Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 833 - Pesta Barbeque


__ADS_3

"Pesta Barbeque...?" Shira menatap Shinobu yang baru saja membahas tentang pesta tersebut, ternyata ia masih ingin menikmati waktu libur dan musim sejuknya.


Itu pertanda yang bagus karena stres dan penderitaan Shinobu bisa terus berkurang jika ia mau bersenang-senang dengan yang lainnya, Shira menempati kopinya di atas meja lalu ia menggendong tubuh kecil Shinobu.


"Boleh saja... kapan?" Tanya Shira.


"Mmm... besok, apakah Kakek bisa memanggang?" Tanya Shinobu.


"Tentu saja, serahkan semuanya kepadaku. Lagi pula kami juga sering menikmati barbeque bersama ketika kamu masih berada dalam kandungan Ibumu." Shira menurunkan Shinobu yang mulai mengambil peralatan barbeque.


"Tunggu dulu... Kita tidak bisa menikmati barbeque di luar jika cuacanya sudah bersalju dan menurunkan kristal es, apinya tidak akan---"


"Ahh... aku mengerti, itulah kenapa kau membutakan bantuan Kakek, bukannya begitu, Shinobu?" Tanya Shira sampai ia melihat Shinobu mengangguk lalu melompat-lompat karena merasa tidak sabar untuk makan banyak daging lezat.


Shira berjalan keluar untuk mencari posisi yang pas, dekat dengan pohon besar di sebelah kabin itu Shira langsung melepaskan perlindungan cahaya yang besar, semua cahaya itu menahan salju dan kristal es tersebut sampai Shira bisa merasakan kehangatan di dalamnya.


"Tempat panggang..." Shira melihat Shinobu mengambilnya, ia mulai menempat panggangan itu di hadapannya.


"Gulungan koran..." Shinobu mulai menggulung semua koran yang ia dapatkan dari Shinobu, ia juga melihat serbuk kayu di sebelah panggang tersebut.


Shinobu sudah tidak bisa menunggu lagi jadi ia mempersiapkan semua bahannya lebih cepat untuk melakukan pembukaan terhadap pesta barbeque di musim sejuk ini.


"Kayu bakar... dan terakhir arang." Shira mulai jongkok lalu memasukkan beberapa arang ke dalam pemanggang itu untuk menyalakan api menggunakan jentikan jarinya saja.


"Apinya akan perlahan-lahan membesar... ukuran api akan tergantung dari angin yang meniupnya, tapi jangan terlalu besar."


"Untuk barbeque, api adalah kuncinya." Shira terus menjelaskan kepada Shinobu sampai ia mulai mengangguk terus menerus dengan ekspresi polosnya.


"Kalau begitu... apakah kau tidak mau memanggil yang lainnya? Api kita sudah nyala, sisanya hanya bahan-bahan yang perlu untuk dipanggang." Shira meniup api itu untuk memperbesarnya sedikit demi sedikit.


Beberapa menit kemudian, kedua sepupu dan teman Shinobu mulai berdatangan. Mereka semua bisa melihat banyak asap keluar dari dalam pemanggang itu bahwa Shira sudah menyiapkan segalanya.


"Arangnya sudah menyala dengan suhu yang pas... kita bisa memulai pesta itu." Kata Shira yang mulai menatap Shinobu, mereka segera memberikan Shira beberapa bahan makanan yang cocok untuk dipanggang.


"Baiklah, ayo mulai." Kata Koizumi.


"Apinya sudah menyala...! Hangat sekali... aku tidak menyangka pedo--- Maksudku paman bisa sehebat ini ya." Hinoka langsung menepuk punggung Shira beberapa kali.


"Aku mendengar yang sebelumnya loh..." Kata Shira dengan tatapan datar karena ia mendengar perkataan yang selalu orang berikan kepada dirinya dulu sekali.


"Aku sudah siap untuk makan." Kata Shinobu yang sedang duduk di atas kursi, di atas meja juga sudah disediakan banyak sekali minuman dan hidangan penutup yang cocok untuk dinikmati bersama dengan barbeque.


Semua kursi dan meja itu berhasil Shinobu ciptakan hanya menggunakan daun saja sampai ia mencoba untuk tidak menggunakan teknologi apapun karena dirinya ingin bisa menikmati dunia yang biasa.


"Banyak sekali saus yang sudah bersiap untuk dicicipi." Kata Shinobu.


"Sudah kuduga. Kau hanya menyiapkan saus yang manis untuk dirimu sendiri, kenapa tidak coba sesuatu yang pedas dan asin?" Tanya Ako.


Shira mengambil membersihkan kedua tangannya terlebih dahulu lalu ia melihat Konomi mendekati dirinya dengan sebuah piring yang penuh sayuran, "Agar lebih sehat, kita perlu membukanya dengan membakar sayuran."


"Ehh? Sayuran dulu?"

__ADS_1


"Rasa lapar adalah bumbu terbaik, aku ingin mereka semua makan sayuran selagi mereka masih lapar." Konomi memberikan piring itu kepada Shira yang langsung membakar semua sayuran itu satu per satu.


"Aku mengerti, akan kupastikan enak untuk kalian semua yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Sayuran memang dapat mengubah seorang Legenda menjadi sesosok petarung yang hebat."


Shira mengatur semua sayuran itu dengan baik dan benar lalu ia tidak lupa untuk menurunkan apinya agar bisa memberikan rasa yang pas untuk sayuran itu ketika menerima pembakaran kecil.


Shinobu mulai mendekati Shira lalu ia melihat dirinya sedang memanggang banyak sekali sayuran, melihatnya saja membuat Shinobu memasang tatapan kecewa karena ia mengharapkan banyak daging yang penuh dengan lemak.


"Fueh... kenapa semua yang Koneko lihat hanya sayuran?"


"Jangan sampai seorang istri makan terung."


"A-Apa maksudnya itu?"


"Apa? Kamu tidak mengerti?" Tanya Hinoka.


"Bukankah itu artinya terung rasanya enak, jadi kau membenci istrimu, kau tak memberinya?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos.


"Kenapa Kakek baru mengatakannya...?"


"Kau benar-benar tidak mengerti bukan? Kasihan deh sepupu kecilku ini... pikir, siapa yang begitu baiknya memasak untuk kita setiap hari?" Tanya Hinoka selagi mengelus kepala Shinobu.


"Hmm... kita? Tergantung maupun itu orang tua atau kita sendiri." Jawab Shinobu.


"Tapi orang yang mengatur pemanggang itu adalah seorang legendaris yang telah pensiun menjadi seorang penyelamat, memilih kariernya menjadi seorang pemberontak dan pemanggang barbeque."


"Apa maksudnya itu...?" Tanya Shira yang tidak mengerti sama sekali dengan perkataan aneh Hinoka.


"Dan apa maksud dari perkataan dewa api ini?" Tanya Shinobu.


"Jangan sampai seorang istri makan terung! Untuk itu, semua orang kecuali istri harus makan terus! Ini adalah perkataan dewa api!"


Shinobu memasang tatapan kaget seketika, "Dan secara alami, mereka yang menentangnya tidak boleh memakan daging!"


"Fueeehhhh!?"


"Oi, oi, oi, jangan menganggap diriku seperti dewa. Tidak... kenapa kau menyamakan diriku dengan hal seperti itu walaupun aku tidak memiliki kaitan apapun dengan api!" Kata Shira dengan tatapan kebingungan.


***


"Heh...? Hanya sayuran?" Tanya Ako.


"Setidaknya masih ada kentang bakar... versi lain dari kentang goreng." Kata Koizumi yang mulai mencicipi semua sayuran itu satu per satu sampai rasa yang meledak di dalam mulutnya cukup hebat.


"Kakek, kapan mau memanggang dagingnya?" Tanya Shinobu yang terlihat tidak ingin memakan semua sayuran yang diberikan oleh Shira ke dalam piringnya.


"Makan sayuran itu terlebih dahulu maka kau sudah menghancurkan batasan itu, langkah pertama untuk menjadi kuat adalah memakan sayuran, Shinobu." Kata Shira.


"Kita tidak akan dapat daging kalau tidak makan ini dulu..." Kata Ako yang mencoba untuk menghabiskan semua sayuran di atas piringnya.


Shinobu mengambil sayuran itu lalu ia memakannya selagi menutup kedua matanya sampai ia bisa merasakan rasa yang tidak begitu ia suka, dirinya segera mendekati piring itu kepada Shira.

__ADS_1


"Bagus, Shinobu! Kamu berhasil memakan satu!" Kata Konomi yang sudah menghabiskan banyak sekali sayuran, semua orang juga sama hanya saja Shinobu baru saja memakan satu.


"Beri Koneko dagingnya sekarang..."


"Sebelum itu habiskan cabai hijau ini agar lebih sehat dan kuat." Kata Shira yang menempati cabai bakar di atas piring Shinobu sampai ia memasang tatapan panik.


"Fueeehhhh!?"


"Masih ada banyak jika kamu mau." Shira mengelus kepala Shinobu.


Beberapa menit kemudian, Shinobu memakan semua sayuran itu satu per satu dengan kedua mata tertutup sampai perutnya tidak terisi apapun karena memakan sayuran hanya memberi dirinya satu setengah persen kekenyangan sampai ia membutuhkan daging.


Koizumi mendekati dirinya dengan dua piring daging bakar, "Jarang sekali aku melihatmu makan banyak sayuran sebanyak itu, hebat sekali ya."


"Ini dagingmu." Koizumi menempati piring daging milik Shinobu di sebelahnya lalu dirinya segera menikmati daging panggang tersebut yang dicampur oleh kentang goreng.


"Enak sekali~ banyak sekali rasa yang meledak dalam lidahku, ahh... jika saja ibuku peka dengan apa yang aku inginkan mungkin diriku dapat menikmati banyak daging." Kata Koizumi.


"Bukannya kamu ingin mengontrol pola makananmu tentang daging yang berlemak? Bisa-bisa kamu yang bertambah gemuk." Kata Konomi.


"B-Berisik... ini hanya sekali seumur hidup--- tidak maksudku satu kali per Minggu untuk menikmati daging dan kentang goreng yang sangat lezat!" Ucap Koizumi yang mulai tersipu karena tadi ia benar-benar keceplosan.


"Setelah pedofil itu memaksaku memakan semua sayurannya... dia akan dapat komplain dariku bahwa dagingnya tidak begitu sempurna." Kata Hinoka yang mulai mencicipi daging tersebut.


Hinoka melebarkan kedua matanya karena rasa dari daging tersebut sungguh luar biasa, "Ini hebat~!!!"


"Semua yang membebaniku adalah kenangan yang sudah lampau~ enak sekali...!" Shinobu memakan semua daging itu dengan cepat selagi menggesek ekornya karena dia sangat menikmati daging bakar itu.


"Kau tidak akan memberitahunya langsung?" Tanya Konomi yang melihat Shinobu langsung mendekati Shira.


"Kakek."


"Ada apa?"


"Terima kasih, itu tadi enak." Shinobu tersipu selagi menundukkan kepalanya karena ini pertama kalinya ia bisa merasakan masakan buatan Shira walaupun pertamanya harus menerima siksaan sayuran.


"Syukurlah... aku membuat banyak sekali hidangan untuk makanan penutup, tunggu saja. Jangan lupa makan yang banyak untuk bertambah kuat, nak." Shira kembali memanggang.


"Kakek memiliki pertimbangan tanpa batas..." Shinobu berjalan pergi lalu ia kembali menikmati dagingnya yang sudah Shira siapkan lebih dari ratusan agar dirinya bisa merasa puas.


"Ah iya, aku memanggang ubi. Mau?" Tanya Shira yang membuka pembungkus itu lalu mendekatinya kepada Shinobu.


"Mau... aaaaaammm..." Shinobu langsung memakan semuanya dengan satu gigitan sampai Shira langsung tersenyum karena dia sudah bisa makan seperti biasanya tanpa menahan diri.


Perubahan yang ia berikan kepada Shinobu mulai terasa, mulai sekarang dia sudah pasti akan merawat dan mengajari dirinya tentang berbagai macam hal agar bisa melawan dunia ini dan tentunya menjadi Legenda yang mengandalkan harga dirinya.


"Baiklah... karena sudah bisa menikmati makanan sebanyak itu, makanan pemberian maka perubahan yang aku harapkan dari dirinya bisa terasa begitu cepat."


Shira mulai menatap ke atas langit, melihat salju dan kristal es yang terus turun sampai dirinya perlu mengubah dirinya sedikit demi sedikit, jika masih terdapat bagian yang tidak berhasil maka cara kasar adalah solusinya.


"Ahh~ barbeque enak sekali~"

__ADS_1


__ADS_2