Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 97 - Belum Cukup


__ADS_3

"Sepertinya kau harus bertarung dia tanpa menggunakan sihir atau kemampuan dariku... Kau harus bisa menang dengan cara bertarung-mu sendiri, Yusa" Ucap Luz.


Yusa mengangguk dan ia mulai memegang gagang pedang-nya menggunakan kedua tangan-nya, Arata sudah bersiap dan ia segera bergerak gesit menuju arah Yusa sampai membuat dirinya melebarkan matanya melihat kecepatan Arata yang meningkat. Mereka mulai saling bertukar serangan dan setiap bilah pedang mereka saling berbenturan maka terdengar suara logam yang terdengar cukup bising.


Tenaga dan daya serang Arata jauh lebih kuat dari Yusa sampai membuat Yusa terseret beberapa meter ke belakang, tidak bisa mengeluarkan sihir dan kemampuan dari Moirai Arma membuat dirinya jadi tidak berguna.


Yusa maju ke depan dan melancarkan beberapa serangan tetapi semua serangan itu terlihat lambat bahkan Arata menendang perutnya dan menyayat pipi-nya, kedua mata Arata terbakar dengan api kemarahan dan ia segera melakukan serangan kombinasi yang membuat Yusa merasakan kesakitan yang dahsyat.


"Ugghhh...!!!"


Semua serangan Arata dapat mengenai seluruh tubuh Yusa sampai meninggalkan luka sayat dan bakar, Yusa masih bisa bertarung sampai ia menggagalkan kombinasi Arata dengan menangkis kedua pedang-nya bersamaan menggunakan pedangnya lalu meninju wajah-nya sampai ia terdorong ke belakang.


Arata dan Yusa mulai saling bertukar serangan, Arata bisa merasakan kekuatan Yusa yang meningkat lagi, mungkin pemicu-nya adalah amarah yang ia rasakan sekarang. Pergerakan mereka sama-sama setara bahkan serangan mereka saat ini tidak mampu mengenai target mereka, pedang mereka saling berbenturan sampai membuat dataran terbelah menjadi dua.


Pertarungan berjalan seimbang sampai serangan mereka sekarang mampu mengenai satu sama lain, tetapi Arata-lah yang mampu melukai Yusa lebih banyak. Seluruh luka-luka yang Yusa rasakan mampu membuat dirinya semakin kesal sampai luka itu mulai terasa seperti dibakar dengan sebuah api yang sangat panas.


"Ugghhhhh...!!!"


Arata menambahkan daya serangan yang lebih besar sampai membuat Yusa tidak bisa menahan serangan dari kedua pedang-nya, Arata melakukan beberapa serangan kombinasi yang lebih cepat dan menyakitkan sampai kedua bilah pedang-nya diselimuti dengan api kemarahan yang mampu menguras tenaga Yusa.


Yusa mulai kewalahan dan terluka cukup parah, Arata tidak memberi dirinya kesempatan untuk menyerang atau mundur karena dia sudah merasa puas melihat dirinya yang tersiksa habis-habisan dengan kedua pedang-nya yang bergerak secepat cahaya. Pada akhirnya Arata mengakhiri serangan kombinasi-nya dengan menebas pipi Yusa lalu menendang wajah-nya hingga terdorong beberapa meter ke belakang.


"Hueegghh...!" Yusa memuntahkan darah yang cukup banyak sampai darah itu berubah menjadi api.


"A-Apa ini...? Aku tidak bisa mengimbangi-nya lagi...!" Ungkap Yusa.


"Aku tidak akan membiarkan-mu kabur begitu saja... Kau akan merasakan arti dari penyiksaan yang kau pernah berikan kepada seluruh penduduk Touri. Aku bisa saja menghormati dirimu jika iblis takdir seperti-mu dapat meraih kedamaian dengan cara yang benar... Bukan jalan pintas yang merugikan seluruh alam semesta termasuk populasi-nya...!" Arata melangkah ke depan dan membuat tubuh Yusa terasa ditindih dengan beban yang besar.


"Ck... Kau tidak akan pernah bisa mengerti tentang ideal yang aku coba raih, tutup mulut-mu, parasit...!"

__ADS_1


Ketika Yusa mencoba untuk mengayunkan pedang-nya, Arata sudah tiba di depan Yusa dan menghajar dirinya secara habis-habisan dengan menggerakkan kedua pedang-nya secara bersamaan. Seluruh tubuh Yusa dipenuhi dengan darah yang mengalir serta darah itu mengotori tubuh Arata sendiri, walaupun sudah menerima banyak serangan... Yusa mencoba untuk bertarung tetapi dia sudah tidak berdaya.


"Ugghh..." Yusa berlutut karena tubuhnya terasa semakin berat sampai keringat dan darah mulai menetes di atas tanah.


Arata menebas wajah Yusa sampai meninggalkan luka lurus di tengah-tengah wajahnya, membuat dirinya tergeletak di atas tanah tetapi Arata memaksa dirinya untuk bangun dengan menendang dagu-nya lalu melakukan beberapa serangan menggunakan kedua pedang-nya lagi, kali ini semua serangan itu mengenai perut Yusa sampai mengeluarkan sedikit isi perut-nya.


"Hueeggghhhh....!!!" Yusa memuntahkan darah yang lebih banyak dan Arata menghantam wajahnya sampai dia terpental ke belakang.


"... ..." Arata tidak lagi menunjukkan rasa untuk menahan diri, ia terus melangkah menuju arah Yusa yang sudah tidak bisa bertarung tetapi iblis itu segera mengeluarkan sebuah ramuan dan meminum-nya langsung sampai tubuhnya kembali pulih.


"Sekarang aku bisa merasa lebih puas untuk menyiksa-mu, iblis takdir... Terima kasih..." Arata tersenyum sinis.


Walaupun luka Yusa sudah kembali pulih, tetapi Arata terus menyerang-nya dan tidak memberinya sedikit waktu untuk menyerang atau memulihkan diri secara sempurna. Bahkan Arata tidak memberi dirinya celah untuk bernafas atau menggerakkan tubuhnya sendiri, masih belum puas menyiksa Yusa.... Arata menusuk perut Yusa dengan pedang kemarahan-nya sampai ia terserat jatuh di atas tanah dengan pedang amarah yang menusuk di perut-nya.


"Graagggghhhhhhh...!!!" Teriak Yusa keras, ia mencoba sekuat mungkin untuk melepas pedang amarah Arata yang menusuk di dalam perutnya.


Luka yang Yusa terima sekarang jauh lebih buruk dari sebelumnya karena api amarah Arata semakin panas serta daya serangan kedua pedang-nya semakin terasa menyakitkan walaupun pipi Yusa terkena sayat kecil. Arata menginjak wajah Yusa sampai kepala-nya mengeluarkan beberapa darah serta terdengar suara retakan tengkorak ketika ia menginjak kepala-nya dengan penuh tenaga.


"Uaaaaggggghhhhhhh....!!!" Teriak Yusa keras sampai darah hitam mengalir keluar dari kedua matanya.


"Apakah kau bisa merasakan-nya, iblis...? Apakah kau sekarang merasa trauma karena sudah mencoba untuk melawan Legenda seperti-ku...? Iblis sepertimu itu cukup nekat dan gegabah untuk melawan Legenda yang memiliki tujuh dosa besar...!!!" Arata menginjak lebih dalam lagi sampai seluruh pedang amarah itu masuk ke dalam tanah.


"Ckkk... Ssshhhhhhh...!!!" Yusa menggigit bibir-nya sendiri untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan di bagian perutnya.


Yusa kali ini menderita luka yang lebih parah, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Arata menarik kembali pedang amarah-nya dan mundur ke belakang. Perlahan-lahan Yusa masih ingin bertarung sampai ia memaksakan dirinya untuk bangun dan hasilnya darah hitam dicampur merah mengalir keluar dari dalam lubang perut-nya yang terlihat sama persis-nya seperti air terjun.


"Ugghhh..." Yusa menutup lubang tersebut dan segera menggenggam daging-nya dan menyatukan menjadi satu agar bisa menghentikan pendarahan di bagian perutnya.


"Walaupun sudah menderita kesakitan seperti itu... Kenapa kau ingin kesakitan yang lebih menyakitkan lagi...?" Tanya Arata.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah sebelum aku berhasil...!!! Ini semua demi Itsuki dan Yusaki...!!!" Teriak Yusa keras, dirinya merasakan rasa putus asa dan pasrah ketika melihat Arata yang terus bertambah kuat bahkan kedua pedang-nya mulai diselimuti dengan api kemarahan yang jauh lebih besar dan panas.


"Aku tidak akan kalah, Legenda...!!! Sekarang, aku akan menunjukkan kekuatan penuh-ku ini...!!!" Teriak Yusa keras sampai ia melepaskan cahaya kegelapan yang besar di wilayah tersebut, Arata hanya bisa diam dan melahap semua cahaya kegelapan itu menggunakan pedang kerakusan-nya.


Seluruh tubuh Arata mulai bersemangat ketika merasa rasa emosi amarah yang tinggi di dalam tubuh Yusa, sepertinya dia benar-benar mencari mati dan mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dengan takdir kematian-nya sendiri. Bertarung melawan Arata yang memegang pedang amarah itu sama saja tidak berguna ketika kau memiliki rasa emosi amarah yang berlebihan.


"Sepertinya Kizura tidak melatih-mu banyak ya..." Arata merasa kecewa.


"Sudah saatnya untuk mengakhiri-mu sekarang... Aku sadar bahwa diriku masih belum cukup kuat ketika bertarung denganmu, Iblis. Tapi sekarang... Kau akan merasakan betapa menyakitkan-nya rasa amarah yang kau miliki itu...!" Api kemarahan yang menyelimuti kedua pedang Arata mulai membesar dan mengeluarkan hawa panas yang membuat tubuh mereka dipenuhi dengan keringat.


Yusa tidak bisa menghindar atau menyambut serangannya karena tenaga-nya sudah habis, ia hanya bisa menahan rasa sakit di bagian perutnya itu. Yusa bersusah payah untuk menggerakkan kedua lengan-nya agar ia bisa menahan beberapa serangan kombinasi milik Arata, batasan sudah benar-benar menghentikan dirinya. 


"Burst Wrath...!" Arata menunjuk Yusa sampai punggung-nya mengeluarkan api kemarahan yang besar dan melancarkan gelombang api tepat di belakang-nya yang mampu membuat tubuh Yusa terasa semakin lemas.


"Aggghhhh...!!!" Yusa bisa merasakan seluruh kekuatan-nya terkuras sampai habis.


Arata maju ke depan dan melakukan beberapa serangan kombinasi terakhir yang meninggalkan banyak sekali luka bekas di seluruh tubuh Yusa yang mengeluarkan api amarah yang berwarna merah darah. Yusa tidak bisa melakukan apapun kecuali mengeluarkan suara teriakan yang terdengar menderita.


"Uagggggghhhhhhhhhh...!!!!!!"


"Pengalaman-mu bertambah... karena sudah melawan Legenda yang memiliki kekuatan tujuh dosa besar. Bertarung melawan-ku dengan emosi amarah itu hanya akan membuat-mu semakin menderita, Oni Yusakage...!" Arata mulai menyebut nama lengkap Yusa, tidak ada artinya lagi untuk Arata bertarung menggunakan pedang-nya, ia segera menghilangkan kedua pedang tersebut.


"Burst Wrath of Sins...!" Arata menunjuk Yusa menggunakan telapak tangan kanan-nya dan terdapat sebuah simbol dosa amarah di telapak tangan-nya sampai membuat Yusa melebarkan matanya karena simbol dosa amarah itu langsung menyelimuti tubuhnya dan memberi dirinya kesakitan yang lebih dahsyat.


"Agggggggghhhhhhhhh...!!!" Darah menyembur dari seluruh tubuh Yusa sampai simbol dosa amarah itu mulai memancarkan cahaya merah lalu menimbulkan ledakan besar dimana sekarang seluruh tubuh Yusa terhalang dengan asap hitam.


Tubuh Arata mulai terasa lemas, ia berlutut dan bernafas cukup berat sampai di setiap nafas yang ia hembuskan mampu membuat darah mengalir keluar dari mulut, hidung, dan kedua matanya.


"Hah... hah... hah... Aku terlalu berlebihan melawan iblis itu..."

__ADS_1


"...setidaknya aku menang." Arata berbaring di atas tanah.


__ADS_2