
Acara pernikahan Shira dan Megumi belum berakhir sebelum acara lain-nya dimulai, masih terdapat banyak kegiatan yang harus dilaksanakan dan salah satu-nya adalah permainan yang sudah direncanakan oleh Korrina dari awal, semua partisipan yang akan mengikuti permainan sudah mendaftar di stand dimana Shizen berada.
Permainan yang sudah direncanakan semoga saja bisa berjalan dengan lancar karena permainan ini sangat berbeda, Aditya dan Andrian-lah yang merancang permainan tersebut... Jadi mereka semua akan memulai kegiatan permainan dengan melakukan permainan yang berasal dari negara Indonesia dan sebagian juga dari Yuutouri atau negara luar selain Indonesia.
Shira terlihat kebingungan ketika melihat sebuah tali yang berbentuk aura merah mulai melayang di atas udara, tali lain-nya mulai muncul dan mengikat sebuah durian berwarna merah sampai itu membuat Shira kebingungan kenapa bisa buah-buahan yang terasa pedas dijadikan sebagai permainan.
"Korrina, apakah ini benar-benar aman jika buah itu diadakan...? Bukannya rasa dari buah itu sangat pedas...? Lebih pedas dari bumbu rendang yang dibuat oleh Arata." Kata Shira sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat ragu-ragu.
"Tenang saja, kita tidak akan memakan buah berbahaya itu... Legenda mengatakan bahwa buah itu dapat menyebabkan sakit perut dan diabetes selama beberapa hari jadi aku sudah jelas tidak akan mengijinkan permainan yang berbahaya, tetapi..." Korrina menunjuk beberapa koin yang menempel di setiap duri durian tersebut hingga Shira melebarkan matanya.
"...permainan pertama adalah mengambil koin sebanyak-banyaknya dari duri durian tersebut, peraturan-nya itu mudah... Kita tidak boleh menggunakan tangan untuk mengambil koin tersebut, sihir-pun dilarang karena kita hanya membutuhkan mulut untuk mengambil koin-koin itu." Korrina mulai menjelaskan tentang peraturan dari permainan itu.
Shira mulai mengerti dengan penjelasan-nya sekarang, "Jadi kita hanya perlu menggunakan mulut atau gigi untuk mendapat koin tersebut?"
"Benar sekali, jika menggunakan anggota tubuh selain mulut atau gigi maka peserta itu akan di diskualifikasi... Semoga beruntung, Shira!" Kata Korrina dengan ekspresi yang terlihat serius, "Oh...! Berhati-hatilah ketika mencoba untuk mengambil koin itu karena duri-duri bisa saja melukai wajahmu."
"Tentu saja, aku akan berhati-hati."
"Tapi...!!!" Korrina mulai melayang di atas dan menciptakan sebuah microphone yang terbuat dari hologram, semua tamu-tamu mulai menatap Korrina dimana dirinya mulai menjelaskan satu permainan besar yang akan berjalan cukup lama tetapi menyenangkan.
Sebuah layar virtual yang sangat besar muncul di atas langit dimana mereka melihat banyak sekali permainan yang terlihat cukup menyenangkan, pertama adalah mengambil koin dari durian pedas, kedua itu harus berjalan mundur dengan sebuah sendok di mulut serta kotoran yang sangat bau tepat di atas sendok itu lalu setelah itu mereka harus menghancurkan sebuah hewan balon dengan hanya menggunakan tongkat tanpa harus melihat.
__ADS_1
Semua peraturan sudah dijelaskan sampai semua tamu mulai mengerti dengan peraturan-nya, setelah menghancurkan balon dengan tongkat maka mereka akan mendapatkan sebuah kunci yang dapat membawa mereka ke babak terakhir.
Hanya sepuluh orang yang ingin mengikuti babak pertama itu dan mereka semua sudah siap untuk menanggung resiko seperti merasa sakit karena duri durian serta menahan rasa bau yang sangat menyengat yaitu kotoran, sepuluh orang yang siap melakukan permainan itu sudah berbaris di tempat mereka masing-masing.
Korrina, Shira, Yusa, Asuka, Yuffie, Vania, Aditya, Arata, Haruki, dan Yuuna sudah bersiap... Beberapa dari peserta yang mengikuti permainan itu merasa terpaksa karena harus menghibur beberapa tamu dan membuat acara pernikahan ini menjadi pernikahan yang sangat menyenangkan karena dipenuhi hiburan.
"Bersiap..." Andrian mulai mengangkat senapan-nya ke atas, ketika ia menarik pelatuk-nya... Sebuah peluru meluncur ke atas lalu meledak hingga mereka semua melesat menuju arah duri itu demi mengumpulkan koin-koin yang terdapat di durian tersebut.
Beberapa dari mereka sudah terluka karena duri-duri itu tetapi luka-nya tidak cuku parah, hanya luka yang dapat membuat geli dan memperlambat mereka untuk mengambil koin itu, yang paling cepat mengumpulkan koin itu tidak jauh lagi dari mereka yang sudah kebal dengan luka kecil seperti Shira, Arata, Haruki, dan Korrina.
Mereka harus mengumpulkan sebanyak sepuluh koin untuk melanjutkan permainan, Yusa yang hanya bisa mengambil satu koin mulai merasa muak karena durian itu terus melukai diri-nya dan memperlambat-nya... Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah pedang lalu menghancurkan durian itu dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Woi!!! Kau di diskualifikasi!" Kata Korrina sambil menunjuk Yusa, "Bodo amat!!! Duri-duri itu menyakitkan tau...! Semua koin-koin itu tersangkut di dalam durian tersebut sampai aku tidak bisa mendapatkan-nya...!"
"Ummm... Asuka... Sepertinya anda di diskualifikasi."
"Tidak apa... Asuka dapat buah-buahan enak." Kata Asuka sambil menikmati durian itu, Akina dan Chiara segara menarik dirinya dari arena permainan karena dia tidak mau berhenti untuk menikmati durian tersebut.
Tanpa sengaja Asuka menggunakan kristal realitas-nya untuk mengubah durian itu menjadi apel serta koin-koin yang menempel atau menyangkut di durian itu mulai berjatuhan sampai Yuffie sudah mengumpulkan semua koin, tetapi pada akhir-nya dia diskualifikasi karena melanggar peraturan dalam menggunakan sihir.
"Hehhh...! Apakah kristal ini sedang mode otomatis!? Sialan...! Aku padahal sudah mengumpulkan sembilan...!!!" Seru Yuffie.
__ADS_1
"Dengan ini aku yang akan memulai permainan kedua...!!!" Kata Arata yang berhasil mengumpulkan semua koin itu, ia melesat ke depan lalu menempatkan semua koin itu ke dalam sebuah kubus yang melayang di atas udara lalu ia mengambil sebuah sendok dan juga mengambil kotoran yang ada di atas kubus itu menggunakan sendok tersebut.
Arata melebarkan matanya ketika melihat Shira, Korrina, Yuuna, dan Haruki yang sudah menggigit sendok itu sambil berjalan mundur di atas udara, ekspresi yang mereka tunjukkan terlihat lucu karena salah satu dari mereka mencoba untuk menahan aroma menyengat yang dimiliki oleh kotoran tersebut.
"Huggghhh...!" Shira mengembungkan pipi-nya, mencoba untuk menahan muntahan-nya.
"Kenapa... Kenapa permainan yang kedua ini harus ada..." Ungkap Korrina sambil memejamkan kedua mata-nya.
"... ..." Haruki mencoba sekuat mungkin untuk bertingkat seolah biasa saja, tetapi kedua lengan-nya bergetar karena aroma bau itu benar-benar mempengaruhi dirinya serta memenuhi lubang hidung-nya dengan aroma yang sangat menyengat.
"U... Ucckkk..." Yuuna hampir saja muntah tetapi ia menahan-nya, sepertinya kotoran itu memiliki aroma yang sangat menyengat karena sudah dialirkan beberapa sihir yang dapat memperkuat aroma atau bau kotoran tersebut.
Kelima mereka berhasil melewati permainan kedua, saat ini mereka harus menghancurkan balon yang sudah dilapisi dengan sihir pelindung hanya menggunakan tongkat saja, Vania dan Aditya gagal dalam melaksanakan permainan kedua karena kotoran itu mampu membuat mereka berdua menyerah lalu pergi mencari makanan dengan aroma yang dapat menghapus bau itu.
Sepuluh menit telah berlalu dan kelima dari mereka tidak mampu menghancurkan balon itu menggunakan tongkat biasa, dengan bantuan sihir sepertinya akan membantu, "Sepertinya tanpa menggunakan sihir, permainan ketiga ini akan menghabiskan waktu yang cukup lama..."
"Tongkat-ku patah..." Kata Arata.
"Kalau begitu menggunakan sihir saja!!!" Seru Shira hingga tongkat yang ia pegang mulai diselimuti dengan cahaya emas, ia menghancurkan balon itu menggunakan tongkat-nya yang sudah dialirkan oleh sihirnya sendiri.
"Hei! Itu curang!" Seru Haruki hingga ia melakukan hal yang sama, mereka semua juga mulai muak dengan menghancurkan balon itu tanpa menggunakan sihir jadi mereka memilih untuk menggunakan sihir dan mengambil kunci yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Mereka dengan bersamaan terbang dengan kecepatan penuh menuju panggung yang ada, satu kunci yang hanya akan diterima jadi mereka dengan bersamaan terbang dalam kecepatan yang setara hingga pada akhirnya mereka semua menabrak panggung itu dan menciptakan asap-asap hitam yang menghalangi panggung.