
"Empat...!" Demetrio tersenyum serius lalu ia melancarkan satu tendangan kepada Shinobu yang berhasil menahannya sehingga ia merasakan firasat yang tidak begitu baik ketika melihat Demetrio terlalu percaya diri.
The Mind yang Shinobu miliki sudah terbatas sekarang karena ia menggunakannya secara berlebihan sejak itu, ia hanya bisa mengandalkan pembacaan pikirannya itu yang membantu dirinya untuk menghindari serangannya.
"Apa yang kau coba rencanakan sekarang, Demetrio? Aku tidak akan membiarkan dirimu menggunakan peringatan yang kedua itu." Shinobu menarik keluar Keris menggunakan tangan kirinya.
"Kau hanya bisa diam saja, Shinobu... semua ini bukan urusan yang harus kau terima, karena kau masih muda... lebih baik kau mengucapkan kalimat permohonan matimu sebelum terlambat."
"Koneko tidak akan mati... yang mati adalah semua orang... orang yang menghalangi jalanku karena buta dengan harapan yang aku pancarkan!" Jawab Shinobu dengan tatapan yang mengancam.
***
Hinoka menghindari serangan lahar Ignatius yang mencoba untuk mengeraskan tubuhnya menjadi obsidian, untungnya Hinoka langsung melepaskan aura yang meledakkan pengerasan itu.
"Aku tidak menyangka akan melihat seorang Mortal yang seenak jidat mengendalikan realitas sampai mengubahnya menjadi ledakan!" Ignatius mulai berbicara.
"Dengan kekuatan seperti itu kau pasti bisa menyebabkan seluruh kepercayaan api senang, ikut lah aku Hinoka... jika kita menerima kekuatanmu maka semuanya akan berjalan dengan baik!"
"Kedamaian dan keamanan pasti akan bertahan secara abadi... dengan kekuatan kita bersama, labirin yang kita tempati saat ini bisa dihancurkan dengan mudah karena kau mengendalikan realitas bagaikan tombol peledak!"
"Heeehhhh~ aku tidak mengerti apa yang kau coba maksud, kita semua memang sudah hidup besar dalam labirin penuh masalah ini..."
"...hanya saja perbuatan yang kalian lakukan tidak jauh beda dengan namanya perbudakan, setelah semua ini selesai maka semua penduduk akan menyaksikan bintang utama!"
"Seorang idol cantik dan seksi sepertiku, Shizukaze Hinoka!" Hinoka menunjuk dirinya sendiri menggunakan jempolnya sampai Anastasia memberikan dirinya sihir peningkatan lainnya.
"Anggap saja ini sebagai latihan konser, Hinoka!" Kata Anastasia yang saat ini sibuk membentuk Hinoka melawan Dewa api yang bisa disebut kuat karena kekuatannya itu.
Ignatius memasang tatapan kesal sampai rambutnya yang terbuat dari api mulai membesar, "Kau tidak menganggap semua ini serius ya...?!"
"Apa yang kau pikirkan hanya sesuatu yang dapat gadis mengerti, idol atau apapun itu... debut pertamaku tidak akan bisa dimulai sebelum kau menjaga nyawamu itu dari api neraka yang akan aku lepaskan!"
"Aku sudah menawarkan sebuah kepercayaan padamu... kau bisa menjadi pendeta idol di sana." Kata Ignatius tetapi Hinoka menghela nafasnya.
"Tidak, terima kasih. Kau memerlukan banyak uang untuk menyewa dirimu menjadi idol, aku tidak murahan kau tahu karena membunuhmu adalah pekerjaan sampingan diriku menjadi pemberontak!"
Hinoka melesat menuju arah Ignatius lalu melancarkan beberapa pukulan yang berhasil di tangkap oleh dirinya, setelah itu perutnya menerima satu pembakaran yang melempar dirinya ke belakang.
Ignatius melepaskan meteor api menuju arah dirinya tetapi Hinoka menendangnya ke atas langit sehingga ia melirik ke belakang lalu menahan kedua pukulan api dari Dewa tersebut.
Hinoka tersenyum lalu ia menangkap pergelangan tangan Ignatius lalu melancarkan tendangan secara beruntun, setiap serangan Hinoka yang mengenai musuhnya maupun itu fisik atau sihir akan terjadi ledakan yang cukup untuk melukainya.
Ignatius mencoba untuk menyerang balik tetapi satu tendangan mengenai dadanya sampai menyebabkan ledakan di punggungnya, lengan kanan Ignatius mengeluarkan api yang membentuk tangan.
Tangan itu mencekik leher Hinoka lalu membakarnya, setelah itu ia dibanting ke atas daratan lahar yang sangat panas sampai membakar Kisetsu bagian lengan panjangnya itu.
Hinoka mengangkat kaki kanannya sampai menghancurkan dagu Ignatius lalu ia merobek kedua kain lengan panjangnya yang diubah menjadi flashbang sampai Hinoka memejamkan kedua matanya.
Ignatius mendadak buta ketika menerima dua flashbang sekaligus, ketika Hinoka mencoba untuk menyerang wajahnya ia malah diserang balik oleh air lahar yang muncul dari dalam daratan.
Ignatius mundur ke belakang, membakar kedua tapaknya dengan api hitam yang menjalar luas sampai membakar wilayah tersebut, "Aku sudah terbiasa dengan kepanasan seperti ini!"
Hinoka meledakkan tubuhnya untuk dijadikan sebagai pengecohan, Ignatius melihat Hinoka berada di dalam asap bekas ledakan tadi tetapi ia dikejutkan dengan pergerakan Hinoka yang sudah berada di depannya.
Satu pukulan ia lancarkan sampai mengenai dagu Ignatius lalu meledakkannya hingga ia terpental ke atas langit, walaupun tubuhnya sudah terbakar dan mendapatkan lindungan dari api, ia masih bisa menerima serangan ledakan itu.
Ignatius melihat Hinoka melayang di hadapannya selagi menyilangkan kedua lengannya itu, "Sekarang jelaskan apa yang akan kau lakukan...?"
"Apa maksudnya dengan ajakan kepercayaan yang sesat... lebih baik aku menjadi idol yang lebih berwibawa dibandingkan dewa seperti dirimu yang mengancam banyak sekali nyawa yang tidak bersalah!" Kata Hinoka.
"Kau tidak memiliki satu pun hak atau kewajiban untuk menanyakan apa yang Dewa elemen seperti kita lakukan... pikiran Mortal kalian tidak bisa sampai!"
Ignatius melepaskan bola api menuju daratan sehingga terjadi pembakaran yang sangat besar, angin yang menghembus api itu bertambah besar sampai menyentuh tubuh Hinoka yang mulai meledakkan semua itu satu per satu.
Ignatius muncul di belakang Hinoka, "Aku tidak bisa meremehkan Legenda dalam segi apapun karena kekuatan yang mereka terima terkadang unik, cara memperolehnya juga sama..."
"Kau tidak akan bisa melihat pengikut yang kau paksa masuk setelah ini..." Kata Hinoka dengan aura Crimson yang membesar.
__ADS_1
"Mungkin itu adalah perkataan untuk dirimu sendiri, kau yang tidak akan bisa melihat kedua sepupu dan temanmu itu..." Ignatius membakar tubuhnya dengan api hitam untuk meningkatkan daya tahan.
Ignatius mengerahkan semua God Lenergy sampai memperbesar pembakaran itu sampai membentuk lingkaran bulat yang mendorong dirinya ke belakang dengan tubuh yang menerima api hitam kecil.
Hinoka mengeluarkan batu kecil dari dalam sakunya lalu ia melihat Ignatius membuka mulutnya lebar sampai menyemburkan air lahar kepada dirinya.
Hinoka melempar batu kecil itu ke depan sehingga terjadi tabrakan antar kekuatan gelombang lahar dan batu kecil yang berubah menjadi ledakan besar karena sihir realitasnya itu.
Ignatius melihat Hinoka meledakkan tubuhnya beberapa kali selagi bergerak mengelilingi tubuhnya, Ignatius memasang tatapan kesal ketika melihat dirinya mulai bergerak rumit selagi meledakkan tubuhnya itu terus menerus untuk mengacaukan fokusnya.
Pada akhirnya, Hinoka berhasil menyerang Ignatius dari depan dengan menendang perutnya lalu ia berputar ke belakang dengan menendang punggungnya sampai ia terpental ke depan.
Ignatius mengulurkan kedua lengannya ke depan lalu melepaskan gelombang lahar besar menuju arahnya, Hinoka melakukan putaran ke sebelah kanan lalu melempar batu kecil lainnya kepada Ignatius.
Bola kecil itu langsung hancur menjadi kepingan kecil yang membentuk granat dengan efek ledakan yang diperkuat oleh sihir milik Hinoka.
Ignatius masuk ke dalam tanah lalu ia melesat keluar ke atas langit sampai tubuhnya terus terbakar hingga menyebabkan tubuh Hinoka mengucurkan banyak keringat yang membasahi Kisetsu nya.
Ignatius muncul di hadapan Hinoka lalu melancarkan satu pukulan api yang membesar, Hinoka memejamkan kedua matanya sampai memunculkan ledakan yang berputar di sekitar tubuhnya.
Hinoka menyentuh tinju api itu lalu mendorongnya ke depan tetapi Ignatius membakar tinju lainnya sehingga tubuhnya yang mulai terbakar membentuk banyak sekali tinju yang menyerang secara beruntun kepada perlindungan Hinoka.
Hinoka tertekan dengan semua pukulan api itu yang mengandung banyak God Lenergy di dalamnya, ia langsung terpental ke belakang dan menerima tembakan meteor api di perutnya.
Ignatius menggunakan api di punggungnya menjadi pedang yang menempel di kedua tinjunya itu, ia menusuk pinggang Hinoka sampai ia memuntahkan banyak darah lalu ia menundukkan kepalanya untuk menghindari tembakan meteor.
Hinoka merapatkan giginya lalu ia melepaskan ledakan yang menjalar ke depan melalui kedua tapak kakinya, Ignatius memisahkan tubuhnya menjadi api sampai ia muncul di belakangnya.
Ignatius melihat banyak celah seragam dimana ia menggerakkan kedua pedang api itu yang mulai menebas tubuh Hinoka tanpa henti sampai membakarnya.
Satu serangan terakhir Ignatius lepaskan sampai menebas punggung Hinoka sampai merobek kain di bagian belakangnya, ia terpental menuju arah daratan dengan melakukan beberapa putaran selagi melempar batu menuju arahnya.
Batu itu meledak dalam penerbangan menuju Ignatius, ledakan itu terus terjadi sampai menciptakan objek seperti piring terbang yang mencoba untuk memotong tubuh Ignatius menjadi beberapa bagian.
Hinoka melakukan perpindahan dengan ledakan yang terjadi tepat di belakang Ignatius lalu ia melakukan salto ke belakang sampai ujung kakinya menghantam puncak kepalanya itu.
"Gaya bertarung yang kau gunakan itu... hampir mirip seperti menari, kau memang tidak bertujuan untuk bertarung denganku secara serius jika pergerakan yang kau lakukan penuh dengan gaya."
"Aku sudah bilang bukan? Anggap saja ini adalah debut pertamaku menjadi seorang idol, te-he~" Hinoka menepuk kepalanya pelan selagi menjulurkan lidahnya.
Hinoka muncul di belakang Ignatius tetapi api di punggungnya membentuk pedang yang menebas wajahnya sampai ia terpental ke arah lain, ia mulai menghilang lalu keluar dari dalam api yang membakar Kisetsu nya itu.
Setelah itu, Ignatius menusuk perut Hinoka cukup dalam menggunakan pedang apinya sampai tubuhnya menerima bantingan dengan batu panas di bawahnya.
"Aaaagggghhh...!!!" Hinoka memuntahkan banyak darah melalui mulutnya, tubuhnya mulai terbakar dengan api hitam yang Ignatius lepaskan lalu lempar ke depan.
Tubuh Hinoka yang diselimuti dengan sihir api itu mulai dikendalikan oleh Ignatius dengan membantingnya beberapa kali dengan daratan serta air lahar yang meluncur ke atas langit seperti gunung meletus
"Counter-Reality!" Hinoka mengubah sihir api yang menyelimuti tubuhnya dengan ledakan sampai ia mendapatkan pemulihan kecil.
Hinoka melesat ke depan dengan melepaskan beberapa ledakan dari tubuhnya seperti lampu yang dimatikan dan nyalakan beberapa kali sampai membingungkan Ignatius.
Hinoka melancarkan satu pukulan yang berhasil mengenai dada Ignatius sampai melepaskan ledakan kecil dalam tubuhnya yang meremukkan tulang rusuknya itu.
Serangan itu dilanjutkan dengan tendangan yang mengenai dagu Ignatius sampai meledakkan semua giginya tanpa sisa, Hinoka menghantam wajahnya lagi lalu ia mengeluarkan batu yang berubah menjadi granat.
Granat itu ia hantam dengan perut Ignatius sekuat tenaga sehingga terjadi ledakan besar yang mendorong mereka berdua ke belakang.
Hinoka menghantam daratan sampai mengeluarkan batu besar yang ia tendang ke depan lalu mengubahnya menjadi ledakan, Ignatius maju ke depan lalu membelahnya menjadi dua sampai ia berhasil menghindari ledakannya itu.
Ignatius melompat keluar dari dalam api yang menempel di tubuh Hinoka lalu melancarkan dua pedang api itu yang berhasil Hinoka tahan menggunakan kedua tapaknya.
Namun, Hinoka dikejutkan dengan kedua tangan tambahan yang Ignatius ciptakan melalui api sampai tinjunya itu membentuk pedang panjang yang terus menebas tubuh Hinoka dengan serangan tebasan kombinasi.
Hinoka terpental ke belakang lalu ia melakukan salto sampai mendarat dengan aman, pendaratan itu ia lanjutkan dengan menendang beberapa serpihan batu menuju arah Ignatius.
Ignatius terus maju dengan mengubah tubuhnya menjadi api beberapa kali sampai ia muncul di hadapannya dengan lengan yang sudah menunjuk Hinoka sampai melepaskan gelombang lahar yang panas.
__ADS_1
Gelombang itu langsung meledak di tubuh Hinoka karena pengubahan realitas itu, ia langsung membalas serangan itu dengan pukulan ledakan yang mementalkan dirinya ke belakang.
Hinoka memperbesar sihir Crimson nya sampai kedua pupilnya berubah menjadi merah yang mengartikan dia mulai serius sekarang sampai amarah yang ia tampung terlepas.
"Jangan kecewa secepat itu, Hinoka... biarkan aku membalasnya dengan ini!!!" Ignatius melepaskan lebih banyak api sampai tubuhnya berhasil mendapatkan lindungan dari zirah obsidian yang mengeluarkan api merah darah.
Ignatius muncul di hadapan Hinoka lalu melancarkan beberapa pukulan menggunakan empat tangan tetapi Hinoka menahan semua itu dengan berbalik badan sampai punggungnya terlindungi dengan aura ledakan.
Hinoka berbalik badan lalu menghantam perutnya cukup dalam sehingga terjadi ledakan di punggungnya yang cukup untuk menghancurkan zirah yang melindunginya.
Ignatius sudah bergerak secepat mungkin tetapi serangan yang ia lakukan menerima jeda dari ledakan kecil itu, ledakan yang memperkuat insting Hinoka sampai ia dapat menyesuaikan kecepatan musuhnya untuk sementara.
Hinoka langsung menendang perutnya beberapa kali lalu menghajarnya menggunakan kedua tinjunya sehingga terjadi ledakan yang menyebar di seluruh tubuhnya.
Ignatius melompat ke belakang lalu ia melepaskan banyak sekali meteor menuju arah dirinya, Hinoka mengangkat jarinya lalu melepaskan laser merah tipis dimana ketika laser itu menyentuh sesuatu maka akan meledakkannya.
Ignatius melepaskan air lahar besar dari dalam inti planet itu, Hinoka melawannya dengan melepaskan gelombang ledakan tetapi Ignatius tetap memberontak dengan mengeluarkan semua lahar dari dalam planet itu.
Hinoka mengangkat kedua lengannya lalu menjatuhkan sebuah bola energi merah yang berhasil meledakkan semua lahar itu tanpa sisa, tetapi Ignatius sudah berada di sebelahnya dengan sihir yang langsung terlepas ke arahnya.
Hinoka menyentuh sihir itu lalu meledakkannya, ia bisa melihat Ignatius terbang tinggi ke atas langit tetapi ia disambut dengan banyak sekali lemparan granat dari Hinoka.
Ignatius melepaskan air lahar besar dari dalam daratan yang mengelilingi tubuhnya untuk dijadikan sebagai perlindungan, tetapi Hinoka muncul di hadapannya lalu melepaskan ledakan dari jarak yang dekat.
Sihir yang mereka lepaskan sama-sama meledak sehingga terjadi pertarungan fisik dan adu jotos sekarang di atas lautan api yang sudah diciptakan oleh Ignatius.
Hinoka menendang wajah Ignatius lalu menurunkannya sampai mengenai bajunya, setelah itu ia berputar dan melepaskan ledakan ke depan sampai ia terpental ke belakang.
Ignatius mengangkat kedua lengannya untuk meletuskan lahar yang ia injak agar bisa menahan serangan energi ledakan dari Hinoka.
Hinoka melompat dari atas lalu menghantam wajah Ignatius dan menendang tubuhnya beberapa kali sehingga ia satu pukulan tadi menjatuhkan dirinya ke dalam lahar itu.
Hinoka menginjak perutnya lalu ia mengubah air lahar itu menjadikan ledakan besar yang mementalkan Ignatius menuju atas langit dimana Hinoka sudah menyambut dirinya dengan satu tendangan.
Tendangan itu menjatuhkan Ignatius sampai ekspresinya terlihat senang karena tubuh Dewanya itu memang tidak pernah mengecewakan dalam segi kekuatan dan daya tahan karena bisa bertahan dari ledakan Hinoka.
Hinoka mendarat di depannya, "Apapun itu... semuanya bagaikan benda yang bisa memicu ledakan dengan satu sentuhan dan ucapan!"
"Aku belum memulainya!" Ignatius membakar tubuhnya lagi lalu ia muncul di hadapan Hinoka dengan melancarkan beberapa tendangan yang Hinoka tahan juga dengan tendangan lain.
Ignatius berhasil mengenai satu tendangan yang mendorong Hinoka mundur, tetapi ia menjentikkan jarinya untuk meledakkan daratan yang baru saja ia injak.
Ignatius mulai melompat ke belakang tetapi ia menerima ledakan lain, setiap tempat yang ia coba injak terus meledak karena Hinoka yang sudah mengubah realitas menjadi ledakan dengan pemicu jentikan semaunya.
Ignatius menyerang balik dengan meletuskan daratan sampai melempar Hinoka ke atas langit karena air lahar yang terlepas.
Ignatius muncul dari atas Hinoka lalu ia menghantam wajahnya sampai pipinya meninggalkan luka bakar, mereka berdua mulai saling melancarkan berbagai macam serangan yang terus beradu.
Pukulan dan tendangan mereka yang saling mengenai mampu memicu letusan air lahar di sekitarnya sampai gelombang lahar tersebut meledak karena sihir Hinoka yang terlepas ke wilayah tersebut.
Ignatius memperbesar apinya sampai mengeraskan kedua pukulan Hinoka menjadi obsidian, ia mulai lengah karena pengerasan itu sehingga perutnya menerima satu pukulan sikut.
Puncak kepalanya menerima injakan dari Ignatius yang menjatuhkannya ke dalam air lahar, Hinoka menunjuk Ignatius menggunakan kedua jarinya lalu ia menurunkannya.
"Apa---" Pakaian dewa Ignatius langsung melepaskan ledakan dahsyat yang berhasil melukai dirinya, untungnya Hinoka sempat memasang bom waktu di dalam kain bajunya itu.
Ledakan itu berakhir dalam sekejap sampai Hinoka melihat Ignatius masih bertahan hidup dengan api yang mengelilingi tubuhnya, "Mungkin kau menyadari sesuatu..."
"...semua yang kau berikan padaku hanyalah permulaan!!!" Kulit Ignatius mulai terbakar dengan api itu sehingga wujud Legendanya sudah tergantikan dengan api yang menyerupai bentuk seperti Humanoid.
Apinya yang berwarna merah darah berubah menjadi hitam sampai rambutnya mengeluarkan banyak api hitam yang menjalar luas ke atas langit, Hinoka mengerutkan dahinya ketika menyadari Ignatius mengerjakan semua kekuatannya.
"Dalam wujud ini... jangan berpikir kau bisa menari lagi, Hinoka. Sekarang adalah waktunya diriku untuk menari dengan api yang akan terus menghalangi jalanku!"
"Aku ingin menggunakan wujud ini cukup lama sekali, jadi..."
"...bekerja sama lah denganku selama kau masih bertahan hidup...!!!"
__ADS_1