
"Berdasarkan info yang kita ketahui tentang sistem kepemimpinan, kita harus bisa melindungi pemimpin kita dengan cara yang kreatif, jika kita terlalu dekat dengannya bahkan sampai menciptakan sebuah grup maka salah satu dari kita bisa saja ditebak..."
"...kita juga harus bisa memecahkan rencana mereka dalam melindungi pemimpin mereka..." Asriel memulai pembicaraan.
"Sudah tugas Shuan atau Haruka untuk menjaga Kou bukan...? Tetapi kita semua harus bisa menjaga Kou dari dekat dan jauh, jangan sampai bersikap mencurigakan. Jika terdapat murid asing yang curiga maka kita tantang saja, kau pasti memiliki rencana 'kan?"
Rokuro menatap Shuan dan ia mengangguk lalu membahas kembali tentang Minami yang diserang oleh angkatan ketiga, intinya mereka harus tetap fokus dalam menyingkirkan angkatan ketiga karena sikap sombong dan songong mereka yang cukup menyebalkan bagi dirinya.
"Kita bagi-bagi saja pekerjaannya menjadi dua atau tiga... angkatan dua sepertinya main aman dan kita lebih baik jika menyerang angkatan yang sama dan ketiga."
"Aku tentunya akan menyingkirkan angkatan yang pertama bersama yang lainnya sedangkan kalian bertiga, aku memiliki harapan besar untuk kalian agar bisa mengalahkan angkatan tiga!"
Haruka menunjuk Shuan, Rokuro, dan Asriel. Sepertinya mereka harus membereskan masalah angkatan tinggi yaitu mengalahkan 3-S karena mereka pernah mendengar tentang murid dari kelas itu dipenuhi dengan kekuatan yang mengerikan.
Tidak lama kemudian, semua murid keluar dari kelas mereka masing-masing untuk menikmati waktu istirahat yang lumayan panjang.
Seperti biasanya mereka berpencar untuk mengumpulkan poin karena perut mereka masih terasa kenyang, kebetulan Rokuro pergi bersama Haruka karena ia mengajak dirinya untuk ikut sebentar.
Shuan saat ini sedang pergi bersama Asriel untuk membeli minuman agar mereka bisa beristirahat sebentar setelah bertarung dengan murid yang akan Shuan curi kartunya.
"Shuan, apa yang akan kau rencanakan setelah ini...? Apakah kau ingin menerapkan sistem kepemimpinan dan poin secara langsung?"
"Sebagian murid di akademi ini memiliki bakat kecerdasan yang begitu hebat jadi kita tidak bisa mengikuti sistem nilai, lebih baik kita gunakan harga diri kita sebagai seorang Legenda untuk terus bertarung, bukannya begitu?" Tanya Asriel
Shuan mengangguk dan setuju dengan perkataannya karena ia hanya ingin menghajar beberapa murid untuk mendapatkan poin dan ia juga ingin sekali menarik musuh agar semua ujiannya bisa berjalan dengan cepat.
"Aku sempat merasa khawatir dengan murid yang masuk peringkat di sistem nilai, angkatan ketiga bisa saja mengincar mereka terutama lagi kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh angkatan kedua."
"Akan lebih baik jika menyingkirkan mereka satu per satu tetapi aku jarang sekali melihat murid angkatan tiga yang lewat, walaupun pernah melihat setidaknya di pandanganku mereka terlihat begitu lemah..."
"...ditambah lagi, angkatan ketiga dan kedua memiliki tempat persembunyian mereka masing-masing di kota ini, entah itu dimana."
"Lebih baik aku mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk bisa membeli informasi melalui gedung informasi yang sudah mengetahui seluruh rute kota ini."
"Aku ingin mencari tempat persembunyian kelas 3-S lalu mengalahkan mereka satu per satu, aku masih belum yakin dengan kekuatanku ini tetapi aku membutuhkan bantuan kalian semua." Kata Shuan.
"Kita harus menyingkirkan kelas 3-S dan angkatan tiga lainnya yang berada di bagian ke empat, Ibu Sakura bilang bahwa kita hanya perlu mementingkan senior terlebih dahulu yang sudah memiliki pengalaman besar sekali.
__ADS_1
"Percuma saja jika kita menyingkirkan angkatan yang sama, kita bisa saja dijadikan alat oleh kakak kelas kita, Minami sendiri bahkan diserang oleh angkatan yang sama tetapi salah satunya berasal dari angkatan tiga..."
"...ingatlah angkatan tinggi lebih berpengalaman, mengetahui segala sistem, dan memiliki cukup kekuatan untuk membayar seseorang untuk melakukan sesuatu, seperti memanfaatkan mereka."
"Aku tidak suka mendengarnya tetapi kita manfaatkan balik saja situasinya... Minami dan Honoka mendapatkan banyak keuntungan, kita juga harus---"
Asriel menghentikan pergerakannya ketika melihat Shuan mengangkat lengan kanannya, ia berada di lorong yang begitu sepi dan ia sendiri tidak bisa melihat kamera pengawas dimana-mana melainkan hanya lorong yang begitu panjang dan sepi.
"Terlalu banyak berbicara... kita sampai tertipu oleh sesuatu, apakah ini ilusi...?" Asriel mencoba untuk lari ke depan tetapi ia muncul kembali berada di sebelah Shuan, terjadi gejala yang aneh dan mereka tidak mengetahui itu berasal dari mana.
"Situasi membingungkan dan menyebalkan seperti ini, kita berada di masalah yang disebabkan oleh angkatan ketiga."
"Kakakku juga bilang bahwa mereka memiliki semacam alat yang dapat menguntungkan mereka untuk menyerang secara diam-diam dan ilegal"
"Mereka memiliki biji yang cukup besar untuk bisa menghadapi kita langsung di lorong akademi ini... sialnya kita berada sangat jauh dengan kantin." Kata Shuan.
Ia memperlihatkan peta di kartunya itu, Asriel bisa menyadarinya lalu ia menoleh ke belakang karena mencium aroma yang sangat tidak sedap.
"Tidak ada pilihan lain, kita balikan keadaan. Aku ingin sekali menghajar semua angkatan ketiga, tidak ada kata lari! Bertarung saja!!!" Seru Shuan keras.
Ia mengeluarkan Golden Moon untuk menghilang gravitasi agar semua barang yang berada di jarak 5 meter dari Golden Moon langsung melayang bahkan Asriel bisa merasakan aroma tidak sedap itu bertambah kuat.
"Kita tidak bisa merasakan keberadaan seseorang karena berada di area kota ini yang memiliki sihir segel kuat..."
"...kita harus mencari mereka dengan pelan-pelan dan gunakan strategi untuk bisa mengalahkan mereka." Kata Asriel.
Shuan mengangguk lalu ia menghilangkan Golden Moon itu sehingga terdengar tabrakan dari depan dan belakang, dengan cepat mereka berpisah dengan Shuan yang lari ke depan sedangkan Asriel ke belakang.
"Huggghhhhhh!!!" Shuan memuntahkan darah yang berjumlah banyak ketika ia menginjak lantai yang terasa begitu ringan.
Shuan mulai terjatuh dan tubuhnya diselimuti dengan angin yang terasa begitu dingin bahkan sampai membuat seluruh organ tubuhnya mendadak tidak berfungsi karena angin yang terasa sangat dingin itu.
Sebagian dari angin es itu mulai masuk ke dalam mulut Shuan untuk mengeluarkan semua darah yang ia miliki.
"Kau cukup gegabah ya, Shiratori Shuan... aku tidak menyangka kau akan masuk ke dalam perangkapku, jika kau maju ke depan maka kau akan melawan diriku sedangkan Asriel sepertinya akan melawan musuh yang lebih mengerikan dengan kemampuannya itu..."
Terdengar suara seorang murid tepat di belakang Shuan, ia sempat melirik ke belakang dengan kedua penglihatan yang kabur, ternyata murid yang menyerang adalah seorang ras naga yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan angin yang terasa dingin.
__ADS_1
Angin itu juga cukup mematikan jika sudah menyentuh tubuh bahkan sampai masuk melalui kedua lubang telinga, hidung, dan mulut.
Shuan awalnya tidak melihat angin itu tetapi sekarang ia mencoba untuk bertahan dengan menaikkan suhu tubuhnya yang terasa dingin.
Entah apa yang naga itu rencanakan tetapi ia haru mencoba sekuat mungkin untuk bisa bertahan.
"Golden Earth...!!!" Shuan menciptakan bumi emas di tapak kanannya.
Shuan membantingnya dengan daratan sehingga bumi emas itu mulai menyembuhkan seluruh luka Shuan bahkan sampai menyerap seluruh angin itu ke dalam bumi itu.
Shuan mulai melemparnya ke belakang sehingga bumi emas itu mulai menciptakan tanaman emas di sekitar lorong dan menunjukkan naga itu yang hampir saja terbelit.
"Jangan meremehkan diriku, brengsek!!!" Shuan mengeluarkan cincin Saturnus emas.
Ia melempar-Nya ke depan sehingga naga itu berubah menjadi angin lalu masuk ke dalam lantai, kemampuan naga itu bukan hanya angin jika bisa membuat tubuhnya menjadi tembus pandang sampai masuk ke dalam lantai itu.
Asriel tidak bisa melihat siapa pun tetapi ia sempat melihat seorang manusia yang sedang duduk di atas lantai selagi menikmati sebuah sampah.
Asriel melebarkan matanya ketika kedua kakinya merasakan kesakitan yang begitu dahsyat, ia segera menatap kedua kakinya dan ternyata terlihat ratusan kecoak yang masuk ke dalam kakinya.
Mencoba untuk menggigit seluruh dagingnya tetapi ia berhasil membekukan kedua kakinya lalu mengeluarkan semua kecoak itu dengan menghancurkan es-nya dari dalam.
"Hah... hah... kemampuan apa itu...? Seorang manusia dapat mengontrol kecoak...?!" Asriel mencoba untuk mendekati manusia itu.
Ia melepaskan sihir es tetapi es itu langsung meleleh ketika terkena gas yang dilepas oleh ribuan kecoak terbang yang mengarah ke arah dirinya itu.
Tidak lama kemudian Asriel mulai melepaskan gelombang emas melalui kedua tapak tangannya untuk menciptakan tembok es yang berlapis-lapis agar bisa memperlambat semua kecoak terbang itu.
"Apakah tidak ada yang mendengar kita bertarung...!? Seharusnya semua masalah ini bisa di dengar oleh mereka semua termasuk murid atau guru yang berada di setiap kelas..." Tatap Asriel kesal.
Punggungnya mulai di gigit oleh kecoak yang langsung masuk ke dalam dan mencoba untuk memakan seluruh organ tubuhnya.
Kecoak yang begitu agresif bahkan Asriel sampai terjatuh karena jumlah kecoak itu banyak sekali, ia sempat melihat manusia itu berdiri lalu menghabiskan makanan sampah terakhirnya.
"Percuma saja, Shichiro Asriel... kau sudah berada di dalam area yang bernama [Mana Battlefield] sebagai manusia, kemampuan Mana dapat membawa seseorang ke dalam medan tempur dan kebetulan medan tempur ini tidak akan bisa dikunjungi oleh siapa pun kecuali kita."
"Kau sudah masuk mode duel sekarang dan aku merasa tidak sabar untuk menjadikan dirimu sebagai makanan peliharaan kecoakku..." Ucap murid itu dengan senyuman sadis-Nya.
__ADS_1
Murid itu membuat Asriel merasa kesal, ini pasti perbuatan alat ilegal itu lagi, inilah kenapa angkatan ketiga harus segera singkirkan.
"...mari berduel, Asriel!"