
"Baiklah, Anastasia... sudah waktunya untuk bekerja." Perintah Zangetsu yang mulai menghampiri kristal kekacauan di hadapannya sampai ia bisa melihat prosesnya sudah dekat sekali.
Hanya membutuhkan beberapa sentuhan terakhir yang dapat menyempurnakannya, "Dengan kesempurnaan dari kristal ini... kita bisa menghapus konsep sihir untuk memberikan mereka semua ujian ya."
"Kau memang tidak akan pernah bisa mengecewakan Magus itu... dia pasti bangga, pengorbanannya demi mencuri anak dari Eldritch itu sungguh pekerjaan yang sulit." Zangetsu menyilangkan kedua lengannya.
"Sentuhan terakhir yang kau maksud itu... aku hanya membutuhkan dua sampel yang dapat dijadikan sebagai unsur waktu dan realitas..."
"...sisanya bisa aku aktifkan dengan menggunakan daun emas yang aku peroleh di pohon emas itu." Anastasia mengeluarkan daun pohon emas yang berada di luar Touriverse.
"Menakjubkan, baiklah...
"...kalau tidak salah kau memasukkan sesuatu kepada Magnus? Kelima gadis pemberontak itu tidak bisa menggunakan sihir sama sekali ketika mencoba untuk melawannya."
"Itu karena Magnus sudah aku jadikan sebagai percobaan untuk memegang kristal kekacauan, ternyata hasilnya berhasil... menghapus konsep sihir untuk mereka yang mencoba melawannya."
"Kalau begitu, kabulkan lah permintaan yang aku inginkan, Anastasia." Zangetsu menatap Anastasia dengan tatapan serius.
"Apa itu...?"
"Pinjamkan aku setengah kristal itu, lebih baik aku saja yang mencari sentuhan terakhir itu agar kau bisa beristirahat lebih lama untuk menyimpan semua tenaga demi bisa menggunakan kristal kekacauan yang sempurna."
***
"Koizumi, selamat datang kembali." Haruka menyambut Koizumi dengan sebuah senyuman seperti biasanya.
"Ibu, bagaimana dengan pekerjaannya?"
"Terjual habis seperti biasanya, apakah kamu lelah? Mau makan?" Tanya Haruka selagi mengenakan celemeknya untuk memasak kentang goreng yang selalu Koizumi sukai.
"Akademi pemberontak sebentar lagi akan mengadakan turnamen ya, ahh... mengingat soal turnamen dan akademi jadi mengingatkanku dengan akademi permohonan."
"Akademi permohonan? Seingatku, Shinobu pernah bercerita bahwa kalian semua mengikuti akademi itu agar bisa menyembuhkan penyakit kutukan Kou?"
"Itu benar, banyak sekali kenangan yang kita buat di sana... terutama lagi Ibu dan Ayahmu, kita benar-benar seperti pasangan yang saling mencintai~" Kata Haruka sambil menyentuh pipinya.
"Kalian ternyata masih bisa menyempatkan waktu untuk saling mencintai ya... aku kira Ayah terlalu fokus dengan pertarungan..."
"Ayahmu memang sulit untuk mengungkapkan isi hatinya, tetapi aku yang memancingnya." Haruka mengambil dua foto yang sudah di pajang sebagai pigura lalu ia menunjukkannya kepada Koizumi.
"Ini adalah kenangan terbesar yang pernah Ibu rasakan bersama seluruh teman-temanku pada masa akademi..." Kata Haruka.
Koizumi bisa melihat foto itu penuh dengan Legenda remaja yang mengenakan pakaian akademi, semuanya terlihat begitu senang bahkan Koizumi bisa melihat siapa saja yang sudah gugur di dalam foto itu.
Semuanya hanya menyisakan Bakuzen, Lyazen, Hana, Mitsuki, Marie, dan Haruka yang masih hidup sama saat ini sedangkan sisanya gugur sejak masalah berdatangan setelah akademi itu.
"Ibu dan Ayah terlihat sangat muda ya..."
"Benar 'kan~?"
"Dan ini kenanganku bersama seluruh temanku di hari dimana Ayahmu melamar Ibu untuk menikah, aku sudah mengandung dirimu sejak itu."
"Apa...?! Ibu sudah mengandungku di luar nikah?!" Koizumi memasang tatapan kaget karena ia baru saja mendengar hal seperti itu.
"Hehehe... yang paling penting adalah kamu lahir dengan sehat sampai Ibu merasa sangat bangga untuk bisa memperbesar Legenda yang layak~" Haruka memeluk Koizumi erat.
"Ibu, aku sudah besar... jangan peluk aku..."
"Hehh~ tapi kamu kan masih putri Mama satu-satunya." Haruka memberikan Koizumi sebuah kecupan lalu ia melihat pin berlambang jam yang ia kenakan di rambutnya.
__ADS_1
"Kamu masih menggunakan pin yang selalu Ibu gunakan ya, sudah lama sekali aku mengenakan pin waktu itu sampai semua orang menjadikanku diriku sebagai jam dinding asli." Haruka terkekeh.
"Ibu mendapatkan pin ini sejak kapan? Terlihat lebih lama yang aku pikirkan tetapi masih bisa dipakai."
"Sejak bayi kok, Nenekmu memberikannya kepadaku karena aku selalu memainkan waktu sejak kecil."
"Ibu juga nakal ya..."
"Lebih nakal kamu tentunya karena tambahan dari sifat ayahmu." Haruka mengelus kepala Koizumi lalu ia menyiapkan kentang goreng di atas piring yang ia berikan kepada Koizumi.
"Nikmati makanan kesukaanmu."
"Terima kasih, Ibu." Koizumi tersenyum.
"Besok sudah memasuki musim semi ya...?"
"Wah, benar juga ya... musim yang Ibu sukai karena hari kelahiran ku berdekatan dengan musim itu sampai Nenekmu memberikan nama yang melambangkan musim itu."
"Mm... Indah kok." Kata Koizumi.
"Aww~ terima kasih, nak."
***
Pagi hari telah tiba, musim sudah berganti menjadi musim semi dimana bunga bermekaran dan setiap pohon menumbuhkan banyak daun yang terlihat begitu indah salah satunya adalah pohon Sakura yang berada di depan rumah Koizumi.
Haruka membuka kedua matanya lalu ia melihat jam dinding di hadapannya menunjukkan pukul tujuh pagi, "Ga-Gawat, aku terlambat...!"
Haruka bangkit dari kasurnya lalu ia menghampiri lemari dan tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dari atas lemari tersebut, ia bisa melihat sebuah foto.
"... ....?" Haruka mengambil foto tersebut lalu ia membukanya, foto itu menunjukkan gambar dirinya bersama kedua adiknya sejak dulu sekali dimana mereka sedang berpesta di akademi itu.
...
...
Haruka mencoba untuk menahan air matanya, tetapi rasanya cukup menyakitkan untuk merayakan ulang tahun tanpa kedua adik dan Ibunya terutama lagi semua temannya yang sudah tiada.
Haruka menyimpan foto itu di dalam saku piama lalu ia melangkah keluar kamar sampai dirinya menerima sambutan dari banyak sekali konfeti yang mengenai wajahnya dan kepalanya.
"E-Ehh...?"
""Selamat ulang tahun, Haruka~""
Haruka melihat banyak sekali orang yang ia kenal datang, walaupun sedikit setidaknya mereka semua datang jauh-jauh hanya untuk mengadakan pesta ulang tahun untuk dirinya.
Ia dapat melihat Koizumi yang berada di depannya sedang memegang sebuah kotak hadiah dengan pipi yang memerah, Shinobu mulai mendorongnya pelan-pelan sampai Koizumi memberikan hadiah kepada Haruka.
"Ibu... ini, hadiah ulang tahun untukmu." Kata Koizumi yang memberikan kado itu kepada Haruka sampai ia menerimanya dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu bahagia.
"Boleh Ibu bukan sekarang?"
"Tentu saja."
Haruka membuka kado itu pelan-pelan lalu ia bisa melihat sebuah kalung yang melambangkan waktu, melihatnya saja membuat kedua matanya berkaca-kaca karena hadiah yang Koizumi berikan terlihat begitu indah.
"Koizumi... kamu membeli ini... dimana...? Terlihat begitu indah, aku yakin harganya sangat mahal."
"Harga tidaklah penting, yang paling penting adalah Ibu... semuanya harus memprioritaskan keutamaan yaitu seorang Ibu yang sudah melahirkan diriku dan merawatku sebesar ini." Kata Koizumi selagi menatap arah lain.
__ADS_1
Ketika Koizumi berbicara seperti itu, Haruka hanya bisa tersenyum senang lalu memberikan dirinya sebuah pelukan yang sangat erat sampai Koizumi dapat merasakan kehangatan darinya.
Setelah menerima hadiah kalung itu, Koizumi membantu Haruka untuk mengenakan kalung tersebut sampai ia mulai tersenyum lalu berterima kasih kepada Koizumi karena sudah mau menjadi putrinya yang menurut.
Mereka semua langsung merayakan pesta ulang tahun yang sederhana dengan menikmati banyak makanan di rumah Haruka yang bisa dibilang mewah, pesta itu berjalan singkat karena sebagian dari mereka perlu mengurusi sesuatu.
Pesta berakhir pada pukul sore hari, Haruka melihat kelima pemberontak itu pergi ke belakang untuk mengunjungi pantai agar mereka bisa bermain di sana, "Sungguh gadis-gadis yang lincah..."
"...aku tidak menyangka akan bisa melihat Koizumi tumbuh menjadi gadis dewasa sebentar lagi, turnamen pemberontak juga sudah sangat dekat sampai aku tidak sabar ingin melihatnya."
"Koizumi melawan Shinobu pasti akan mengulangi sejarah yang terjadi sejak dulu sekali dimana Shuan melawan Rokuro menyebabkan pertarungan yang spektakuler."
Koizumi membuka pintu belakang lalu ia mendekati Haruka untuk membantu dirinya beres-beres seperti cuci pirang dan lain-lain, "Ibu seharusnya ikut bersama kami ke pantai."
"Beres-beres bisa aku selesaikan... hari kelahiran Ibu seharusnya disuguhi dengan banyak istirahat dan kesenangan, bukan hal menyusahkan seperti ini."
"Tetapi semua ini adalah pekerjaanku sebagai Ibu rumah tangga, sebentar lagi." Ketika Haruka berbicara seperti itu, Koizumi memutuskan untuk tetap bersama Ibunya selagi melihat pohon sakura yang bermekaran di depan jendela.
"Bukannya itu terlihat indah, Koizumi...? Pada saat bunga sakura bermekaran seperti itu, ibumu lahir ke dalam dunia ini... menerima anugerah dari seorang Ibu yang baik juga."
"Beliau sudah merawatku cukup lama bersama dengan kedua adik yang selalu aku cintai, tetapi beliau pergi jauh sekali sampai Nenek dan Kakekmu itu memberitahuku bahwa Nenek Korrina tidak akan pernah kembali."
"Beliau masih berada di luar Touriverse ya... lokasi yang tidak bisa dijangkau begitu saja karena terlalu jauh."
"Itu benar... Ibu hanya bisa berharap bahwa dia pulang secepatnya, melihat kerusakan Touriverse yang sudah terjadi seperti dulu, aku yakin beliau bisa mengubahnya kembali dengan menyatukan semuanya."
"Yang paling penting adalah... aku hanya bisa merasa bersyukur untuk melihat putriku tumbuh dewasa dan merasakan ulang tahunku ini yang entah ke berapa..."
"Ibu melupakan umur sendiri?"
"Iya, hahaha... lagi pula Ibu sudah lahir cukup lama."
"Benar juga..."
Beberapa menit kemudian, mereka semua menikmati waktu bersama di pantai sampai Haruka menyiapkan sebuah kamera untuk mengambil gambar Shinobu yang kebetulan mengejutkan Koizumi dari belakang dengan sebuah pelukan.
...
...
Haruka melihat foto tersebut lalu ia tersenyum, kedua putri dari kedua saingan yang asalnya akan menggantikan keberadaan orang tua mereka tetapi sekarang adalah generasi mereka untuk melanjutkan tujuan demi masa depan.
"Sudah hampir sore... baiklah, aku akan pergi belanja dulu." Haruka menyimpan kamera itu di dalam rumahnya lalu ia bisa mendengar langkahan di belakangnya.
"Ibu mau pergi kemana?"
"Belanja kok."
"Aku ikut."
"Tidak usah, kamu bermain saja dengan mereka... aku akan menyiapkan makan malam menu spesial yang selalu kamu sukai~" Kata Haruka selagi memegang pergelangan lengannya.
Koizumi hanya bisa tersenyum lalu terkekeh, "Baiklah... aku ingin kentang goreng dengan rasa varian yang berbeda."
"Tentu saja." Haruka memeluk Koizumi erat sampai wajahnya tertutup dengan dadanya lalu keningnya menerima satu kecupan darinya.
"Sebentar ya." Haruka melangkah pergi dari Koizumi.
"Sampai jumpa, hati-hati."
__ADS_1
"Hehehe, iya..."
"...ibu tidak akan pergi jauh kok."