaget ketika sistem dan teknologi mulai mati karena semuanya sudah dihabiskan oleh Koizumi yang menyedot semuanya.
"Sekarang kau bisa aku bawa kepada Shinobu...! Tidak ada lagi yang namanya melarikan diri...!" Koizumi menyerap seluruh Mana di dalam tubuh Mitler sampai ia menjerit ketakutan lalu pingsan.
__ADS_1
"Sial..."
"...awalnya aku sudah mengharapkan tantangan besar darimu."