
Rokuro saat ini sedang berbaring di atas kasur dengan kepala yang terasa sangat pusing karena terkena mabuk berat meminum semua Vodka itu, ia bisa melihat Haruka yang tertidur di sebelahnya dengan nyenyak.
Masih pukul sepuluh dan Rokuro masih bisa menggunakan waktu dengan baik seperti tidur selama satu jam tetapi tidak bisa karena kepalanya yang terus berputar secara terus menerus.
"Dia pasti akan membangunkan diri--- Uck!" Rokuro melebarkan mata ketika menyadari sebuah tangan putih muncul tepat di atas atap, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat.
Tubuhnya seolah-olah lumpuh tidak bisa digerakkan sama sekali, mengeluarkan saja tidak bisa. Ia mencoba untuk menepuk tubuh Haruka tetapi tangan itu mulai menyentuh kepala Rokuro.
Sentuhan dari tangan itu mengejutkan Rokuro karena ia merasakan perasaan yang begitu tenang dan hangat, tangan yang langsung membuat dirinya tenang sampai menghilang rasa pusing di kepalanya..
Rokuro masih tidak bisa melakukan apapun dan ia juga tidak melihat seseorang yang mendekati dirinya, entah berasal darimana tangan itu dan ia mencoba untuk tidak menghiraukannya.
Tanpa disadari tangan itu mulai menarik rambutnya sehingga arwah yang berada di dalam tubuhnya tertarik sementara oleh tangan itu ke atas langit.
Rokuro dikejutkan dengan penuh kejutan dan ia tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat langit-langit yang memunculkan beberapa awan emas.
Tangan itu menariknya lebih tinggi lagi sampai ia terhempas ke atas dan mendarat di atas awan emas, pemandangan yang ia lihat terlihat begitu indah dan menenangkan jiwa, awalnya ia menyangka dirinya sudah mati tetapi...
"Dimana... aku...? Kenapa aku di tarik secara paksa tadi...?" Rokuro menatap kedua tapak tangannya lalu ia melihat sekeliling sehingga awan emas yang berada di atasnya mulai membentuk Haruka, Honoka, dan Kou.
"Ketiga saudara...? Ahh... Ini pasti mimpi... Sepertinya..." Rokuro mencoba untuk bergerak ke depan untuk melihat-lihat, ia merasa dirinya bergerak tanpa arah karena pemandangan yang sama terus terlihat.
"Tempat apa ini?! Sebenarnya apa yang terjadi...!?" Rokuro melihat ke sekeliling dan yang ia lihat hanyalah pemandangan indah yang jarak terlihat di Touriverse.
"Kemari..."
"Ikutilah suara yang kau dengar..."
"Siapa itu!?" Rokuro melihat sekeliling tempat namun ia tidak melihat apapun kecuali pemandangan yang begitu indah, air terjun dimana-mana dengan suara yang terdengar begitu menenangkan di kedua telinganya.
"Apa kalian yang membawa diriku ke tempat ini?" Tanya Rokuro selagi menatap ketiga saudara itu yang sedang duduk di atas awan emas dengan tatapan bingung.
"Mereka tidak jawab... Apa mereka benar-benar Haruka dan kedua saudaranya itu..."
"Eksistensi yang kuat... Dipenuhi dengan dosa yang berjulukan Greed."
"Surga ternyata memilih dirimu, menerima takdir penjaga bidadari yang jatuh dari dalam surga... Anak surga..." Sesosok gadis berjubah putih muncul tepat di hadapan Rokuro.
Rokuro tidak bisa melihat jelas wajahnya karena kepalanya di halang dengan tudung tetapi ia jelas melihat bahwa pakaiannya itu terlihat sama persis dengan Kisetsu tetapi memiliki warna putih dengan simbol surga yang melayang tepat di belakang punggungnya.
"Hah...? Sebenarnya apa yang kau maksud? Sebenarnya apa tujuanmu membawa diriku ke tempat seperti ini?" Rokuro mulai berwaspada kepada gadis yang berada di hadapannya, bisa saja itu sebuah ilusi semesta.
"Shimatsu Rokuro..." Gadis itu muncul tepat di belakang Rokuro lalu membisiki dirinya sesuatu.
__ADS_1
Secara refleks Rokuro mencoba untuk menyerang tetapi merasakan suatu halangan dimana ia tidak dapat melakukan kekerasan di tempat itu, ia lebih memilih untuk melompat ke samping.
"A-Apa...? Kekuatanku tidak bisa dikeluarkan, menyerangnya saja tidak bisa. Apakah ini mimpi buruk...?!" Rokuro mengepalkan kedua tinjunya dengan erat.
"Tidak perlu takut seperti itu... Astaga, kau sama saja dengan dirinya."
"Tindakan negatif apapun tidak dapat kau lakukan di tempat yang bisa di bilang rumah terakhir untuk mereka yang layak... Keindahan yang hanya bisa di lihat di tempat seperti ini."
Wajah gadis itu mulai terlihat jelas, rambut merah pendek dengan kedua iris mata biru muda yang sama persisnya dengan ketiga saudara.
"Korrina...?!" Rokuro terkejut saat melihat Korrina berada di hadapannya, entah kenapa dia merasa sedikit bersalah karena pernah bermesraan dengan Haruka tanpa sepengetahuannya.
Rokuro juga sempat tidak percaya karena Korrina saat ini masih merantau keluar alam semesta yang begitu jauh untuk melihat kondisi di luar yang bisa saja membahayakan seluruh semesta dan galaksi yang berada di dalam Touriverse.
"Kenapa dengan wajah itu...?" Korrina mulai menciptakan kursi emas, Rokuro tiba-tiba duduk di atas kursi itu seperti dikendalikan oleh Korrina melalui pikirannya.
"Terima kasih... Korrina..." Rokuro sekarang bisa meyakini dirinya bukan musuh karena tempat ini terlihat begitu damai sampai seluruh kekerasan dan sesuatu yang negatif hilang seketika.
"Kau terlihat dewasa sekarang, aku terkesan melihat dirimu masuk ke dalam wilayah seperti ini." Korrina mulai duduk di atas langit.
"Y-Yah, aku sendiri tidak tahu bagaimana cara masuk ke wilayah seindah itu, sebuah tangan menarik diriku sampai aku menginjak awan emas ini."
Sekarang Rokuro mulai berkeringat dingin, mungkin yang ia rasakan ketika menerima ciuman dari Haruka berbeda karena sejumlah energy besar masuk ke dalam tubuhnya sampai menyebar kemana-mana.
"Melihat dirimu berada di wilayah ini, mampu memberikan kejutan besar kepadaku karena aku tidak menyangka Haruka akan memilih tipe pria yang cukup baik." Korrina memegang dagunya selagi menatap Rokuro.
"Kalian kan dulunya hanya sekedar teman masa kecil... Bahkan sangat tidak akur..."
"Ternyata cinta memang berawal dari benci, hm-hm." Korrina mengangguk.
"Ahahaha... Yah... Dari pada itu, apa yang kamu inginkan dariku untuk membawaku ke tempat seindah ini?"
"Jika memang benar, aku ingin tahu apa yang kau butuhkan dariku, Korrina..." Rokuro berusaha untuk tidak membahas hubungan dengan Haruka karena hal itu bisa di bahas lain kali.
Korrina hanya bisa tersenyum karena ia mengetahui semuanya dari Rokuro karena penglihatan Haruka dan semua ingatan Haruka bisa ia baca dan lihat dengan mudah.
"Salah satu putri kecilku membawamu ke tempat ini... Itu artinya kau sudah menjadi salah satu dari kami, mendapatkan keuntungan dari Surga itu sendiri."
"Haruka memilih dirimu, dia mencintaimu sampai cinta itu benar-benar mengubah dirimu menjadi seorang penjaga bidadari bagi anak surga seperti Haruka."
"Selama ini dia tidak pernah menceritakannya kepadamu ya... Tetapi aku yakin kau sudah menyadari iris mata Haruka yang berubah menjadi biru muda."
"Warna yang menandakan dirinya telah memasuki surga, menjadi satu dengan Surga sehingga ia sekarang adalah anak surga."
__ADS_1
"Dan aku, Korrina Comi, adalah pemilik surga itu sendiri. Surga yang dulunya tidak memiliki penghuni dan pemilik... Bisa di bilang aku adalah Ibu dari segala Surga." Korrina menepuk dadanya penuh dengan kebanggaan.
Korrina menyimpangkan kedua lengannya, "Aku hanya ingin berbicara dengan dirimu, mungkin itu saja yang ku mau."
Korrina tersenyum pahit dan menatap ke atas langit untuk melihat Haruka yang sedang tersenyum kepada dirinya.
"Anak surga...? Jadi itu sebabnya kenapa kekuatan Haruka tiba-tiba meningkat tanpa alasan tertentu..."
"Lalu... Memangnya seorang Legenda yang memegang dosa kerakusan bisa di terima di dalam surga yang indah seperti ini?" Rokuro mulai tersenyum pahit karena kekuatannya yang pada dasarnya miliki pangeran neraka bernama Mammon.
Dia hanya meminjam kekuatan itu dengan syarat jika dia termakan oleh kerakusan itu maka dia akan hilang kendali terhadap dirinya sendiri.
"Surga menutup ketat apapun yang berkaitan dengan hal negatif..."
"Surga adalah tempat tinggal terakhir yang pantas untuk di dapatkan untuk mereka yang sudah mau berjuang keras meraih sesuatu yang berkaitan tentang kebaikan dan kebajikan."
"Contohnya... Coba pukul aku apakah kau bisa?" Korrina muncul di hadapan Rokuro selagi menunjuk pipinya sendiri.
"Memangnya ada orang yang berani memukul mertuanya sendiri." Rokuro terkekeh karena menanyakan hal yang tidak akan Rokuro lakukan.
"Aha... Mulai berani ya." Korrina tersenyum.
"Aku bisa melihat pandangan apapun yang berkaitan dengan anak-anakku. Aku melihatnya Rokuro, aku mengetahui segalanya..." Tatap Korrina tajam.
"Melihat apa yang di lihat oleh anak-anak kau? Tunggu sebentar, jangan bilang kau melihat apa yang aku dan Haruka lakukan selama ini?" Rokuro kembali berkeringat dingin.
"Kalian melakukan ini kan?" Korrina membuat lingkaran melalui jari kanannya lalu ia memasukkan jari telunjuk ke dalam lingkaran itu.
"Aku tahu kok... Bahkan bisa aku perlihatkan adegannya." Korrina memunculkan televisi emas tetapi Rokuro mulai panik.
"Hentikan! Baiklah...! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Bu Korrina?" Rokuro berusaha untuk mencegah Korrina menayangkan malam pertamanya dengan Haruka.
"Hmm..." Korrina memasang raut wajah kesal.
"Berani sekali ya, Rokuro. Ketika aku pergi, kau kau mengambil kesempatan sempit dari anakku!"
"Soal itu... M-Maafkan aku, Bu Korrina...!" Rokuro langsung sujud kepada Korrina karena ia tidak ingin harga dirinya jatuh sebagai seorang pria.
"Kau...!!!"
"Dengan putriku...!"
"Melakukan...!"
__ADS_1