
"Kamu mengerti, Shuan? Berjam-jam kita mendiskusikan soal ini, jika kamu sekali-kalinya membuat dirinya menangis maka aku akan menghukum dirimu!" Seru Haruka sambil menunjuk Shuan dengan garpunya.
"Kenapa harus ketat begitu... dia sudah besar sekarang bahkan tidak ada lagi yang namanya penyakit dan demam yang ia rasakan." Jawab Shuan dengan tatapan kesal.
Sejak awal Shuan ingin membahas sesuatu tentang Kou dengan Haruka tetapi waktu yang buruk muncul dimana ia sedang berduaan dengan Rokuro, melakukan kencan seperti biasanya.
"Dia adik kecilku...! Bahkan jika Mamaku di sini, mungkin dia akan memasukkan dirimu ke dalam penjara terlebih dahulu!" Haruka menjawabnya dengan nada tinggi.
"Ugh... Sepertinya harus menunggu sampai waktunya tiba ya? Aku tidak yakin semuanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan..." Shuan menatap dirinya sendiri.
"Sesuai dengan yang rencana kan? Shuan, kau tahu bahwa Kou bukan sepenuhnya Legenda, bisa saja dia tidak memiliki apa yang gadis biasa miliki." Haruka membuka mulutnya dan Rokuro langsung menyuapinya sebuah kue.
"Jika kamu melakukannya dengan Kou maka dia mungkin tidak dapat menahannya. Aku tahu apa yang kau lakukan sejak itu, kau mau mengubah Kou menjadi wanitamu bukan?!" Haruka mengetahui kejadian yang sudah lama terjadi.
"A-Apa maksudmu...? Aku tidak mengerti..." Shuan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dengar, Shuan, Kou mungkin masih dalam proses pemulihan jadi aku ingin kamu membiarkan proses berjalan dengan baik..." Haruka mengambil satu botol Vodka lalu meminumnya sampai habis.
"Baiklah... setidaknya aku mendapatkan sebuah izin darimu, padahal aslinya aku---" Rokuro langsung menendang kaki Shuan, membuat dirinya menatap Rokuro yang terlihat serius.
"Aslinya aku ingin secepatnya membuat keturunan...? Ahahaha..." Shuan mulai bercanda dan ia bisa melihat tatapan datar Haruka.
"Rokuro, panggil polisi."
"Aku bercanda...!!!"
Beberapa menit kemudian, Shuan sempat melihat Rokuro seperti memberi isyarat kepada dirinya untuk masuk ke dalam toilet pria agar bisa membahas tentang sesuatu.
"Apakah sudah cukup mengerti untukmu?" Tanya Haruka sekali lagi sambil menikmati kuenya.
"Ya... istirahat sebentar, aku ingin ke toilet dulu." Shuan bangkit dari atas kursi lalu ia menghampiri toilet.
"Sepertinya aku juga sama, tunggu sebentar, Haruka." Rokuro mulai menghampiri toilet juga, Haruka menatap mereka berdua lalu ia mengangkat kedua bahunya, ia kembali menikmati Vodka dan kuenya.
Setelah Shuan memasuki toilet, ia sempat menatap dirinya sendiri di cermin dan ia bisa melihat Rokuro di belakangnya dengan raut wajah kesal.
"Kau tadi hampir saja mengatakan sesuatu yang seharusnya di rahasiakan oleh mertua kita, Shuan..."
"Ya, aku lupa... hanya saja aku mengkhawatir soal sesuatu." Shuan menurun kedua telinganya, membuat Rokuro merasa penasaran karena ia bisa melihat Shuan yang terlihat sangat khawatir.
"Baiklah, apa yang kau rahasiakan?" Tanya Rokuro sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Rahasia apa?"
"Permohonan itu, kau meminta apa kepada Morgan?"
"Permohonan tentunya... kenapa kau ingin mengetahui sebuah privasi?" Tanya Shuan dengan tatapan kesal.
"Jika kau tidak ingin berbicara maka aku akan meminta Kou untuk membaca rahasia di dalam pikiranmu itu." Rokuro mendekati Shuan dan ia sempat menatap rambut Shuan yang mengalami perubahan.
"Sesuatu yang buruk sepertinya telah terjadi... katakan, apa yang kau rahasiakan?" Rokuro sempat mengambil satu helai rambut Shuan dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
"Aw! Sakit, sialan! Sudah aku bilang... hanya sekedar permohonan biasa yang tidak dapat aku ceritakan kepada siapa pun!" Shuan menaikkan suaranya tetapi Rokuro mulai menutup mulutnya.
"Jangan terlalu berisik..." Ucap Rokuro sambil melakukan sedikit penelitian terhadap satu helai rambut yang ia dapatkan.
"Kau benar-benar menyembunyikan sesuatu..." Rokuro melebarkan matanya ketika melihat sesuatu yang tidak terduga.
"Tidak ada---"
"Kalau begitu jelaskan ini, brengsek. Satu helai rambutmu ini berwarna merah dan terkandung sihir Crimson di dalamnya...!" Rokuro menunjukkan satu helai rambut itu kepada Shuan.
Shuan langsung tercengang ketika melihatnya, Rokuro sempat melihat wajah paniknya dan ia sekarang mengetahui rahasianya yang tidak dapat di sembunyikan lagi kepadanya.
"Mungkin itu karena aku terlalu lama menghabiskan waktu dengan Kou---"
"Jangan membodohi diriku, Kou tidak memiliki Lenergy dan kekuatan Crimson... Jika kau tidak ingin berbicara maka akan aku laporkan kepada Haruka!" Rokuro berjalan pergi tetapi lengannya langsung tertarik oleh ekor Shuan.
"Baiklah, brengsek, kau menang lagi, sialan!" Jawabnya, kali ini dengan tatapan yang mengancam.
Shuan menghela nafasnya panjang, "Sepertinya Kou memang keturunan Comi yang sangat terkutuk sampai seluruh permohonanku tidak berhasil."
"Korrina sendiri bahkan menganggap Kou sebagai penerusnya, intinya mereka berdua sama... hanya saja Kou kecil dan mungkin sikapnya itu menunjukkan Korrina sejak kecil..." Shuan mulai menatap dirinya di hadapan cermin.
"Berjanjilah padaku, Rokuro, kau tidak akan mengatakannya kepada siapa pun."
"Ya... janji..."
"Permohonan yang aku minta kepada Morgan..." Shuan mulai menarik kerah bajunya sampai bawah sehingga Rokuro melebarkan matanya karena dikejutkan dengan sesuatu yang tidak ia sangka.
"Kau...?! Apa yang kau lakukan...!? Permohonan apa yang kau buat sampai kau memiliki lambang itu!?" Rokuro terlihat sangat kaget bahkan ia sempat tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat.
"...aku meminta Morgan untuk menukarkan kutukan Kou kepadaku atau bisa di bilang memindahkannya." Shuan berhenti menarik kerahnya lalu ia menatap Rokuro yang terlihat kaget.
"Kau benar-benar gila... aku tidak menyangka kau akan melakukan semua itu..." Rokuro mengepalkan kedua tinjunya, walaupun ia merasakan kesal setidaknya dia dapat mengerti perasaan Shuan.
"Kou adalah keutamaanku, dia adalah tujuanku... aku ingin mempertahankan senyumannya untuk selama-lamanya... aku tidak ingin dia menderita karena penyakit itu."
"Memindahkan kutukan itu kepada diriku, hasilnya tidak cukup menyakitkan dan aku tidak merasa sakit melainkan biasa saja..."
"Kau memiliki Lenergy dan kekuatan, berbeda dengan Kou yang memiliki fisik lemah. Sial, entah kenapa aku masih kaget melihatnya." Rokuro mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Kau pasti merasakan hal yang sama juga denganku bukan? Jika aku menerima kutukan ini, seberapa lama aku bisa bertahan hidup." Kata Shuan sambil menatap kedua tapaknya.
"Tubuhku bukannya merasa sakit tetapi merasakan kendala aneh dimana kekuatanku terus bertambah sedangkan Lenergy ku berkurang..." Shuan menatap dirinya sendiri di hadapan cermin.
"Itu lah kenapa aku meminta izin Haruka, aku ingin membuat Kou menjadi seorang ibu agar ia memiliki seseorang yang mau menemani dirinya..." Shuan tersenyum pahit.
Shuan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya pelan, mencoba untuk tidak panik dan mengkhawatirkan soal kutukan yang pindah ke dalam dirinya.
"Maaf untuk membuatmu khawatir, Rokuro, sepertinya kau benar-benar menghormati diriku. Bisa terlihat dari ekspresi kagetmu itu..." Shuan terkekeh lalu memukul pelan bahunya.
"Tentu saja, sialan, siapa yang harus jadikan sebagai samsak tinju jika bukan kau?" Rokuro merapatkan giginya, mencoba untuk tenang dalam situasi yang membuatnya khawatir dengan teman dekatnya.
__ADS_1
"Walaupun aku menerima kutukan ini... aku masih memiliki tujuan dan mimpi untuk membuat Kou bahagia sampai senyumannya terus tertera!" Shuan mengangguk lalu ia menghantam perut Rokuro.
"Ugh!"
"Jangan khawatir seperti itu, sialan."
"Sialan... ketika aku lengah, kau menyerangku. Benar-benar sainganku yang brengsek!" Rokuro tersenyum serius, ia melihat Shuan berjalan keluar dari toilet itu dengan tatapan penuh tekad.
"Sebodoh, sekeras kepala, dan secerobohnya dirinya. Ia masih mendalami harga dirinya sebagai Shiratori dan bangsa Legenda..."
"...aku benar-benar menghormati dirimu, Shuan." Rokuro berjalan keluar dan ia melihat Minami muncul bersama Kou karena memiliki sebuah keperluan.
"Kakak?" Shuan terkejut ketika melihat Minami datang.
"Yo, Shucchi. Kamu masih ada di sini ya..." Minami tersenyum, ia langsung pergi mencari Arata dan Ophilia untuk mengajak mereka mengunjungi Neko Isle yang baru saja buka.
"Kenapa kau di sini dan Kou---"
"Shuan...!" Kou memeluk Shuan erat lalu ia mengelus wajahnya tepat di perutnya yang terasa keras.
"...aromamu wangi." Jawab Kou sambil mengeratkan pelukannya, Shuan mulai memikirkan hal-hal yang berbeda agar Kou tidak mengetahui rahasianya.
"Bagaimana pekerjaanmu itu?"
"Ah!" Kou mendorong Shuan mundur lalu ia mengembangkan kedua pipinya, ia baru saja mengingat bahwa dirinya sedang marah kepada Shuan yang tidak mau menghabiskan waktu dengannya.
"Shuan, bodoh! Bleh!" Kou menjulurkan lidahnya lalu melarikan diri kepada Haruka dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa dia jadi marah seperti itu...?" Shuan terlihat kebingungan dan ia baru saja sadar bahwa dirinya sempat menolak ajakan Kou beberapa kali.
"S-Sial, aku lupa...!"
Rokuro menepuk punggung Shuan, "Setidaknya semua aman terkendali."
"Kenapa kamu marah kepadanya, Kou?" Tanya Haruka sambil menyuapi Kou sepotong kue.
"Shuan bodoh itu menolak ajakanku lagi dan lagi, sepertinya ia sudah tidak membutuhkan diriku..." Kou menghela nafasnya, membuat Haruka sadar bahwa ia sendiri yang meminta Shuan untuk menemuinya.
Minami melihat Arata sedang membersihkan sayuran, "Yo, Arata!"
"Minami? Aku kira kau sedang berada di pulau bangsa Neko Legenda itu..."
"Iya, sebenarnya aku datang hanya untuk mengajak kalian mengunjungi Neko Isle."
"Neko Isle?"
"Ya! Desa yang baru saja muncul di pulau Neko Island, sebagai istirahat dalam menyelesaikan tugasku mengurus restoran ini..."
"...bagaimana jika berlibur dua atau tiga hari di Neko Island? Kamu mungkin akan suka..." Minami tersenyum, Arata mulai memikirkannya dan ia bisa mendengar suara Ophilia yang mulai mendekat.
"Terdengar menyenangkan, Minami! Ayo!" Seru Ophilia.
__ADS_1
"Jika istriku ikut maka aku juga akan ikut..."
"Baiklah...!"