
Dengan sedikit sempoyongan, Shuan berhasil mengantar Kou sampai rumahnya. Kou meminta maaf kepada Shuan bahwa ia sudah cape-cape mengajak dirinya ke tempat itu untuk melihat pemandangan tetapi demam kecilnya malah mengganggu, Shuan merasa tidak begitu keberatan karena tidak penting, prioritas utama adalah kesehatan Kou jadi ia tidak ingin mengajak dirinya ketika kondisinya sedang buruk seperti tadi.
"Untung saja aku cukup teliti melihat ekspresimu tadi yang terlihat lemas..." Kenangan yang selalu terpendam, dan saat mengingat itu, Shuan langsung memejamkan mata. Kou melihat Shuan tiba-tiba memejamkan mata seperti itu, ia mulai menyentuhnya lalu menulis perkataan lainnya.
[Shuan, ada apa?].
"Ahh, enggak apa-apa kok, cuman sedikit lapar saja..."
[Ahh... gara-gara kamu mengajak diriku tadi ya? Jangan-jangan kamu awalnya berencana untuk sarapan tetapi lebih baik untuk mengajak diriku? Setelah kamu mengantarku ke kamar, sarapan saja dulu sana...]
"Tidak apa-apa, aku tidak peduli dengan makanan atau apapun itu. Masa bodoh, aku tidak mau semuanya menjadi repot, menyusahkan tahu. Walaupun terlambat setidaknya perutku terisi! Kalau sudah sembuh, kita sarapan bersama."
[Terima kasih, Shuan.], Kou tersenyum, Kou yang sempoyongan karena kehilangan keseimbangan, akhirnya jatuh ke arah Shou tetapi ia secara refleks berhasil menangkap dirinya sehingga wajah mereka sangat dekat sekali sehingga wajah Kou berubah menjadi merah dan mengeluarkan asap melalui kepalanya, ia dikejutkan dengan sedikit suara Kou yang imut tetapi ia tidak bisa mendengar apa yang coba ia katakan.
Melihat wajah Kou sedikit itu membuat Shuan kehilangan ekspresi seriusnya, saking dekatnya wajah mereka bisa saja bibir mereka bertemu jika melakukan pergerakan yang salah. Badan Kou yang terasa ringan karena tidak memiliki kekuatan dan Lenergy di dalamnya dan semerbak aroma wangi dari rambutnya yang warna merah serta kehangatan tubuhnya yang tersampaikan pada Shuan.
"Tubuhmu panas, sebaiknya segera istirahat." Intinya sekarang yang paling penting adalah kesehatan, ia mengatakannya selagi menahan perasaannya.
[Iya, terima kasih, ya].
[Tubuhku panas bukan karena demam].
"Hm...?"
[Gara-gara demam, tidak mungkin panas seperti ini.]
__ADS_1
"... ..."
[Ahh, tidak apa-apa, lupakan... demam ya, demam benar... terima kasih], setelah itu Kou mengambil jarak dari Shuan dan tersenyum malu.
[Pokoknya aku harus sembuh dulu, minum obat, terus langsung tidur.]
"Senang dengarnya, bagus lah." Shuan melihat sisi lainnya dari Kou yaitu kecantikan dirinya sehingga ia tadi awalnya mengharapkan Kou ingin digendong oleh dirinya tetapi ia juga harus tetap berpikir jernih, jangan sampai memikirkan yang tidak-tidak seperti orang gila karena terlalu banyak berharap. Lembut juga, tubuh Kou, itu yang dipikirkan oleh Shuan sampai ia mencoba untuk memikirkan kembali rasanya sehingga wajah Kou tambah merah karena ia dapat membaca pikiran dan perasaannya.
Merasakan itu saja sudah membuat Shuan bertambah semangat sampai ia ingin berlatih dengan penuh kekuatan karena motivasinya untuk mengalahkan Minami dan Shira bertambah besar, Kou terkejut karena ia seharusnya tidak terus membaca pikiran Shuan sebelum ia mengetahui sebuah fakta yang lebih memalukan. Jarak Shuan dan Kou semakin dekat, apalagi, jarak mereka tadi dekat secara fisik.
Hasilnya detak jantung mereka sekarang berdetak cukup luar biasa, mungkin saja itu batas dimana mereka mampu menahan nafsunya terutama Kou, ia merasakan semua perasaan ini pertama kali dalam seumur hidupnya dan Shuan juga sama, perkataan Megumi mulai ia ingat bahwa cinta adalah hal yang normal tetapi ia hanya ingin menganggap Kou sebagai teman, tidak lebih dari itu.
Beberapa menit kemudian, Kou sudah berbaring di atas kasur Minami dengan wajah yang memerah karena ia membaca seluruh perasaan Shuan dengan jelas sehingga suhu tubuhnya bertambah tinggi sampai membuatnya berkeringat. Ia menyesal kepada dirinya sendiri karena demam di waktu yang kurang tepat, seharusnya tadi ia bersama Shuan menikmati pemandangan dari lautan di pagi hari.
Setelah diantar oleh Kou menuju kamar, saking lelahnya Kou mulai menepuk wajahnya beberapa kali dengan bantal karena rasa penyesalan dan malu yang digabung menjadi satu. Ia sudah disediakan makanan, obat, dan minuman oleh Shuan sedangkan ia sendiri mulai menjaga dirinya dengan duduk di atas jendela selagi menatap kota dengan tatapan yang terlihat serius, Kou melihatnya lalu ia tersenyum karena ia terlihat begitu peduli dan sangat baik.
Padahal dulu Kou berpikir bahwa Shuan ketika masih bayi itu terlihat imut dan pantas untuk dijadikan sekedar teman saja tetapi kenapa semuanya bisa berubah seperti ini sampai perasaan yang baru muncul seketika, tidak ia sangka akan jatuh cinta padanya. Ia terus mengatakan cinta di dalam hatinya, melihat wajah Shuan saja membuatnya cukup senang jadi itu arti cinta yang dikatakan oleh Korrina.
Memikirkan Shuan, membuat hati Kou merasa hangat dan nyaman sehingga ia tersenyum sendiri dan terkekeh pelan-pelan, mencoba untuk membuat Shuan tidak menyadarinya karena ia bisa marah kapanpun, Kou menyadari Shuan sebagai laki-laki yang begitu tegas dalam soal apapun, ia juga tidak menyukai sesuatu yang menyusahkan dan merepotkan. Kou masih terus cengar-cengir sendiri karena ia sadar bahwa dirinya sedang jatuh cinta di masa remajanya, ia sendiri merasa tidak percaya.
Mungkin karena deg-degan, tubuh Kou terus bergetar sendiri. Kou ingin cepat sembuh dan menghabiskan waktu bersama dengan Shuan sehingga ia ingin memberanikan diri untuk yang pertama, menyatakan sesuatu bahwa ia cinta padanya. Kou tertidur dan Shuan mulai memperhatikan dirinya sambil menikmati sarapan-nya, ia tidak sengaja melihat baju piyama-nya itu yang sedikit terbuka di bagian kerah, menunjukkan lehernya dengan sedikit garis merah di bagian bawahnya.
Shuan langsung menatap arah lain karena tidak pantas untuk dirinya melihat seorang gadis yang sedang tertidur bahkan pakaiannya sedikit terbuka seperti itu membuat keadaan semakin buruk, tidak baik untuk seorang laki-laki mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia menikmati kembali sarapan-nya dengan menatap langit-langit yang begitu biru karena menjatuhkan berbagai macam partikel biru yang terasa begitu dingin, ia merasa penasaran dengan yang lain saat ini sedang apa karena mereka belanja lama sekali.
Karena masih sempat dan rasa penasaran-nya yang tinggi, Shuan menatap Kou kembali, ia bisa melihat wajahnya yang begitu merah. Terlihat begitu indah dan cantik baginya sampai ia tidak sadar bahwa dirinya tersipu dengan ekspresi seriusnya, ia menatap arah lain lagi karena sebentar lagi ia akan berlatih dan menghabiskan waktu sampai Kou kembali bangun.
__ADS_1
Sesudah Shuan menghabiskan makannya, ia mencuci piring dan kembali ke kamar Minami untuk melihat keadaan dan ternyata ia terkejut ketika melihat Kou sudah bangun lebih awal dengan ekspresi yang terlihat biasa saja. Mungkin demamnya sudah turun, ia mencoba untuk menanyakannya dan Kou tersenyum lalu mengangguk bahwa tidur sebentar saja sudah cukup untuk menyembuhkan demam yang kecil.
Suasana kamar Minami terasa sangat panas dan dipenuhi kecanggungan sekarang, tidak ada yang memulai pembicaraan karena rasanya begitu aneh. Shuan yang belum siap dikejutkan dengan Minami yang sudah bangun lebih awal, Kou juga kelihatan gugup jadi mereka berdua sama-sama merasakan ketegangan.
"Sepertinya kamu masih membutuhkan istirahat lebih lanjut lagi, Kou. Biasanya demam kecil memang seperti itu, kadang naik dan turun, aku akan berlatih..."
[Ah, sudah cukup sehat kok, jika kamu ingin berlatih setidaknya istirahat dulu sebentar dan temani aku disini.]
"Baiklah..." Lebih baik jika Shuan terus berada disisinya, mungkin Kou juga bisa merasa lebih sehat dari sebelumnya.
Tetapi jika ia tidak berada di ruangan yang sama dengan Kou maka ia sudah pasti akan tertidur lagi dengan cepat, kebingungan muncul seketika dan mereka tidak tahu harus apa selanjutnya karena rasa canggung yang berlebihan.
Kou menatap Shuan, melihat itu, Shuan langsung teringat kata-kata Minami bahwa yang berkaitan tentang menyemangati dirinya untuk melaksanakan tujuannya dengan baik, tujuan itu Shuan semakin bersemangat untuk melakukannya karena Minami sangat mendukungnya sehingga ia sekarang berduaan di dalam kamar, Shuan tidak ingin melepaskan kesempatan satu-satunya ini karena semua orang sedang pergi.
Bisa dibilang Shuan adalah penyerang yang sudah ada di depan gawang lawan karena ada kesempatan itulah, ia harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tujuan tersebut. Benar, Shuan harus bisa melaksanakan tujuan itu dengan baik dan benar sampai terselesaikan secara keseluruhan.
"Kou---"
"Permisi!!!" Seru Haruka keras sehingga Kou dan Shuan terkejut seketika mendengar suara Haruka dari bawah, Haruka awalnya sudah mengatakan permisi berkali-kali tetapi tidak ada yang menjawab sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam rumah, dengan cepat Shuan berubah menjadi cahaya untuk menembus ruangan dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Haruka dan Rokuro masuk ke dalam rumah Shira, mereka tidak melihat siapapun dan Haruka bisa merasakan keberadaan Shuan dan Kou yang begitu dekat sebelumnya tetapi Shuan tiba-tiba menjauh, ia menghampiri kamar Minami dan melihat Kou yang sedang mengembungkan pipinya kepada Haruka karena sebal kesempatan tadi di sia-siakan oleh Kakaknya.
"Kou, aku kembali--- Ehh, kenapa ekspresimu?" Tanya Haruka, ia melihat Kou semakin kesal bahkan pipinya semakin ia kembungkan karena waktu mereka berdua diganggu oleh dirinya sehingga ia tidak menyadarinya.
Kou mengalihkan pandangannya lalu ia mengeluarkan sebuah catatan yang mengatakan, [Kakak, bodoh! Bodoh! Bodoh!]
__ADS_1
"Heehhhhh!? Kenapa!?!?"