
"Kenapa kalian terkejut seperti itu? Aku masih tetap akan bermain dengan kalian kok..." Honoka memegang kedua dagu temannya lalu ia tersenyum senang.
"Kali ini, biarkan aku merasakan arti dari kebahagiaan itu sebelum terlambat. Tentunya bersama kalian adalah momen yang cukup membahagiakan bagi diriku..." Honoka memeluk erat Hana dan Minami.
"Hana, kau sudah menjadi istri resmi Minami bukan?" Honoka mulai bercanda, menyebabkan Hana tersipu merah lalu melepaskan pelukan itu.
"A-A-Apa yang kamu katakan...!? Hentikan...!"
"Hahaha."
"Hehhh... Kenapa kamu marah dan menolak seperti itu, Hana? Kamu kan istri pertamaku." Minami terlihat kecewa ketika mendengarnya bahkan sampai membuat Hana mulai tersipu lebih merah lagi.
"Apa yang kamu maksud dengan istri?! Kamu seorang gadis juga Minami, dua gadis saling bercinta adalah hal yang salah!" Ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Kau tahu aku telah meninggalkan harga diriku sebagai seorang wanita, itu artinya aku hanya sekedar Legenda yang menganggapmu sebagai istriku..."
"...sekarang mari kita ciuman~" Minami mulai mendekati Hana tetapi Hana menolaknya dengan memasukkan air ke dalam mulutnya.
"Gugghh... Uhugh...!" Minami langsung batuk dan menatap Hana dengan tatapan kecewa bahwa ia sebenarnya hanya bercanda dan mempermainkan dirinya yang mudah percaya.
Arata juga bahkan sempat panik, satu gelas kopi yang ia pegang sampai pecah karena takut putrinya tercemar, sama seperti adiknya yang menikah dengan satu jenis yang sama yaitu wanita.
"Sudah, sudah, kenapa kau terlihat panik seperti itu?" Tanya Ophilia.
"Aku hanya trauma soal Akina... semoga Hana bisa secepatnya menemukan jodoh agar ia dapat menikmati kehidupan seimbang dengan mencintai laki-laki."
Haruka menatap Honoka dengan sebuah senyuman, "Kamu yakin ingin menikah secepat itu?"
"Walaupun aku dan Bakuzen baru saja mengenal beberapa hari, kita tidak memerlukan hubungan pacar yang berakhir tidak sehat." Sindir Honoka, menyebabkan tubuh Haruka terus di tusuk-tusuk oleh pedang.
"Aku ingin mengikuti apa yang Mama katakan sejak itu, menikahlah dengan laki-laki yang membuatmu nyaman dan senang."
"Jika sanggup jangan lah berpacaran, lebih baik menikah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan yang sama seperti pacaran..."
"...bergandeng tangan, ciuman, dan tentunya melakukan sek---"
"Oke! Oke! Aku mengerti... hentikan perkataanmu yang mengandung banyak pedang seperti itu." Haruka terus di serang oleh sindiran Honoka bahwa ia telah membantah permintaan Korrina.
Kou terlihat santai saja karena ia tidak pernah melakukan hal itu sering dan sekarang ia bebas melakukan apapun karena sudah memiliki kewajibannya sebagai istri.
"Bakuzen ya... aku tidak menyangka kamu akan memiliki seseorang yang gila dengan ledakan." Kata Haruka sambil menatap Bakuzen yang saat ini sedang dipermainkan oleh Shuan dan yang lainnya.
"Aku menyadari arti dari ledakan, ternyata mengandung banyak makna yang mampu membuatku senang seketika..."
"...apapun masalahnya, ledakan solusinya." Honoka terkekeh dan ia mulai membandingkan cincin yang ia kenakan dengan kedua saudaranya yang sangat berbeda.
"Hebat ya, Kakak dan Kou di beri cincin berwarna merah... kesukaanku karena mengandung warna dari sihir keturunan kita." Honoka memegang erat cincinnya lalu ia memejamkan kedua matanya.
"Setidaknya aku bisa hidup tenang dan melanjutkan kehidupan baru tanpa harus mengandalkan kalian juga..."
"...jika kalian menikah maka aku juga harus karena itu kewajiban kita sebagai keturunan Comi, wajib untuk menikah dan meneruskan keturunan yang mampu mengalahkan kutukan itu."
"Hm, Kakak benar." Jawab Kou yang baru saja mencicil pekerjaannya.
__ADS_1
Malam ini adalah malam yang cukup panjang bagi mereka semua karena dalam tiga hari kemudian akan terjadi pernikahan yang begitu besar dimana tiga saudara Comi akan menikah bersama.
"Semuanya..." Shira mulai berbicara kepada seluruh Legenda yang berada di dalam restoran itu, mereka menoleh kepada Shira.
"Untuk merayakan kebersamaan kita selama bertahun-tahun, bagaimana jika kita mengambil sebuah foto keluarga yang besar untuk di jadikan sebuah kenangan?"
"Masa depan masih bisa menunggu dan aku yakin kita di masa depan akan merasakan perasaan yang begitu bahagia ketika melihat foto tersebut."
Apa yang baru saja Shira katakan menarik perhatian mereka semua, keluarga yang berkumpul mengambil foto bersama seperti anggota keluarga yang dekat.
"Itu ide yang bagus... ayo, kita lakukan. Aku bisa meminta Tech untuk mengambil foto itu." Kata Kou.
Mendengar Shira memiliki ide yang cukup baik membuat mereka semua setuju, Shira mulai menyarankan pantai yang begitu luas agar foto itu juga memiliki keindahannya sendiri dari pemandangan belakang.
Mereka semua bergegas keluar dan menghampiri pantai yang terlihat begitu indah, walaupun sekarang pukul tengah malam, suasana terasa begitu ramai karena masih terdapat beberapa penduduk yang bangun.
Langit-langit juga masih memancarkan cahaya yang begitu indah kepada pulau Neko Legenda, mereka semua mulai berkumpul dan berdiri di posisi mereka masing-masing.
Tech saat ini sudah menyiapkan sebuah kamera dan ia bisa melihat mereka semua berkumpul layaknya seperti keluarga dan teman yang begitu dekat.
"Melihat semua ini terjadi..." Shira mulai berbicara dan Megumi bisa mendengarnya.
"...entah kenapa terasa seperti mimpi indah. Semua yang kita alami bersama dari nol mampu memberikan hasil yang besar sampai titik ini."
"Kamu benar, Shira... pertemuan kita menyebabkan semua ini terjadi." Megumi terkekeh dengan pipi yang memerah.
"Ada benarnya juga... semua itu adalah takdir."
Awal cerita dan sejarah yang begitu panjang, di mulai oleh kedatangan Shira yang sempat bertemu Megumi untuk pertama kalinya.
Perkembangannya juga di bantu oleh Korrina yang mau mengajarkan dirinya berbagai macam hal tentang bangsa Legenda dan kekuatan tersembunyi yang terdapat di dalamnya.
Ia berhasil melindungi sebagian dari bangsa Neko Legenda dan menyelamatkan Megumi, setelah mengalahkan raja yang bernama Rionald.
Petualangan Shira berlanjut dengan mengikuti turnamen permohonan, di situlah takdir yang cerah muncul dimana ia bertemu dengan seluruh teman-temannya seperti Arata, Haruki, Shizen, dan Yuuna.
Setelah menyelesaikan turnamen, terjadi sebuah masalah yang muncul tiba-tiba dan penyebabnya adalah iblis dengan rajanya yang bernama Rxeonal.
Menyebabkan kehancuran besar untuk pertama kalinya di semesta Touri bahkan sampai membuat seluruh ras turun tangan untuk melindungi semesta mereka yang terus di serang oleh bangsa Iblis dan Giblis.
Shira bersama seluruh temannya bertarung bersama demi mengalahkan Rxeonal yang mendapatkan bantuan lainnya dari seorang dewi bernama Mortem dan dewa bernama Shinku.
Shira berhasil meraih kembali kedamaian berkat bantuan seluruh penghuni Touri dengan meminta semua harapan yang ia jadikan sebagai kekuatan.
Shinku sendiri terbunuh oleh Korrina yang berhasil menguasai Grimoire dan menghancurkannya, Shira awalnya mengira bahwa semua masalahnya selesai tetapi ia salah karena konflik selanjutnya jauh lebih sulit.
Ia harus melawan Korrina palsu yang bernama Komi dengan tujuan untuk menghapuskan semesta asli, ia juga memiliki tujuan lainnya untuk menghidupkan cucu sang pencipta bernama Zangges.
Kali ini konflik tersebut bertambah begitu besar sampai menyebabkan masalah kepada seluruh alam semesta yang bernama Touriverse.
Shira berhasil meraih kemenangan berkat strategi dan tekadnya untuk terus bertarung, satu serangan cahaya yang ia kumpulkan dari Touriverse, ia berhasil menghapus tubuh asli Zangetsu.
Kedamaian yang panjang telah Shira raih sepenuhnya sampai ia mewariskan harapan itu kepada putri pertamanya Minami yang mengalami masalah juga soal temannya Haruka.
__ADS_1
Minami melawan Kuharu untuk menyelamatkan Haruka dari kelumpuhan yang ia alami karena sihir waktunya itu.
Semua penerus orang tua seperti Shira, Arata, Haruki, Korrina, dan Yuuna bertarung demi menyelamatkan Haruka dengan mengalahkan Kuharu sebagai dewi agung waktu.
Masalah kecil yang dapat menyebar itu berhasil di cegah oleh Minami sehingga Touriverse masih berada di tahap kedamaian selama bertahun-tahun sampai generasi dan era terus maju.
Menyebabkan turnamen permohonan lain muncul, Minami dan adiknya Shuan mengikuti turnamen itu dengan tujuan untuk menyelamatkan Kou dari penyakitnya dan seluruh temannya juga ikut membantu.
Turnamen itu juga mengalami kendala yang hampir sama dengan yang dulu dimana dua iblis menyerang dan mencoba untuk membalas dendam terhadap ayah mereka masing-masing.
Untungnya, Shuan dan Minami berhasil mengalahkan kedua iblis itu berkat hasil dari latihan yang mereka lakukan bersama sampai turnamen permohonan tetap berlanjut.
Dengan ketiga pemenang yang berhasil mendapatkan permohonan yang mereka inginkan sehingga sekarang, semua masalah dan konflik terselesaikan.
Kedamaian tetap menyelimuti Touriverse, perjuangan mereka mampu mencatat banyak sejarah dan cerita yang begitu baru sampai mereka semua tidak menyangka bisa berkumpul di satu tempat.
Bersama dengan penerus dan generasi baru, berhadapan dengan kamera besar di hadapan mereka yang siap untuk mengambil foto kebersamaan keluarga dan pertemanan.
"Baiklah, apakah kalian sudah siap?" Tanya Tech.
"Ahh! Tunggu, Tech!" Ucap Kou, ia menghampiri Tech lalu menyentuh tubuhnya untuk membuka sebuah simpanan yang terdapat di dalam perutnya itu.
Kou mengambil sebuah pigura besar yang memiliki foto Korrina lalu ia kembali menghampiri posisinya yaitu berada di tengah-tengah kedua kakaknya.
"Ahh... benar juga... terasa kurang juga jika ia tidak ikut berfoto bersama kami." Ucap Shira.
"Sampai sekarang dia belum pernah pulang, jauh lebih parah dari Haruki sepertinya." Kata Arata.
"Heh...?"
"Tidak apa, dengan memegang pigura yang memiliki wajah Mama, aku yakin ketika dia pulang nanti foto yang akan di ambil bisa menjadi kenangan dan sumber kebahagiaannya sendiri." Kou tersenyum lalu menatap ke depan.
Mereka semua mulai menatap kepada kamera yang Tech pegang, "Baiklah... jangan lupa untuk mengatakan Legends Never Dies."
"Satu... dua... tiga..."
""Legends Never Dies!"" Ketika mereka semua mengatakannya bersama, Tech berhasil mengambil foto yang terlihat begitu indah sampai kamera yang ia pegang langsung mencetak foto itu.
Kou segera meminta Tech untuk mencetak foto itu lebih banyak lagi agar mereka semua bisa melihatnya.
Beberapa menit kemudian, mereka berhasil mendapatkan foto itu dan sekarang foto yang mereka pegang terus di lihat dengan senyuman bahagia yang tertera di wajah mereka.
"Ini akan menjadi kenangan yang sangat bagus..." Kata Shira.
"Penuh dengan kenangan dan perjuangan kita semua dalam melindungi Touriverse." Kata Arata.
"Jika kita sempat menyerah dalam menghadapi konflik itu maka foto ini tidak akan pernah ada." Kata Haruki.
"Foto ini dapat memancarkan kebahagiaannya sendiri ketika kita di masa depan nanti melihatnya kembali..." Kata Yuuna.
"Waktu berjalan begitu cepat sampai kita tidak akan menyangka bahwa satu foto akan terisi dengan banyak orang." Kata Shizen.
Shira terus menatap foto itu lalu ia tersenyum serius, "Aku menantikan apa yang akan terjadi..."
__ADS_1
"...di masa depan nanti."