
Hari yang baru telah di mulai, matahari terbit di arah timur dan memancarkan cahaya yang begitu hangat untuk Neko Island, semua penduduk langsung bangun dan melakukan aktivitas yaitu meregangkan tubuh.
Kemudian melakukan sedikit pemanasan, Minami membuka kedua matanya lalu ia melihat jam dinding di hadapannya menunjukkan pukul enam, ia segera bangun dan melihat foto yang baru saja di ambil kemarin.
"Kita semua bagaikan keluarga Legenda ya... selalu bersama dan kebersamaan itu tidak akan putus." Minami tersenyum lalu ia mengambil pigura itu dan menciumnya.
"Baiklah, sudah saatnya untuk bekerja keras---" Minami mendengar suara ketukan pintu, ia menghampiri pintu keluar lalu membukanya.
"Selamat pagi, Minami, aku harap kamu tidak keberatan jika aku tidak sengaja membangunkan dirimu." Kata Kou.
"Kou...? Kamu membutuhkan apa dariku?" Tanya Minami.
"Kakak." Kou terkekeh dan Minami langsung tersenyum sehingga memeluknya erat.
"Ahhhhh~ Kamu sekarang sudah menjadi adikku juga ya karena menikah dengan Shucchi, hehehe..." Minami mengelus kepala Kou beberapa kali.
"Aku mengabarkan dirimu pagi-pagi seperti ini karena aku ingin pulang lebih awal untuk mengerjakan sesuatu di Co. Corp." Kata Kou, Minami terkejut ketika mendengarnya, ia menginginkan Kou lebih lama berada di Neko Isle.
"Hehhh... sudah mau pulang?"
"Iya, aku tidak bisa menghabiskan waktu lainnya. Mulai dari sekarang sampai lusa, kesibukan akan terus menyerang diriku dan aku harus berusaha keras...!" Kou mengangguk dengan ekspresi serius.
"Kalau begitu... baiklah, bagaimana dengan Shucchi?" Tanya Minami.
"Shuan bilang ingin menghabiskan waktu lebih lama di Neko Isle bersama teman-temannya..." Jawab Kou dan ia mulai memegang kacamatanya untuk meminta Tech pulang juga.
"Baiklah, hati-hati ya, Kou. Jangan memaksakan dirimu jika kamu sudah merasa lelah." Minami menyentuh kedua pipi Kou lalu ia menggunakan kemampuan perpindahan cahayanya.
Mereka langsung tiba di dalam gedung Co. Corp, Kou mengangguk lalu ia melambangkan tangannya kepada Minami yang memancarkan cahaya emas lalu menghilang juga sambil membalas lambaian itu.
"Waktunya bekerja...!" Kou mulai melompat lalu menoleh kepada gambar Korrina yang besar, ia menghampirinya lalu menyentuhkan kedua tapaknya seperti mencoba untuk berdoa.
"Aku pulang, Mama... hari ini aku akan bekerja keras dan menyelesaikan semuanya dalam satu hari!" Kou tersenyum serius dan ia mendengar Tech baru saja mendarat di belakangnya.
"Nyonya, sudah waktunya untuk mengurus beberapa tugas yang baru saja masuk kepada saya." Ucap Tech, Kou menoleh kepada Tech lalu ia mengangguk.
"Kita mulai dengan mencetak undangan dan tentunya mengumumkan semua orang." Kou berjalan pergi meninggalkan lantai 10 untuk menghampiri ruang kerjanya.
***
Minami masuk ke dalam akademi yang baru saja jadi kemarin, ia sempat mengenakan pakaian yang terlihat seperti guru.
Minami datang hanya untuk melihat-lihat dan ternyata semuanya sesuai dengan apa yang ia harapkan, setelah melihat seluruh ruangan yang berada di akademi itu.
Minami mulai berpikir tentang pernikahan adiknya dan teman lainnya, "Kalau tidak salah kita wajib memberikan sesuatu kepada seseorang yang akan menikah ya...?"
__ADS_1
Minami melakukan perpindahan cepat dan muncul di dalam penginapan, tepat di ruangan Hana yang sedang memakai celana dalamnya.
"Yo, Hana!"
"Kyaaaaa!!! K-K-Kenapa kamu muncul secara tiba-tiba?!" Hana mulai panik karena ia baru saja selesai mandi, Minami terkejut ketika melihat tubuh Hana yang dipenuhi dengan air.
"Itu mu besar juga ya, Hana." Minami terkekeh.
"Apanya?! Kenapa kamu muncul tanpa memberitahuku!? Tidak sopan tahu...!!!"
"Tunggu, bukan itu yang aku maksud. Yang besar adalah kasurnya." Minami mulai tertawa dan ekornya langsung tertarik oleh Hana yang muncul di belakangnya.
"Sekali lagi kamu muncul secara tiba-tiba, aku akan menarik ekor ini loh...!" Ancam Hana.
"S-Sakit... jangan menariknya dengan kasar!" Ucap Minami yang terlihat kesakitan, Hana melepasnya lalu ia dengan cepat segera mengenakan semua pakaiannya itu.
"Jadi...? Kamu butuh apa, Minami?" Hana duduk di atas kasurnya selagi menata rambutnya menjadi gaya ekor kuda.
"Apakah wajib memberi sebuah hadiah kepada orang yang mau menikah?" Tanya Minami sambil menggerakkan ekornya.
"Tentu saja, di pikir-pikir... Adikku juga akan menikah jadi aku perlu memberikan dirinya sesuatu, mungkin sebuah kue?" Hana selesai menata rambutnya lalu ia menatap Minami yang sedang berpikir.
"Sulit juga... enam orang akan menikah dan aku sendiri tidak tahu harus memberi apa. Untuk Shuan dan Kou aku sudah ada..." Gumam Minami, Hana langsung merasa penasaran ketika mendengarnya.
"Ehh? Kamu sudah memutuskan apa yang aku berikan...? Boleh aku mengetahuinya?" Tanya Hana.
"Tergantung pasangan itu sih...?"
"Tunggu, apa yang kau maksud dengan tergantung? Bukannya Legenda kecil akan muncul ketika dua pasangan sudah menikah...?" Tanya Minami, Hana langsung tercengang ketika mendengar Minami tidak tahu proses tentang anak dari keluarga.
"Tidak-tidak... apakah kau bodoh atau semacamnya...? Apa kau mengerti kedatangan seorang anak dari dua pasangan yang sudah menikah?" Tanya Hana untuk memastikan.
"Sudah aku bilang sebelumnya bukan...? Dua pasangan ketika sudah menikah akan mendapatkan sebuah keberkahan anak dimana perut sang istri akan membesar...?" Minami menjawabnya dengan tatapan polos.
"Tidak...! Itu salah...!!!"
"Hahahaha, aku tahu kok, mereka akan saling---"
"Minami!!!"
"Iya-iya... kenapa kamu marah-marah terus sih kepadaku...?" Minami menghela nafasnya lalu ia mengeluarkan sebuah ikat kepala.
"Kamu sendiri yang memulainya..."
"Aku akan memberikan Shuan semua peralatan yang aku pernah kenakan sejak kecil... jubah, penutup mata, dan ikat kepala agar anaknya mau mengenakan semua itu." Minami memegang erat ikat kepala itu lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ahh, itu terdengar tidak buruk juga. Kamu seperti mewarisi semua kesenangan itu kepada keponakanmu ya..." Hana tersenyum ketika mengetahui hadiah Minami terdengar cukup bermanfaat.
"Itu benar... semoga saja keponakanku tidak menjadi seorang Neko Legenda yang tidak waras sepertiku sejak kecil dan aku juga mengharapkan banyak mimpi untuknya..."
Hana terkejut ketika melihat ekspresi Minami yang terlihat sedih, ia baru saja sadar bahwa Minami pernah mengalami banyak kesakitan dan penderitaan sejak kecil sampai ia mengerti apa yang Minami maksud.
"Semoga saja keponakanmu itu bisa hidup bahagia dengan Kou dan Shuan, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja karena lahir di keluarga yang kaya berkat Kou." Hana tersenyum.
"Benar, aku ingin keponakanku bisa terus merasakan kebahagiaan dengan menerima semua barang yang aku gunakan sejak itu." Minami terkekeh lalu bangkit dari atas kursi.
"Kalau begitu, mari kita bahas bersama-sama dengan yang lain. Aku akan mengajak Mitsuki, Asriel, dan yang lainnya untuk membahas hadiah pernikahan ini." Minami mengulurkan lengan kanannya.
"Tunggu... jangan coba-coba untuk melalukan perpindahan lagi. Kau bisa saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat tadi." Kata Hana sehingga ia mulai memegang erat tangan Minami.
"Lakukan perpindahan ke tempat yang dekat dengan mereka saja agar tidak memunculkan kesalahpahaman." Kata Hana, Minami mengangguk lalu ia bersama Hana menghilang dan muncul tepat di ruang penginapan seluruh temannya.
Beberapa menit kemudian, Minami berhasil mengumpulkan semua temannya untuk berkumpul di taman Neko Legenda yang saat ini dipenuhi dengan anak-anak yang sedang bermain.
"Ahhh... soal hadiah pernikahan ya? Banyak juga sih tetapi aku sudah bisa menebak apa yang ketiga saudara itu inginkan." Kata Mitsuki.
"Madu, Vodka, dan pir. Kesukaan keturunan Comi memang dapat di tebak karena mereka sering membawa dan menunjukkannya di hadapan kita." Marie terkekeh.
"Soal madu mudah untukku, aku dapat menciptakan beberapa lebah emas untuk menciptakan madu yang berkualitas baik dengan tambahan emas di sekitarnya..." Kata Minami.
Mereka semua tercengang ketika melihat Minami melepaskan beberapa lebah melalui kedua tapak tangannya, semua lebah itu terbang pergi untuk mengumpulkan madu berkualitas baik.
Madu yang Minami inginkan adalah madu sehat untuk ketahanan tubuh Kou dengan tambahan warnanya emas, ia juga mulai maju ke depan lalu menciptakan bibit besar dari tangan kanannya.
"Kalau soal pir, aku juga dapat menciptakan pohon emas yang menghasilkan pir emas... Honoka sangat menyukainya." Minami berhasil menyembuhkan pohon emas besar yang menjatuhkan pir emas.
Setelah itu, pohon tersebut langsung menghilang menjadi daun emas yang Minami ubah kembali menjadi Lenergy, mereka semua langsung bertepuk tangan kepada Minami.
"Ehh...? Ahahaha... jangan bertepuk tangan seperti itu, aku jadi malu." Kata Minami sambil menggaruk kepalanya sendiri.
"Baiklah, semua hadiah utama ini sudah kita kumpulkan, hanya saja kita mendapatkan sebuah kendala dari Vodka karena kita perlu mengunjungi Yuutouri." Minami menghela nafasnya.
"Tunggu, bagaimana jika memesannya kepada Co. Corp saja? Pasti bisa berhasil karena Co. Corp menyediakan berbagai macam hal seperti barang manusia juga." Saran Asriel.
"Ide yang bagus, sekarang kita hanya perlu mengurusi soal hadiah untuk anak-anak mereka."
"Hadiah pernikahan sudah pasti cocok jika kita memberikan barang-barang yang berkaitan dengan bayi dan anak-anak bukan...?"
"Secepat itu...?!" Lyazen terkejut ketika mendengarnya.
"Ya, persiapan saja sih. Aku tidak ingin mereka sampai harus membeli semua peralatan itu, lebih baik menyiapkan sejak awal saja agar mereka bisa mengurusi bayi itu." Minami tersenyum.
__ADS_1
Mereka semua menatap satu sama lain lalu mengangguk, "Kami akan mengikuti dirimu, Minami..."
"Baiklah, kalau begitu... mari kita berbelanja!"