Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 749 - Kerajaan Lesolvia


__ADS_3

Koizumi mulai menahan mereka agar tidak melanjutkan perjalanan terlebih dahulu tanpa dirinya, ia bisa melihat beberapa kesatria dari kerajaan lain sedang melakukan pemeriksaan di sekitar hutan itu.


Koizumi juga melihat beberapa petualang dan pengembara di tahan oleh penjaga gerbang untuk menunjukkan identitas dan niat mereka ketika masuk ke dalam kerajaan Lesolvia.


"Banyak sekali penjaga, aku tidak akan mengira kerajaan kecil dan sederhana ini akan bisa ketat." Kata Konomi selagi bersembunyi di balik pohon.


"Alasannya mudah... banyak sekali pemberontak di luar sana yang berbahaya, mereka juga memiliki alasan tersendiri untuk memberontak..." Koizumi mulai berbicara.


"...masih terdapat beberapa [Bounty Hunter] yang berbahaya di bandingkan Zodiac Crusaders tetapi tugas kita hanya memusnahkan mereka semua karena masalah kecil bisa saja bertambah semakin rumit."


"Itu benar... masalah sekecil apapun bisa saja bercabang atau berkembang lebih jauh... kita harus menyelesaikan tugas ini..." Kata Shinobu yang berada di atas pohon.


Kacamatanya menunjukkan beberapa orang yang berada di sekeliling gerbang kerajaan Lesolvia, ia juga bisa melihat identitas dan wajah mereka berkat bantuan kacamata yang dapat menggali informasi apapun.


Di balik gerbang kerajaan itu terdapat beberapa bangunan yang cocok untuk mereka kunjungi agar bisa menanyakan informasi tentang kesatria zodiak karena Arata pernah bercerita bahwa mereka pernah menyebabkan kekacauan di sana.


"Ayo, kita pergi saja..." Shinobu mendarat di hadapan mereka dengan tatapan percaya diri bahwa semua penjaga itu tidak bisa menahan dirinya.


"E-Ehh? Kamu yakin...?" Tanya Ako.


"Tentu, aku bisa mengendalikan pikiran mereka untuk membiarkan kita masuk." Shinobu menatap Konomi dan Koizumi sehingga mereka mengangguk.


Pikiran mereka mendengar sebuah kata dari telepati Shinobu untuk menyingkirkan kesatria dan penjaga yang menghalang jalan mereka karena ia tidak bisa menggunakan pengendalian pikiran terlalu lama.


Konomi dan Koizumi maju ke depan melalui semak-semak, tidak peduli seberapa kecil tubuh dan umur mereka, bangsa Legenda memiliki perbedaan lebih menguntungkan di bandingkan apapun.


Koizumi mengambil sebuah batu lalu ia melemparnya ke arah pohon di bagian barat sampai menghancurkannya, para kesatria mendengar dan melihat lalu mereka bergegas untuk memeriksa.


Sekecil apapun mereka, kekuatan yang terkandung sudah cukup besar sampai melampaui beberapa kesatria berkat hasil kerja keras latihan dari kecil tanpa henti.


Konomi dan Koizumi langsung menghajar semua kesatria itu sampai pingsan, zirah yang mereka kenakan langsung hancur karena tidak bisa menahan serangan yang mereka lakukan.


"Hei, itu terlihat menyenangkan~ Aku juga ingin meledakkan mereka~" Hinoka mendekati semua kesatria itu tetapi Shinobu menarik dirinya.


"Jangan meledakkan sesuatu yang sedang pingsan, Kakak... lebih baik simpan saja kemampuan itu di keadaan darurat."


"Baiklah... apapun untuk sepupu kecilku." Hinoka menepuk kepala Shinobu beberapa kali.


Koizumi baru saja selesai menghajar mereka semua, ia sempat melihat darah yang dikeluarkan oleh kesatria itu, dengan cepat ia mulai menguburnya menggunakan tanah sebelum Hinoka melihat.


"Kalau begitu kita bergegas saja..." Kata Koizumi, ia bersama mereka berjalan menuju kerajaan Lesolvia untuk melakukan beberapa penyelidikan.


Mereka yang sudah meninggalkan hutan itu tidak menyadari keberadaan, dua Kesatria zodiak yang sedang berdiri di atas ranting pohon, berkat sihir tak kasat mata Liberon yang terbatas.


Mereka kembali menampakkan diri dengan ekspresi yang terlihat serius, "Kami menemukannya, pemimpin Leon..."


"Terus? Bunuh saja mereka... jangan sampai menyebabkan kekacauan lagi--- tunggu, lebih baik kau menyebabkan kekacauan agar para warga menyangka mereka yang melakukannya."


"Ide yang bagus... kami sudah melepaskan beberapa pasukan kecil yang bisa membunuh mereka kapan saja... bukannya begitu, Ariana?"


"Mm... dengan kombinasi piranha dan kepiting maka mereka pasti tidak akan menyadari serangan kejutan..." Ariana mulai mengeluarkan air putih melalui kedua tapaknya.


Air itu mengenai daratan lalu menghilang begitu saja tetapi mereka sempat melihat hewan mulai berenang di dalam tanah yang mereka anggap sebagai air.


"Kanzer... apakah kita harus menunggu di sini...?"

__ADS_1


"Ya... kita menunggu sinyal itu langsung dari kesatria kecil kita, aku yakin mereka akan berevolusi setiap melukai para bocah tengik itu."


***


Para penjaga yang baru saja membiarkan beberapa pengembara masuk mulai menahan kelima gadis itu yang mencoba untuk masuk.


"Tunggu dulu, kenapa gadis kecil seperti kalian berkeliaran di luar sana...? Apakah kalian melarikan diri dari rumah?"


"Tentu saja tidak... kau tidak perlu bersikap waspada seperti itu kepada seseorang yang mau masuk ke dalam kerajaan Lesolvia." Koizumi mengeluarkan sebuah kartu identitas.


Penjaga itu mengambilnya lalu ia mengenal gadis kecil di hadapannya ternyata seorang kesatria Legenda Ghisaru yang cukup terkenal atas kekuatan dan kemampuannya yang mampu mengalahkan beberapa kesatria super elite.


"S-Silakan masuk, Shimatsu Koizumi..." Penjaga itu hanya membiarkan Koizumi masuk.


Sekarang hanya tersisa empat orang lagi, Shinobu mulai meraih tangan penjaga itu sehingga menatapnya dengan tatapan bingung, "Kenapa tanganmu terasa keras---"


Kedua mata Shinobu memancarkan cahaya emas sampai otaknya mendapatkan tambahan informasi dan izin untuk membiarkan mereka masuk.


Penjaga tersebut mengangguk lalu memberikan jalan untuk mereka sampai Koizumi melihat rencana Shinobu telah berhasil berkat bantuan dari kemampuan The Mind.


"Apakah kau yang lihat apa yang baru saja Shinobu lakukan, Ariana...?"


"Kemampuan yang sama denganku, hanya saja aku sudah pasti tidak akan bisa mengendalikan dirinya..."


"...aku ingin Shinobu berada di jarak yang sangat jauh dengan mereka, tidak, lebih baik lagi jika Shinobu dan Koizumi pergi berpencar lalu membiarkan ketiga gadis itu sendirian."


Ariana mendengarnya selagi memejamkan kedua matanya, ia merasa sangat kelelahan bahkan Kanzer sendiri tidak menyadarinya.


"Koizumi yang dapat menghentikan waktu adalah masalah utamanya... kita harus bisa mengatasi Koizumi dan Shinobu sebagai urutan terakhir..."


Pandangannya berpindah ke dalam kepiting yang ia lepaskan, kepiting itu berada di atas piranha besar yang sedang berenang di dalam daratan selagi mencium serta mendengar suara langkah kelima gadis itu.


"Ngantuknya... bangunkan aku jika seseorang mati... hwahhhh..." Ariana berbaring di atas pohon itu, tidak memedulikan kesatria kecil yang ia lepaskan.


"Hiks... kenapa harus aku yang melakukan semua ini..." Kanzer mulai menangis selagi menatap Koizumi yang berjalan menghampiriku toko untuk membeli sesuatu.


"Kalau begitu... aku harus memisahkan Koizumi dan Shinobu dari mereka..." Kanzer melebarkan matanya sehingga Koizumi mulai menatap Shinobu.


Lidahnya terasa gatal seketika sampai ia mulai memesan satu gelas air lalu meminumnya dengan cepat, "Aku tadi sempat mengatakan sesuatu tentang kebersamaan bukan...?"


Mereka langsung menatap Koizumi dengan ekspresi bingung karena suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya bahkan Hinoka yang sedang sibuk menyantap makanan sampai memasang tatapan takut.


"Koizumi, kenapa suaramu terdengar mengerikan seperti itu?" Tanya Hinoka.


"Apa sih!? Aku menyatakan sesuatu yang serius." Kali ini Koizumi yang asli berbicara sampai mereka berhenti mengkhawatirkan tentang Koizumi dengan suara lembutnya tadi.


"Apa yang kamu katakan tadi benar, Koizumi... apakah kita perlu berpencar selagi menanyakan beberapa informasi tentang Zodiac Crusaders?" Tanya Konomi.


"Itu benar... aku dan Shinobu akan pergi ke sebelah barat sedangkan kalian timur, berkumpul lah secepat mungkin jika waktu sudah menginjak malam." Peringat Koizumi.


Kanzer langsung terkekeh pelan melihat rencananya berhasil, ternyata mengendalikan lidah Koizumi untuk berbicara sulit juga karena ia jarang sekali berbicara lembut.


"Sebelum itu, aku ingin memesan kentang goreng." Koizumi masih menunggu kentang goreng yang ia pesan dari toko itu.


Shinobu terkekeh lalu ia melihat Hinoka mulai menarik Ako dan Konomi untuk pergi melakukan investigasi dan pencarian informasi tentang kesatria zodiak itu.

__ADS_1


"Ayo~ kita pergi~ Ayo-ayo~" Seru Hinoka yang terlihat bersemangat karena ia sudah tidak sabar untuk menanyakan informasi itu.


"Hinoka, jangan macam-macam dengan mereka." Kata Koizumi.


"Tentu saja~ Kami akan baik-baik saja~"


Mereka semua pergi meninggalkan Koizumi dan Shinobu sendirian selagi menunggu pesanan di toko itu, Konomi mengingat perkataan Koizumi tentang cara kasar.


Semisalnya orang yang sedang di interogasi tidak mau menjawab pertanyaan maka satu-satunya cara agar ia mau membuka mulutnya adalah dengan ancaman.


Mereka juga harus berhati-hati tentang Legenda yang di ancam karena ia bisa saja melapor kepada seorang penjaga, untungnya Hinoka ikut bersama mereka karena ancaman yang ia lakukan terkadang efektif.


Tempat pertama yang harus mereka kunjungi adalah toko zirah, Hinoka mendorong pintu lalu ia menyambut sang pedagang yang sedang bekerja selagi menciptakan zirah lainnya.


"Selamat siang!!!" Teriak Hinoka keras sampai pedagang itu terkejut dan hampir saja menghancurkan zirahnya itu menggunakan palu yang ia pegang.


"Selamat datang di toko Zirah Lesolvia, apa yang kalian butuhkan dari toko ini, anak muda?" Tanya pedagang itu yang mulai mendekati mereka bertiga.


Ako bersembunyi di balik Konomi karena ia ketakutan melihat seorang pria yang begitu besar dan kekar berada di hadapannya.


"Paman, apakah paman memiliki waktu untuk berbicara tentang Bounty Hunter yang di kenal sebagai Zodiac Crusaders?!" Tanya Hinoka.


Ketika mendengar nama itu, pedagang tersebut langsung memasang tatapan yang terlihat serius karena mereka bukan sekedar gadis kecil biasa melainkan seorang pemberontak.


Pembicaraan yang membahas kesatria Zodiak bahkan Kisetsu yang mereka kenakan berwarna hitam sampai memiliki lambang kerajaan Ghisaru, tidak salah lagi bahwa mereka adalah pemberontak.


"Ternyata bala bantuan yang asli telah datang... sebenarnya... aku merasa tidak nyaman mendengar nama kesatria itu." Pedagang itu mulai mengajak mereka masuk ke dalam ruang kerjanya untuk membahas Zodiac Crusaders.


Dalam waktu yang kurang tepat, Konomi membutuhkan toilet sehingga ia mengacungkan tangannya kepada pedagang itu, "Permisi... toilet ada dimana ya...?"


"Oh, toilet..." Pedagang itu menunjuk ruangan yang terletak lumayan jauh dari ruangan kerja itu, Ako mencoba untuk ikut tetapi Konomi memintanya untuk tetap diam bersama Hinoka.


"Terima kasih... Hinoka, tolong sebentar ya."


"Roger~" Hinoka mulai duduk di atas meja, seperti biasanya ia bersikap tidak sopan kepada orang asing, ia mulai mengangkat kakinya ke atas.


"Woi! Botak! Jelaskan apa yang kau ketahui tentang Zodiac Crusaders!!!" Seru Hinoka yang sudah mengancam dirinya dengan mengejek kepala pedagang itu yang memiliki rambut.


"Bo-Botak...?!"


"H-H-Hinoka...!" Ako terkejut ketika mendengar dirinya bukan mengancam melainkan mengejek sampai ia melihat Hinoka tertawa


***


Konomi baru saja selesai melakukan urusan kecil lalu ia menatap dirinya sendiri di hadapan cermin yang berada di dalam toilet itu sehingga ia mendengar suara air di belakangnya.


"... ...?" Konomi menoleh ke belakang lalu melihat ke dalam toilet, setelah itu ia mulai menyalakan air wastafel untuk mencuci kedua tangannya.


"Mmm?" Konomi melihat sebuah sirip kecil di dalam air itu sehingga ia memperhatikannya lebih dekat lalu...


ZBAAASSSHHH!!!


Seekor piranha yang membesar melompat sampai mengejutkan Konomi sehingga lidahnya langsung di gigit oleh piranha itu dengan satu gigitan sampai ia terjatuh di atas lantai.


"... ...!!!"

__ADS_1


__ADS_2