
"S-Sial...! Ternyata masih terdapat satu Kesatria yang memiliki kemampuan misterius, salah satunya adalah aku yang berbicara penuh kebohongan sampai menyesatkan adikku sendiri...!" Ungkap Konomi.
Konomi melihat darah Ako berubah menjadi cairan putih yang menyebabkan lantai itu menjadi basah, ia mencoba untuk membantu Ako yang masih tergigit tetapi ia menghilang seketika.
"A-Ako...! Tahan sebentar...!!!" Seru Konomi yang mulai mencari dirinya lalu ia menoleh ke belakang dan melihat sebuah cairan di tembok.
Terdapat Ako di sana bersama piranha yang mencoba untuk menggigit urat nadinya tetapi giginya seperti di tahan oleh sesuatu yang keras karena kandungan dari sihir yang ia gunakan.
"Sepertinya Ako... lehernya terasa begitu keras... di sebabkan oleh sihir sampai piranha itu... tidak bisa menghentikan pernafasannya..." Peringat Ariana.
"Kita tidak bisa memakan waktu lebih lama lagi bersama kedua Legenda itu, Cordelia mengatakan sesuatu tentang kemampuan mereka yang dapat membaca situasi..."
"...walaupun memakan waktu yang lama, akan sangat menyulitkan jika mereka berpapasan dengan kita!" Kanzer merapatkan giginya kesal.
Saat ini ia memiliki dua tugas untuk kepitingnya, salah satunya adalah menyebabkan pendarahan agar Ariana mendapatkan keuntungan, satunya lagi ia sedang mengawasi Hinoka dan Koizumi.
Setelah Hinoka sampai di tujuan utama maka pedagang tadi yang sudah berada di dalam zirah kepiting dengan lambang rasi bintang Cancer akan menyerang dirinya karena ia sudah mencuci otaknya di dalam zirah tersebut.
"Aku harus mencari tumbal lagi agar bisa di kendalikan oleh zirah kepiting itu..." Kanzer mencoba untuk mencari mangsa tetapi lokasi mereka sangat jauh.
Konomi mengayunkan tombak itu beberapa kali ke arah piranha sampai Ariana terus memindahkan piranha itu bersama Ako ke cairan yang berbeda sampai ia kesulitan untuk menyerang.
"Gawat... lama-lama aku ingin tidur... melihat Konomi terus menyerang piranha... memakan waktu yang lama untuk menghabisi nyawa Ako..." Ariana menguap.
Konomi menunggu waktu yang tepat untuk menyerang, ia sengaja menyerang dengan membabi buta karena ia ingin melihat pola pergerakan yang di lakukan oleh piranha itu.
Konomi langsung sadar ketika melihat piranha itu terus berpindah ke tempat yang sama dan menghilangnya sehingga ia sekarang menemukan waktu yang cocok untuk langsung menusuk piranha tersebut.
"Aku mendapatkannya...! Sekarang...!!!" Konomi meluruskan tombak tersebut sehingga ia berhasil menusuk sesuatu.
"... ...!!!" Konomi melebarkan matanya ketika piranha itu mengecil sampai masuk ke dalam darah yang terdapat di lehernya.
Serangan yang di lakukan oleh Konomi malah menusuk bahu kiri Ako cukup dalam sampai mengeluarkan lebih banyak darah, ia bisa melihat Ako meringis kesakitan karena sihir pertahanan yang ia gunakan dapat di tembus oleh Konomi.
"Ako...!!! Aku tidak bermaksud untuk menyerang dirimu, maaf...!!!" Seru Konomi keras yang mulai panik.
Ako menghilang seketika karena piranha itu yang membawa dirinya ke tempat jauh yang memiliki cairan, cairan apapun itu maka piranha tersebut bisa melakukan perpindahan tanpa masalah.
Konomi merasakan keberadaan Ako menjauh seketika sampai ia mulai panik karena saudara kembarnya bisa saja terbunuh jika ia membiarkan dirinya menjauh.
"Brengsek...!!! Mereka melarikan diri...!!!" Konomi merasa sangat geram sehingga ia menendang tembok di sebelahnya sampai hancur lalu ia melarikan diri untuk mencari Ako.
"Bagus... piranha itu sepertinya berpindah ke dalam selokan ya... satu-satunya kesempatan untuk langsung membunuh dirinya..."
"Jika seperti ini... aku akan menikmati... waktu-waktu untuk memakan dirinya... waktunya makan~" Kata Ariana.
Kanzer merasakan sesuatu yang janggal seketika, "Tunggu dulu, Ariana...!"
"Apa yang kau maksud tadi?!"
"Aku bilang... piranha itu... membawa dirinya ke dalam selokan..."
"Tidak, aku berbicara tentang Konomi!" Kanzer meminta seluruh pasukan kepiting kecil untuk mencari lokasi dirinya yang menghilang entah kemana.
"Aku hampir tidak mendengarnya tetapi dia benar-benar mengatakannya!"
"Hmmmm...?"
"Dia baru saja mengatakan sesuatu tentang 'mereka melarikan diri!', sepertinya bocah tengik itu mengetahui kita yang menyerang mereka!" Seru Kanzer keras.
"Kemampuan pembohongan yang aku gunakan saat ini menempel di tubuh Koizumi agar ia bersama Shinobu tidak berurusan dengan ketiga anak itu..."
"...Konomi benar-benar mengetahui kita karena kemampuan membaca situasi itu, seharusnya efek dari kemampuan pembohongan yang sudah menempel dan menghilang masih bertahan selama 10 menit."
"Tetapi...!!! Dia baru saja mengatakan 'mereka melarikan diri', ini menakutkan...!!!" Seru Kanzer keras dengan air mata yang mengalir deras melalui kedua matanya.
"Hiks...!!! Dia juga bahkan...!!! Sedang mencari keberadaan saudara kembar bodohnya itu...!!! Aku takut...!!!" Walaupun Kanzer menangis, itu artinya ia bertambah serius.
"Ariana...! Cepat berpisah dengan diriku sekarang juga...!!!"
"Apa yang... kamu coba maksud... Kanzer...?"
"Keberadaan Ako... telah di halang oleh... pasukan piranha kecil yang menyebar... di setiap selokan..."
"...Konomi sudah pasti... tidak akan... mencari keberadaan Ako... saat ini..."
"Konomi baru saja mengatakan 'mereka melarikan diri' dengan sengaja! Ingat bodoh...! Dia dapat melacak arwah apapun...!"
__ADS_1
"Arwah piranha itu sudah pasti mirip dengan dirimu...! Itu artinya dia tidak memedulikan Ako saat ini melainkan dirimu agar piranha itu bisa berhenti menyerang Ako yang masih di lindungi oleh sihir perlindungan itu!"
"Apakah kau tidak mengingat informasi yang di berikan oleh Cordelia...!? Konomi akan mengetahui apapun dengan cepat jika kita tidak mengakhirinya...!!!"
"Dia sudah pasti melacak dirimu...!"
"Apa...?"
***
Konomi terus melangkah cepat di tengah kota selagi memeriksa setiap selokan yang ia lihat, "Tadi itu... Ako bergerak dengan sengaja jadi aku menusuk dirinya..."
"...tusukan tadi seharusnya menyembuhkan semua luka yang ia terima, sekarang aku dapat menggunakan kemampuan arwah yang Ibu pelajari kepada diriku!"
Konomi menutup kedua matanya sehingga ia berhenti di hadapan sebuah selokan dimana terdapat Ako yang berbaring di atas sana dengan piranha yang terus menggigit lehernya.
"Soul Exchange: Wound!!!"
Kemampuan dari [Soul Exchange], Konomi dapat menukarkan arwah dua makhluk hidup tetapi penukaran itu hanya berlaku dengan luka yang mereka terima.
Hampir sama seperti yang di lakukan oleh manusia dengan menggunakan kemampuan [Santet], Konomi menukar setengah arwah dari Ariana dan piranha itu.
Jika Konomi menyerang piranha tersebut maka rasa sakit yang akan di terima akan berpindah kepada Ariana sedangkan jika Ariana di serang maka rasa kesakitan tersebut hanya bisa di rasakan oleh piranha itu.
Konomi mengangkat tombaknya lalu ia melakukan serangan cepat sampai menusuk piranha tersebut, ia tidak memiliki waktu untuk menghindari serangan cepat itu.
"Awwwww..." Ariana meringis kesakitan dengan tenang sehingga Kanzer tercengang ketika melihat punggung Ariana mengeluarkan banyak darah sampai menembus zirahnya itu.
Piranha itu langsung berpindah tempat lagi bersama Ako, Konomi berhasil menyerang piranha tadi, itu artinya serangan yang terkena akan membantu dirinya untuk melacak lebih cepat.
"Aku melihat Ako tidak begitu merasa kesakitan karena dia sempat menggunakan kemampuan pertahanan dari [Fourth Fortress Defense]..."
"...aku harus segera mencari piranha itu sebelum kemampuan arwah yang aku miliki habis! Sialan... aku benar-benar harus latihan lebih giat lagi agar bisa menambahkan durasi di setiap kemampuan yang aku miliki!"
***
"Ini benar-benar gawat, Ariana...! Dia berhasil melukai dirimu..." Kanzer mulai panik seketika.
"Aku tidak percaya... Konomi akan... melakukannya sejauh ini... informasi Cordelia... selalu benar sampai... kemampuan itu tidak dapat... kita hentikan." Ariana membalut lukanya menggunakan perban yang selalu ia bawa.
Konomi yang berhasil menemukan tubuh Ako mulai melakukan serangan lain tetapi ia sudah berpindah ke cairan lainnya sehingga Konomi bisa melihatnya dengan jelas ketika ia menoleh ke belakang.
"Piranha sialan ini bergerak sangat cepat... sampai kapan kau akan melarikan diri dariku dan membawa pergi saudara kembarku?!" Ungkap Konomi yang terus mengejarnya.
"Sekarang aku dapat melihatnya dengan jelas... piranha itu tidak bisa melakukan perpindahan dalam jarak yang jauh, ia membutuhkan proses seperti perpindahan kecil."
"Tidak lebih dari lima meter... aku bisa terus mengejar dirinya karena luka yang di terima piranha itu membantu diriku untuk melacaknya!!!" Konomi melangkah lebih cepat mengikuti piranha itu.
Konomi melakukan serangan lain menggunakan tombaknya sehingga ia mengenai sirip piranha itu sampai luka tersebut berpindah kepada lengan kanan Ariana yang mengeluarkan banyak darah.
"Aw... aku terluka lagi..."
"Mungkin karena luka itu... kecepatannya menjadi lambat, terima kasih dengan kemampuan pembaca situasi." Konomi melempar tombak ke sebelah kanan.
Piranha yang mencoba untuk melakukan perpindahan ke dalam botol gelas sebelum itu menerima satu tusukan dari tombak tersebut di daerah ekornya sampai kaki Ariana mulai berdarah.
Piranha itu membuka mulutnya sampai melepaskan Ako di atas tanah, untungnya tidak ada Legenda yang berkeliaran di tempat itu karena bisa saja terjadi kesalahpahaman.
Konomi mencoba untuk melempar tombak tersebut tetapi ia berhenti seketika melihat cairan bensin yang mulai membasahi tanah, serangan tadi sempat menusuk sebuah barel berisi bensin.
"Apa...?!" Konomi awalnya mengira isi barel itu dipenuhi dengan air tetapi piranha tersebut mengubahnya menjadi bensin sampai ia mulai menahan serangan itu.
Piranha itu juga mulai memuntahkan lebih banyak cairan bensin yang membasahi setiap barang sampai ia memiliki risiko untuk melakukan serangan.
Serangan tombaknya dapat menyebabkan gesekan yang mampu untuk membakar semua bensin itu, ia tidak mau menimbulkan kebakaran yang menyebar di kerajaan tersebut.
"Rencanaku... berhasil... Konomi pasti bingung... dan waktu dari kemampuan arwah itu akan habis... dia tidak dapat melacak siapa pun lagi..."
"... cobalah untuk membakar... bakar sesuatu... Konomi akan selamat... tapi... dia pasti menyebabkan... banyak keributan." Kata Ariana dengan tatapan tenang.
"Kalau begitu...!!! Aku gunakan saja bela diri...!!!" Seru Konomi keras sehingga ia menangkap piranha itu sebelum membawa Ako pergi lagi.
Tangan kirinya berhasil memegang tubuh piranha tersebut lalu ia melancarkan beberapa pukulan yang mengenai wajah piranha itu sehingga Ariana merasakan pukulan bertubi-tubi mengenai wajahnya.
"Kerja yang bagus, Ariana..." Kanzer tersenyum serius.
"Berkat dirimu yang sudah membawa Konomi dan Ako menuju lokasi yang dekat dengan posisi Hinoka maka... sudah waktunya untuk menggunakan kartu as yang kita simpan..."
__ADS_1
Kanzer selama ini membiarkan Ariana mengajak Ako dan Konomi menuju lokasi sepi yang berada di ujung selatan, mereka terletak tidak jauh dari posisi Hinoka yang berada di sepuluh meter ke sebelah timur yaitu sebelah kiri.
"Tahan pukulan itu... pedagang yang berada di zirah kepiting sudah siap untuk menyerang Hinoka sampai ia mengamuk dan melepaskan ledakan itu."
"Piranha itu sudah pasti memuntahkan banyak cairan bensin yang terus mengalir..."
"...kita menang, Ariana! Ya...!!! Semua ini di bantu dengan rencana dan kartu as terakhir kita...!!!"
"Sakit..." Ariana masih menerima pukulan itu dari Konomi sampai ia tidak menyadari pasukan kecil piranha itu mulai mengubah setiap cairan yang di lihat menjadi bensin berkat kemampuannya.
"Kalau begitu... kita lepaskan monster itu, memperlihatkan darah kepada Hinoka... mengingatkan semua traumanya!" Kanzer tersenyum jahat.
***
"Sepertinya tidak ada siapa pun di lokasi ini... pedagang botak itu ternyata membohongi diriku!" Hinoka merasa kesal seketika karena ia sudah menunggu beberapa menit di lokasi itu.
"Tapi... aku bisa merasakan sesuatu yang aneh, kesepian ini tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba." Hinoka melihat sekeliling, tidak menyadari Konomi yang berada di jarak sepuluh meter di sebelah kanan.
"Sebenarnya kau coba pergi kemana...? Gadis kecil...?"
Terdengar suara yang sama dengan pedagang itu, ia langsung melihat sekelilingnya tetapi tidak ada satu pun orang yang ia lihat sehingga ia mencium aroma yang tidak asing.
"Bau ini..."
"...me-melati...?" Pikiran Hinoka langsung mengingat trauma kematian Ibunya yang gugur di pelukan dirinya dengan aroma darah yang di ubah menjadi aroma melati.
"Bau Mama wangi~ seperti melati~" (Hinoka kecil).
"Ahh..." Hinoka menyentuh kepalanya yang terasa pusing seketika sehingga kedua matanya yang berwarna biru muda mulai berubah-ubah menjadi merah darah.
"Tidak... jangan mengingatnya... M... Mama..." Hinoka menoleh ke belakang sehingga ia menerima satu serangan dari capit kepiting yang mampu membuka daging di pipi kanannya.
Daging yang terbuka itu langsung mengeluarkan banyak darah sampai ia terjatuh di atas tanah dengan tatapan kaget, "Ternyata kau benar-benar tidak berguna ya..."
Hinoka menyentuh pipinya itu yang dipenuhi dengan darah lalu ia menatap ke depan, melihat seorang Kesatria dengan zirah kepiting yang menggerakkan kedua capitnya itu.
Hinoka melihat darahnya sendiri cukup jelas sehingga kedua matanya berubah menjadi merah darah seketika sampai air mata mengalir deras melalui kedua matanya.
"BRENGSEK...!!!" Aura Crimson Hinoka terlepas keluar melalui tubuhnya sampai pedagang yang berada di dalam zirah itu mencium bau gas menyengat di dalam auranya.
"BRENGSEEEKKKK...!!!"
"KAU AKAN MATI...!!!"
"Itu dia...! Sekarang lari...! Pancing dia menuju kumpulan mayat itu agar ia semakin mengamuk!" Kanzer berhasil membangkitkan amarah Hinoka sampai pedagang itu melarikan diri menuju tempat yang sempit.
"LIHAT SEMUA DARAH INI...!!! BRENGSEK!!!" Hinoka terus mengejar itu, menyebarkan semua aura itu sehingga ia dapat menyebabkan ledakan besar ketika ia menggunakannya.
Pedagang itu masuk ke dalam rumah sehingga ia menutupnya rapat dengan pintu besi yang kuat, Hinoka menendang pintu itu beberapa kali sampai menghancurkannya.
"KUBUNUH!!! KUBUNUH!!! KUBUNUH!!!"
"Dia benar-benar gila... rasanya trauma itu benar-benar mempengaruhi mental dan pikirannya." Kata Kanzer karena ia sendiri terlihat takut.
"Sebentar lagi... dia akan melihat mayat yang sudah dikumpulkan oleh pedagang tersebut, itulah kenapa ujung selatan terasa seperti..."
"...semua itu disebabkan oleh pedagang dan pasukan kepiting ku yang membunuh mereka!"
Hinoka menghancurkan pintu itu lalu pandangannya melihat sesuatu yang buruk dan membangkitkan semua trauma itu sampai tingkatan paling tinggi.
"Ahhhh...!?!?!" Hinoka melihat tumpukan mayat yang dipenuhi dengan mayat, semuanya dilumuri dengan darah yang menyengat sampai ia juga melihat bunga melati di sekeliling.
"Aaahhhhhhhhhhh...!!!" Hinoka mulai memegang kepalanya yang terasa pusing sehingga air matanya terus mengalir deras sampai membasahi lantai.
"Hinoka... Mama tidur dulu ya..." (Honoka).
"HWAAAAAAGGGGGHHHHHH!!!"
"MAAAMAAAAAAGGGGHHHHH!!!"
Hinoka menjerit keras sehingga menyebabkan ledakan yang begitu besar di ujung selatan sampai menyebar karena mengenai gas yang di lepaskan oleh auranya.
Ledakan itu juga bahkan sampai mengenai Konomi dan Ako lalu menghempas mereka cukup jauh, ledakan itu sangat besar bahkan hampir mengenai seluruh kerajaan tersebut.
Terjadilah kebakaran yang besar sehingga seluruh Legenda panik dan sebagian ledakan yang berada di dekat dengan ujung selatan itu mati karena terkena ledakan yang terkandung banyak daya kekuatan.
BAAAAAAAAAMMMMMMMM!!!
__ADS_1