Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 176 - Belas Kasihan


__ADS_3

Korrina bersama yang lainnya tiba di dalam markas persembunyian itu dimana mereka disambut dengan ribuan peluru yang melesat menuju arah mereka semua, Andrian akhirnya dapat mengetahui tempat persembunyian ******* yang selalu mencuri bank yang ada di Yogyakarta.


Semua peluru itu tiba-tiba diselimuti dengan aura Crimson dan memiliki beberapa garis merah yang mampu membuat semua peluru itu melesat menuju arah Korrina dan hancur menjadi kepingan kecil.


"Tidak berguna... Sebenarnya mau kalian apa mencuri sesuatu yang bukan milik kalian sendiri?" Tanya Korrina dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Kau tidak akan mengerti... Mencuri itu adalah hal yang baik dan uang yang akan kita hasilkan dapat memberi kita semua kekuatan."


Aditya menciptakan dua bambu runcing dan siap untuk menghancurkan kepala mereka menggunakan bambu tersebut, semua ******* itu dengan keras kepala masih menarik pelatuk senapan mereka... Seharusnya mereka sadar bahwa sebanyak-banyaknya peluru yang meluncur, semua peluru itu hancur di tubuh Korrina.


"Ada beberapa hal yang harus kalian tahu, Legenda... Manusia, bukan hanya Indonesia saja... *******, mencuri, menculik, dan melakukan korupsi adalah hal biasa yang selalu ras Manusia lakukan demi mendapatkan uang lalu menggunakan uang itu sebagai sesuatu yang dapat membuat mereka bahagia." Andrian melangkah ke depan dan beberapa ******* maju ke depan dengan beberapa pisau yang mereka ayunkan.


Semua pisau itu sudah di alirkan dengan mana yang arti-nya pisau itu dapat merobek kulit sekeras apapun dan mampu menghancurkan beberapa tulang, tetapi Andrian menggunakan seni bela diri-nya yaitu silat, hasil-nya mereka semua terbanting di atas lantai dengan tulang yang remuk.


Korrina mulai menatap semua senapan yang dipegang oleh ******* itu sampai senapan yang mereka gunakan mulai dipenuhi dengan garis Crimson serta tubuh mereka juga perlahan-lahan mulai dipenuhi dengan garis merah dimana darah mengalir keluar dari tubuh mereka.


"A-A-Apa ini...!? Apakah ini...!? V-Viruuuuuuu...." Semua ******* itu terbunuh dengan cara yang tragis dimana tubuh mereka hancur dan berpisah karena garis itu, dengan hanya menggunakan tatapan mata saja sudah mampu membuat semua manusia itu tidak berdaya.


Semua pasukan dari pemimpin ******* itu habis terbantai oleh mereka semua, tidak ada belas kasihan yang diberikan kecuali siksaan yang cukup sadis. Pemimpin ******* itu sudah kehabisan ide dan mana untuk menyerang Andrian yang berdiri tepat di depan-nya.


"S-Sultan Andrian...!!! Aku mohon ampuni perbuatan diriku yang sangat berdosa ini!!!" Kata pemimpin itu sambil sujud kepada Andrian.


Sikap kemanusiaan Andrian mampu memberi pemimpin itu satu kesempatan untuk berubah menjadi sesosok orang yang baik, Aditya hampir saja melempar bambu runcing-nya tepat ke kepala pemimpin itu tetapi Andrian langsung memotong bambu itu dan memperingati dirinya bahwa semua orang dapat berubah termasuk ******* satu ini.


"Jika kau membiarkan-nya hidup maka... kita tidak akan tahu kapan dia akan berbuat jahat lagi!" Aditya menciptakan bambu runcing yang lainnya tetapi Andrian menghalangi.


"Tidak... Biarkan dia hidup dulu..." Melihat Andrian yang memberikan manusia itu satu kesempatan untuk berubah, Aditya menghela nafas-nya panjang dan segera melempar bambu runcing itu ke atas.


"Kalian manusia memang butuh kekuatan lebih untuk bisa bertahan hidup suatu saat nanti..." Kata Arata, ia mulai mengambil beberapa senapan yang tidak hancur lalu mencoba-nya hingga ia merasa tertarik dengan senapan tersebut.


"Menggunakan senapan tidak akan terlalu membantu jika musuh yang kalian lawan mengandalkan sihir dan kecepatan, tetapi aku juga merasa tertarik melihat ilmu bela diri yang kau miliki itu, manusia yang bernama Andrian." Arata membuang senapan itu lalu ia menatap Andrian dengan ekspresi yang terlihat tertarik.


"Ilmu bela diri yang tadi aku gunakan adalah Silat. Jika kau mau, suatu saat nanti aku akan mengajari dirimu berbagai seni bela diri yang dimiliki oleh Indonesia." Kata Andrian sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hmmmm... Tawaran-mu bagus juga..." Arata memegang dagu-nya sendiri.


Beberapa menit kemudian, mereka mulai sadar bahwa Korrina dan Haruka hilang entah kemana... Arata langsung memperingati mereka semua bahwa Korrina dan Haruka sedang berada di ruangan bawah tanah, ia bisa merasakan beberapa keberadaan manusia yang terjebak di dalam ruangan itu.


"Sepertinya semua manusia yang ada disini telah menculik beberapa manusia, aku hampir bisa merasakan keberadaan manusia yang perlahan-lahan menghilang di dalam ruangan bawah tanah ini." Kata Arata, ia mulai pergi menghampiri tempat dimana semua ******* itu menyimpan hasil curian mereka.


"Lebih baik kita urus dulu semua barang yang dicuri oleh mereka semua... Biarkan Korrina dan Haruka yang melakukan pekerjaan di dalam ruang bawah tanah itu." Aditya mulai mengikuti Arata.


"Dan kau diam disini bersama-ku..." Kata Andrian sambil menunjuk pemimpin itu yang terlihat ketakutan.


***


Korrina melihat beberapa manusia yang dipenuhi dengan luka sayatan yang tidak beraturan di tubuh mereka, sepertinya semua ******* itu telah menyiksa mereka dan tidak memberikan mereka sedikit ampunan. Haruka mulai menjelajahi ruangan bawah tanah yang luas itu sendirian dan Korrina juga ikut menjelajah.


Mereka berdua berpisah dan Korrina melihat beberapa ruangan yang dipenuhi dengan mayat, firasat-nya mulai tidak enak... entah kenapa semua mayat itu mampu membuat dirinya takut dan merinding, padahal ia sudah melihat banyak sekali mayat sebelum-nya.


"Entah kenapa... Tempat ini membuat-ku merinding... Apa karena ini Indonesia ya...?" Korrina mulai menutup semua ruangan itu sambil memejamkan kedua mata-nya hingga punggung-nya menyentuh sesuatu.


"Aahhhh---" Korrina hampir saja teriak dengan kencang tetapi Haruka segera menutup mulut-nya sambil melepas topeng itu, "Sssshhh...! Mama, apakah kau dengar...?"


Air mata mengalir keluar melalui kedua matanya, Haruka merasa bersalah karena berkeliaran memakai topeng mengerikan itu jadi dia segera meminta maaf kepada dirinya tetapi suara tangisan mulai terdengar tidak jauh dari tempat itu sampai mereka berdua sadar dan segera menghampiri suara tangisan itu.


Semakin mereka menghampiri suara tangisan itu, suara dari tangisan itu terdengar seperti suara bayi yang sedang menangis dan itu membuat Korrina semakin khawatir. Terdapat sebuah pintu di depan mereka dan Korrina segera membuka-nya hingga ia melihat sesuatu yang buruk, mayat tergeletak dimana-mana.


Mayat yang terbunuh dengan cara yang cukup aneh, tubuh mereka terlihat tidak beraturan bahkan Haruka sempat melihat beberapa partikel yang keluar dari semua mayat itu, seorang ibu dari bayi yang menangis itu tergeletak di atas tanah dengan lubang besar di perut-nya.


"Ternyata benar-benar bayi..." Korrina menghampiri bayi yang menangis itu, bayi tersebut masih dipeluk oleh ibu tersebut dan Haruka segera memeriksa bayi itu... Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam-nya.


"Apakah dia benar-benar manusia...?"


"Apa maksud-mu, Haruka...?"


"Bayi manusia seperti dirinya memiliki kekuatan yang lumayan besar... Sungguh menakjubkan." Kata Haruka, ia mulai menyentuh pipi bayi tersebut dan bayi itu langsung memegang jari Haruka.

__ADS_1


"Mama... Mari kita bawa pulang..."


"Ehh...?" 


"Dia kesepian... Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi... Ibu-nya sudah melindungi-nya tetapi berakhir dengan takdir kematian karena semua ******* itu menyerang diri-nya dan keajaiban muncul... bayi ini-lah yang mampu membunuh semua ******* ini dengan cara yang aneh, Mama." Kata Haruka, kedua pupil mata-nya melambangkan sebuah jam yang mengartikan dia menggunakan sihir waktu untuk melihat sebuah kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu.


Mendengar perkataan Haruka saja sudah mampu membuat Korrina mengepalkan kedua tinju-nya hingga kedua tinju-nya diselimuti dengan garis merah, tidak ada maaf lagi untuk manusia yang buruk... Mereka sudah melampaui batas dan menghancurkan tembok kesabaran dirinya.


***


Andrian bersama yang lainnya sudah mengumpulkan banyak barang curian yang dicuri oleh semua ******* itu, sudah saatnya mereka untuk mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemilik-nya. Pemimpin ******* itu ikut bersama Andrian dan saat ini sedang berdiri tepat di belakang-nya.


"Mari kita pulang dan menyusul Korrina." Kata Andrian.


"Itu dia." Aditya mulai menunjuk Korrina yang sedang berjalan menghampiri mereka bertiga, satu langkah yang dilakukan oleh Korrina mampu melempar pemimpin ******* itu ke belakang dan membuat dirinya lumpuh di atas lantai.


Mereka semua tidak mengetahui penyebab kenapa pemimpin itu bisa terlempar tetapi beberapa detik kemudian mereka sadar ketika melihat Korrina yang datang dengan ekspresi muak-nya, ia menunjuk pemimpin itu menggunakan telapak tangan kiri-nya.


"Tolong...!!! Tolong ampuni saya...!!! Saya memiliki keluarga...!!! Saya masih tidak mau mati dan dihukum...!!!" Kata pemimpin itu.


Mendengar semua perkataan-nya hanya membuat Korrina diam, "Masa bodoh... Kau ingin belas kasihan? Maka berilah belas kasihan itu kepada seseorang yang kau siksa dan bunuh." 


Tubuh pemimpin itu langsung diselimuti dengan garis Crimson serta cahaya merah memancarkan keluar dari dalam tubuh itu hingga menyebabkan pemimpin tersebut menjerit dengan kesakitan, Andrian mencoba untuk menghentikan-nya tetapi Arata menghalang-nya lalu menggelengkan kepala-nya.


"Aaaaaaahhhhhhhhh....!!!"


"Neraka belum cukup untuk-mu..."


"...Crimson Vanish" Telapak tangan Korrina memancarkan cahaya Crimson yang besar hingga membuat tubuh pemimpin itu perlahan-lahan menghilang dan berubah menjadi partikel merah, sihir yang Korrina gunakan dapat menghapus keberadaan seseorang dari kenyataan.


Arata bersama yang lain-nya tercengang melihat sihir yang digunakan oleh Korrina, tetapi karena sihir yang berbahaya seperti itu... Korrina berakhir pingsan di atas lantai dengan tubuh yang dipenuhi keringat dingin.


"Korrina...!"

__ADS_1


__ADS_2