
Di suatu kerajaan yang begitu misteri, para kesatria yang memiliki aura rasi bintang di sekeliling mulai muncul tepat di hadapan seorang gadis yang sedang mengaduk sebuah ramuan di dalam pot hitam.
"Kami sudah datang kembali, penyihir. Semua misi yang Anda perintahkan telah sepenuhnya di selesaikan." Ucap seorang kesatria yang memiliki zirah bagian kepala seperti domba jantan.
"Ahh~ Para kesatria yang selalu aku bangga telah datang... bagaimana? Apakah kalian menemukan sebuah petunjuk...?" Tanya penyihir itu yang mulai menoleh ke belakang.
Kesatria kalajengking itu maju ke depan, "Aku menemukan seorang pemberontak yang mengenal dekat Shinobu Koneko... sepertinya dia berasal dari keturunan Comi juga karena sihir Crimson itu."
"Wah, begitu ya... sungguh menarik... Informasi yang dapat kalian gunakan nanti, untuk sekarang lakukan lah perintah yang aku katakan sebelumnya."
Penyihir itu mulai menunjuk pemimpin dari seluruh kesatria rasi bintang itu, kesatria dengan zirah yang berbentuk singa maju ke depan lalu berlutut tepat di hadapannya.
"Apa yang Anda butuhkan dari saya, penyihir?"
"Leon... aku membutuhkan dirimu bersama seluruh pasukanmu untuk menaklukkan kerajaan yang berada di sebelah selatan..."
"...jika kau berhasil melakukannya maka gunakan semua sandera dan pasukan di sana sebagai kunci untuk menarik perhatian para pemberontak."
"Aku hanya membutuhkan satu orang saja yang mengenal Shinobu Koneko maka imbalan yang aku dapatkan sudah pasti besar... dengan berlian sebanyak itu maka aku dapat menciptakan lebih banyak ramuan."
"Dengan senang hati... saya akan melaksanakan perintah Anda." Leon bangkit lalu menatap seluruh kesatria yang mengangkat lengan kanannya untuk menghormati dirinya.
"Kalian dengar apa yang di katakan oleh sang penyihir, lebih baik menaklukkan lebih banyak kerajaan dan mengambil alih harta-harta agar mempercepat proses eksperimennya."
"Baik...!!!"
"Zodiac Crusaders...! Bubar!"
***
"Ako, dekati secara perlahan... dia seperti kucing yang menganggap apapun sebagai musuhnya sendiri." Peringat Konomi.
"Hinoka! Sebaiknya kau bersiap karena kau akan menjalani latihan paling berat di bandingkan yang lainnya..." Koizumi menyatakannya dengan aura yang mengancam.
"Glek... m-menakutkan." Hinoka menelan ludahnya sendiri ketika melihat Koizumi terlihat begitu marah kepada dirinya sendiri.
"A-Ayo kembali, Shinobu..." Ako mengulurkan lengannya pelan-pelan kepada Shinobu sehingga ia mulai mengangguk lalu meraih tangannya itu.
Ako membawa Shinobu kembali mendekat dengan mereka lalu ia menerima sebuah usapan dari Konomi karena sudah melakukan pekerjaan dengan baik untuk membawa Shinobu kembali.
"Huft... kalau begitu semuanya lakukan pemanasan terlebih dahulu, setelah itu lanjutkan dengan sit-up , push-up, dan pull-up sebanyak seratus kali!"
"Ketika kalian sudah menyelesaikannya maka aku menyarankan kalian semua untuk beristirahat selama satu menit lalu melanjutkan kembali latihan."
"Hehhhhh...!!! Kejam sekali!" Seru Hinoka.
"Ingat saja pada latihan kita bersama Mama dan Nenek, Ako." Konomi mulai menepuk punggung Ako pelan-pelan sampai ia mengangguk penuh semangat.
"Untuk Shinobu, kamu lakukan sit-up saja sesuai kesanggupan dirimu. Jika kamu lelah maka istirahatlah secukupnya." Koizumi memberikan Shinobu sebuah keringanan karena tubuhnya yang tidak normal itu.
"Mm...! Baik..." Shinobu menggerakkan ekornya ke kiri dan ke kanan lalu melakukan satu putaran sebagai pemanasan pertamanya.
"Walaupun aku meminta kalian untuk melakukan ketiga hal itu sebanyak seratus kali, jangan paksakan diri kalian, jika memang fiksi kalian sudah mencapai batas maka lakukan pendingin lalu beristirahat!"
""Baiklah!""
Shinobu mulai berbaring di atas tanah lalu memegang kedua lututnya untuk mencoba melakukan sit-up tetapi tubuhnya tertekan oleh kedua lengannya yang memiliki beban besar.
Ako mulai tengkurap untuk melakukan beberapa push-up sedangkan Konomi berbaring hanya untuk melakukan sit-up terlebih dahulu, Hinoka mulai melakukan push-up secara asal karena ia tidak begitu suka dengan latihan fisik.
"Aku melakukannya dengan cepat...! Kalian ini bagaimana sih..." Hinoka mencoba untuk membanggakan dirinya sendiri tetapi keningnya menerima sentilan dari Koizumi.
"Lakukan dengan pelan! Ototmu akan terluka nanti!"
"Aw...!"
"Mmmmffggghh..." Shinobu mencoba untuk melakukan sit up sekuat mungkin sampai tubuhnya langsung berkeringat.
"Huft... tidak buruk juga." Konomi mengumpulkan nafas lalu menghembuskannya setelah melakukan seratus kali sit-up yang membuat tubuhnya terasa pegal.
"Hahaha... ini lumayan melelehkan..." Kata Ako yang masih melakukan push-up.
Hinoka mencoba untuk melakukan push-up dengan baik dan benar tetapi ia bisa merasakan tekanan di dalam tubuhnya sampai kedua lengannya bergetar seketika.
"Aww... tubuhku... kenapa berat sekali...?!"
"Konomi, sepertinya kau sudah terbiasa melakukan hal ini ya." Koizumi melihat Konomi yang melakukan pemanasan dengan cepat dan benar.
__ADS_1
"Kurang lebih... aku pernah sekali mendapatkan latihan intensif bersama nenek dan mentornya." Konomi bangkit lalu menggerakkan kedua lengannya.
"Hebat juga..." Koizumi melihat Shinobu yang berhenti melakukan push up, mungkin dia benar-benar kesulitan karena lengan dan kaki buatan itu.
"Hebat sekali! Aku sendiri tidak pernah sekalipun melatih fisik sama sekali karena keahlian diriku hanya sihir ledakan!" Hinoka berhenti melakukan pemanasan di angka 20.
"Kenapa kau berhenti, Hinoka?" Tanya Koizumi yang sudah siap menyentil keningnya itu.
"Lelah~ Te-he~"
"Astaga... Ako bahkan melakukannya lebih baik darimu, Shinobu juga!" Koizumi menyentil kening Hinoka.
"Aw...! Tubuhku berat... buuuuu..." Hinoka mengembungkan kedua pipinya.
"Itu tidak bisa di jadikan sebagai alasan! Lakukan push-up sebanyak dua ratus sekali sekarang juga...!" Perintah Koizumi sampai mengejutkan sepupunya.
"Hehhhhh!? Koizumi kejam...!!! Kejam sekali...!!!"
"Ahahaha..." Shinobu terkekeh melihat Koizumi yang terus memberikan Hinoka latihan yang begitu berat.
"Koneko, tolong akuuuu...!"
"T-Tidak mau..." Shinobu tersenyum polos.
"Ayo, jangan alasan lagi. Aku melakukannya demi kebaikan dirimu yang mahir dalam menggunakan sihir besar." Koizumi menyentil kening Hinoka lagi.
"Buuu...." Hinoka mulai melakukan push-up, kali ini ia melakukannya dengan benar karena merasa termotivasi oleh senyuman polos Shinobu.
Koizumi mendapatkan hasil yang ia inginkan, mereka semua melakukan push-up, sit-up, dan pull-up dengan benar tanpa sedikit masalah diperlihatkan.
"Wah, kau melakukannya dengan cepat tanpa masalah ya, Konomi."
"Ako juga... melakukannya dengan perlahan namun pasti."
"Setidaknya, untuk saat ini, Koizumi. Selanjutnya akan semakin menguras tenaga." Kata Konomi.
"Hah... Hah... istirahat sebentar..." Ako duduk di atas tanah selagi mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu pegal.
"Kenapa aku tidak di puji... buuuu..."
"Memangnya ada sesuatu yang harus aku puji dari sepupuku yang bahkan tidak bisa melakukan push-up sebanyak seratus kali?" Koizumi menyilangkan kedua lengannya.
Konomi menggunakan kemampuan Soul Synthesis untuk menciptakan lima botol air minum.
"Bleehhhh! Lihat saja...!!! Aku akan menghancurkan batasan dan menembus seribu...!!!" Seru Hinoka selagi menjulurkan lidahnya kepada Koizumi sampai ia melakukan push-up lebih cepat.
"Hohhh... kalau begitu buktikan kepadaku! Jika kau berhasil membuktikannya maka aku akan mentraktirmu makan di restoran Shimatsu!"
"Traktir!? Baiklah...!!! Aku akan menjadi lebih kuat...!!!"
Hinoka menerima semangat dan motivasi yang lebih tinggi sampai ia melakukan push-up dengan cepat sampai tubuhnya mengeluarkan keringat yang menetes ke dalam daratan.
"Jika kalian haus, aku sudah menyiapkan air minum untuk latihan kali ini." Konomi menempati kelima botol itu di atas tanah dan mereka langsung mengambilnya kecuali Hinoka.
"Kak Koizumi... aku bisa... menyelesaikan lima puluh sit-up..." Shinobu tersenyum, merasa bersyukur bahwa ia mulai mengetahui proses latihan dari Koizumi.
"Baiklah, istirahat selama lima menit sudah habis... waktunya melanjutkan latihan selanjutnya agar kalian dapat berkembang."
"Jangan lupa untuk melakukannya setiap hari ya, ketika aku tidak ada... bangsa Legenda akan selalu melakukan latihan di aktivitas yang mereka lakukan tetapi jangan melupakan tentang istirahat."
"Aku sudah menyiapkan barbel khusus, berat satu barbel ini kira-kira lima puluh kilogram, lalu sepasang kaos kaki..." Koizumi mengeluarkan semua peralatan itu.
"Apa ini bisa disebut sebagai kaos kaki ya?" Koizumi mengangkat sepatu besi dan menjatuhkannya di atas tanah sampai menciptakan getaran.
"Hohhh... terlihat berat..." Kata Shinobu sambil menggerakkan ekornya begitu cepat karena rasa ketertarikannya.
"Wah... tampak begitu berat sekali." Kata Konomi.
"E-Ehhh..." Ako terkejut ketika melihat satu barbel berhasil menciptakan lubang yang kecil.
"A-Ayo... coba... dengan lengan dan kaki yang terasa berat, aku ingin mencobanya...! Koneko... akan berjuang!" Shinobu menepuk kedua pipinya lalu mengangguk cepat.
"Untuk berjaga-jaga aku menyiapkan barbel khusus untuk bruk Shinobu, lalu untuk latihan kali ini adalah melatih lengan, otot punggung, dan pinggang lalu keseimbangan!"
"Latihan kali ini, kalian akan mengangkat satu kaki kalian ke atas, lalu memegang kedua barbel ini di tangan kalian, setelah itu angkat kedua barbel ini ke atas kepala kalian lalu turunkan sambil mengambil posisi jongkok dengan satu kaki."
"Lakukan lima puluh kali."
__ADS_1
"A-Apa...? Terdengar sulit..." Kata Ako.
"Koneko... akan berjuang!" Shinobu mengangkat satu kaki ke atas lalu memegang kedua barbel itu, tubuhnya langsung berkeringat karena semua beban yang ia tahan menggunakan tubuhnya saja.
"Shinobu, jangan terlalu memaksakan diri ya." Koizumi menatap Shinobu yang langsung melakukannya.
"Terdengar sangat menantang..." Konomi mulai melakukan seperti yang di minta oleh Koizumi.
"Soal angkat beban... aku sudah terbiasa... aku ingin terus melatihnya agar bisa... memiliki lengan dan kaki baru yang lebih berat..."
"Satu... satu barbel lagi..." Shinobu menggerakkan ekornya lalu ia mengarahkannya kepada Koizumi untuk meminta barbel itu.
"Shinobu, apa kamu yakin bisa menahannya?" Tanya Konomi.
"Mmm...! Koneko tidak akan menyerah!"
"Hahhh... baiklah, jika merasa tidak mampu maka jangan memaksakan dirimu ya, aku tidak ingin melihatmu terluka lagi."
"Ayo... kamu pasti bisa..." Ungkap Ako yang mulai mengangkat kedua barbel itu bersama dengan kakinya agar bisa melatih keseimbangan juga.
Hinoka mulai mendekati mereka semua yang sedang mengangkat beban itu selagi menyeimbangkan tubuh mereka.
"Hei~ itu terlihat sangat menyenangkan, aku juga ingin melakukannya~" Hinoka mengatakannya selagi melakukan pose.
"Hinoka... Apa-apaan pose itu? Apakah kau ingin berlatih menari balet?" Tanya Koizumi dengan tatapan datar.
"Te-he~ Keimutan adalah keadilan~" Hinoka merubah pose lalu mengangkat kedua jarinya untuk melakukan pose damai.
"Sayang sekali, Hinoka. Shinobu jauh lebih imut sampai tidak ada yang bisa mengalahkan keimutan dan kepolosan dirinya..."
"...lakukan latihan dengan benar sekarang juga atau kau menerima hukuman dewa sentilan ini?" Koizumi bersiap untuk menyentil keningnya lagi.
"Buuuuuuu...."
"Apakah kamu terbiasa melakukan semua latihan ini, Koizumi?" Tanya Konomi.
"Ya... aku sering melakukannya selagi menikmati aktivitas lain bahkan sejak kecil Ayahku sudah mengajarkan banyak hal tentang latihan dan cara Legenda bertarung."
"Aku sendiri bisa melakukan push-up tanpa tangan..."
Ako menurunkan semua beban itu dengan nafas yang terengah-engah karena merasa kelelahan, "Hah... Hah... aku lelah..."
Shinobu menjatuhkan semua beban itu tanpa di sengaja sampai menyebabkan getaran lain, "Uwah... M-Maaf...!"
"Tenang saja, Shinobu, getaran ini tidak ada apa-apanya di bandingkan jatuhnya barbel yang ada di rumah..." Koizumi mengelus kepala Shinobu.
"Koizumi, mana barbel yang harus aku angkat?! Diriku sudah sepenuhnya siap untuk mengangkat barbel apapun!" Seru Hinoka.
"Sebelum itu... istirahat dan lakukan pendinginan agar ototmu tidak terluka, ya ampun, walaupun kita ras Legenda yang gila akan kekuatan, tapi istirahat juga penting untuk menjaga tubuh kita."
"Aku kira Legenda tidak memiliki batasan..."
"Memang tidak ada, tetapi itu hanya sebutan umum bagi bangsa kita sendiri. Semua mortal memiliki batasan tertentu untuk kita hancurkan agar bisa meraih kekuatan yang jauh lebih hebat."
"Ngomong-ngomong, apakah kalian berencana untuk menggunakan senjata?" Tanya Koizumi.
"Aku tidak membutuhkan senjata karena wilayah di sekelilingku sudah bisa disebut sebagai senjata penghasil ledakan...!" Seru Hinoka.
"Kau dapat mengubah baru menjadi granat ya..." Koizumi memasang tatapan datar karena ia sering melihat Shinobu mengubah benda apapun menjadi senjata yang berkaitan dengan ledakan.
"Aku ingin mencoba... setiap senjata yang berbeda untuk di jadikan sebagai keuntungan di waktu yang tertentu..." Kata Shinobu sehingga kedua lengannya mengeluarkan berbagai macam senjata api.
"Yup, seperti yang di harapkan dari sepupu kecilku dan putri Ratu Touriverse." Koizumi mengangguk.
"Mungkin kamu akan cocok menjadi seorang pemberontak yang langsung memusnahkan musuhmu sendiri..."
"Koneko tidak bisa bertarung..." Shinobu menurunkan kedua telinga dan ekornya sendiri karena merasa kecewa serta takut.
"B-Banyak sekali hal yang perlu aku lindungi... Koneko merasa takut untuk menyakiti seseorang." Shinobu menghilang semua senapan itu lalu ia menundukkan kepalanya sendiri.
"Koneko, jika mereka jahat dan menyakiti seseorang yang kamu anggap layak untuk di lindungi maka pukul saja." Saran Hinoka selagi mengacungkan jempolnya.
"Shinobu, kita ini adalah bangsa Legenda, semua ras memiliki kekurangannya sendiri, kamu memang memiliki kekurangan di bidang fisik tetapi tidak untuk otak cerdasmu yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan."
Shinobu merasa termotivasi, wajahnya memerah dan ia langsung menyentuh jarinya sendiri, "C-Cerdas... terima kasih..."
"Baiklah, kita langsung coba saja metode selanjutnya..."
__ADS_1
"...latihan bela diri dengan melakukan latih tanding!"