Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1017 - Memperbaiki


__ADS_3

Shinobu berhasil mengajak Korrina untuk pulang tetapi saat ini masih bisa dibilang terlalu awal untuk beristirahat karena mereka perlu membahas sesuatu.


Jawaban yang Korrina berikan pada Shinobu hanya sebuah anggukan pelan lalu ia mengelus kepalanya dan melangkah pergi menuju restoran Shimatsu untuk mendinginkan kepalanya.


Shinobu tidak membicarakan apapun lagi setelah itu, ia meminta izin kepada Shira untuk melanjutkan latihannya bersama Shinji tetapi ia untuk sekarang akan beristirahat sebentar.


Pada akhirnya, mereka semua berkumpul di dalam restoran itu dan Shira tidak melanjutkan latihannya dengan Shinobu hanya karena ia memiliki kebutuhan lain dengan Korrina.


"Korrina."


"Hm? Ada apa, Shira?" Tanya Korrina selagi menikmati rokok dan birnya.


"Astaga, kau benar-benar terlihat seperti es krim yang meleleh..."


"Apa maksudnya itu?"


"Kau dulu menyebalkan dan banyak bercanda."


"Jadi itu pandanganmu terhadap diriku ya, sebuah pujian..."


"Dengar, Korrina. Kau seharusnya bersyukur dengan apa yang kau saksikan sebelumnya tentang Shinobu Koneko..."


"...dia tetap menerima dan mau berbicara denganmu walaupun ia memiliki perasaan benci dan tidak suka padamu."


Korrina memasang ekspresi kaget ketika mendengar Shinobu ternyata membenci dirinya juga, "Begitu ya... mereka semua memang membenci diriku, yah, aku juga tidak bisa melakukan apapun."


"Bisa dibilang ia memiliki pikiran paling terbuka... aku sendiri tidak mengerti apa yang ia coba pikirkan, di mulai dari umat Manusia yang musnah."


"Tetapi kamu perlu mengetahui dengan jelas bahwa Shinobu dari kecil memang sudah menderita tetapi tetap melahirkan sesosok gadis Legenda yang polos dan menerima apa adanya..."


"...kepercayaan yang ia berikan kepada semua orang memiliki batasan itu tersendiri karena ia mudah sekali menurunkan hukuman yang mengerikan."


"Aku sendiri bahkan tidak mau macam-macam dengan dirinya..." Ucap Shira yang sempat membuat Shinobu memasang tatapan mengancam ketika sedang melakukan latihan.


Shira menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menjelaskan semua tentang Shinobu dengan jelas sampai reaksi yang ia dapatkan sudah pasti kesedihan dan kekhawatiran terhadap cucunya yang bisa dibilang kuat.


Mereka terlalu lama menghabiskan waktu menjelaskan tentang kehidupan Shinobu dari nol sampai titik ini, Korrina hanya bisa diam lalu meminta maaf tanpa henti kepada Shira karena semua yang Shinobu alami selalu berkaitan dengan dirinya.


"Jangan menganggap semua kesalahan atau keburukan yang diterima oleh cucumu adalah kesalahanmu...!"


"Seharusnya kau menyesali perbuatan dirimu dulu ketika menjadi ratu Touriverse, lihatlah semua penghuni di dunia ini sekarang..."


"...kembali berputar dan saling berselisih sehingga menciptakan banyak sekali pihak berbeda yang mencoba untuk membunuh satu sama lain."


"Mereka tidak tahu bahwa akhir dari segalanya sudah dekat sekali yaitu Ragnarok, dan kau sendiri bilang bahwa keselamatan hanya ditentukan melalui kekuatan dan kesanggupan seseorang bukan!?"


"Kau tahu apa yang mereka katakan, Shira... penyesalan tidak akan bisa dilihat dari awal melainkan pengakhirannya..." Korrina menyalakan rokok lainnya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang...? Bukannya mereka tetap perlu menerima bimbingan dari keturunan Comi yang lebih mahir?"


"Mahir dalam apa...?"


"Mereka masih belum menggapai surga, ditambah lagi sihir kuno mereka tidak sehebat yang kau punya."


"Tentu saja, aku sudah berniat melatih mereka bertiga sekaligus dengan kedua teman yang selalu bersama mereka..."


"...mereka yang sudah menjalani hubungan ketat dengan anak surga menerima sebuah berkah dari surga itu dinamakan sebagai Heaven's Feel."


"Hanya saja masalah utamanya adalah keinginan mereka semua, aku tidak begitu yakin jika ajakanku sendiri dapat membawa mereka..."


"Mungkin Shinobu dapat membantu dirimu untuk memperbaiki semuanya..." Shira memesan secangkir kopi lainnya kepada Ophilia.


"Maksudnya...?"


"Hm... kau tidak tahu kehebatan dari Shinobu yang sebenarnya...? Justru aku bangga melihat cucu kecilku berkembang sampai puncak setinggi ini."


"Banyak sekali yang menyukai dan menyayangi dirinya sampai mereka rela melakukan apapun untuk membuatnya senang serta menunjukkan sisi kepolosan itu..."


"...kedua sepupu dan temannya sangat menempel dengan Shinobu hampir seperti lem sampai mereka terus berada di sisinya sejak kecil sampai sekarang."


"Anggap saja Shinobu itu seperti ratu yang duduk di atas takhta dengan penjaga keempat penjaga memakai jas mewah rela untuk melakukan apapun demi memuaskan ratunya."

__ADS_1


"Sayang sekali, Shinobu sangat polos tentang hal itu sampai ia menggunakan teman dan sepupunya sebagai hal yang penting... dia sungguh gadis yang baik."


"Aku memang harus berterima kasih kepada Haruki dan yang lainnya karena sudah meminta cucu mereka untuk tetap berteman dengan dirinya sampai menemaninya sampai titik ini."


"Dari kegagalan sampai kesuksesan..." Shira menghabiskan kopinya lagi lalu ia memesan kopi lainnya kepada Ophilia.


"Begitu ya... jadi dia memang sehebat itu..." Korrina menghisap rokoknya selagi menatap ke atas atap dengan tatapan penasaran.


"Bisa dikatakan Koneko itu adalah Kou yang tidak terkutuk karena penyakitnya..."


"Sudah sore, mungkin Shinobu akan pulang dan mengerjakan sesuatu lagi..."


"Ahh, dia bisa membagi waktu dengan benar ya." Korrina mengingat Shinobu dapat membagi waktu dengan efektif seperti latihan, bereksperimen, dan belajar tanpa henti.


Semua itu tidak memberikan beban atau pengaruh apapun kepada dirinya, ia sudah sepenuhnya bersatu dengan Astral yang mengartikan dirinya tidak memerlukan tidur atau istirahat karena tubuh Astralnya yang sudah membantu.


"Sebelum itu, kau perlu mengingat tentang sesuatu yang penting, Korrina."


"Apa itu?"


"Jangan sesekali kau mengejek ukuran dan tinggi Shinobu karena dia bisa dibilang cukup sensitif ketika aku meminta dirinya untuk menangis dalam keadaan apapun..."


"...dulunya dia sering menahan diri untuk menangis tetapi ia sekarang bisa dibilang cengeng ketika aku mencoba untuk memujinya pendek."


"Ahaha, imut sekali." Korrina terkekeh.


"Pengecualian untuk mereka yang sudah dekat dengan dirinya... tidak untuk mereka yang dibenci oleh Shinobu, mereka yang mengejek ukuran tubuhnya akan mati."


"Wah, ternyata di memang mengerikan ya... kalau begitu aku akan coba sebisa mungkin untuk memperbaiki semuanya." Korrina mematikan rokoknya dengan menggesek batang tersebut dengan asbak.


Shira melihat Korrina mulai menepuk wajahnya beberapa kali untuk membangkitkan semangatnya, ia merasa kasihan kepada gurunya yang sudah mengalami banyak tekanan dalam satu hari.


"Maaf ya."


"Kenapa harus meminta maaf...? Konsekuensi sudah aku tanggung sejak awal..." Korrina tersenyum pahit kepada Shira lalu ia melangkah keluar untuk menghirup udara segar.


Beberapa menit kemudian, ketika matahari sudah tenggelam Shinobu muncul di sebelah Korrina yang sedang merokok selagi memperhatikan matahari terbenam.


"Nenek."


"Apa yang nenek hisap sampai keluar asap itu?" Tanya Shinobu selagi memiringkan kepalanya.


"Ahh, itu hanya sebuah puntung yang dapat membantu diriku untuk tetap tenang salam situasi apapun, hanya orang dewasa yang boleh menghisap dan menghembuskan asapnya."


"Padahal tadi itu keren sekali, Koneko kira Nenek bisa mengeluarkan asap apapun melalui mulut." Shinobu tersenyum selagi menggerakkan ekornya itu.


"Kalau begitu, kita pulang saja?" Tanya Korrina yang mulai menggenang tangan Shinobu karena refleks pandangan dirinya yang melihat Shinobu sebagai Kou.


"Mm...?" Shinobu menatap tangannya sendiri sampai Korrina langsung melepasnya karena ia lupa bahwa dirinya hanya sekedar memberikannya rumah untuk beristirahat.


"Ma-Maaf, ahahaha..." Korrina melangkah pergi duluan sampai Shinobu berpikir bahwa dirinya pasti akan tersesat dan mengira gedung Co. Corp masih ada.


"Nenek..." Shinobu meraih tangan Korrina sampai mengejutkan dirinya.


"Koneko menemukan jalan pintas." Shinobu mengajak Korrina pergi menuju arah barat agar mereka bisa sampai di rumahnya yaitu sebuah kabin dengan ruangan luas di bawah tanah.


Mereka berdua terus berjalan tanpa ada gangguan apapun, Korrina melihat Shinobu yang mengajak dirinya tanpa segan atau rasa kebencian, mungkin dia memang suah memaafkan dirinya.


"... ..." Korrina tersenyum lega lalu ia membiarkan Shinobu yang menarik dirinya.


***


Beberapa menit kemudian, Cyber menyambut kedatangan Shinobu dengan membuka pintu kabin tersebut lalu mempersilahkan tamunya untuk datang.


"Aku mengetahui takdir Tech, sungguh menyedihkan ya... padahal aku menciptakan dirinya untuk tetap menemani anak-anakku."


"Maaf, Nenek... Tech mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan diriku yang masih lemah, itulah kenapa aku menciptakan A.I lainnya yang bernama Cyber dengan sisa dari Tech."


"Begitu ya... tidak apa---" Korrina melihat Shinobu memberi dirinya sebuah kacamata yang memegang seluruh sistem dan teknologi dari Cyber.


"Kamu tidak perlu memberikannya kembali kepada diriku..." Korrina berlutut di hadapannya hanya untuk membantu Shinobu memakai kacamata tersebut.

__ADS_1


"Aku sudah memberikannya kepada Kou, itu artinya dia pemiliknya tetapi ia sekarang sudah memiliki seorang anak yang mewarisinya."


"Jadi ini untukku...?"


"Iya, anggap saja seperti hadiah ulang tahun karena keterlambatan diriku."


"Terima kasih, nenek." Shinobu tersenyum lembut lalu ia melangkah pergi menuju dapur untuk menyiapkan sedikit camilan.


Korrina mengingat kabin itu dijadikan sebagai gudang untuk menyimpan banyak sekali barang rongsokan yang tidak ia gunakan sama sekali.


Korrina menoleh keluar jendela lalu ia bisa membayangkan gedung besar itu masih ada sampai ia kembali menghadapi realita bahwa semuanya sudah berubah sampai kabin itu menjadi tempat tinggal baru Shinobu.


"... ..." Korrina tidak sengaja menyenggol sebuah meja lalu ia melihat banyak sekali kenangan foto di sana.


Korrina hanya bisa tersenyum ketika melihat semua isi foto itu dipenuhi dengan banyak sekali kenangan sampai tidak ada satu pun yang memperlihatkan dirinya di dalam pigura itu.


Hanya gambar besar di hadapannya, mungkin untuk dijadikan sebagai pengingat bagi ketiga anaknya, "Kou... Mama pulang."


Korrina mengambil gambar yang menunjukkan Shinobu dan Kou berpelukan, "Sayang sekali aku tidak bisa melihat semua kenangan indah ini ya... termasuk perjuanganmu sebagai seorang Ibu."


Korrina bisa melihat gambar ketiga anaknya bersama ketiga sepupunya yang masih berumur dua tahun, ia dapat melihat Kou memegang sebuah gambar tentang dirinya.


Gambar lainnya juga sampai, Kou terus memegang gambar tentang dirinya agar ia bisa berada di dalam kenangan yang indah itu.


"... ..." Korrina menempati gambar itu kembali di atas meja lalu ia mulai berpikir bahwa kabin sempit ini dijadikan sebagai tempat tinggal untuk Shinobu ketika Kou meninggal.


"Mandiri sekali ya..." Korrina melihat Shinobu melangkah keluar dari ruangan sebelah.


"Nenek."


"Ada apa?"


"Ayo, kita makan... Nenek baru saja pulang dari perjalanan yang panjang, kebetulan Kakak kemarin sempat membuat kue lezat."


"Maaf, aku tidak begitu ingin memakan sesuatu sekarang..." Jawab Korrina yang sudah terbiasa bertahan tanpa menikmati makanan atau minuman dalam perjalanan yang panjang.


"Tidak apa-apa, ayo... Koneko juga lapar." Shinobu menarik lengan Korrina sampai dapur lalu ia dapat melihat sebuah kue setengah potong di atas meja yang sudah Shinobu persiapkan.


"Masih dingin, lezat juga..." Shinobu duduk di atas kursi lalu ia memotong kue tersebut dan menepatinya di atas piring untuk memberikannya kepada Korrina.


"... .." Perasaan nostalgia menyerang dirinya ketika melihat ruang makan yang bisa dibilang cukup sempit tapi nyaman bersama dengan kue.


Ketika Korrina berkedip ia sempat melihat kue ulang tahun besar dimana pandangannya memperlihatkan Kou, Haruka, dan Honoka yang duduk rapi untuk menantikan sebuah potongan kue.


Ia kembali berkedip sampai menerima realita yang menyakitkan, di hadapannya hanya terdapat satu kue potong yang diberikan oleh Shinobu.


Shinobu sudah memakan kue itu sambil membaca buku lalu ia mencoba untuk memberanikan diri melihat neneknya yang melamun, "Nenek..."


Korrina mengingat dirinya sempat memakan apa adanya ketika dalam perjalanan panjang sampai ia merindukan semua makanan lezat buatan anak atau seseorang yang ia sayangi.


"Nenek...?"


"I-Iya?"


"Nenek terlihat kelaparan...? Maaf, Koneko tidak bisa memasak..."


"Tidak apa-apa, kue ini cukup kok." Korrina duduk di sebelah Shinobu lalu ia mengambil sebuah sendok untuk mencicipi kue tersebut dengan air mata yang langsung mengalir keluar melalui kedua matanya.


"... ..."


"Ini lezat sekali..."


"...rasanya dari coklat yang pahit dan tekstur yang manis."


"Hampir seperti keseimbangan dalam dunia ini..."


Shinobu memperhatikan Korrina yang memakan pelan kue itu dengan air matanya terus berjatuhan tanpa kesadaran dirinya, "... ..."


"Lezat ya."


"Mm..."

__ADS_1


__ADS_2