Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 691 - Mereka Menerimaku


__ADS_3

"Founder's Origin...?" Honoka sontak kaget ketika mendengar senjata yang sangat kuat itu, senjata yang mengabaikan konsep apapun sehingga sihir realitas yang ia miliki terasa tidak berguna baginya.


Honoka mengerutkan dahinya, merasa kesal karena ia tidak menyangka akan di sambut oleh seorang Ancient Legenda yang jauh lebih kuat karena memegang senjata mutlak itu.


Semua ini pasti memang berkaitan dengan Zenzaku atau Zangetsu sampai ia mencoba untuk bertahan hidup dengan melindungi nyawa Hinoka karena ia bisa melihat Diablo mencoba untuk mengincar nyawanya.


"HAGGHHH!!! GRRGGHHH!!!" Honoka terus menebas dan menusuk tubuh Diablo tanpa henti karena ia harus bertarung demi mengakhiri masalah yang terus berkembang ini.


"Siapa sebenarnya dirimu!?" Tanya Honoka yang berhasil menusuk leher Diablo menggunakan kedua senjatanya itu.


"Aku...? Mungkin identitasku pantas di ketahui oleh seseorang yang akan menerima hukum kematian..."


"...aku raja iblis yang terkuat, Diablo!!!" Seru Diablo keras sampai mengejutkan Honoka karena ia mengetahui dengan jelas siapa Diablo sebenarnya.


Satu-satunya iblis yang mengangkat senjata yang memiliki serangan tanpa konsep dan logika sehingga ia dapat melakukan apapun dengan itu, "Tidak mungkin... keberadaanmu itu jelas terasa seperti Legenda!!!"


"Sang pencipta menghidupkan diriku... memasukkan nyawaku yang di segel oleh Shukaku ke dalam wadah, wadah itu adalah bangsa Legenda kuno yang disebut Ancient Legend!!!"


Diablo mengepalkan tinju kanannya yang mengeluarkan tulang hitam yang sangat tajam, setelah itu ia melihat menusuk pinggang Honoka di bagian lainnya.


"AAAAAHHHHHHHH!!!" Jerit Honoka kesakitan karena serangan yang di lakukan oleh Diablo sangat menyakitkan berkat bantuan dari Founder's Origin yang berjalan secara alami atau pasif.


Honoka terus menggunakan sihir realitas kepada Diablo sampai tidak memberikan efek apapun, menggunakan Counter-Reality juga hanya akan mempengaruhi tubuhnya semakin parah.


Diablo mengangkat tubuh Honoka lalu membantingnya di atas tanah sehingga kedua pandangannya bisa melihat awan panas dan ia sempat mendengar suara Korrina lagi.


"Apa ini..."


"...perasaan apa ini..."


"...kesakitan ini?" Honoka merasakan sesuatu yang cukup menyedihkan dan menyakitkan yang di Sampit menjadi satu.


Rasanya kematian mulai mendekat, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya karena sejak turnamen permohonan di mulai, ia terus mendapatkan panggilan dari Korrina yang menghentikan fungsi tubuhnya selama beberapa detik.


"Hinoka...!" Honoka merapatkan giginya lalu ia mencoba untuk bangkit dan menahan tinju Diablo yang mengarah kepada wajahnya itu.


Honoka kembali bangkit lalu ia menghantam tengkuk Diablo sampai ia terdorong ke depan, ia mulai mengepalkan kedua tinjunya lalu melepaskan aura Crimson yang berjumlah besar.


Honoka mencoba untuk melawan tetapi Diablo terus melukai dirinya tanpa henti karena ia memiliki kekuatan dan kemampuan yang sudah membuat Honoka tertekan sampai ia tidak bisa melakukan apapun.


Di sisi lainnya, Hinoka sedang menunggu Honoka di dalam lubang itu selagi menghabiskan permennya itu, ia harus menurut kepada Ibunya jadi ia tidak mau keluar sampai Honoka kembali.


"Kalau lama-lama.. aku harus keluar karena Mama memperingatiku sejak itu." Hinoka terkekeh lalu ia berbaring di atas tanah.


Diablo meninju perut Honoka lalu ia menebas punggungnya sehingga ia menjerit kesakitan lalu berlutut di atas tanah dengan tubuh yang dipenuhi luka dengan darah hitam.


"AAAGGHHHH...!!! HAHHHHH...!!!" Honoka merangkak ke depan lalu ia memegang pohon di hadapannya untuk membantunya berdiri.


Honoka menoleh ke belakang lalu ia melancarkan serangan lainnya tetapi Diablo berhasil mengenai serangan lainnya sampai ia terus tertekan dan menerima kerusakan lebih banyak lagi.


Honoka memegang erat tangan Diablo lalu ia mematahkan sampai Diablo bisa merasakan kesakitan itu, dengan cepat ia mengangkat tubuh Honoka lalu membanting di atas batu yang runcing.


"AAAAGGGGHHHHH!!!" Pandangan Honoka mulai buram seketika ia terus menerima serangan itu, Diablo mulai memulihkan semua lukanya itu.


"Aku lahir sebagai seorang manusia... di tinggalkan oleh kedua orang tua kandungku yang meninggal karena di bunuh oleh pemberontak jahat..."


"...ketika aku masih bayi, gadis yang mirip seperti manusia bernama Korrina Comi... mengadopsi diriku sebagai putrinya..."


"...dia sangat baik... memperlakukan anak adopsi seperti diriku yang selama ini seorang manusia... di ubah menjadi Legenda dengan melakukan beberapa eksperimen..."


Kedua mata Honoka mengeluarkan air mata yang diganti dengan darah hitam, ia mencoba untuk bangkit tetapi Diablo menentangnya ke depan sehingga ia terjatuh di atas tanah.


"Aku masih belum... mau..." Pikiran Honoka mulai mengingat kedua saudaranya yang terasa begitu jauh sekarang, termasuk Korrina yang tidak pernah kembali.


"...Hinoka." Honoka mulai menangis karena kesakitan yang ia rasakan itu terasa begitu menyakitkan sampai ia terus kehilangan banyak darah.


"Okaho... kembaran diriku yang lahir di masa kuno... mengalami reinkarnasi ke dalam tubuhku sebagai rasa Eternal..."


"... detik-detik kematiannya ketika ia di hapuskan oleh waktu yang hancur, dia mengatakan sesuatu kepadaku bahwa aku... aku harus bisa hidup sebagai Legenda..."


"...yang baik."


Honoka mulai bangkit kembali tetapi Diablo mulai memegang tongkat dari Founder's Origin itu sehingga Honoka menerima kesakitan yang sangat menyakitkan.


"Aku tidak perlu mengayunkan atau melakukan sesuatu dengan senjata mutlak ini... senjata yang dapat melakukan apapun bahkan cara bekerjanya pasif sampai bisa melukaimu kapan pun."


Tubuh Honoka dipenuhi dengan banyak luka yang mengeluarkan darah hitam dan nanah, Diablo terus menyiksanya karena ia mendapatkan sasaran yang jauh lebih baik.


Seorang manusia yang di adopsi oleh Legenda bernama Korrina Comi, ia mengubahnya menjadi seorang Legenda dengan campur dari Comi sehingga Honoka sendiri telah menjadi Legenda keturunan Comi.


Tetapi, situasi yang ia hadapi sekarang cukup menyulitkan sampai pikirannya terus mengingat banyak kenangan yang ia lakukan bersama keluarga dan temannya.


"Aku masih... harus melihat Hinoka tumbuh..."


"...aku perlu menepati janji Hana untuk tetap bersahabat selama..."


"...aku harus merayakan pesta... bersama kedua saudaraku..."


"...aku masih... ingin... hidup damai dengan suamiku..." Honoka mengatakannya di dalam hatinya yang mulai tersakiti.


Diablo menusuk punggung Honoka lalu ia mengambil jantungnya dan mengeluarkannya.


"AAAGGGGGGHHHHHHHH!!!" Honoka menjerit kesakitan sehingga ia mulai menangis karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Diablo menarik keluar jantung itu lalu menendang Honoka ke depan, pekerjaannya sudah selesai tetapi ia bisa melihat Honoka masih bangkit dan hidup tanpa jantung.


"Apakah kau Ancient Legenda juga...? Masih hidup dan bangkit tanpa organ tubuhmu yang vital." Tanya Diablo karena ia sempat merasakan sihir realitas dari Honoka yang membantu dirinya untuk tetap hidup.


Diablo muncul di hadapan Honoka lalu ia memegang erat lehernya, setelah itu ia melemparnya ke depan sampai mengenai beberapa pohon bahkan melewati lubang dimana Hinoka sedang menunggunya.


Honoka mengambil batang pohon yang besar lalu ia mengayunkannya kepada Diablo sehingga ia terjatuh di atas tanah, ia kembali bangkit dengan senyuman puas yang tertera di wajahnya.


"Berterima kasih lah, Honoka... aku telah mengakhiri semua penderitaanmu, kau pasti akan menikmati kedamaian abadi yang kau inginkan di dunia kematian!!!"


Diablo menendang perut Honoka sampai meninggal luka lubang yang besar di perutnya itu, Honoka terjatuh tepat di hadapan lubang itu sehingga ia bisa melihat Hinoka yang sedang tersenyum selagi menunggu kedatangan Honoka.


"Hi... no... ka..." Honoka merangkak ke depan, mencoba untuk membawa Hinoka jauh-jauh karena ia takut dirinya tidak bisa selamat.


Diablo menunjuk Honoka lalu ia memanjangkan lengan kanannya sehingga ia mulai menghancurkan kedua kaki Honoka lalu menariknya secara pelan-pelan.


"AAAAAAHHHHHHHHHHHHH!!!" Honoka terus menjerit sangat merasa sehingga Hinoka sempat mendengar jeritan itu.


Diablo menarik Honoka ke arah dirinya karena ia tidak ingin putrinya mengetahui bahwa Honoka akan mati dalam hitungan detik sehingga ia mulai menangis karena tidak ada harapan lagi.


Diablo terlalu kuat dengan senjata dari Founder's Origin itu sehingga kekuatan realitasnya tidak bisa melakukan apapun karena terus di gagalkan.


"Gawat..."


"...aku sudah kehilangan... fungsi tubuhku... nafasku terasa berat... aku tidak bisa berpikir dengan baik..."


"...semuanya... hanya mengandung banyak kenangan dan janji yang harus aku lakukan..." Kedua mata Honoka terlihat mati seketika sampai ia mulai mengingat semua teman dan keluarganya.


"Mulai dari sekarang juga, kamu adalah adik kecilku yang sangat aku sayangi, dan aku juga akan selalu menjaga dirimu!"" (Haruka)


"Kakak... aku harap kamu mau mengajarkan diriku tentang berbagai macam hal... aku mengandalkan Kakak!" (Kou)


"Honoka, kamu akan menggantikan posisi diriku bukan...? Walaupun kamu adalah seorang manusia dan anak adopsi, kamu tetap bagian dari keluarga Comi... lanjutkan kehidupan itu sampai kau memenuhi tujuanmu!" (Okaho)


"Kita akan melihat masa depan bersama-sama bukan...?" (Minami)


"Dengan ini kita berjanji akan terus bersahabat sampai melihat masa depan bersama-sama! Pukulan janji...!" (Hana)


"Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab untuk menjaga kehidupanmu, Honoka!" (Bakuzen)


"Mulai dari sekarang... kamu bayi kecil akan menjadi salah satu anggota Comi, selamat datang di dunia... Honoka Comi." (Korrina)


Semua kenangan itu terus muncul sehingga Honoka mulai menangis, "Mama... Kakak... Kou... Hinoka... Hana... Bakuzen..."


"...semuanya... aku masih ingin tinggal... biarkan manusia sepertiku... merasakan kehidupan Legenda sampai puas..." Honoka mencoba untuk bangkit tetapi tidak bisa.


Diablo berjalan melewati Honoka, ia mulai mendekati Hinoka karena membunuh Honoka masih belum cukup, lebih baik ia membunuh semuanya saja.


"Tidak... Diablo... aku mohon..." Honoka mulai memohon tetapi Diablo membiarkan dirinya lalu ia melihat ke dalam lubang itu.


Diablo mengangkat lengan kanannya ke atas, Honoka masih memiliki sedikit tenaga untuk menggunakan sihir realitas, dengan memulihkan tubuhnya secara keseluruhan...

__ADS_1


...ia juga masih bisa menyerang Diablo dengan melakukan sihir realitas lainnya tetapi ia menggunakan tenaga terakhir itu...


...dengan mengontrol realitas demi melindungi putrinya sendiri, harapan terakhir yang ia serahkan.


Diablo mencoba untuk menghancurkan kepala Hinoka dengan memukulnya tetapi serangan itu malah mengenai Honoka karena ia menggunakan sihir realitas agar serangan yang mengenai Hinoka bisa berpindah kepadanya.


"Hmph." Diablo tersenyum serius, ia merasa puas melihat Honoka masih tetap melindungi putrinya itu.


Ia berhak mengampuni nyawa Hinoka dan menghabiskan nyawa Honoka yang masih turun tangan mengurusi dirinya, ia mulai menendangnya ke depan sampai Honoka bisa merasakan lebih banyak kesakitan.


Diablo muncul di hadapan Honoka lalu ia memukul dadanya lebih dalam sampai meninggalkan lubang yang begitu besar, ia mulai menggusurnya ke wilayah yang lebih aman agar Honoka bisa mati dengan damai.


"Arrrggghhhhh... Nrggghhh..." Honoka menatap Diablo yang saat ini sedang tersenyum karena ia merasa begitu puas melihat salah satu keturunan Comi yang kuat akan mati dalam hitungan detik.


Diablo menumbuhkan sebuah tulang hitam besar di belakang Honoka lalu ia mengangkat tubuhnya ke atas dan menusuk perutnya dengan tulang runcing itu sehingga ia menjerit kesakitan..


"AAGGGHHHHHHH...!!!" Diablo masih belum selesai, ia mulai menghancurkan lengan kiri Honoka lalu mencangkel mata kanannya sampai ia hanya bisa melihat dengan satu matanya itu.


"Dengan ini... aku sudah puas, pekerjaanku selesai---"


"HEAVEN'S REALITY---" Mata Honoka yang berwarna biru berubah menjadi merah seketika sampai matanya terlihat mati.


"Honoka..."


"Ma-Mama...?" Honoka mendengar suara Korrina di detik terakhirnya.


"Mari pulang..."


"...ke surga."


"Aku menunggumu..."


Diablo mengeluarkan sebuah tulang tajam lalu ia menusuknya tepat di lubang telinga Honoka sampai menusuk setengah dari otaknya itu.


Heaven's Reality tidak dapat ia gunakan karena kemampuan surganya hilang seketika ia mencoba untuk menggunakannya.


"Nrggghhh..." Tubuh Honoka sudah kacau, dipenuhi dengan luka yang fatal bahkan terdapat lubang yang besar di bagian perut dan dadanya itu.


Salah satu lengannya hancur, kedua kakinya juga sama bahkan sebelah matanya juga sudah hancur sampai pandangannya hanya tersisa satu yang buram.


Mulutnya tertutup rapat tetapi mengeluarkan banyak sekali darah hitam, lubang telinga di sebelahnya sampai di masukkan tulang tajam yang menusuk otak di sebelahnya itu.


Jantungnya sudah hancur, kedua paru-parunya di tusuk dengan tulang bahkan semua organ tubuhnya sudah hancur oleh Diablo sampai perutnya yang berlubang itu terdapat tulang panjang yang menusuknya dari belakang.


"Tidurlah, manusia yang menyamar menjadi bangsa Legenda! Kehidupanmu bukan sia-sia..." Diablo berbalik badan lalu melirik ke belakang.


"Sampai jumpa." Diablo melakukan perpindahan dan membiarkan Honoka mati dalam hitungan detik.


"Sudah kacau..."


"...tidak ada harapan lagi untukku..."


"...panggilan tadi... panggilan Mama adalah takdirku selanjutnya yang menunggu..." Honoka tidak bisa menggerakkan tubuhnya, ia mulai memejamkan matanya.


"...aku tidak bisa berbicara... tidak bisa bergerak... merasakan kehidupan lagi..."


"...rasanya... arwahku... seperti di tarik ke atas, meninggalkan semua kenangan yang aku rasakan bersama mereka..."


Honoka mulai mengingat kembali masa-masanya sejak kecil sampai sekarang, proses kehidupan yang begitu panjang bahkan ia tidak menyangka manusia seperti dirinya akan menjadi Legenda karena di adopsi oleh Korrina.


"Seharusnya aku sudah mati jika beliau tidak menemukan diriku..."


"...beliau membantuku... merawatku... menyelamatkan diriku... bahkan sampai mengadopsi diriku sebagai putrinya..."


"...walaupun aku hanya sekedar anak adopsi... beliau memperlakukan diriku layaknya seperti seorang putrinya..."


"Mama... selalu menyayangi apa adanya... cukup menyedihkan... aku tidak bisa melihatnya lagi..."


"...walaupun aku sejak itu masih berada di dalam tubuh Okaho, rasanya melihat Mama pergi jauh sampai tidak pernah kembali sampai sekarang..."


"...cukup menyakitkan, Okaho tidak bisa melihat Mama kembali pulang... dan sekarang aku juga..."


"...aku sungguh berterima kasih kepada mereka, kedua saudaraku juga yang menerimaku sebagai kakak dan adik mereka..."


"...Kakak Haruka... sejak kecil dia sudah menemaniku dan merawatku ketika Mama sedang sibuk... dia begitu baik, rasanya seperti memiliki Kakak yang akan terus melindungi..."


"...tetapi... mana mungkin aku melampaui kehebatan dirinya... walaupun aku bertarung dengannya menang... dia masih tetap... lebih hebat dan bisa di andalkan..."


"Kou juga... adik kecilku... lahir tidak begitu normal tetapi aku memiliki rasa yang begitu besar untuk menyayanginya sampai melindungi dirinya..."


"...dia berusaha untuk hidup dengan kondisinya seperti itu sehingga ia sudah memenuhi harapan kami semua..."


"Mama... Haruka... Kou... aku sangat menyayangi kalian... terima kasih karena sudah mau menerimaku sebagai anak adopsi..."


"Minami dan Hana... kedua kucing kecilku... Minami yang sudah meninggalkan kami duluan... mungkin aku akan menyusul..."


"...tetapi Hana, maafkan aku... aku tidak bisa menepati janji yang sama dengan Minami... aku harap kamu mau meneruskan kehidupanmu tanpa merasa depresi..."


"...aku menyayangimu juga, Hana... Minami... kalian adalah teman terbaik yang aku miliki... kalian memang kucingku yang paling imut..."


"...Bakuzen... terima kasih karena sudah mau menerimaku... kamu adalah suami yang baik... kau membangkitkan arti dari kehidupan cinta yang sebenarnya..."


"...aku mencintaimu..."


"Semuanya juga... aku sangat menyayangi dan mencintai kalian... ternyata bangsa Legenda sungguh menyenangkan walaupun kita membagi masalah yang sama..."


"...tetapi kita bertanggung jawab untuk mengatasi semua ya bersama..."


"...Legends Never Dies---" Honoka melebarkan matanya ketika melihat Hinoka berdiri di hadapannya dengan tatapan yang terlihat bingung.


Hinoka yang masih berumur tiga tahun baru saja menatap sesuatu yang cukup mengerikan baginya, untungnya pikirannya masih seperti anak kecil jadi ia tidak begitu tahu apa dirinya lihat dari Honoka.


"Mama...? Kenapa tubuh Mama dipenuhi dengan warna merah? Tubuh Mama juga terlihat kehilangan sesuatu..."


Honoka baru saja menyaksikan harapan terlahirnya datang di hadapannya, melihat dirinya yang dipenuhi dengan luka.


Honoka merasa bersyukur karena ia masih hidup di detik-detiknya sebelum kematian, ia bisa melihat Hinoka mulai mendekat dengan tatapan yang begitu polos.


Entah kenapa rasa syukur dan sedih tercampur menjadi satu, Hinoka baru saja melihat Honoka akan mati sebentar lagi bahkan ia tidak mengetahui begitu jelas warna cairan merah itu dengan anggota tubuhnya yang hilang.


Untuk sekarang Honoka ingin mati dengan damai, di sebelah Hinoka selagi memeluk dirinya, Honoka mulai berbohong kepada Hinoka demi menyembunyikan fakta bahwa darah dan anggota tubuhnya yang hilang itu bukan sesuatu yang penting.


"Mama baik-baik saja... kamu masih ingat tidak ketika Mama tidak sengaja memotong jarinya sendiri?" Tanya Honoka.


"Mm! Itu terlihat menyakitkan... apakah semua ini darah?"


"Bisa... di bilang begitu... tetapi tidak buruk juga kok... Mama masih bisa menyembuhkan semua luka ini..."


"Hehhh?! Mama sedang bermain apa...?!" Tanya Hinoka dengan ekspresinya yang polos dengan rasa penasaran tinggi.


"Kamu masih ingat tidak...? Ketika... umur dua tahun... terdapat sebuah pesta menakut-nakuti..."


"Halloween?"


"Hm... itu benar... Mama sedang... menyamar menjadi seorang Zombie... menunggu kedatangan seseorang agar menakuti mereka..."


Rasanya cukup menyakitkan di dalam hatinya karena ia harus berbohong di hadapan putrinya sendiri, ia sampai menahan air matanya untuk keluar agar Hinoka tidak melihat dirinya bersedih.


Hinoka yang masih sangat kecil dengan umur tiga tahun masih membutuhkan masa kecil yang menyenangkan, Honoka tidak ingin Hinoka mengetahui kesakitan yang ia rasakan.


"Aku juga ingin ikut bermain~!" Seru Hinoka yang terlihat begitu polos, melihatnya saja membuat Honoka bertambah semakin bersedih karena ia tidak mengetahui fakta kebenaran yang menyakitkan.


Kebetulan langit-langit mulai hitam karena di sebabkan oleh Regulus yang bertarung melawan Haruka, awan hitam itu menurunkan hujan yang besar.


Hujan itu adalah penyamaran dirinya untuk menangis sampai ia meneteskan banyak air mata biasa lalu mencoba sekuat mungkin untuk menggerakkan lengannya itu.


"Lebih baik... Hinoka menemani Mama di sini... hujan... coba buat... gua... kamu bisa...?" Suara Honoka terdengar semakin pelan tetapi Hinoka masih bisa mendengarnya.


"Mm!" Hinoka mengangguk lalu ia menggunakan sihir realitasnya untuk menciptakan gua yang lumayan besar untuk melindungi mereka dari hujan agar tidak sakit.


Hinoka hanya bisa menggunakan sihir realitas untuk menciptakan benda yang kecil, gua itu terbuat dari batu-batuan yang berkualitas cukup jelek tetapi cukup nyaman untuk menjadi tempat perlindungan.


Honoka mendidik Hinoka dengan baik sehingga pikirannya dipenuhi dengan kepolosan dan rasa bahagia sampai ia melihat darah serta anggota tubuh yang hilang sebagai permainan yang Honoka rancang.


Hinoka tidak dapat menggunakan sihir realitasnya untuk menyembuhkan semua luka Honoka, percuma saja di sembuhkan karena semua luka itu ia dapatkan dari senjata yang paling kuat di seluruh alam semesta.

__ADS_1


"Hinoka... duduk di sini..." Honoka menggunakan tenaga terlahirnya untuk mengubah tulang runcing itu menjadi kasur lantai.


Hinoka duduk di hadapannya, ia menatap Honoka yang mencoba untuk menunjukkan senyumannya itu.


"Mama terlihat mengerikan... tetapi aku masih sangat menyayangi Mama!!!" Hinoka mencoba untuk memeluk tubuh Honoka yang dipenuhi darah.


Untungnya Honoka menggunakan sihir realitas terakhirnya untuk mengubah semua darah dan aromanya menjadi melati sehingga Hinoka mencium bau yang begitu wangi.


"Mama sangat wangi... aku sangat menyayangi Mama~ Te-he~" Hinoka memeluk Honoka erat sehingga perasaan yang ia dapatkan itu cukup mendalam penuh dengan rasa sedih.


Ia merasa bersyukur karena diberi waktu untuk berpisah dan mengatakan sesuatu kepada Hinoka, ia akan mati dekat dengan Hinoka yang terlihat begitu ceria selagi memeluknya.


Honoka menatap wajah Hinoka yang begitu cerah baginya, harapan yang ia serahkan... harapan yang ia lakukan akan meneruskan diri di kehidupan dan era yang penuh dengan penderitaan.


"Kamu menikmati... waktumu dengan kedua sepupumu?" Tanya Honoka selagi mengelus kepala Hinoka.


"Mmm! Mereka semua sungguh menyenangkan! Aku menyayangi mereka~" Hinoka tersenyum lebar selagi menatap wajah Honoka yang mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapannya.


"Kamu gadis yang baik dan penurut ya, Hinoka... ketika Mama tidak kembali dalam waktu yang lama, kamu mencariku..." Honoka terus mengelus kepalanya itu.


"Dengar, nak... Papa akan menjagamu dan bermain denganmu..."


"Mama juga akan bermain denganmu?"


"Kalau sibuk mungkin tidak... tetapi Papa sudah cukup menyenangkan bukan...?"


"Mm! Papa sungguh lucu ketika aku mengerjainya, hehehe!" Hinoka terkekeh.


"Bagus... Mama ingin kalian berdua tetap menumbuhkan hubungan yang begitu baik..."


"Mmm...!"


"Gawat... pandanganku... sudah... buram... sangat buram sampai aku... melihat warna hitam di luar..." Ungkap Honoka karena ia masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama lagi dengan Hinoka.


"Jangan menjadi Legenda yang jahat dan nakal ya, Hinoka... tidak ada untungnya untuk merugikan siapa pun... lebih baik membagi semua rasa kebahagiaan dan keceriaan itu..."


"...aku ingin kamu bertarung bersama kedua sepupumu nanti... menghentikan semua kerajaan yang ada..."


"Mm! Aku akan bertarung ketika aku sudah siap, itu yang di katakan Mama dan Papa bukan?"


"Hehehe... itu benar..."


"Hinoka... Hinoka..."


"Mmm?"


"Perjuangan Legenda tidak akan sia-sia jika mereka... memiliki niat yang murni penuh dengan kebaikan di dalamnya..."


"...mereka akan terus hidup di dalam Legenda lainnya ketika gugur..."


"Legends Never Dies~!" Hinoka mengangkat lengan kanannya.


"Benar... putri Mama memang yang terbaik..."


Mendengar suara hujan yang terus turun membuat Hinoka merasa mengantuk sampai ia mulai menguap, Honoka mulai memeluknya erat sehingga Hinoka balik memeluknya.


"Tidur yuk...?"


"Mm... Aku mengantuk... suara hujan terasa begitu menenangkan, Mama..."


"...maukah Mama menyanyikan lagu sebelum tidur?" Tanya Hinoka.


"Tentu saja, nak... dan maaf ya..."


"Maaf...?"


"Tidak apa-apa..." Honoka tidak bisa mengatakan kebenarannya karena ia tidak mau membuat Hinoka menangis, jika ia mulai menangis maka Honoka akan meninggalkannya sendirian di dalam gua itu dengan penuh tangisan.


Untuk sekarang situasinya aman karena Hinoka masih terlihat ceria dan ingin tidur, ia bisa mendengar suara Honoka yang mulai menyanyikan sebuah lagu.


"Nafas terakhirku... kesadaran terakhirku... dia yang mengincar Hinoka... aku berhasil memenuhi tujuan terakhirku untuk melindunginya..."


"...harapan terakhirku, Shizukaze Hinoka Comi..."


"Suara Mama terasa lembut... aku menyukainya..." Hinoka menerima sebuah kecupan di keningnya yang terasa cukup lama.


"Mama... sangat... menyayangimu... Hinoka..." Dengan embusan nafas terakhir, tetasan mata akhir, Honoka mengatakannya dengan penuh kasih sayang sehingga ia memberi kecupan terakhir di pipi lalu meninggal...


"Aku lebih menyayangi... Mama..." Hinoka mulai tertidur, perkataannya tidak sampai kepada Honoka yang sudah gugur.


Arwahnya terbang ke atas langit, meninggalkan tubuhnya yang sementara itu sampai meninggalkan Hinoka untuk selama-lamanya yang setengah tertidur selagi memeluk tubuh Honoka.


Hinoka di tinggal sendirian, gua yang begitu nyaman dan besar untuk mereka, ia tertidur dengan nyenyak memimpikan Honoka yang terus bermain dengannya tanpa henti.


***


Honoka membuka kedua matanya, ia bisa melihat kedua tapak tangannya bahkan pakaian yang ia kenakan terlihat begitu suci, pemandangan yang ia lihat bahkan terlihat begitu indah.


"Ini... surga...?"


"Selamat datang kembali, Honoka."


Honoka melebar kedua matanya lalu ia menoleh ke belakang, melihat Korrina menunggu di hadapannya selagi menunjukkan senyumannya itu.


"Kamu melakukan pekerjaan yang baik... arwahmu sudah masuk ke dalam tubuhmu yang asli sekarang..."


"...kamu memang hebat."


"Ma... Mama..." Honoka mulai meneteskan beberapa air mata ketika ia akhirnya bertemu kembali dengan Korrina sampai bisa melihat wajahnya itu.


"Mama...!!!" Honoka menghampiri Korrina dengan cepat lalu memeluknya erat sehingga ia menangis keras karena semua perasaan sedihnya tercampur menjadi satu.


"Hm, Mama di sini, Honoka. Putri keduaku yang hebat..." Korrina mengangguk lalu mengusap punggungnya.


"Aku merindukanmu... aku menyesal... aku gagal..."


"Kamu berhasil... kamu menyelamatkan harapan yang kamu serahkan itu." Korrina mulai mengelus kepala Honoka untuk menenangkannya.


"Pada akhirnya... aku memang di terima sebagai keturunan Comi dan putri dari Korrina Comi..."


"...terima kasih..."


"...terima kasih karena sudah menerimaku, Mama..."


"Hm, sama-sama, putriku."


"Apakah aku Legenda yang baik...?"


"Tidak..."


"Aku tahu..."


"...aku diberitahu bahwa kamu adalah yang terbaik." Korrina tersenyum lalu ia memberi Honoka sebuah kecupan di pipi.


"Mama..." Honoka mulai menangis kembali.


"Hinoka akan mengganti posisimu... dengan harapan yang kamu serahkan..." Korrina mulai menunjuk ke bawah sehingga Honoka melihat putrinya masih tertidur di pelukan tubuh mayatnya itu.


"Hinoka..."


"...aku mempercayaimu."


"Hiduplah menjadi Legenda yang layak!"


"Legends Never Dies...!"


Honoka berjuang mati-matian untuk melindungi putrinya sendiri dari Diablo, sebelum ia mati juga, dirinya sempat menulis sebuah angka [666] dengan darahnya sendiri agar pesan itu bisa sampai kepada seluruh teman dan keluarganya.


Tujuan terakhirnya untuk menyelamatkan putrinya telah dipenuhi sampai ia meninggal dengan putrinya yang masih memeluknya... sebelum pergi... Honoka berharap bahwa Hinoka tidak akan menangis dan merasa depresi...


...pesan terakhir berangka 666 itu adalah harapan untuk semua orang bahwa musuh mereka adalah raja iblis yang sangat menakutkan bernama Diablo.


Legenda tidak akan pernah mati, kehidupan Honoka tidak berakhir sia-sia karena sudah menyelamatkan semua yang ia sayangi dan cintai...


...beristirahat lah dengan damai di atas surga, Honoka Comi.

__ADS_1


[Honoka Comi - Gugur]


[Chapter 176 - 691]


__ADS_2