Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 742 - Jatuh Sakit


__ADS_3

"... ..." Shinobu membuka kedua matanya, melihat sinar cahaya masuk melalui jendela yang sudah terbuka oleh Tech.


Waktu pagi sudah tiba, Shinobu mengalami tidur yang cukup menenangkan sampai ia segera bangun lalu melihat Kou yang masih tertidur di sebelahnya dengan ekspresi kesakitan.


"Mama... bangun... sudah pagi..."


Shinobu tersenyum lalu ia menepuk tubuhnya beberapa kali sampai mata kirinya mendeteksi suhu tubuh Kou yang meningkatkan cukup drastis sehingga ia bisa melihat dirinya yang mengalami demam.


"T-Tech...! Tolong periksa kondisi Mama lebih baik..." Suruh Shinobu sehingga Tech melaksanakannya dengan cepat sampai ia dikejutkan oleh demam yang pernah Kou rasakan sejak kecil tetapi jauh lebih buruk.


"Sesuai dengan apa yang saya deteksi, nyonya Kou mengalami demam tinggi yang cukup parah... sejak kecil dia pernah merasakannya sampai tidak ada obat yang pas untuk menyembuhkannya."


Perkataan Tech mengejutkan Shinobu seketika sampai ia bergegas menuju dapur untuk mengambil sapu tangan yang di basahi oleh air dingin, setelah itu ia kembali mendekati Kou untuk mendinginkan keningnya itu.


"Dengan pendinginan dari sapu tangan itu... Mama pasti akan sembuh secepatnya, semoga saja." Shinobu mencoba untuk tetap berpikir positif demi Kou yang terjatuh sakit karena kutukannya.


"Putri kecil, saya benci untuk mengatakannya tetapi nyonya Kou sejak kecil sudah menerima kutukan yang memberikan dirinya penyakit tanpa penyembuhan apapun..."


"...penyakit itu seiring waktu akan bertambah buruk sampai menyebabkan waktu kehidupannya berkurang, sejak itu dia pernah di rumorkan akan mati karena gagal jantung."


"Tidak ada obat, pemulihan, penyembuhan, atau dokter yang dapat membantu dirinya. Operasi juga tidak berguna..." Tech terpaksa mengatakannya untuk Kou yang sudah menceritakannya kembali dengannya.


"Koneko yakin Mama akan sembuh sebentar lagi kok... tidak akan lama..." Shinobu mengatakannya dengan penuh harapan sampai ia tidak berani untuk berpikir yang negatif.


"A-Aku mau membeli bubur... tolong jaga Mama ya." Shinobu pergi mendekati laci lalu membukanya untuk mengambil tabungan yang berbentuk patung kucing.


Di dalamnya terdapat berlian yang berjumlah sangat kecil, tabungan itu awalnya untuk biaya akademi Shinobu ketika ia besar tetapi ia sudah tidak tertarik untuk masuk lagi karena Kou yang sedang sakit.


Shinobu berjalan keluar lalu ia melesat menuju kerajaan Ghisaru untuk membeli bubur di restoran Shimatsu.


Beberapa menit kemudian, Shinobu mulai mengantre untuk memesan bubur itu karena ia bisa melihat banyak sekali pelanggan yang berbaris sampai keluar menunggu bagian untuk makan sarapan di restoran tersebut.


"... ..." Shinobu memegang erat roknya sambil menatap daratan, ia sempat melihat genangan air yang mencerminkan wajahnya sendiri.


Bug!


Shinobu sengaja tersenggol oleh seseorang sehingga keluar dari antrean itu tanpa sengaja.


Ia mencoba untuk masuk kembali tetapi Legenda itu mulai menghentikan dirinya karena ia berpikir Shinobu mencoba untuk menerobos antrean sembarangan.


"Oi, oi, oi, apa yang sedang kau coba lakukan, bocah? Apakah orang tuamu pernah mengajarkan sopan santun untuk tidak menerobos antrean?" Tanya Legenda itu.


"Oh, M-Maaf..." Shinobu menundukkan kepalanya, membiarkan Legenda yang menyenggol dirinya untuk mengantre sampai ia terpaksa berjalan ke antrean paling terakhir.


Shinobu yang baru saja tiba di antrean paling terakhir mulai menerima tabrakan lain dari Legenda lainnya sampai ia terdorong ke belakang lalu terjatuh.


"Astaga, apakah bocah seperti dirimu tidak takut untuk di culik apa? Mengantre sendirian itu tidak baik..."


"...kemana Ayah dan Ibumu?" Tanya Legenda itu.


"Tidak ada... Anuu... aku datang sendirian."


Shinobu kembali bangkit sehingga Legenda itu dapat melihat kedua kaki dan lengan yang berwarna perak sampai mereka kira dirinya adalah seorang robot.


"Ahh, iya, robot memang tidak memiliki keluarga sih. Wajar saja di era seperti ini akan terdapat robot yang berkeliaran..."


"Anuu... aku bukan robot..." Shinobu terkekeh pelan dan Legenda itu langsung diam saja tanpa mendengarkan perkataannya.


Arata dan Ophilia terlalu sibuk mengurusi semua hidangan itu sampai mereka tidak bisa melihat Shinobu yang sangat membutuhkan bubur untuk Kou yang sedang sakit.


Shinobu sadar bahwa dirinya sudah lama menunggu, terpaksa ia harus mencari tempat lain yang menyediakan bubur hangat untuk Kou.


Ia berjalan pergi meninggalkan antrean itu untuk mencari pedagang yang menjual bubur, tidak lama kemudian ia langsung menemukannya di hadapannya.


Terlihat beberapa Legenda yang sedang menikmati sarapan mereka juga, ia mulai berjalan mendekati dagangan kecil itu lalu menempati beberapa berlian kecil untuk membeli bubur.


"Anuu... s-satu bubur hangat, tolong." Kata Shinobu.


Pedagang itu melihat Shinobu yang berukuran begitu kecil sampai ia tidak bisa melihat dirinya, ia mulai mengangguk lalu mengambil berlian itu.


Dirinya bergegas membuat bubur hangat untuk Shinobu yang sedang menunggu selagi memegang roknya, ia melihat sekeliling dengan ekspresi khawatir karena memikirkan Kou yang masih sakit.


"Ini gadis kecil..." Pedagang itu memberikan sebuah bubur hangat yang sudah di bungkus, Shinobu mengambilnya lalu ia berterima kasih sebesar-besarnya.


Shinobu berjalan pergi dari kerajaan itu lalu ia terbang tinggi ke atas untuk pulang, memberikan bubur itu untuk Kou agar ia bisa secepatnya sembuh dan bekerja seperti biasanya untuk memenuhi kebutuhan.


Beberapa menit kemudian, Shinobu tiba di dalam kabinnya lalu ia mempersiapkan mangkuk untuk menumpahkan bubur hangat yang ia pesan, setelah itu ia mengambil sendok dan mangkuk itu lalu mendekati Kou.


"Mama... bangun, kita makan ya...?" Shinobu tersenyum sampai ia melihat kedua mata Kou terbuka pelan-pelan dengan tubuh yang berkeringat karena suhu panas.


Pandangan Kou awalnya melihat Korrina yang sedang duduk di hadapannya tetapi ia mulai kembali berkedip sampai pandangannya melihat Shinobu yang sedang memegang mangkuk berisi bubur.

__ADS_1


"Koneko..."


Shinobu mulai membantu Kou untuk duduk lalu ia menyuapi bubur hangat itu kepada dirinya, ia mulai memakannya pelan-pelan sampai merasa tidak enak ketika mencoba untuk menelannya.


"Mama... tidak enak untuk makan...?" Tanya Shinobu.


"Tidak kok... mungkin karena demam... Mama jadi susah makan..." Kou membuka mulutnya lalu ia memakan satu suapan lagi sehingga perutnya merasakan penolakan.


Dengan cepat Shinobu mengambil sebuah ember lalu menempatinya di hadapan Kou sampai ia muntah di dalamnya cukup banyak, Shinobu hanya bisa melihatnya dengan tatapan khawatir karena ia tidak tahu harus apa.


"Mungkin... Mama ingin tidur saja... agar bisa sembuh secepatnya..." Kou mengelus kepala Shinobu lalu ia kembali berbaring di atas kasur.


"Mama... obat seperti apa yang harus aku beli...?" Tanya Shinobu.


"Tidak perlu kok... nanti juga sembuh sendiri..." Kou memejamkan matanya lalu Shinobu mulai membuka tabungan kabin yang sudah habis karena semuanya di pakai untuk membeli bubur dan urusan penting Kou.


"Tech... o-obat seperti apa yang harus aku beli ya...?" Tanya Shinobu.


"Aku sudah memasukkan sebuah informasi itu ke dalam mata kirimu, putri kecil. Sejak kecil, dia meminum banyak sekali obat untuk menyembuhkan semua itu..."


"Baiklah..." Shinobu sudah mendapatkan tujuannya tetapi ia tidak tahu harus apa untuk mendapatkannya tanpa berkian.


"Tech, tolong cetak jurnal kehidupan, dongeng, ilmu pengetahuan, dan latihan di mulai dari jilid satu sampai tiga secepatnya..." Perintah Shinobu karena ia ingin menjual semuanya untuk menghasilkan berlian.


Shinobu tidak berniat untuk meminta kepada siapa pun karena dirinya tidak ingin menyusahkan seseorang, ia harus melakukan semuanya sendirian dengan tanggung jawabnya sebagai putri yang harus menjaga seorang Ibu.


Menghabiskan selama satu jam menunggu untuk semua jurnal itu selesai di cetak sampai bisa di jual, Shinobu mulai memasukkannya semuanya ke dalam ransel lalu ia menggendongnya.


"Putri kecil... kau hanya membahayakan dirimu saja jika pergi keluar wilayah kabin ini..."


"Tidak apa... aku hanya ingin mendapatkan berlian untuk membeli obat, tolong jaga Mama ya..." Shinobu berjalan keluar lalu ia melesat menuju kerajaan Ghisaru untuk memastikan.


Ia berencana untuk menjual semua jurnal itu di dalam kerajaan yang dirinya anggap aman, ia mulai mendarat di atas tanah lalu mencari tempat pas untuk berjualan.


Shinobu menemukan posisi yang pas, ia mulai menempati ranselnya di atas tanah lalu membukanya, ia juga tidak lupa untuk mengeluarkan sebuah papan yang menunjukkan harga setiap buku.


Semuanya terlihat begitu murah karena Shinobu membutuhkan uang secepat mungkin untuk membeli obat tersebut, ia mencoba untuk mengajak semua Legenda yang lewat itu beli tetapi tidak bisa karena merasa sangat malu dan gugup.


"Jurnalnya... jurnalnya... jika kalian ingin membaca, silakan untuk membeli jurnal ini..." Shinobu menawarkannya kepada beberapa Legenda yang lewat tetapi mereka tidak menghiraukan dirinya.


Kebetulan seorang pustakawan lewat, Shinobu langsung menawarkannya sehingga ia berhenti berjalan lalu mengambil jurnal itu untuk melihat isinya.


"Jadi bocah kecil sepertimu mencoba untuk menjual jurnal ilmu pengetahuan dan latihan dengan langkah-langkah panjang di dalamnya...?"


"M-Maaf..." Shinobu menundukkan kepalanya kepada pustakawan itu lalu ia mengambil kembali buku yang sudah kotor sampai beberapa halaman sobek karena lemparan kasar tadi.


Shinobu mulai menawarkan jurnal itu berjam-jam sampai tidak ada yang mau membelinya karena zaman sekarang, mereka hanya ingin isi buku yang menceritakan semuanya secara langsung dan serba cepat.


Shinobu duduk di atas tanah selagi menunggu pembeli untuk datang tetapi sampai sore pun tidak ada yang datang, seseorang mulai menghampiri dirinya.


"Bocah, kau sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di posisi itu tanpa izin... lebih baik cari tempat lain atau kau harus membayar rugi." Kata Legenda itu.


"Oh... M-Maaf..." Shinobu menundukkan kepalanya lalu ia mengambil ransel itu yang lupa untuk di tutup karena pikirannya terus memikirkan Kou yang pasti kelaparan dan belum meminum sedikit pun obat.


Semua jurnal itu langsung jatuh karena Shinobu yang lupa untuk menutupnya, ia langsung mengambil semuanya satu per satu tanpa ada satu pun orang yang mau membantu dirinya.


Mereka hanya memperhatikan Shinobu yang menarik banyak perhatian sampai jubah yang menghalangi kepalanya mulai menunjukkan satu telinga kucing.


Otomatis mereka langsung bergosip tentang Shinobu bahwa Neko Legenda adalah bangsa yang sangat berbahaya, walaupun kerajaan itu tetap bisa di sebut aman, mereka masih sangat sensitif dengan ras Neko Legenda.


Shinobu menutup kembali kepalanya lalu ia mencari tempat lain untuk menjual jurnal itu, ia menemukan posisi yang bagus tetapi cuacanya saat ini tidak mendukung sampai menurunkan hujan deras.


Shinobu mencoba untuk mencari tempat berteduh dan ia menemukannya sampai tempat itu terlihat begitu sempit karena banyak sekali pedagang yang ikut berteduh sampai dirinya terus tersenggol.


Pada akhirnya, ranselnya juga ikut tersenggol sampai menjatuhkan beberapa jurnal ke atas daratan sampai basah, melihatnya saja membuat Shinobu yakin bahwa ia tidak bisa menjualnya.


Ia mulai mengambil jurnal basah itu satu per satu lalu memisahkannya, setiap ujian pedih yang ia rasakan, Shinobu tetap bersabar dan memasang tatapan polos, dirinya juga berharap seseorang bisa datang untuk membeli secepatnya sebelum malam.


"Permisi, apakah Anda memiliki buku dongeng?" Seorang Legenda yang memegang payung mulai menghadapi Shinobu untuk membeli jurnal.


"A-Ada... ini..." Shinobu mengambil jurnal dongeng lalu ia memberikannya kepada Legenda itu.


"Berapa?"


"Lima ratus saja..."


Legenda itu memberikan Shinobu lima ratus berlian kecil yang langsung ia simpan di dalam sakunya, berlian itu masih belum cukup untuk membeli obat demam karena satu saja sudah menghabiskan tiga puluh ribu.


"... ..." Shinobu duduk di atas tanah sehingga hujan bertambah parah karena badai besar, tetesan hujan itu mengenai semua Legenda yang sedang berteduh termasuk Shinobu.


Malam hari telah tiba, hujan terus bertambah parah dan Shinobu duduk sendiri di tempat teduh itu selagi menunggu seorang pembeli untuk datang, dirinya tidak mau pulang tanpa membeli obat apapun.

__ADS_1


"Baiklah... akan aku coba..." Shinobu bangkit lalu ia menggendongnya ranselnya, ia berniat untuk pergi ke toko obat untuk membeli obat menggunakan uang secukupnya.


Shinobu berharap bahwa terdapat sebuah obat yang cukup untuk ia beli menggunakan sedikit berlian, tubuhnya menerima tetesan hujan itu lalu ia mendekati rumah kecil yang menjual berbagai macam obat.


"Gadis kecil... apa yang kau butuhkan?" Tanya sang penjual.


"Aku ingin membeli obat demam..."


Penjual itu mengeluarkan obat demam lalu menempatinya di atas meja, harganya bisa tertera dengan jelas sehingga Shinobu memberanikan diri untuk menawarnya.


"Anuu... A-Apakah lima ratus cukup...? A-Aku membutuhkannya untuk Mamaku yang sedang sakit..." Shinobu menunjukkan berlian kecil itu tetapi pedagang itu langsung mengambil obat itu.


"Tidak ada tawar menawar...! Bagaimana bisa kau datang sendirian tanpa seorang pendamping, cepat pergi!"


"T-Tapi... aku membutuhkannya untuk Mamaku yang sedang sakit... Papaku sudah tidak ada---"


"Aku tidak peduli!" Pedagang itu menendang Shinobu keluar karena ia tidak menyukai seorang pembeli yang datang tanpa persiapan, dengan cepat ia menutup toko tersebut.


Pengusiran tadi cukup kasar bagi Shinobu sehingga ia terjatuh di atas tanah sampai Kisetsu nya kotor karena lumpur, ia kembali bangkit lalu melihat tasnya yang ikut kotor juga.


"A-Aku harus membelinya dimana ya... aku ingin Mama sembuh..." Shinobu berjalan pergi dengan tubuh yang kebasahan karena tetesan hujan badai.


Kebetulan Ophilia berjalan keluar dari restoran itu untuk menutupnya tetapi ia melihat Shinobu yang berjalan sendirian di tengah jalanan selagi menatap daratan karena bingung harus apa.


"S-Shinobu...?" Ophilia terkejut ketika melihat Shinobu kehujanan seperti itu, ia mulai mengambil sebuah payung lalu mendekati dirinya untuk mengajak Shinobu ke dalam restoran tersebut.


"Shinobu... apa yang kamu lakukan di sini? Malam hari dengan cuaca hujan seperti ini..." Kata Ophilia dengan ekspresi khawatir.


"Tante..."


Ophilia mulai membawa Shinobu ke dalam restoran itu lalu ia mengering tubuhnya yang basah, ia sempat melihat beberapa bekas luka dan telinganya yang hilang itu termasuk dengan ekornya juga.


Shinobu pasti di sakiti lagi oleh Legenda lainnya sampai tidak ada satu pun orang yang dapat memulihkan semua itu dengan benar, ia mulai menyembuhkan semua lukanya.


"... ..." Ophilia mengingat takdir Comi ternyata akan bertambah lebih buruk, di mulai Korrina lalu maju sampai Kou dan berakhir di titik Shinobu yang benar-benar mendapatkan banyak kebencian.


Gadis yang ia bantu saat ini adalah seorang anak dari Legenda yang pernah menghentikan dirinya untuk melakukan bunuh diri karena sudah menjadi penyebab dari kebangkitan Bamushigaru.


"Shinobu, kenapa kamu terluka seperti itu...?"


"Ohh... Anuu... itu yang kemarin..."


"Terus... kenapa kamu pergi sendirian di malam hari dengan cuaca badai hujan?" Tanya Ophilia yang mulai membuka ransel Shinobu sampai ia bisa melihat semua jurnalnya basah.


"Anuu... Aku hanya ingin membeli obat untuk Mama... beliau sedang sakit jadi aku bekerja keras untuk mencari berlian..."


"...a-aku tidak mendapatkannya, jadi Koneko tidak bisa pulang... aku ingin Mama sembuh secepatnya..." Shinobu memegang erat Kisetsu nya.


Arata mulai mendekati Shinobu lalu melihat dirinya yang benar-benar berantakan, dia terlihat semakin malang ketika dibiarkan sendirian, untungnya ia mengambil sebuah kantong berisi berlian di dalamnya.


"Ambil saja ini, Shinobu... gunakan untuk membeli obat." Kata Arata.


"E-Ehh... aku tidak bisa menerima sesuatu yang begitu besar..." Shinobu menolaknya karena ia ingin kantong berlian itu untuk mereka saja.


"Shinobu, kami akan membeli semua jurnal yang kamu tulis... ambil saja itu uangnya sebagai bayaran..."


Shinobu tidak bisa menolak sekarang, ia mulai tersenyum polos lalu mengambil kantong itu selagi menundukkan kepalanya, "T-Terima kasih..."


"...apakah ini tidak terlalu---"


"Simpan saja kembaliannya."


"B-Baiklah... terima kasih..." Shinobu merasa sangat senang bahwa ia bisa pulang untuk memberikan obat demam tersebut kepada Kou.


Arata dan Ophilia menatap satu sama lain lalu mereka menatap Shinobu, "Shinobu..."


"Mmm?"


"Bagaimana jika kamu bekerja di sini sebagai pelayan?" Tawar Arata.


Tawaran yang terdengar cukup menguntungkan tetapi Shinobu mulai tersenyum pahit sampai ia menggelengkan kepalanya karena terpaksa harus menolaknya.


"M-Maaf... aku tidak bisa menerima tawaran itu..."


"Ehh...? Kenapa...?"


"A-Aku ini seorang Neko Legenda... yang memiliki tangan dan kaki robot..."


"...lebih baik mereka tidak melihat diriku melayani hidangan mereka,."


"Aku tidak ingin menyebabkan keributan dan ketakutan di restoran ini..."

__ADS_1


"...t-terima kasih atas tawarannya."


__ADS_2