
"Kau dengar tadi...!?" Tanya Aditya dengan tatapan kaget ketika mendengar Mitler baru saja mengatakan sesuatu tentang hitungan mundur ledakan dari pesawat tersebut.
Semua warga mulai panik, tetapi Konomi mencoba untuk menenangkan mereka dengan mengajaknya masuk ke dalam setiap pesawat darurat yang mulai penuh sedikit demi sedikit.
"****...! Sepertinya mereka memang ingin menjalankan operasi pengorbanan untuk menahan kita semua...!" Kata Wilhelm yang mulai membidik semua pasukan aliansi menggunakan senapan mesinnya.
"Kita tidak akan membiarkan mereka semua melarikan diri sebelum menyerahkan kemanusiaan mereka kepada pihak aliansi untuk menaikkannya...!!!"
"Jangan biarkan bangsa Legenda juga bebas... mereka harus diledakkan dengan pesawat besar ini yang sudah cukup untuk menghabiskan nyawa itu!"
"Ledakan ini sama halnya dengan nuklir yang cukup untuk menghancurkan planet...! Dengan kandungan yang diberikan oleh Dark Elf dan Fallen Angel, persiapkan diri kalian masing-masing!!!"
Semua pasukan aliansi itu tidak kenal rasa takut, mereka akan mati bersama musuhnya adalah tujuan terakhir sampai pesan tadi menyebabkan seluruh warga hilang kendali sampai menyebar di ruangan itu.
Salah satunya adalah pesawat darurat yang masih luas, tetapi seseorang langsung menekan tombol lepas tandas sampai pesawat tersebut melesat menuju bumi lalu mengejutkan Konomi dan Hinoka.
"Oi, Hinoka...! Dia tadi menekan tombol lepas tandas tadi, padahal ruangannya masih bisa mencukupi beberapa orang di sana!" Kata Konomi.
"Sial...! Manusia memang mudah panik soal kematian... aku mohon, tetaplah tenang!" Seru Hinoka sampai ia berlutut di atas lalu menerima tabrakan beberapa Manusia yang panik karena pesawat itu akan meledak.
Luka Hinoka bertambah semakin menyakitkan sampai santet itu sepertinya bukan hanya memasukkan sesuatu yang tajam melainkan penyakit untuk melemahkan dirinya sampai ia mulai kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit.
"Serangan santet itu sangat kuat... tubuhku terasa begitu lemas." Hinoka memaksakan tubuhnya untuk bangkit lalu ia bersama Konomi meminta seluruh warga untuk tetap tenang dan masuk ke dalam pesawat darurat.
Ketika sudah penuh maka mereka dipersilahkan untuk lepas landas, tetapi masih terdapat beberapa Manusia egois yang tetap menekan tombol lepas tandas agar mereka bisa bertahan hidup dari ledakan pesawat itu.
""AAAAAHHHH!!! KITA AKAN MATI...!!!"
Semua warga itu terdengar sangat panik sampai mereka saling mendorong satu sama lain, menyebabkan Konomi dan Hinoka mulai kehilangan kendali atas semua warga yang mencoba untuk mendobrak masuk ke dalam pesawat darurat.
"Tolong tekan tombol lepas tandas itu ketika semua orang sudah masuk...! Kalian umat Manusia seharusnya hidup bersatu tanpa harus meninggalkan seseorang dari belakang...!!!"
"Kita akan mati...!!!"
"Jangan mendorong...!!!"
"Tidak...!!! Anakku!? Anakku kemana!?"
"Hweeehhhhh!!!"
"Awas nenek sialan!!! Biarkan aku masuk!"
Konomi dan Hinoka seolah-olah melihat banyak sekali Manusia panik sampai tidak memedulikan siapa pun melainkan diri mereka masing-masing, suara bayi terdengar dimana-mana bahkan orang tua yang sudah menginjak tahun paling tua sampai di dorong dan jatuhkan.
"Aku tidak ingin mati...!!! Aku masih belum menikah dengan siapa pun...!"
"Tidak...!!! Biarkan aku masuk, aku mohon...!!! Aku masih hamil...!!!" Seru seorang gadis yang menepuk pintu pesawat darurat itu yang langsung lepas tandas.
Mendengar semua warga panik menyebabkan Aditya bersama rekannya ikut merasa khawatir karena mereka semua sudah kehilangan rasa peduli dengan sesama manusia lainnya.
Seolah-olah kehidupan dan nyawa mereka adalah prioritas utama sampai tidak memedulikan apapun, pesawat darurat mulai lepas tandas satu per satu dengan isi ruangan yang tidak begitu sempit.
Hinoka dan Konomi memutuskan untuk menjaga pintu pesawat darurat itu, Konomi melakukan pekerjaan yang baik dengan memasukkan banyak sekali warga ke dalam sampai sempit lalu menekan tombol lepas landas dari luar
Tetapi untuk Hinoka, karena lukanya bertambah semakin parah dirinya terus menerima banyak tabrakan sampai nafasnya terasa begitu berat lalu ia berlutut di atas lantai, membiarkan semua warga egois masuk lalu menekan tombol lepas landas.
"Kamu memang harus menemui Shinobu dan yang lainnya, Hinoka..."
"...aku meminta dirimu untuk mundur." Konomi langsung menghubungi Koizumi yang mencoba untuk menerobos setiap pasukan tentara di hadapannya karena ia sudah dekat dengan ruangan pengendalian.
"Akan lebih baik jika kita mati selagi berperang bukannya begitu?" Tanya Andrian kepada Wilhelm dan Aditya yang langsung mengangguk lalu melempar beberapa granat menuju tiga lorong yang dekat dengan ruangan itu.
__ADS_1
"Mereka terus berdatangan... jumlah warga belum semuanya diamankan ke dalam pesawat darurat itu." Andrian mengeluarkan Garuda untuk memasukkan seluruh Manusia itu ke dalam pesawat darurat sampai sempit sekali.
"Semua orang akan mati pada waktunya... takdir kematian sudah ditulis, entah itu oleh dewa atau sesuatu yang tidak bisa Manusia ketahui." Kata Aditya yang melihat amunisinya sebentar lagi habis.
"Semua prajuritku...!!! Lepaskan tekad kalian sampai akhir...!!! Berteriak lah...!!!"
"Pasukanku...!!! Bertarung lah demi bisa menjadi pahlawan yang akan dikenang oleh umat Manusia...!!!" Teriak Mitler keras sehingga ia menekan tombol [Self-Destruct].
"Pesawat markas akan mengalami hitungan mundur menuju ledakan... di mulai dari tiga puluh detik... hitungan mundur di mulai..." Terdengar suara sistem yang berbicara dari setiap ruangan.
Mendengarnya saja membuat seluruh warga semakin panik, ruangan yang begitu gelap menyebabkan mereka semua menjatuhkan beberapa Manusia yang sudah tua sampai pesawat darurat itu hanya menyisakan tiga.
"Ulurkan waktu, aku akan mencoba untuk memasukkan semua warga ke dalam pesawat darurat yang tersisa!" Seru Andrian yang menggerakkan Garuda itu untuk memasukkan seluruh warga ke dalam pesawat darurat.
Semua pesawat langsung penuh dan sempit, hanya menyisakan satu lagi dimana Konomi terus memasukkan semua warga yang tertinggal, "Terima kasih, nak... kamu sangat baik."
Hinoka sudah berada di dalam pesawat terakhir tersebut, ia mencoba untuk tidak melakukan apapun karena bergerak sedikit saja menyebabkan rasa sakit itu semakin membesar.
***
Mitler melihat pesawat daruratnya sudah datang, sebelum ia pergi dirinya langsung menunjukkan kehormatan besar kepada seluruh pasukannya yang sudah mau mengorbankan diri.
"Semoga beruntung...!" Mitler bergegas masuk ke dalam pesawat itu lalu mendengar suara ledakan di belakangnya dimana Koizumi telah tiba dengan sebuah granat yang ia lempar seisi ruangan.
Mitler menekan tombol lepas landas secepat mungkin sampai pesawat itu pergi meninggalkan markas tersebut, "Sialan...!!! Berani-beraninya kau lari...!!!"
Koizumi mencoba untuk mengejar Mitler, tetapi ia baru saja ingat bahwa markas itu akan meledak. Dirinya segera memeriksa setiap tombol lalu menekannya satu per satu sampai ia tidak bisa menghentikan hitungan mundur yang sudah menginjak sepuluh detik.
"10..."
"Aku tidak bisa menemukan tombol penghentian itu...!? Si brengsek itu sudah melarikan diri!!!" Lapor Koizumi kepada ketiga Manusia yang masih berjuang melawan para pasukan aliansi itu.
"9..."
"Bagaimana dengan kalian!?" Tanya Koizumi.
"Cepat pergi sekarang juga!!! Itu adalah perintah Jenderal Indonesia!" Seru Aditya sampai Koizumi langsung bergegas keluar lalu melihat pesawat Mitler yang sudah terbang cukup jauh tetapi dirinya akan mengejar.
Koizumi tentunya tidak bisa terbang, tetapi kekuatannya sudah cukup untuk membawa dirinya menuju asteroid dan planet kecil yang berbeda agar bisa mendekati pesawat itu.
Koizumi mulai jongkok lalu ia memfokuskan semua Lenergy itu menuju kedua kakinya sampai dirinya langsung melompat cukup jauh sampai mendarat di bulan.
"Aku hanya perlu melompati beberapa planet dan asteroid untuk mencapai pesawat si bangsat itu." Batin Koizumi, ia melompat dari bulan lalu tiba di asteroid yang lumayan besar sampai jaraknya mulai mendekat dengan Mitler.
Mitler yang sedang mengendarai pesawat itu langsung menekan tombol keamanan sampai pesawat itu mengeluarkan banyak sekali senjata yang membidik ke arah Koizumi lalu menembakkan banyak sekali laser.
Koizumi melompat ke arah asteroid lainnya hanya untuk menghindari serangan tersebut, "Komandan John...! Legenda ini sangat gila karena mengikuti diriku dengan hanya melompati setiap asteroid itu...!"
"Apa yang harus aku lakukan!? Bangsa seperti mereka memang tidak memiliki pengaruh apapun dengan luar angkasa...!" Seru Mitler yang sudah berkomunikasi dengan John.
"Kau tidak boleh datang ke Mars, setidaknya ulurkan waktu dan tunjukkan kehebatan dirimu segala seorang Jenderal untuk mengalahkan Legenda itu." Perintah John yang langsung memutuskan hubungan itu.
"Apa!?" Pesawat itu langsung mengalami [auto-pilot] dimana Mitler tidak bisa mengendalikannya karena John yang sudah memasukkan sistem tambahan agar pesawat itu bisa pergi sejauh mungkin dari bumi dan mars agar bisa membawa Koizumi jauh sekali.
"Kau tidak akan bisa lari...!" Seru Koizumi yang mulai melompat menuju arah Mars, tetapi ia langsung menabrak sebuah pelindung yang menghalang planet tersebut.
"Apa...?!" Koizumi mengerutkan dahinya ketika melihat planet Mars memiliki banyak bangunan modern di dalam sana.
"Jangan-jangan itu...?!"
***
__ADS_1
"6..
"
"Hanya menyisakan dua warga yang tidak bisa masuk ke dalam pesawat darurat karena terlalu sempit!" Peringat Konomi sehingga Aditya melempar dua masker yang dapat membantu kedua warga itu bernafas di luar angkasa.
"Pergi sekarang juga...! Kami akan mengulurkan waktu sampai semua warga sudah diamankan!" Perintah Aditya yang mulai menghantam seorang tentara di sebelahnya yang mencoba untuk meledakkan pesawat darurat itu.
"5..."
"Kami akan mengulurkan waktu...!!! Cepat!!!" Teriak Andrian keras yang mulai menarik sebuah pistol untuk menahan beberapa tentara yang mencoba untuk menerobos mereka bertiga.
"Jangan coba-coba...! Kita semua harus bertahan dan pulang bersama!" Kata Konomi.
"4..."
"Seseorang yang layak di selamatkan... bukanlah orang-orang yang dapat selamat." Kata Aditya yang sudah memutuskan untuk menahan mereka semua agar tidak meledakkan pesawat darurat itu dimana terdapat banyak warga tidak bersalah di dalamnya.
Andrian melihat beberapa tentara melepaskan banyak rudal, tetapi untungnya ia berhasil mengeluarkan Garuda hanya untuk menahan serangan tersebut.
"3..."
"Cepat...!!! Lebih baik menyelamatkan warga yang tidak bersalah dibandingkan kami semua...!" Kata Wilhelm sampai Konomi hanya bisa diam lalu ia mengalirkan banyak Lenergy ke dalam tubuh kedua warga itu agar mereka bisa selamat ketika terjun menuju bumi.
"Pegang pesawat itu..." Kata Konomi sampai kedua warga itu langsung memegang erat pesawat tersebut agar mereka berdua bisa terbawa dengan lepas tandasnya itu.
"2..."
"Ayo...!!! Masih ada waktu, cepat ikut denganku...! Biarkan aku mengalirkan Lenergy kepada kalian semua!" Seru Konomi yang sudah memegang pesawat darurat di belakangnya.
"Cepat pergi...!!! Jika tidak ada yang mengulurkan waktu maka kita semua akan mati, dan semua misi ini hanya berjalan sia-sia!!!" Aditya menjatuhkan Seorang tentara lalu ia membunuhnya menggunakan pisau.
"Tapi...!"
"1..."
Andrian menghampiri Konomi lalu ia menekan tombol landasan darurat, "Semoga beruntung...! Aku harap kalian bangsa Legenda bisa memenuhi tujuan kalian datang ke dalam alam semesta yang sudah kacau ini!"
"Tidak---" Pesawat itu langsung lepas landas menuju planet bumi sampai Konomi tertarik karena tangannya yang sudah memegang pesawat itu cukup erat, dirinya juga harus menahan kedua warga di sebelahnya.
"0... markas akan meledak."
"Ayo, teman-teman... perjuangan terakhir." Aditya tersenyum sebelum menghadapi akhirnya.
""Ya...!""
"Warga Indonesia...!!! Maju!!!"
"MERDEKAAAAAA!!!"
Ketiga Manusia itu terus berjuang menggunakan senjata yang tersisa sampai pesawat markas itu mulai hancur sedikit demi sedikit lalu yang terakhir melepaskan ledakan yang sangat besar sampai membelah bulan menjadi dua.
"Tidak..." Konomi bisa melihat ledakan besar di depannya sampai seluruh Manusia yang berada di bumi bisa melihat langit-langit memiliki ledakan yang begitu besar.
"Jasa kalian tidak akan pernah di lupakan..."
[Aditya Loka - Gugur]
[Wilhelm Putra - Gugur]
[Andrian Purwira - Gugur]
__ADS_1