
Matahari perlahan-lahan terbit dari timur, waktu masih menunjukkan pukulan setengah enam, terdengar suara burung yang membangunkan mereka semua satu per satu karena cahaya dari matahari menembus kain tenda mereka.
Satu malam yang begitu panjang dan mengerikan, semuanya akan ditentukan hari ini bahwa mereka tidak akan pernah berkunjung lagi ke gunung Indonesia bersama Hinoka yang hampir saja tidak pernah kembali dari alam gaib.
Koizumi melihat Hinoka dan Shinobu masih tertidur, ia mulai keluar dari dalam tenda tersebut lalu melihat Ako dan Konomi yang sedang menyalakan api unggun untuk menghangatkan secangkir teh.
Koizumi menatap ke atas langit yang masih terlihat gelap, cuacanya terasa begitu dingin sampai ia mengambil sebuah jaket lalu mendekati Ako yang menyuguhi dirinya dengan secangkir teh hangat.
"Terima kasih... kita berhasil bertahan cukup lama ya." Kata Koizumi sambil duduk di atas batu yang cocok untuk dijadikan tempat duduk.
"Ya... sekarang masih pukul setengah enam... bukannya kita akan melihat terbitnya matahari?" Tanya Konomi.
"Apakah Nobu dan Hinoka masih belum bangun?" Ako menanyakannya dengan tatapan khawatir karena mereka berdua tidak mengatakan apapun atau bersikap seperti biasanya.
"Semoga saja mereka bisa bangun secepatnya... setelah pulang dari gunung ini maka kita harus olahraga." Jawab Koizumi sambil meregangkan kedua lengannya sehingga ia mendengar langkahan di belakangnya.
"Ahh, itu dia...! Nobu...!"
"Nyaaaaaawwnnn..." Shinobu menguap selagi menempati kedua tangannya di atas tanah lalu ia meregangkan tubuhnya seperti kucing.
"Pagi, syukurlah kita masih bisa melihat terbitnya matahari ya." Kata Shinobu yang kembali berdiri menggunakan kedua kakinya lalu ia mendekati Koizumi dan menerima secangkir susu hangat dari Ako.
"Apakah kamu baik-baik saja...? Jika lima nyawamu sudah kau berikan kepada makhluk itu... apa sekarang kamu memilih empat nyawa?" Tanya Konomi.
"Mm~" Jawab Shinobu yang mulai meminum susu itu satu teguk, mereka memasang tatapan kaget ketika melihat dirinya bersikap biasa saja tanpa merasa takut bahwa ia tidak bisa menyia-nyiakan empat nyawa itu.
"Kamu terlihat sangat santai ya... sepertinya kematian memang sudah menjadi hal yang biasa karena nyawamu yang tidak memiliki batas setiap tahun baru?" Tanya Ako dengan tatapan penasaran.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, yang paling penting adalah Kak Hinoka pulang." Shinobu menempati cangkir kosong itu di atas rumput lalu ia bangkit dari atas batu untuk menghampiri Hinoka.
"Aku perlu memberikan Kak Hinoka rehabilitasi agar ia bisa melupakan kejadian di alam gaib itu, sama halnya dengan trauma yang ia alami ketika kehilangan ibunya." Kata Shinobu.
Mereka semua menatap satu sama lain, merasa penasaran dengan apa yang akan ia lakukan sehingga mengikuti dirinya dari belakang lalu mengintip Shinobu yang sedang menekan kening Hinoka menggunakan jempolnya.
"Apakah kamu bisa menggunakan sihir sekarang?" Tanya Koizumi.
"The Mind bukan sihir... hanya kemampuan khusus yang memiliki konsep berbeda, menghapus ingatan atau menyingkirkan trauma adalah hal yang mudah untuk dilakukan." Shinobu menyentuh kepala Hinoka.
Tidak lama kemudian, Hinoka membuka kedua matanya lalu ia menatap Shinobu bersama yang lainnya dengan tatapan penasaran karena mereka semua menatap dirinya.
"Hm? Ada apa~? Apakah sekarang matahari sudah terbit untuk menyambut Idol Hinoka...?!" Tanya Hinoka yang mulai bangkit kembali sampai menyebabkan mereka semua menghela nafasnya.
"Dan kita kembali ke titik awal..." Kata Konomi.
"...aku mohon, hari ini tidak terjadi masalah apapun."
"Hinosapi, kau tahu apa yang terjadi kemarin bukan? Sekali saja kau mengulangnya maka yang akan berurusan denganmu bukanlah mereka melainkan ini...!" Ancam Koizumi dengan jarinya yang akan menyentil kening Hinoka.
"Aku tahu... aku mengingatnya kok, mulai sekarang aku akan berubah!" Kata Hinoka dengan tatapan tekad selagi menepuk dadanya penuh rasa kebanggaan bahwa ia masih bisa berubah.
Beberapa menit kemudian, setelah membereskan semuanya di lokasi perkemahan tersebut, mereka memutuskan untuk mencari tempat yang cocok agar bisa melihat terbitnya matahari di arah timur.
Melihat matahari yang berada di Yuutouri, terlihat sangat indah sampai mereka memasang tatapan senang dan bahagia, matahari itu seperti memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang tak terbatas untuk mereka.
__ADS_1
"Kemarin malam dan tengah malam tadi... kita mengalami hal buruk yang sangat panjang ya." Kata Shinobu.
"Ketika libur nanti, siapa yang mau pergi berlibur di gunung Indo---"
""Tidak!""
"Buuu... kalian memang pengecut." Kata Hinoka selagi mengembungkan kedua pipinya.
"Lihatlah siapa yang berbicara, kemarin menangis seperti anak kecil sampai hidungnya penuh dengan ingus." Kata Koizumi sampai membuat Hinoka tersipu merah.
"Berisik! Jangan anggap aku seperti bocah tengik ingusan...! Kemarin... kemarin aku hanya terharu bahwa semuanya berjalan baik-baik saja, bisa melihat kembali alam ini...!"
"Ya, terserah kau, Hinosapi."
"Koneko berharap kebahagiaan dan ketenangan yang diberikan oleh matahari itu menunjukkan sebuah tanda besar bahwa tahun ini kita akan menerima kedamaian yang menenangkan." Shinobu mulai berbicara.
"Itu benar... akademi akan mengadakan turnamen tidak lama lagi bukan?" Tanya Koizumi.
"Mm... turnamen yang akan menentukan siapa pemberontak terhebat." Jawab Shinobu.
"Kalau begitu, aku harus menjaminkan dirimu sebuah pertarungan yang dahsyat." Koizumi meninju tapaknya sendiri sampai Shinobu mengerti dengan kodenya.
"Aku sudah bertambah kuat... Koneko akan berjuang!"
Shinobu dan Koizumi mulai menatap satu sama lain, menantikan hari dimana turnamen pemberontak dimulai agar mereka bisa menunjukkan potensi dan kekuatan yang sudah diterima selama bertahun-tahun.
"Kalian memang tidak pernah bosan ya... sungguh sepupu yang dekat dan saingan penuh harga diri." Kata Konomi.
"Tentu saja! Ayahku membenci Ayah Koneko maka dengan membuat Ayahku bangga maka aku harus memenangkan pertarungan ku melawan sainganku yaitu Shinobu!"
"Apakah kita bisa pulang sekarang...? Rasanya terlalu lama di sini hanya akan membuat sesuatu terjadi lagi..." Hinoka menyarankan untuk pulang karena ia sudah merasa tidak nyaman berada di gunung itu.
"Baiklah, ayo kita kembali... menuju Yuusuatouri!!!"
***
Perjalanan mereka berjalan selama beberapa jam sampai di sore hari, mereka telah tiba kembali dalam planet Legenia dengan kondisi biasa saja karena perjalanan selama berjam-jam tidak cukup untuk membuat mereka lelah.
"Akhirnya...!!! Aku pulang...!!! Yuusuatouri...!!!" Teriak Hinoka keras sampai ia bisa bersikap seenaknya, mereka semua langsung menatap Hinoka yang mulai terbang mengelilingi mereka selagi melepaskan ledakan kembang api.
"Aku tidak akan pernah melihat yang namanya gunung sialan itu...!!! Aku bebas...!!! Aku bisa melakukan apapun...!!!" Seru Hinoka keras yang mulai menghantam daratan cukup keras sampai menyebabkan retakan yang menjalar luas.
"Mungkin yang dimaksud ingin pul11ang itu... melampiaskan semua kebenciannya terhadap gunung itu?" Tanya Ako yang melihat Hinoka mulai menghancurkan banyak sekali wilayah.
Untungnya Shinobu memerhatikan selagi melepaskan cahaya melalui jarinya yang memperbaiki kembali semua kerusakan yang disebabkan oleh Hinoka menjadi pulih sempurna.
Hinoka mengalihkan pandangannya kepada gunung di sebelahnya dengan tatapan tajam lalu ia melesat maju menuju arah gunung itu, "Sebuah gunung..."
"...di Yuusuatouri! SOPAN SANTUN BRENGSEEEKKKKK!!!" Teriak Hinoka keras sampai meledakkan gunung di hadapannya seperti nuklir lalu kembali terbentuk oleh Shinobu.
"Sepertinya si bodoh itu memang dendam kepada makhluk astral yang berada di Indonesia sampai bersikap gila seperti itu." Kata Koizumi sampai Shinobu mulai menarik lengannya.
"Kenapa, Shinobu?"
__ADS_1
Shinobu mulai menempati daun emas di kepalanya lalu ia mendekati Hinoka, "Hah... Hah... Hah...! Fuhh~ lega sekali, setelah semua hal yang aku benci sampai membuatku ketakutan seperti itu... rasanya lega sekali."
Shinobu menepuk punggung Hinoka pelan lalu ia menoleh ke belakang lalu memasang tatapan kaget ketika melihat sesosok putih yang ia lihat sebelum dirinya diculik, sebuah guling dengan wajah begitu hitam.
"KYAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!"
"Wow... ini momen pertama dimana Nobu bisa iseng seperti itu." Kata Ako selagi melihat Shinobu mengejar Hinoka yang terus terbang menjauhi dirinya dengan tatapan ketakutan sampai ia kembali menangis.
"Dia mirip sekali dengan orang-orang yang berbicara dari belakang tetapi ketika didatangi... mendadak takut dan tidak mau mengeluarkan perkataan sebelumnya." Kata Konomi.
"Mencoba cara apapun, si bodoh itu tidak akan pernah berubah... selalu saja bersikap brengsek seperti itu." Ucap Koizumi yang mulai menghindari pelukan Hinoka.
"Koizumi...!!! Kakak Koizumi...!!! Tolong..!!!"
"Menambahkan Kakak tidak akan mengubah kemungkinan aku menolongmu, bukannya kamu tadi berani sekali untuk mengatakan makhluk astral Indonesia?"
"Hehehe... Maaf, Kakak..." Shinobu melepaskan daun emas di kepalanya sampai Hinoka kembali melihat wujud Shinobu yang membuat dirinya kaget.
"Koneko...! Kamu juga...?!"
"Tidak boleh membicarakan orang mati seperti itu ya, Kakak." Kata Shinobu sampai Hinoka mulai mengangkat kedua lengannya tetapi Koizumi menyentil keningnya.
"Jangan mencoba-coba untuk menyentuh dirinya dengan tangan kotor itu!"
"Buuuuuu...!"
***
"Sebentar lagi...!" Ucap Anastasia yang mulai mengeringkan keringatnya menggunakan sapu tangan, ia masih melakukan eksperimen yang begitu panjang di depan kristal kekacauan yang mulai membesar dan berkembang.
"Hah... Hah... Hah... satu Grimoire saja belum cukup..."
"...aku membutuhkan semua dasar elemen agar bisa mengendalikannya." Kata Anastasia yang mulai menutup buku Grimoire itu sampai kristal kekacauan itu berhenti membesar dan menumbuhkan sesuatu yang terlihat seperti tentakel.
"Anastasia... aku sudah memberikan dirimu waktu bertahun-tahun tetapi kau tidak berhasil memenuhinya..."
"Maafkan aku... rasanya sulit sekali jika aku tidak menerima Grimoire dasar elemen..."
"Kalau begitu mintalah, bukannya Shinobu Koneko sudah mempercayaimu? Dia bahkan memberikan dirimu alamat rumah barunya itu."
"Akan aku laksanakan, Dewa Zangetsu..." Anastasia mengambil kertas yang diberikan oleh Shinobu, ia berencana untuk pergi tetapi pergerakannya langsung berhenti.
"Apakah kamu tidak ingin bergerak sekarang...?"
"Kamu bisa melakukannya?" Tanya Zangetsu.
"Jika aku bisa menghidupkan bapak dari segala Legenda yang bernama Magnus maka tidak ada salahnya untuk mencoba, bukannya dia sudah membunuh banyak Dewa."
"Menarik... karena tubuh asliku yang sudah hancur oleh Legenda brengsek yang bernama Shiratori Shira, tubuhku tidak bisa menangani kekuasaan yang aku miliki."
"Mungkin dengan cara itu... aku yakin kau bisa melakukannya, jika keberhasilan itu mampu tercapai maka aku yakin kristal ini berjalan lebih efektif dan cepat."
"Di saat itulah..."
__ADS_1
"...konsep tentang sihir tidak akan pernah ada..."
"...semuanya tidak mustahil jika kau masih memegang tulang rusuk dari Zangges."