Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 222 - Tak Terselamatkan


__ADS_3

Komi melakukan meditasi di tengah sirkuit sihir yang tercipta dari buku sihir Necromancer, kekuatan dan ilmu pengetahuan mengalir di dalam tubuh-nya seolah-olah ia bisa mengerti tentang semua misteri serta rahasia dari setiap kekuatan yang ada, sepertinya dia bekerja sendiri tanpa bantuan siapapun, Zangetsu hanya membantu-nya merancang kembali rencana.


"Aku baru saja berhasil... mengadu domba-kan kedua Saint Legenda yang memiliki potensi hebat di dalam diri mereka masing-masing, itu artinya rencana-ku masih jauh dari kata sempurna." Tubuh Komi dipenuhi dengan garis hijau tua yang menandakan bahwa diri-nya telah menguasai semua sihir tentang Necromancer, ditambah lagi ia dapat menggunakan buku itu semau-nya.


"Dengan ini aku dapat mengumpulkan semua Grimoire itu secara langsung, tetapi masih ada tujuan yang lebih penting daripada mengumpulkan semua buku itu." Komi bangkit dari atas tanah lalu ia memejamkan kedua mata-nya hingga ia bisa melihat seluruh populasi palsu yang sedang melakukan aktivitas mereka sendiri.


"Masih ada banyak tugas yang masih belum terselesaikan seperti-nya... Ahh iya juga, lebih baik aku menyingkirkan kartu as mereka yaitu Haruka dan Honoka menggunakan anak-anakku sendiri, akan aku ubah mereka menjadi tumbal agar aku bisa mengetahui kemampuan mereka semua secara langsung." Komi menggunakan sihir ilusi-nya untuk mengendalikan pikiran semua anak-anaknya hingga sihir ilusi itu benar-benar langsung mengontrol pikiran mereka untuk mencari Haruka dan Honoka lalu membunuh mereka berdua.


Melihat keberhasilan tersebut, Komi tertawa terbahak-bahak bahwa ia benar-benar bertambah kuat... lebih dari apapun, tidak ada yang bisa mengalahkan diri-nya sekarang. Komi menyimpan kedua buku-nya di atas sirkuit sihir yang melambang sihir dari masing-masing buku tersebut yaitu [Oath] dan [Necromancer].


"Sekarang aku hanya perlu menyerang semesta Yuutouri untuk mendapatkan ilmu pengetahuan lebih...!!! Menciptakan ras gabungan yang jauh lebih kuat, jika Manusia yang berada di dimensi-ku secerdas itu maka aku yakin manusia yang berada di dimensi asli ini akan jauh lebih hebat...!!!" Komi menyentuh kedua pipi-nya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat tidak sabar untuk mengumpulkan banyak kekuatan demi menghancurkan dimensi asli.


***


Shira melebarkan mata-nya, sepertinya ia kembali siuman ketika menerima serangan Komi yang sangat dahsyat, rasa sakit yang ia terima sebelum-nya tiba-tiba hilang ketika dia bangun. Diri-nya segera bangkit dari atas tanah lalu menatap kedua telapak tangan-nya yang memancarkan cahaya biru tua yang menandakan sihir Sacred.


"Apa yang terjadi...?" Shira melirik ke belakang karena ia merasakan keberadaan Megumi di belakang-nya dan Minami yang berdiri di sebelah-nya, "Cobaan yang bagus... karena bantuan dari Korrina dan pemberian cahaya Sacred ini, aku tidak mempercayai apa yang baru saja aku lihat!!!" Shira melepaskan dorongan yang besar di sekitar-nya sehingga semua ilusi yang mengepung diri-nya langsung hilang.


Shira tidak tertipu dengan Minami dan Megumi yang lihat, semua yang ia rasakan adalah ilusi berkat bantuan dari cahaya Sacred-nya yang memperingati dirinya bahwa semua itu adalah ilusi belaka, sepertinya Komi benar-benar melakukan rencana yang sama yaitu mencoba untuk mengadu domba-kan kedua dimensi itu.


"Itu artinya dimensi asli itu masih bisa aku percayai setengah-nya... tetapi aku masih tidak yakin, Komi adalah Korrina Comi yang berasal dari dimensi palsu, Haruka bilang bahwa dia adalah yang terkuat bahkan ia dapat mengendalikan semua populasi Touri jika Komi sendiri memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari mereka semua." Shira menghampiri gua itu untuk berjaga-jaga, ia hanya melihat rantai di dalam-nya.


Shira berlutut lalu mengambil rantai itu untuk menganalisis-nya, ia tidak merasakan sihir apapun di dalam-nya... tidak ada yang aneh di dalam gua ini, ia mencoba untuk menyelimuti rantai tersebut menggunakan sihir cahaya-nya tetapi ia tidak bisa merasakan apapun.

__ADS_1


"Sial, apakah kau menghapus jejak-nya, Komi!?" Shira keluar dari gua itu lalu ia terbang ke atas langit untuk mencari Vania, ia harus mengetahui apa tujuan Komi bisa datang ke wilayah seperti itu, seseorang yang mengetahui tujuan Komi sebenar-nya kemungkinan Elvano dan Vania.


"Aku harap mereka masih mengingat-nya..." Shira menambahkan kecepatan.


***


Korrina saat ini masih berlindung diri di dalam laboratorium-nya, ia benar-benar tidak berani untuk keluar bahkan bersosialisasi saja tidak mau, ia lebih mementingkan untuk mengurung diri karena terdapat banyak populasi palsu yang tidak bisa dipercayai, mungkin saja Komi merencanakan sesuatu yang licik lain-nya jadi Korrina lebih baik memilih untuk diam.


Akina sudah pergi, ia baru saja mendapatkan beberapa nasehat dari Korrina, ia harus waspada dengan apapun... jangan mempercayai seseorang yang berasal dari dimensi palsu dengan mudah karena sebagian dari mereka dapat Komi kendalikan dengan mudah, jika melihat sesuatu yang mengerikan atau kematian seseorang... jangan dipercaya, itu bisa saja ilusi belaka milik Komi.


"Mama... lebih baik Mama istirahat dulu ya?" Haruka menghampiri Korrina lalu ia membantu Korrina untuk duduk di atas kursi-nya karena ia saat ini sedang bekerja tanpa henti menciptakan senjata, peralatan, dan semua hal-hal yang dapat membantu dirinya dalam pertarungan.


"Aku tidak bisa istirahat... aku harus bekerja..." Korrina memaksakan tubuh-nya untuk bangkit, ia menghampiri sebuah ruangan sambil memegang sebuah suntikan, Haruka menghampiri Korrina lalu ia tercengang ketika melihat Virra yang berbaring di atas  


Mortal seperti dirinya yang sudah menolak berbagai kekuatan dewa-dewi merasa menyesal, dirinya sebagai Mortal memang terbatas dalam melakukan apapun apalagi mencoba untuk menghidupkan seseorang yang sudah mati, tetapi ia tidak akan menyerah karena ia ingin menunjukkan kepada Touri bahwa mortal dapat bertahan hidup tanpa harus mendapatkan kekuatan dewa atau dewi.


"Walaupun Mama mencoba untuk terus hidup menjadi seorang Mortal, ingatlah perkataan-ku Mama... semua mortal membutuhkan bantuan dari dewa-dewi bahkan kekuatan itu sendiri harus kita gunakan agar kita dapat melakukan sesuatu tanpa harus ada batasan yang menghalangi kita." Haruka mengambil suntikan Korrina lalu ia menyuntik leher Virra.


"Tetapi... aku akan selalu ada di sisi-mu, Mama! Jalan apapun itu, akan aku tempuh bersama Mama-ku tersayang." Haruka tersenyum, membuat Korrina tersenyum lebar lalu bersemangat sehingga ia mulai kembali bekerja dalam menghidupkan Virra kembali dengan memindahkan beberapa darah, sel, dan DNA milik-nya.


Walaupun sudah mencoba berbagai cara, Virra masih belum menunjukkan keberadaan-nya... ia benar-benar tidak bisa terselamatkan ketika menerima serangan yang mengenai leher-nya secara langsung oleh Komi, Haruka dan Korrina dipenuhi keringat karena mereka sudah bekerja sangat keras.


"Mama... tidak bisa, kita benar-benar terlambat." Kata Haruka, ia tidak sanggup lagi membantu Korrina dan Virra lebih jauh lagi karena takdir adalah takdir, takdir seperti kematian sendiri tidak bisa diubah oleh kekuatan Mortal. Korrina masih terus mencoba-nya sehingga ia memberikan Virra nafas buatan.

__ADS_1


"Hentikan, Mama!!!" Seru Haruka, ia meraih kedua lengan Korrina untuk menyuruh-nya berhenti karena semua perbuatan-nya tidak akan bisa menyelamatkan Virra, luka yang ia dapatkan itu terkutuk karena Komi adalah seorang dewi segala-nya yang dapat membuat kematian menjadi sesuatu yang mustahil untuk bisa dibangkitkan kembali.


"Tapi... Virra..." Korrina meneteskan beberapa air mata, ia benar-benar terlambat untuk menyelamatkan Virra, "Sungguh kejam... kejam sekali... bagaimana bisa dia melakukan tindakan seperti ini kepada anak-nya sendiri...!!!" Korrina menangis tersedu-sedu.


"... ..." Haruka memejamkan kedua mata-nya, "Hanya itu jalan-nya..." Kata Haruka pelan.


***


Komi berhasil mengendalikan Rina, Korin, Vinna, Rianna, dan Rivin untuk mengunjungi rumah Korrina, mereka semua  telah tiba di rumah Korrina yang sangat besar. Wajah mereka terlihat datar bahkan kedua mata mereka memancarkan cahaya putih yang mengartikan pikiran dan penglihatan mereka saat ini sedang dikendalikan oleh Komi.


"Sepertinya kita sudah sampai..." Ucap Korin.


"Benar sekali, mari kita hancurkan tempat ini." Rivin mengangkat kedua lengan-nya tetapi Rina menghentikan-nya, "Hentikan, bukannya Mama memperingati kita berdua untuk melaksanakan tugas utama kita yaitu menyingkirkan Haruka---"


"Wah, wah, kalian datang berkelompok seperti-nya." Terdengar suara seorang gadis yang berasal dari atap rumah, mereka menatap gadis itu dengan ekspresi yang kesal bahwa mereka mendeteksi sebuah bahaya.


"Jika kalian ingin masuk dan bertemu dengan kakak tercinta-ku maka kalian harus melewati mayat-ku terlebih dahulu." Gadis itu berdiri di atas atap dengan ekspresi yang terlihat serius, wajah-nya terlihat sangat tidak sabar untuk bertarung mereka semua.


"Siapa kau...? Kau bukan Haruka." Rianna menunjuk gadis tersebut.


"Wah, wah... ternyata kalian tidak mengenal-ku ya, seharusnya kalian adalah adik angkat-ku yang sangat lemah... kalau begitu, salam kenal, domba yang tersesat... Nama-ku adalah Okaho..."


"...Okaho Comi."

__ADS_1


__ADS_2